
“Haah .. Haah .. Haah ..”
Orang dengan ban lengan hitam itu tiba-tiba muncul kembali dan kini sedang terduduk lemas di tanah.
Dyze kemudian tersenyum lebar lalu secara perlahan melangkah sedikit demi sedikit menuju ke arahnya.
“Bagaimana rasanya mati ratusan ribu kali dalam kurun waktu 1 menit saja?”
“!”
Orang dengan ban lengan hitam yang baru saja menyadari dia telah terlepas dari ‘neraka abadi’ itu langsung memeluk kaki Dyze dan mencium-ciuminya.
“Ew! Menjijikan sekali!”
Secara spontan, Dyze langsung mengangkat kakinya dan menendangkannya hingga membuat orang dengan ban lengan hitam itu terhempas ke dinding gua.
“Kagh!”
Hasil dari benturan itu membuat gua menjadi bergetar untuk beberapa saat, namun pada akhirnya gua itu menjadi tenang dengan sendirinya.
Melihat tindakan yang dilakukan orang itu padanya, Dyze meludah ke sampingnya di karenakan saking jijiknya.
“Bangsat. Harga diri orang itu kemana sih?”
Menanggapi kekesalan Dyze, Athena mencoba menjelaskannya dengan hati-hati.
[ Bagi makhluk hidup yang mempunyai akal seperti manusia atau monster berbentuk humanoid sekali pun, hidup itu merupakan hal yang paling berharga bagi mereka. Jadi jika harus mengorbankan harga diri atau nyawa orang di sekitarnya sekali pun untuk menukar nyawa mereka sendiri, mereka akan melakukannya tanpa ragu. ]
Tapi meski jawaban yang dilontarkan Athena begitu rasional, Dyze menepisnya dengan menjawab:
“Tapi ada juga orang yang tidak menganggap hidupnya spesial.”
[ Anda benar, tidak menutup kemungkinan orang seperti itu ada di Dunia ini. ]
"Tidak, aku tidak sedang membicarakan mengenai kemungkinan. Aku berbicara tentang kebenaran. Orang seperti itu benar-benar telah ada."
Momen dimana Dyze selalu berbicara pada dirinya sendiri selalu membuat Claire dan yang lainnya heran tanpa berkata-kata.
Chloe pun memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa.
" T-terima kasih .. Atas kebebasan ini ..."
Orang aneh dengan ban lengan itu merangkak dengan lemah menuju ke hadapan Dyze.
Tapi bukannya merasa setidaknya sedikit tersentuh, Dyze justru menatapnya dengan sorot mata seolah melihat kotoran.
“Sepertinya kau telah salah paham.”
“Eh?” Kata putus asa yang menyedihkan keluar dari mulut orang itu. Tanpa dia sadari air matanya mengucur deras dari kelopak matanya.
Tidak, dia tidak melakukan ini karena sedih atau pun terlalu bahagia.
Hanya saja .. Apa alasan dia melakukan itu?
Dirinya sendiri pun tidak mengetahui jawabannya.
Dia memberanikan diri untuk perlahan mengangkat kepalanya dan ternyata ia mendapati wajah Dyze yang sedang menatapnya kosong sedang berada di depannya langsung.
“Kau pikir jika kau merengek seperti anjing yang menyedihkan, aku akan luluh padamu?
“Eh ..?”
Orang yang lebih seperti pengecut itu mengeluarkan suara yang menyedihkan.
“Kubilang .. apa menurutmu aku akan luluh padamu? Hah?!”
Dyze mendekatkan wajahnya hingga hanya 1 centimeter jarak yang memisahkan mereka.
“U..u..u..” Orang dengan ban lengan hitam itu sadar bahwa dia masih berada dalam genggaman sang makhluk yang ditakuti olehnya.
Dia hanya bisa merengek ketakutan seperti bayi yang menyedihkan.
Dyze yang jengkel melihat kelakuannya pun berdecih kesal. Dia ingin sekali mengembalikan orang itu pada neraka abadi yang telah merindukannya.
Tapi..
Tangan Dyze yang awalnya mengepal keras kemudian menjadi lunak dan terbuka kembali, dia menghela napas dan mencoba menetralkan pikirannya sebaik mungkin.
“.. Daripada kau bertingkah seperti bayi yang menyedihkan lebih baik kau memberi informasi yang berguna untukku.”
Kata-kata itu memberikan secercah harapan pada orang tersebut, dia kemudian menutup rapat mulutnya kemudian bersujud ke arah Dyze.
“Demi kebebasan maka hamba akan melakukan apa saja!”
“Cih!” Terdengar decihan lirih yang nyaris tidak terdengar oleh telinga tanpa diketahui darimana asalnya.
Dyze dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya, melontarkan beberapa pertanyaan yang dijawab langsung oleh orang itu.
“Apa tujuanmu dalam membangkitkan makhluk itu?”
“Hamba tidak tahu rincinya tapi.. Yang jelas kami diperintahkan oleh para tetua untuk melakukan ritual yang mengorbankan lebih dari 70.000 makhluk hidup di sekitar sini untuk membangkitkannya..”
Sambil meneguk air liur , dia melanjutkannya.
“… Tapi dari rumor yang tersebar di organisasi, sepertinya terdapat salah satu dari raja iblis yang berkuasa atas takhta sekarang mendukung kami dari balik layar.”
“Hmm. Raja iblis ya.”
Dyze memegang dagunya sejenak kemudian bertanya lagi.
“Tetua apa yang kau maksud?”
“Di organisasi kami terdapat hierarki yang memisahkan derajat kami dengan sebuah ban lengan. Dan yang menentukan ban lengan itu ialah para tetua yang berjumlah 7 orang, ditambah lagi mereka semua tidak terikat hierarki ini.”
“Lalu apa saja susunan hierarki-nya?”
“Coklat(terendah) dikenal sebagai pemula. Perak(menengah) dikenal sebagai senior. Emas(tinggi) dikenal sebagai veteran. Putih suci(tingkat lanjut) dikenal sebagai individu yang mengesankan. Kemudian hitam(tertinggi) dikenal sebagai bawahan langsung dari para tetua.”
“Begitu. Lalu bagaimana dengan makhluk yang memiliki angka di dahinya dan tidak memiliki ban lengan seperti kalian?”
Orang itu bergetar saat mendengar pertanyaannya, dia kemudian menjawab dengan lirih.
“Kemungkinan makhluk itu merupakan personil elite dari organisasi. Karena hanya ada 2 makhluk saja yang tidak terikat hierarki selain tetua di organisasi. Yakni Meta-Human(manusia buatan) dan Bio-Meta(makhluk buatan hasil eksperimen).”
Eleina mengepal tangannya dengan sangat keras saat mendengar kata ‘Meta-Human’ mengalir di telinganya.
Dan hal itu disadari oleh Dyze, dia hanya menghela napas panjang.
Tapi merasa itu seperti sebuah sinyal, Eleina kemudian meredakan emosinya dan membuka genggamannya.
“Kemudian apa motif raja iblis itu?”
Pertanyaan Dyze membuat orang itu meneguk ludahnya kembali kemudian menjawab: “Hamba tidak tau pasti..tapi yang jelas dari informasi yang tertera dalam misi, raja iblis itu mengincar sesuatu yang dinamai ‘Fallen Dawn’.”
Chloe menyadari hal itu, tapi dia hanya diam saja sambil menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya.
“Ada lagi?”
Orang itu kemudian menjawab dengan ketakutan.
“Tidak..tidak ada lagi. Hanya itu yang hamba tau.”
Tatapan mata Dyze yang awalnya kosong kini mulai terlihat memperhatikan gerak-geriknya.
“Bahkan lokasi dari benda itu..?”
“Tidak…”
Orang itu semakin gemetar, keringat dingin bercucuran layaknya air mancur dari dahi dan seluruh wajahnya.
“Haah..”
Suasana kembali hening.
Hal ini dikarenakan reaksi Dyze yang hanya menghela napas panjang tanpa adanya sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Namun setelah itu..
“Kembalilah. Menuju nerakamu yang abadi.”
Bzt!
Tanpa sempat bereaksi, orang itu telah lenyap dari pandangan mereka semua. Semua itu terjadi dengan begitu cepat tanpa adanya reaksi perubahan sedikit pun pada alam sekitar.
Mengabaikan beberapa orang yang sedang berdiri mematung di sekitarnya, Dyze mulai berjalan menuju keluar gua, disusul dengan Chloe di belakangnya.
Setelah beberapa saat barulah Claire dan yang lainnya mampu setidaknya mencerna secuil dari apa yang barusan terjadi.
Di tengah perjalanan mereka menuju keluar gua, suasana hening kembali tercipta.
Merasa ini merupakan moment yang pas, Chloe pun memanfaatkannya.
“Dyze, yang tadi itu..”
Dyze yang memahami maksud dari Chloe kemudian menjawabnya dengan singkat dan ringkas.
“Kau benar. Namanya sedikit mengingatkanku pada pedang yang dimiliki oleh salah satu panglima pasukan malaikatku—Ramiel.”
Meski Chloe sudah menduga hal itu, tetap saja dia kini dapat bernapas dengan lega.
Di mulut gua, Dyze dan yang lainnya melihat hari telah menunjukkan malam hari yang sunyi, Chloe menawarkan untuk menggunakan kemampuannya agar mengubah waktu kembali menjadi pagi.
Namun Dyze menolaknya, dia lebih memilih menggunakan kekuatan Reality Warping untuk mengubah kenyataan menjadi pagi hari kembali.
Kekuatan yang mengerikan digunakan untuk hal sesederhana itu.
Sulit untuk dipahami.
Di luar dari gua itu, Claire membuka suaranya.
“Dyze, mengapa kamu tidak menggunakan orang itu sebagai pion pemasok informasi untukmu saja? Kita dapat memanfaatkannya dengan mengirimkan orang itu kembali ke organisasi lagi, bukan?”
Alis Dyze terangkat, yang artinya pertanyaan itu juga telah terjawab dalam benaknya.
“Kau benar. Tapi aku mempunyai Imagine Transform, oleh karena itu aku tidak membutuhkannya lagi. Akan jauh lebih efektif jika aku yang melakukannya langsung.”
Mendengar penjelasan itu, dengan spontan kata ‘Oh’ keluar dari mulut mereka masing-masing.
‘Kita tidak mendapatkan informasi dimana benda itu berada. Apakah kau bisa?’
[ Tentu saja, ini bukan perkara yang sulit bagiku, Tuan. ]
[ Memproses.. ]
Di saat Athena sedang melacak lokasi dari benda itu, Nirvia tiba-tiba berbicara sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Aku tidak tahu apakah ini berkaitan atau tidak..tapi akhir-akhir ini terdapat beberapa lokasi hutan yang mengalami kematian mendadak secara misterius. Entah itu mengering atau pun mati dengan alasan yang tidak rasional.”
[ Ditemukan. ]
Di saat yang bersamaan, Athena telah menyelesaikan tugasnya. Athena kemudian menjelaskan pada Dyze, bahwa besar kemungkinan benda yang disebut ‘Fallen Dawn’ itu tidak hanya satu, melainkan terpecah menjadi beberapa bagian lain.
Dan itu sefrekuensi dengan apa yang dikatakan oleh Nirvia.
“Tunjukan lokasinya.”
Dyze menyerahkan pemandu tujuan pada Nirvia, apa yang dipikirkan olehnya?
Karena Dyze ingin dugaan Nirvia benar agar membuatnya yakin bahwa dia akan berguna?
Ataukah karena alasan lainnya?
“Tapi sebelum itu, aku ingin kau menyerahkan senjatamu padaku, Arcandra.”
Arcandra dengan reflek langsung bertunduk dan menggenggam pedang di tangan kanannya kemudian berkata dengan lantang: “Dengan senang hati!”
Dyze kemudian mengambil alih pedang hitam Arcandra, sambil mengamatinya dengan seksama, terucap kata-kata dari mulutnya yang seperti ditujukan pada Arcandra.
“Pedang ini cocok untukku, bagaimana menurutmu?”
“Jika tuan menginginkannya, tidak masalah, hamba justru akan senang karena dapat lebih berguna untuk tuanku.”
Tanpa ekspresi dan respon, Dyze tiba-tiba hanya menggenggam pedang itu di satu titik, kemudian cahaya gelap bersinar, membutakan penglihatan mereka untuk sementara.
Saat menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah efek visual alias tidak nyata, mereka semua mulai membuka matanya.
Dan mereka hanya dapat terdiam saat menyaksikan pedang milik Arcandra kini menjadi 2 dengan aura, rasa, tekstur dan unsur lainnya yang sama persis.
Dyze kemudian menerbangkan salah satu dari 2 pedang hitam itu layaknya sedang dikendarai oleh angin pada Arcandra, dan dia dapat meraihnya dengan sempurna.
“Kau adalah pendekar yang hebat, potensimu berada pada pedang yang juga mendukung. Selain pedang ini, kurasa tidak ada lagi yang dapat menggantikannya.”
“Hamba hanya bisa mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya pada anda!”
Perasaan bahagia Arcandra yang begitu meluap-luap sulit tersampaikan dengan baik dikarenakan wajahnya yang kaku dan sulit bereksptesi.
Tapi sebagai sesama perempuan, tentunya Chloe, Claire dan yang lainnya juga dapat memahaminya.
“Kalau begitu, cepatlah.”
-----
Jangan ragu untuk memberikan like dan berkomentar karena itu berarti berpengaruh pada berjalannya novel ini.