
Dyze berteriak histeris untuk pertama kalinya saat menyadari tangannya telah menembus perut Wanita yang sangat ia kenali wajahnya.
--
“Harus mengorbankan nyawa agar bisa menyelamatkan sebuah jiwa?!”
Akhirnya Chronoa menemukan jalan keluar yang dicarinya.
Suara-suara itu mulai menghilang, mereka juga menyampaikan kata-kata terakhir pada Chronoa.
“Hanya kamu harapan kami sekarang.”
“Jangan khawatir mengalami kematian..”
“Karena kami semua pernah mengalami mati itu sendiri…”
“Kehilangan orang yang disayangi lebih sakit daripada kehilangan nyawamu sendiri.”
Kini suara mereka telah sepenuhnya menghilang, membuat Chronoa yang merasa kesepian dapat terbangun dari tidurnya.
“A-apa ini?”
Chronoa menyentuh kubah berwarna hijau yang mengurungnya, sensasinya lentur seperti menyentuh sebuah Slime.
Karena kubah yang mengurungnya berwarna hijau dan transparan, Chronoa masih dapat melihat keluar dengan jelas.
Chronoa menjadi khawatir saat melihat aura hitam itu kembali menyelimuti Dyze. Dia mencoba menendang atau pun memukul dinding kubah itu dengan sekuat tenaga, namun percuma, serangannya seakan dipantulkan olehnya.
Saat hampir kehabisan cara, Chronoa mengamati sekitarnya dengan lebih teliti. Saat itulah dia menyadari jika tanah di pijakannya tidak terlapisi kubah, sehingga memungkinkan baginya untuk keluar dari sana.
“Hah?! Tidak bisa..?”
Chronoa mencoba melubangi tanah dengan sihir angin, namun dia merasakan sesuatu membatasi kemampuan sihirnya. Chronoa memegangi kepalanya dan suatu cara terlintas di kepalanya.
“Sheesh, tidak ada pilihan lain.”
Chronoa menarik dan menghembuskan napasnya dengan teratur, menutup matanya, dan membiarkan pikirannya tenang. Dia mencoba mempraktekan apa yang Layond pernah ajarkan padanya.
『Teknik menembus pertahanan』
Dengan mata berapi dan tinjunya yang seolah memikat angin untuk melapisinya, Chronoa menghembuskan asap dari mulutnya, kemudian—
Boom!
Suara ledakan dari dalam tanah terdengar dengan jelas. Saat kesadaran Chronoa kembali sepenuhnya, dia menendang tanah yang memiliki suara ledakan di bawahnya.
Tanah yang terlihat masih kokoh itu ternyata telah retak dan rapuh, yang membuatnya langsung hancur seketika. Meski kakinya mengalami luka lecet, dia tidak menghiraukan hal itu. Chronoa pun melompat tanpa membawa apapun ke dalam lubang.
Di dalam lubang yang cukup gelap, Chronoa kembali menggunakan Teknik dari Layond hingga dapat membuat jalan menuju permukaan.
“Hupp.”
Tidak butuh waktu lama bagi Chronoa untuk dapat menginjakkan kaki di Dunia luar. Setelah beberapa waktu mencari, Dia mendapati Dyze yang sedang berlari menuju Argus dengan kecepatan di luar nalar, karena jaraknya yang terlalu jauh, Chronoa mencoba menggunakan Skill Space Time Control, namun kali ini dia mengorbankan umurnya untuk dapat memperkuat efek dari skillnya.
“Space Time Control: Decelerate.”
Akibatnya, wajah dan tubuhnya langsung berubah saat itu juga menjadi wanita dewasa karena umurnya yang telah di makan. Namun Chronoa tidak menyesali keputusannya karena yang di dapatkannya juga setimpal.
Waktu menjadi membeku, Dunia mulai kehilangan warnanya, karena di sekitarnya melambat, Chronoa dapat mengabaikan jarak yang memisahkan mereka. Bahkan Dyze yang memiliki kekebalan khusus terhadap Skill waktu menjadi melambat karena alasan yang tidak diketahui.
Sebelum mengembalikan waktu kembali seperti semula, Chronoa terlebih dahulu menyampaikan pesannya pada Argus yang seolah membeku.
“Dengar, Aku akan menyelamatkanmu. Sebagai balas budimu padaku, kamu hanya perlu mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menahannya!”
Klikk.
Waktu kembali berjalan dengan normal saat Chronoa berada di depan Argus seolah menjadi perisai hidup untuknya. Argus merasa kalimat Chronoa mengalir dengan sangat cepat di kepalanya saat itu juga.
Suara rintihan rasa sakit itu berasal dari Chronoa, darah segar mengalir dari mulutnya, tangan hangat yang selalu membuatnya betah untuk digenggam, kini telah melubangi sebagian besar dari perutnya.
Dyze yang begitu syok membuatnya tidak dapat berkata-kata sedikitpun. Sebuah tangan dewasa yang bersarang di perutnya tidak membuat Chronoa berakhir begitu saja. Dengan tubuh yang telah melemah, Chronoa meraih bahunya dan memeluk Dyze lalu berbisik di telinganya:
“Aku tidak membencimu kok.”
“Pengorbanan ini kulakukan demi menyelamatkanmu, aku berharap di kehidupan berikutnya, aku akan menjadi kekasihmu..”
“…Ukhuk!”
Chronoa memuntahkan darah, namun terjadi keanehan padanya. Darah yang telah dimuntahkannya bercampur dengan percikan api di dalamnya. Hal ini membuat Chronoa seketika terjatuh lemas, Sorot matanya menjadi kosong, kelopak matanya perlahan menurun dan ingin tertutup sepenuhnya. Namun Chronoa menggigit bibirnya hingga berdarah agar dapat mempertahankan kesadarannya kembali.
“Ughh.. Sepertinya waktuku tidak tersisa lama lagi..”
Kata-kata itu keluar dari bibir Chronoa yang bergetar, dia memegangi perutnya, darah segar membanjiri dan percikan api kecil membakar telapak tangannya. Namun dia justru tersenyum akan hal itu.
Chronoa pun berusaha kembali berdiri dengan menggunakan seluruh tenaga yang tersisa. Dan dia bangga karena dapat melakukannya, meski berdiri keliatannya hal yang spele, tapi ini suatu hal yang spesial bagi orang yang sekarat.
Chronoa memeluk Dyze dengan sangat erat, biasanya Dyze pasti akan meminta Chronoa melepaskannya karena merasa terganggu, namun kini telah berbeda. Dia menangis tersedu-sedu di dekat telinga Dyze dan mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Tenang saja.. Aku akan menyelamatkanmu meski harus merangkak dari neraka… Sekalipun.”
Pada akhirnya Chronoa menghembuskan napas terakhirnya, saat jasadnya ingin terlepas dari pelukan Dyze karena telah kehilangan tenaganya, tubuh Chronoa tetap memeluk erat tubuh Dyze, seolah jiwanya menolak untuk berpisah meski maut telah memisahkan mereka.
Dyze dapat merasakan emosi dari kepergian Chronoa saat kejadian tragis yang tidak terduga terjadi kembali. Pada akhirnya, jasad Chronoa terlepas dari tubuh Dyze karena kehilangan pasokan tenaganya, namun saat menyentuh tanah, tubuh Chronoa menjadi dipenuhi dengan arus listrik. Tidak lama kemudian.. Dyze menyadari sesuatu.
Boom!
Suara ledakan kecil terdengar, berasal dari jasadnya yang telah tercerai-berai tidak menyisakan sedikitpun dari bagian tubuhnya selain dari jantung satu-satunya. Kejadian tragis ini disebabkan oleh listrik bertekanan tinggi yang berada di tubuhnya. Dyze yang melakukannya tercengang, tanpa bisa berkata apa-apa. Serangan mematikan yang memiliki akhir begitu memilukan ini justru menyerang orang yang mengasihinya sendiri.
Mengapa? Mengapa hal ini bisa terjadi?
Itulah yang berada di pikiran kosongnya sekarang ini.
Argus hanya bisa bengong, karena masih tidak mengerti situasi apa yang sebenarnya dia alami. Luka di perutnya juga perlahan dapat menutup kembali.
Mungkin karena respon otomatis dari otaknya, atau pun penolakan yang begitu besar di hatinya membuat Dyze berteriak histeris.
Lagi-lagi dan sekali lagi dalam hidupnya dia kehilangan orang yang mencintai dirinya.
Mengapa orang yang tinggal di dasar kegelapan selalu merasakan kehilangan sesuatu yang berharga?
Apakah itu karena dosa mereka?
Karena itu mereka pantas mendapatkannya?
Siapa yang mengatur semua itu?
….?
Kemarahan Dyze yang tidak tertahankan lagi membuat tanah—tidak, seisi Neiphr menjadi berguncang. Saat itu juga Darah segar mengalir melalui sudut-sudut kecil dari matanya, Sklera(bagian putih pada mata) Dyze berubah menjadi hitam. Hingga di mana Dyze sama sekali tidak bergerak.. Dia tidak sadarkan diri karena masih terlalu terguncang akan kenyataan, hal ini membuat guncangan di Neiphr menjadi terhenti dan membuatnya tenang kembali.
--
Di alam bawah sadarnya, Dyze terbangun di bawah pohon hitam persis seperti yang Chronoa alami di setiap mimpinya.
Dia terbangun dengan rasa pusing yang begitu dashyat di kepalanya.
“Kepala ku..”
Dyze tidak dapat mengingat apa yang terjadi padanya—bukan, dia hanya tidak ingin mengingatnya. Namun nasib malang kembali menimpanya, ingatan mengerikan itu kembali mengalir di kepalanya, seolah menayangkan kenangan buruk itu untuk kedua kalinya.
Keringat dingin mengucur deras dimulai dari keningnya, membuat wajah tampannya menjadi tidak karuan. Napasnya menjadi berat, dia terus menarik napas dengan tidak teratur, seolah oksigen lenyap dari sekitarnya. Dyze yang awalnya telah berdiri menjadi terduduk lemas kembali sambil mencengkram mata kanannya dia mengutuk diri sendiri.
“ARRRGGGHHH ... AH ... Ahaha ... AHAHAHA...!! Apanya?! Apanya yang melindungi?! Bukankah dia berakhir di tanganku sendiri?!! KAU MENGINGKARI JANJI!! Dia ... tak seharusnya berakhir di tangan orang sepertiku...!!”