The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 49. Keberadaan Hydra Yang Menakuti Para Siren



Chapter 49. Keberadaan Hydra yang menakuti para Siren


***


Mereka telah melintasi lautan menuju utara selama berjam-jam, kini akhirnya mereka dapat melihat benua Arbeltha dengan cukup jelas dari kejauhan.


“Dyze, lihat!” – Chloe terlihat antusias saat melihatnya


“Cantik sekali ya..” – Claire merupakan orang yang masih pendiam dan segan, dia tidak akan berbicara sebelum Chloe, tapi bisa saja sikapnya akan berubah seiring berjalannya waktu.


“Begitukah..?” – sedangkan Dyze hanya meresponnya singkat dan perhatiannya masih terfokus pada bulan yang sedang bersinar di atas mereka dan bintang-bintang yang menambah keindahannya.


“Ngomong-ngomong apakah lautan sepi dan sunyi seperti ini ya?” – Pertanyaan itu dilontarkan dari mulut Claire, yang seumur hidupnya tidak pernah melihat lautan ataupun melintasinya.


“Kamu benar.. Apakah memang lautan seperti ini, Argus?”


“Eh? Ah.. Saya juga belum pernah melintasi laut secara langsung, tapi berdasarkan pengetahuan saya, seharusnya ada beberapa ras yang mendiami lautan Neiphr. Mungkin karena sudah larut malam mereka menjadi tidak aktif lagi..?”


“Sshh.. Apakah kalian mendengar sesuatu?”


Suasana sunyi yang dari awal menyelimuti mereka kini menghilang saat Dyze mendengar suara-suara aneh dari lautan.


“Suara apa?” Chloe tidak dapat mendengar suara yang dimaksud Dyze.


“Aku juga tidak dapat mendengarnya..” – Begitu pula dengan Claire.


“Suara ini.., Sebuah nyanyian!?”


Hanya Argus yang terlihat mengerti tentang keadaan mereka sekarang.


“Apa artinya itu?” – Dyze bertanya sambil menoleh ke arahnya.


“Menurut buku-buku pengetahuan yang pernah saya baca, terdapat beberapa makhluk yang mampu menguasai 3 tempat utama dari Neiphr secara penuh. Behemoth, penguasa daratan. Ziz sang penguasa langit(udara), dan Leviathan sang Monster samudra.


Leviathan dengan sifat jahatnya memiliki pelayan yang melayaninya, mereka dinamakan Siren. Kemampuan mereka adalah nyanyian-nya yang sangat merdu, namun siapapun yang merasa jatuh dalam kenyamanannya maka akan terhipnotis dan melakukan bunuh diri dengan menabrakkan diri ke batu karang ataupun menenggelamkan diri ke lautan yang dalam..”


“Jadi maksudmu nyanyian ini merupakan suara dari para Siren?” – pertanyaan itu yang keluar dari mulut Dyze, Chloe, dan Claire secara bersamaan.


“Ah, uh.. Ya itu benar..”


Chloe dan Claire melihat ke arah Dyze, saat Claire terlihat ingin berbicara, Chloe telah terlebih dahulu dibandingkan dengannya.


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Suara mereka mampu membuat orang bunuh diri tanpa sadar ya.. Kemungkinan besar itu adalah sihir Charm, jika bukan maka hanya Pengendali pikiran(Mind Control) yang mampu melakukannya..” – Dyze menggumamkan hal tersebut sambil memegang dagunya, lalu dia mulai bangkit berdiri dan tersenyum.


“Bagaimana jika kita membalasnya dengan serangan serupa?”


“Maksudmu..?” – Chloe dan Claire sepertinya dapat mengerti maksud Dyze namun mereka masih tidak yakin dengan kebenarannya.


“Ntah bagaimana mereka masih tidak dapat merasakan Aura dari Hydra ini, padahal untuk ukuran makhluk seperti mereka seharusnya merasakan takut yang luar biasa saat melihatnya..” – Dyze melihat ke arah Argus dan tersenyum tipis.


“Begitukan, Argus?”


“B-benar.” – Argus merasa gugup karena ini pertama kalinya Dyze memanggil namanya.


Dyze mulai berjalan ke kepala utama dan berdiri menghadap lautan, dia juga dapat melihat keindahan Arbeltha dengan sangat jelas.


Dia mengelus kepala Hydra dan membisikkan sesuatu padanya: “Meraung-lah saat aku berteriak.”


“Giirk!”


Sebelum dia menarik napas dalam-dalam dan meneriakannya dengan lantang, Dyze terlebih dahulu memperingatkan yang lainnya untuk meneguhkan hati dan menutup telinga.


Chloe, Claire dan Argus langsung mematuhinya tanpa membantah, setelah itu barulah Dyze melakukan urusannya.


“Dengarkan aku! Aku tahu kalian dapat mendengarnya dari dalam air dengan sangat baik. Sampaikan pesan ancamanku pada seluruh kehidupan Arbeltha..”


Aura hitam dan keungu-unguan itu kembali menyelimuti seluruh tubuhnya, suaranya menjadi berat, pupil matanya menghitam sepenuhnya, saat dia mulai berbicara, para Siren itu merasa langit seperti akan runtuh dan menimpa mereka.


“Tekanan ini..!”


“Aku tidak pernah merasakannya sebelumnya!”


“Benar.. Aura ini sama kuatnya dengan Tuan Leviathan..!”


Para Siren itu ketakutan dan tidak pernah menyangka bahwa mereka telah menghadapi orang yang salah. Mereka mencoba melihat ke permukaan laut dan betapa terkejutnya para Siren itu saat melihat 9 Leher raksasa milik seekor hewan yang ukuran tubuhnya berada di luar nalar.


Awalnya para Siren itu mengira mereka merupakan pelaut pada umumnya yang berusaha mengotori lautan, namun kini mereka gemetar hebat saat melihat Hidra yang ditakuti kini telah ditalukkan oleh seseorang, orang itu menekan mereka hingga rasanya dalam air sekali pun mereka tidak dapat bernapas.


“Napasku..!” – bahkan salah satu dari mereka merasa seperti dicekik dan tidak dapat bernapas dengan baik, perasaan yang sama saat menghadap raja mereka, Leviathan.


“AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN TANPA MEMBERIKAN KESEMPATAN UNTUK HIDUP SEKALIPUN JIKA KALIAN BERANI MENGUSIK KESENANGAN KAMI!”


“GROOOAAARRRR!”


“AARGGH TELINGAKU!”


Raungan dari Hidra itu benar-benar membuat para Siren merasa lautan seperti murka dan langit seakan runtuh menjatuhi mereka, hasilnya beberapa diantara mereka tewas diakibatkan gendang telinganya yang meledak karena menerima frekuensi suara yang terlalu tinggi dan kuat.


“Ah. Aku tidak bermaksud untuk membunuh kalian.. Ini kecerobohanku. Kalian yang tersisa pergilah, sampaikan pesanku pada mereka. Carilah kami apa bila kalian ingin mempertahankan kekuasaan atas tempat(rumah) kalian.”


‘Kebaikan’ dari orang itu tidak mereka sia-siakan, para Siren itu langsung berenang memacu kecepatannya menuju Arbeltha.


Sesampainya disana..


Mereka disambut oleh para kelompok Siren yang kelihatannya sedang bersantai di bagian ujung dari benua Arbeltha, lebih tepatnya pada sebuah danau kecil yang jernih dan indah, bahkan airnya memantulkan cahaya bintang di atasnya.


“Ada apa? Kamu terlihat pucat.” Salah satu dari mereka menanyakan kabar dari Siren yang terlihat pucat dan masih gemetar hingga saat ini.


“A-ada masalah!”


“Masalah? Ceritakanlah.”


“Hydra telah ditaklukkan!”


“Apa? Hanya itu ternyata—tunggu!”


“Hydra katamu!?” Siren itu menekan kata ‘Hydra’ dia yang awalnya mengira hanya terdapat sebuah masalah spele kini mulai gemetaran dan ketakutan mulai menyelimutinya.


“Hydra, makhluk sebesar gunung yang bahkan saat di lautan mampu memberikan perlawanan pada Tuan Leviathan!?”


Para Siren itu semakin takut saat memikirkan makhluk yang mampu menaklukkan Hydra sedang menuju ke rumah mereka.


“Benar sekali. Dia juga menyampaikan bahwa jika ada yang ingin mempertahankan tempatnya maka carilah mereka..” – para Siren itu terdiam, tidak ada satupun diantara mereka yang terlihat ingin melakukan perlawanan karena perbedaan kekuatan.


“Dia juga menekankan bahwa jika ada yang mengganggu kesenangan mereka maka hanya aka nada ‘Kematian’ yang menunggunya.” – kalimat itu membuat para Siren menelan ludah dan semakin takut akan terror dari ‘dia’.


“Ini penting! Kita harus menyampaikannya pada saudara-saudari kita yang lainnya!”


Para Siren itupun berenang melewati lubang yang menyambungkan danau satu dengan yang lainnya.