To Be A Continue

To Be A Continue
Tamparan?



Sedari tadi siang hati Chika sangat gelisah. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan kini. Ia berharap tidak ada sesuatu yang buruk menimpanya.


Chika memompa ASI untuk ketiga bayi kembar mereka. Namun ketiga anak mereka entah mengapa tampak gelisah. Ia meminta bantuan pada Mama Maya untuk menimang Damian.


Begitu lama mereka menangis. Akhirnya mereka tertidur pulas. Chika dapat melanjutkan memompa ASI. Setelah selesai ia hendak menghampiri Angela yang sedang menonton TV di ruang bawah.


Chika menuruni anak tangga dengan perlahan. Perasaannya semakin tak menentu membuat dirinya lemas. Suara dering ponsel Chika membuatnya semakin berdebar.


Terlihat nama ibu mertuanya memanggilnya. Entah kenapa air mata Chika seakan ingin keluar dan terjatuh. Chika mengangkat panggilan dari Bunda Hani. Seketika tubuh Chika tak lagi bertenaga. Tubuh Chika terjatuh ke lantai. Air mata yang sedari tadi mendesaknya untuk keluar kini keluar tak tertahankan.


Chika mengabaikan panggilan Angela. Ia meraih kunci mobilnya dan menitipkan anak-anaknya pada Mama Maya. Sepanjang perjalanan Chika terus menangis "Alvaro koma. Ia sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan donor darah" perkataan itu terngiang-ngiang di pikiran Chika.


Awalnya Zoya tidak ingin mengabari keluarga Alvaro. Ia tau mereka pasti akan marah banget bahkan akan membencinya. Tapi ternyata dokter sangat membutuhkan transfusi darah. Alvaro telah banyak kehilangan darah. Jika tidak segera mendapatkan pendonor maka nyawa Alvaro tak dapat di selamatkan.


Bunda Hani dan seluruh keluarga Alvaro telah berkumpul di rumah sakit. Chika langsung mencari keberadaan mereka. Ia melihat Tuan Ebrahim dan yang lain telah menunggu di depan ruang Operasi.


Plak~


Chika menampar wajah Zoya dengan sangat kencang. Terlihat sekali amarah Chika terhadap Zoya. Seakan tamparan itu dapat menyembuhkan hatinya yang terluka.


Sebelum Chika sampai tidak ada yang mengenali Zoya. Hingga ketika Chika menampar Zoya semua terkejut.


"Apa yang udah kamu lakukan pada suamiku?" tanya Chika dengan amarah yang diselimuti oleh tangisan.


"Tamparan itu tak sebanding dengan apa yang aku rasakan saat ini. Anggap saja tamparan itu balasan sakit hati aku saat kamu memeluk suamiku di depan mataku!" ucap Chika.


"Maaf kamu bilang? Hanya maaf?!" kata Chika.


"Sudah Chika, sudah. Tenang, bunda yakin Alva akan baik-baik saja" Bunda Hani mencoba menenangkan Chika begitupun dengan Sabrina dan Laras.


"Gimana bisa aku tenang bunda? Suami aku dalam bahaya karena dia!" Chika mulai sedikit menurunkan emosinya.


"Aku~ Aku tidak berniat mencelakakannya! Bukan aku yang mencelakainya!" teriakan histeris Zoya membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Semua terdiam hingga orang-orang kembali tidak memperhatikan mereka. Bunda Hani tidak tahu harus berbuat apa lagi. Begitupun Ayah Ebrahim, ia hanya bisa menunggu hasil dan kabar dari dokter.


Hari sudah malam, setelah menunggu empat jam. Dokter keluar dari ruang operasi dan memberikan kabar baik ke Tuan Ebrahim dan Bunda Hani. Chika merasa lega mendengar kabar baik itu.


Alvaro masih harus dalam pantauan dokter. Ia telah di nyatakan sudah berhasil melalui masa kritisnya. Namun, masih harus menunggunya sadar.


"Pergilah! Menjauh lah dari Varo suamiku! Jangan sekalipun kamu memperlihatkan dirimu ke Varo! Jangan lagi kamu ganggu keluarga kami!" pinta Chika.


"Izinkan aku melihat Alva untuk yang terakhir. Setelah itu aku akan berjanji untuk menjauh darinya" pinta Zoya.


"Gak! Sedikitpun kamu gak akan aku izinkan untuk menemuinya walau hanya sedetikpun" jawab Chika.


"Aku bilang pergi! Pergi!" teriak Chika mengusir Zoya.