
Sepertinya reputasinya akan memudahkanku.
“Biarkan aku bertemu dengan pimpinan.”
“Eh? Guild master?”
“Apakah tidak bisa..?” – Dyze mengintimidasinya secara halus.
“Ti-tidak, bukan itu maksudnya. Ba-baiklah! Akan saya atur segera pertemuannya!”
“Bagus.”
Dyze berjalan menuju kursi panjang dan mendudukinya, disusul dengan Chloe dan Claire di sampingnya, Argus, Livia, Alpha, dan teman-temannya juga duduk saat diizinkan.
“Keras dan tegas, memang seperti itulah gayamu.”
Dyze membalas perkataan Chloe sambil berucap ‘Heh’.
“Aku tidak peduli pada status, umur, ataupun gender dari seseorang. Apabila dia membuatku kesal maka akan kubunuh. Sesimpel itu.”
Meski terdengar kejam, mereka tidak terlihat takut padanya, sebaliknya, kekaguman mereka kian menambah.
Dan setelah menunggu beberapa saat, Dyze akhirnya dipanggil.
“Tuan Andrius! Grand Master menunggumu di ruangannya!” – resepsionis itu memanggil-manggil Dyze dengan melambaikan tangannya.
Dyze pun bangkit dari kursinya dan mengangguk tanpa berkata apa-apa, diikuti dengan mereka yang menyusul di belakangnya.
Saat ke ruangan yang ditunjukkan, Dyze membuka pintu, sebuah suara laki-laki berat menyambut kedatangannya.
“Yo Andrius! Senang melihatmu baik-baik saja. Bagaimana misimu? Apakah berjalan dengan baik?”
Misi?
Hal apa yang dia bicarakan sebenarnya?
“…”
Karena tidak ingin salah dalam menjawabnya, Dyze memutuskan untuk diam saja.
“Hey hey kenapa kau diam saja?”
“Sudahlah. Bukankah Andrius memang selalu begitu?”
Laki-laki di sampingnya menyenggol tangan pria tersebut.
“Hahaha kau benar juga.”
“Ngomong-ngomong siapa mereka yang di belakangmu?”
“… Aku lebih memilih untuk tidak memberitahunya.” – Dyze menatap pria itu dengan serius.
“Oh~” – tatapannya dibalas oleh pria tersebut, percikan petir seolah tercipta dari ketegangan yang terjadi.
“Sudahlah Grand Master..”
Laki-laki di sampingnya menghentikan pria tersebut, dan pada akhirnya dia menjadi lunak kembali.
“Haha harusnya kau tidak perlu untuk menghentikanku, Eric!”
“Tidak mungkin saya akan membiarkan anda berbuat seenaknya..!”
Apa ini?
Pria berjenggot itu seorang Grand Master?
Dan juga rencana apa yang dia miliki bersamanya?
“Sudahlah. Biarkan Andrius berbicara tentang kepentingannya.”
Grand master dan laki-laki di sampingnya menatap Dyze, menunggu dia memberikan jawaban.
Jantung Dyze mulai berdegup kencang.
Apa ini..
Adrenalin ku terpicu?
Menarik..
Dyze dapat mendengar suara gesekan pedang dengan sarungnya, dia tahu bahwa Chloe bersiap untuk menebas mereka jika situasi membuatnya terdesak.
Karena itu Dyze mengisyaratkan berupa suara ‘Ehem’ padanya untuk mengurungkan niatnya.
“Sebelum membahas tentang hal itu, biarkan aku berbicara mengenai misi terlebih dahulu.”
“Oh? Apakah kau dapat menemukan Relic yang diperintahkan?”
Relic?
Apa yang dia katakan?
Apakah Relic yang dimaksud..?
Melihat Dyze yang termenung, Chloe berinisiatif untuk menggantikannya.
“Apa maksudnya?”
“Hm? Apa kalian belum pernah diberitahu oleh Andrius sebelumnya?”
Mereka semua menggelengkan kepala.
“Jadi begitu. Apakah kau keberatan aku menceritakan semuanya pada mereka, Andrius?”
Dyze bernapas lega lalu menjawab:
“Tentu saja.”
“Perlu kalian ketahui jika masyarakat pada umumnya menyembah Dewi cahaya ataupun Dewi keberuntungan, maka kami berbeda. Kami menjadikan Typhon sebagai Dewa untuk dipuja.”
Typhon?!
Dyze berusaha menyembunyikan keterkejutannya sebaik mungkin, sedangkan mereka dapat bebas mengekspresikan keterjutannya.
Grand Master melanjutkan:
“Alasan kami menyembah Typhon sebagai Dewa pun di dasari dengan pengalaman pribadi yang terbilang pahit.”
Grand Master mulai menceritakan masa lalunya.
***
Warga desa memang bersikap baik pada kami, namun itu semua hanyalah sebuah kebaikan palsu. Tapi setidaknya ada satu orang yang benar-benar memberi ketulusannya pada kami.
Dia adalah Anna, adik kecilku. Anna bagaikan mentari yang menghangatkan hari-hari suram kami, tapi..
Semua itu berakhir saat hari itu terjadi..
--
Puluhan tahun lalu.
“Anna! Dimana kamu!”
Aku bersama Andrius menyusuri hutan untuk mencari Anna yang kabur akibat sempat bertengkar denganku karena suatu alasan.
“Anna!”
Kami terus mencari.
Mencari.
Dan mencari.
Hingga..
“Ashtern! Coba lihat ke sini!”
Andrius memanggilku, aku pun mendatangi sumber suara, dan mendapati dia sedang berada di mulut gua yang berada di tengah-tengah dua gunung yang menghimpitnya.
Kami pun mencoba memasukinya..
“Anna!?”
Pemandangan Anna yang seolah terhisap sesuatu dan sedang melihat ke arahku dengan tatapan tidak berdaya benar-benar memengaruhi mentalku.
“Bertahanlah!”
Seharusnya seorang abang yang rela mengorbankan nyawanya sendiri demi adiknya tercinta, tapi entah apa yang kupikirkan saat itu, aku justru cuma mematung melihat detik-detik kematiannya.
Andrius-lah yang sigap menggapainya lalu mencoba melepaskan tangannya yang menggenggam ‘sesuatu’ berbentuk pedang hitam.
“Ashtern! Lakukan sesuatu!”
Teriakannya membuatku terbangun pada kenyataan yang menyakitkan, dan saat aku mencoba berbuat sesuatu dengan sihirku sebuah suara muncul di kepalaku.
[ Manusia! Apakah kau menginginkan kekuatan? Ataukah kekuasaan? ]
“Siapa itu?!”
Aku melihat sekitar, dan tidak menemukan siapapun, hanya ada Andrius dan Anna bersamanya.
[ Manusia! Jawablah panggilanku! Jika kau dapat melakukan syarat-syarat yang kuberikan maka akan kujamin hidupmu akan selalu meraih kesuksesan! ]
Aku terus mencari sumber suara, dan menyadari bahwa pedang hitam itulah yang sedang berbicara denganku.
“Beritahu aku namamu!”
[ Aku adalah senjata dari Typhon, seorang tirani yang menguasai Arbeltha dahulu kala. ]
“Typhon katamu..?!”
[ Katakan! Kau hanya perlu memberiku sebuah wadah dan seorang tumbal yang dapat mengisi energiku. Dengan itu kau telah memenuhi syaratnya! ]
Saat seseorang memiliki seorang adik tersayang dan seorang sahabat yang loyal, tentunya pilihan seperti ini sebuah omong kosong baginya bukan?
Tapi..
Entah apa yang kupikirkan saat itu..
Aku justru tersenyum lebar ke arah Andrius dan Anna yang sedang membutuhkan pertolonganku.
“Abang..”
“Ashtern..?”
“Aku patuhi syarat dan panggilanmu.”
[ Pilihan yang tepat, manusia! ]
“ABAAAAAAAAAAAAANG!”
Pedang itu kemudian menghisap habis Anna dan Andrius meringis kesakitan.
Setelah beberapa saat, Andrius berhenti bersuara, aku mencoba menghampirinya..
“Ashtern, kerja bagus atas pilihanmu.”
Ekspresi Andrius yang sebelumnya cukup ceria dan periang kini berubah menjadi kaku.
***
Dan saat Grand Master alias Ashtern ingin melanjutkan ceritanya, Dyze tiba-tiba memotong pembicaraannya dengan suara berat.
“Apakah laki-laki di sampingmu juga mengalami hal serupa?”
Ekspresi Dyze membuat Ashtern kebingungan, dia pun menjawab pertanyaannya:
“Ya, tapi tidak begitu serupa dengan kita. Para petinggi lainnya juga begitu, mereka memiliki ambisinya masing-masing dan berani mengorbankan orang lain demi tujuannya.”
“Begitukah..”
Dyze menghela napas panjang lalu memetik jarinya.
“Aku benci dengan pengkhianat seperti kalian.”
Slash
“Eh?”
Ashtern dan laki-laki di sampingnya keheranan karena melihat Dyze dalam sudut pandang di bawah dan memutar.
Di saat itulah Ashtern baru menyadari apa yang terjadi saat dia melihat tubuhnya sendiri dalam keadaan duduk, terbujur kaku di kursinya.
Setelah kepala Ashtern bergelinding dan menyentuh dinding, Dyze pun bangkit dari kursinya.