The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 85. Time Resurrection




Chapter 85. Time Resurrection



Pedang hitam milik Arcandra menarik energi alam yang ada di sekitarnya kemudian menjadikannya sebagai energi yang sangat padat.


Dan lagi-lagi sepertinya penyesalan Arcandra tidak sampai disitu saja, dia menatap Argus dengan tidak bertenaga, sorot matanya dapat terlihat jelas menyiratkan sebuah kesedihan yang tidak ada ujungnya.


“Ahh .. Lagi-lagi aku mengingkari janji ya .. Makhluk lemah seperti kita memang tidak akan pernah bisa melawan takdir.” – Arcandra menutup matanya, karena dia tahu tepat setelah ini Argus akan melakukan tugas terakhirnya.


『 Explosion! 』


Energi yang sangat padat itu meledak dan menghanguskan hampir seluruh area di lingkup kubah Barrier milik Claire.


Dari kejadian itu menghasilkan daya ledak dan suara super keras melebihi meteor maupun asteroid yang pernah Dyze jatuhkan dulu.


Untungnya di detik-detik terakhir, Argus berhasil diamankan oleh Chloe dan membawanya pada Dyze tepat sebelum Claire memasang Barrier berbentuk kubah kecil untuk melindungi mereka dari gelombang kejut maupun ledakan langsung.


Mengenai Arcandra ..


Dia bernasib sama seperti area di sekitarnya— lenyap tanpa sisa.


Satu-satunya yang tertinggal darinya ialah pedang hitam yang berada di genggaman Argus sekarang.


“Wow. Benar-benar tontonan yang menarik. Aku tidak menyesal sama sekali membiarkanmu dalam pertarungan ini.”


Argus tersenyum kecil saat mendengar pujian Dyze. Kemudian Dyze bertanya sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu.


“Ngomong-ngomong. Apa maksud dari dia yang mengingkari janji?”


“...”


Argus menghela napas panjang, menyiapkan mental dan tekad, kemudian menceritakannya.


“Ini terjadi pada saat terakhir kalinya hamba bertemu dengan Arcandra di masa 3000 tahun lalu.”


***


3000+ tahun lalu ..


Langit-langit hitam sepenuhnya, petir-petir raksasa terus bergemuruh hingga pada titik membuat suara apapun di Neiphr tidak terdengar sama sekali jika tidak dengan berteriak keras.


Air laut naik drastis menyebabkan tsunami dengan tinggi 300 meter melanda benua saat itu. Gelombang besar itu menyapu segalanya yang berada di atas daratan.


Pilihan terbaik dalam menghindari bencana ini ialah mendaki ke gunung yang sangat tinggi, melebihi tinggi dari gelombang tsunami yang sedang terjadi.


Di salah satu gunung tertinggi yang ada di daratan saat itu, terdapat dua sosok yang sedang berselisih di puncaknya.


“Argus! Kamu tidak perlu melakukan ini!”


“Maaf bang tapi .. Aku sudah begitu kecewa dengan umat manusia. Kita berhasil menyudutkan seluruh Dunia hingga titik terendahnya, tapi mereka ..! Umat manusia justru menganggap kita— kelompok yang meningggikan derajat manusia, sebagai monster!”


Sosok yang dipanggil Argus itu menatap intens sosok yang berusaha mencegatnya.


Sosok itu merupakan seorang perempuan dengan gaya rambut laki-laki, dadanya sendiri dia tidak tonjolkan, dia menutup rapat-rapat seolah menyembunyikannya dari mata Dunia.


Tapi hal itu tidak bisa dipungkiri bahwa dada miliknya sangat besar, karena itulah meski dia mencoba sekeras apapun menyembunyikannya, akan masih dapat terlihat dengan jelas, itulah yang membuatnya terkadang mudah dikenali sebagai perempuan.


“Aku dapat mengerti amarahmu! Tapi kamu tidak perlu melakukan ini! Jika tidak namamu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah atau mungkin akan di-cap sebagai pengkhianat umat manusia!”


“Abang .. Tidak .. Ketua Arcandra. Kamu sangat baik ya?”


Melihat Argus yang tersenyum dengan menyimpan kekecewaan di wajahnya membuat hati sosok— Arcandra menjadi sesak.


Jantungnya berdenyut semakin cepat membuat telinganya bahkan tidak mampu mendengar suara badai yang bergemuruh dan ombak yang mengamuk.


“Aku .. Aku berjanji! Akan membuat Dunia menghargai keberadaan kita berdua!”


Tepat setelah itu sebuah suara aneh terdengar.


Bwush!


Sebuah gelombang yang sangat tinggi menerjang mereka, menghanyutkan Argus serta memisahkannya dari Arcandra.


“TIDAAK! ARGUSS!”


Dalam kondisi yang sama-sama kritis, Arcandra terombang-ambing di lautan tanpa berhasil meraih daratan sedikitpun.


Argus mungkin tidak tahu, bahwa Arcandra terus mengutuk dirinya yang terlalu naif karena selalu percaya bahwa umat manusia pasti akan berubah.


Umat manusia memang terkadang belajar dari kesalahannya, tapi mereka memanfaatkan itu untuk menutupi kesalahan mereka yang akan datang hanya demi sebuah pencitraan.


***


“Hanya itu?”


Argus mengangguk.


“Iya. Setelah itu hamba tidak tahu bagaimana nasib Arcandra dapat menjadi tirani di benua ini serta dijuluki sebagai ‘Typhon’ dan kemungkian seperti dia memiliki ikatan dengan monster lautan, Leviathan.”


“Begitu.”


‘Apa pilihan terbaik menurutmu saat ini?’


[ Jika anda memilih untuk mengabaikan dan membiarkannya mati sia-sia maka anda akan mendapatkan beberapa kerugian seperti:




Anda akan kehilangan bawahan kuat sepertinya, dari semua musuh yang pernah anda lawan hingga saat ini, dia-lah yang terkuat.




Anda akan kehilangan informasi yang sangat berharga, kesaksiannya setelah tsunami itu menghanyutkan mereka tentunya sangat penting untuk di dapatkan.




Anda akan menyia-nyiakan sebuah potensi yang dapat membelah bulan dengan mudah.




Dan keuntungan yang diraup hanyalah:



Ego dari pedang hitam itu memiliki kemungkinanuntuk diserap dan diekstrak menjadi ego dengan kepribadian baru. ]



‘Ego baru? … Apa itu saja?’


[ Izin mengonfirmasi. Benar, hanya itu saja keuntungan yang anda dapatkan jika menyia-nyiakan kematiannya sekarang. ]


‘Lalu jika aku melakukan sebaliknya?’


[ Kerugian yang anda dapat akan beralih menjadi keuntungan sepenuhnya. ]


‘Tanpa ada kerugian sama sekali?’


[ Tanpa ada kerugian sama sekali. ]


“Bagus.”


“?”


Mereka semua keheranan karena melihat Dyze yang tiba-tiba tersenyum hingga memperlihatkan gigi kemudian menatap Chloe dengan memerintahkannya melakukan sesuatu.


“Chloe, kau bisa membuat seluruh kerusakan ini menjadi seperti semula, ‘Kan?”


Chloe memiringkan kepalanya dan menjawab dengan lembut:


“Iya. Kenapa?”


“Lakukan itu. Sekaligus bangkitkan kembali Arcandra dengan ingatan yang masih utuh di kepalanya.”


Dengan perintah sejelas itu, Chloe memasang mimik wajah yang berbeda.


“Dengan senang hati.”


Sorot matanya menjadi tajam, auranya menjadi berat, sebuah senyuman sinis juga terukir di wajahnya.


『 Time Resurrection 』