The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 53. Seorang Pemandu



Dan secara kebetulan setelah mereka selesai melakukan kegiatan itu, si Xana kecil datang menghampiri mereka.


“Bagaimana? Kau telah memutuskannya, bukan?”


Merespon pertanyaan Dyze, Xana kecil itu mengusap air matanya yang telah mongering.


“Iya.. Livia akan mengikuti saran mama. Biarkan Livia menjadi pemandu untukmu!”


Meski terlihat ceria dari sebelumnya, Dyze dapat merasakan suara dari Livia masih bergetar, yang menandakan kejadian itu masih berbekas di hatinya.


“Begitukah? Bagus. Chloe, Claire, dan Argus, ajak dia untuk makan bersama kalian.”


“Lalu kamu?” – pertanyaan Chloe hanya dibalas oleh Dyze yang bergumam kecil dan menuju ke arah Hydra.


“Aku hanya ada urusan sedikit.”


Chloe melihat punggung Dyze yang berjalan menjauh darinya, dan secara tiba-tiba cahaya putih menyelimuti sekitarnya di penglihatan Chloe. Dia mencoba meraih punggung Dyze dengan tangannya, namun sebuah tangan menggapai tangan miliknya, yang membuatnya tersadar saat itu juga.


Dia melihat ke arah pemilik tangan itu, Claire, dia menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Chloe untuk berjalan bersamanya.


Sementara itu Dyze terlihat membisikkan sesuatu pada Hydra.


“Ingat ya.”


“Khiirk!”


Dan Hydra itu seakan mengerti dengan maksud pembicaraan Dyze. Setelah itu dia pun kembali kepada mereka dan menyantap daging yang tersisa bersama dengan Livia.


---


Livia, seorang Xana kecil yang memiliki rambut pirang panjang, dan matanya yang berwarna cokelat menjadi pesona tersendiri bagi manusia yang tidak pernah melihat Xana sebelumnya.


Dia biasanya merupakan gadis ceria dan periang saat masih bersama ibunya, namun kini sosok yang selalu melindunginya dari ancaman marabahaya telah tiada, dia semakin syok dan menjadi lebih pendiam saat mengetahui ibunya telah melindunginya dari Malbor yang membuatnya terkena racun mematikan.


“Ini semua salahku.. Huff.. Huff..” – Dia menangis di tepi Danau tidak jauh dari Gua yang mereka jadikan tempat peristirahatan sementara.


“Ya, memang benar mungkin kau menjadi salah satu penyebab kematiannya.” Livia mendengar suara dari seorang pemuda yang baru saja ia temui beberapa saat lalu, dia duduk di sebelahnya dan menatap langit.


“Tapi..! Bagaimana pun juga kalian makhluk fana pasti akan menemui kematian. Seperti bintang yang selalu dikira akan abadi, nyatanya dia pasti juga akan mati suatu saat nanti.”


Meski terlihat menyeramkan dan kesan ‘Kejahatan’ sangat melekat pada dirinya, dia tidak sepenuhnya buruk apabila sedang berbicara mengenai perasaannya sendiri – itulah yang ada di pikiran Livia saat ini.


“Dah. Aku ingin tidur. Rasa kenyang membuatku ngantuk. Yang penting jangan terlalu terpuruk pada kesedihan. Ada saatnya kau harus bangkit dan melawan.”


Pemuda itu kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Livia bergumam pada dirinya sendiri dan melipat tangannya di atas lutut lalu bersandar di atasnya.


(A/N: Bagi yang bingung menggambarkannya, kurang lebih seperti inilah kondisi Livia. )


“Harus bangkit dan melawan.., ‘Kah?”


“Meski kepribadiannya seperti itu, dia tidak seburuk yang kamu pikirkan. Yah aku tidak dapat menyebutnya baik juga sih..” – suara lembut itu datang dari sisi kirinya, dia dapat merasakan seseorang duduk di sampingnya.


Saat Livia ingin menoleh ke arahnya, suara itu menegurnya.


“Jangan melihat, cukup dengarkan saja.”


“Sosok sepertinya mungkin akan menjadi musuh besar bagi Dunia, tapi aku yakin dirimu akan mengagumi sosoknya dari kacamata yang berbeda. Sekarang yang rela menjadi musuh Dunia demi dia hanya berjumlah 3 orang, tapi.. Suatu saat nanti jumlah ini pasti akan meledak dan melebihi segala ekspektasinya.”


“Tanpa disadari kini telah larut malam. Ayo, mereka paling sudah tidur di sana.”


Saat suara itu menghilang, Livia mencoba mengintip. Dan dia tidak mendapati siapapun berada di sampingnya, dia lalu membuka mata sepenuhnya dan melihat sekitar.


“Tidak ada tanda-tanda orang berada di sini sejak tadi.. Lalu tadi itu siapa?”


Meski dia memikirkan hal itu sekeras mungkin, Livia hanya akan menemui jalan buntu.


“Ada di Dunia ini yang sebaiknya kita tidak tahu.., ‘Kah?”


Livia yang kini mencoba menerima takdirnya perlahan berjalan ke gua dan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.


Pada akhirnya dia memilih tempat di pojokan Gua bersama dengan pemuda sebelumnya dan wanita berambut hitam yang sama-sama telah tertidur pulas.



***


“Ketua! Lokasi mereka ditemukan!”


“Cepat bawa mereka sebelum sadar!”


“Baik!”


Suara berisik dari luar gua membuat Dyze dan yang lainnya terbangun.


“Ap—!?”


“MEREKA TERBANGUN!”


“Sial!” – Saat Chloe ingin menjentikkan jarinya, Claire hendak memasang Barriernya dan Argus akan mengaktifkan lingkaran sihirnya, sebuah jaring besar yang berlapis batu-batu aneh dilempar ke arah mereka.


“Ugh.. Kenapa aku merasa Energi Sihirku seperti tersedot?” – Argus terlihat menahan sakit saat berada di dalam jaring tersebut bersama mereka.


Saat Chloe ingin menarik pedang biru dari sarungnya, dia merasa ganjil saat meraih sarung yang terasa ringan seolah tidak ada isinya.


“Kamu pikir kami bodoh? Pedang ini sepertinya ditempa dari batu yang tidak biasa.. Oleh karena itulah kami harus menyingkirkannya terlebih dahulu.”


Suara itu berasal dari gerombolan siluet yang berdiri di mulut gua, suara tapak kaki yang berjalan terdengar, dan sesaat kemudian mereka dapat melihat wanita berambut putih, memiliki mata predator berwarna ungu dan sebuah tanduk tunggal yang tajam berada di dahinya.


Wanita itu kelihatannya merupakan ketua atau dalang dari penyergapan ini.


“Siapa kau?” – melihat Dyze yang tidak gelisah sama sekali membuat wanita itu menahan tawa.


“Pfft.. Ketenanganmu itu lambat laun akan dimakan tikus.. Aku adalah Orchid, salah satu dari sedikit orang yang dipercaya oleh sang Gorgon, Medusa.”


“Medusa!?”


Livia bereaksi saat mendengar nama itu, membuat Orchid menyadari bahwa dia merupakan bagian dari ras Xana yang dicari-cari.


“Oh~ Kebetulan sekali.. Ternyata ras Xana yang lolos itu kini ada bersama dengan sang penyusup. Beruntung sekali..”


“Penyusup katamu?” – Dyze menekankan kata itu dan melihat ke arahnya tanpa memasang emosi sedikitpun.


“Ya, siapapun itu yang datang dari luar Benua akan dianggap sebagai penyusup olehnya.”


“Begitu? Begitu ya. Haha..” – Orchid bergidik merinding saat melihat Dyze memasang senyumnya, dia merasakan terror yang seperti menghantui pikirannya, namun saat Orchid kembali memastikannya Dyze hanya memasang wajah tanpa ekspresi seperti sebelumnya, yang membuat Orchid dapat bernapas lega.


“Cepat! Bawa mereka menuju ke hadapan panglima Gorgon!”


Para siluet di belakangnya pun mulai berjalan mendekati mereka sesuai dengan perintahnya, dan diketahui bahwa siluet-siluet itu berasal dari ras yang berbeda-beda.


Terdapat Siren yang entah kenapa dapat menumbuhkan kaki manusia di bagian bawah tubuhnya, Elf yang berjaga dengan busurnya di garis belakang, dan Ogre yang mirip dengan Orchid namun hanya terdapat perbedaan di kulit mereka yang keras, sedangkan Orchid putih mulus seperti manusia.


Para Ogre yang memiliki tenaga paling kuat di sana pun berjalan mendekati mereka, dan saat hendak mengangkatnya, tiba-tiba Dyze dan yang lainnya jatuh pingsan.


“Apa? Apakah mereka pingsan karena efek dari anti-magic stone? Tidak, seharusnya Anti-magic stone sekalipun tidak akan membuat targetnya pingsan, dia hanya akan membuatnya lumpuh sementara.. Ada yang tidak aneh.”


– Orchid menggigit jari jempolnya dan mulai memikirkan motif yang dilakukan oleh mereka, namun sekeras apapun dia memikirkannya, Orchid tidak dapat menebaknya.


Dia pun hanya bisa memerintah bawahannya untuk mengurung Dyze dan yang lainnya di sebuah kurungan yang penuh dengan Anti-Magic Stone di dindingnya.


“Cepat! Sebelum mereka terbangun kita harus memblokir semua yang bisa menjadi akses keluarnya!”



Mereka memindahkan Dyze dan yang lainnya ke tempat yang menjadi markas dari Gorgon.


Orchid hanya mengurung Dyze, Chloe, Claire, dan Argus. Untuk Livia dia dibawa ke ruangan yang berbeda untuk disiksa.