
Mereka menghampiri Hydra yang kini setengah tubuhnya telah menjadi transparan, karena bubuk-bubuk kuning yang melapisi kulitnya mulai luntur.
“Apakah baru setengah?”
“Sheesh..”
Dyze memegangi kepalanya, meski tidak terasa berat, dia tetap saja tidak habis pikir bahwa Hydra yang sehebat itu tidak dapat membasuh tubuhnya secara keseluruhan.
“Oh.. Benar juga.”
Dia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Livia, kau merasakan suatu gejolak aneh di nadi mu kan?”
Karena Dyze bertanya mengenai kondisinya sekarang membuat Livia menjawabnya dengan memasang mimik wajah heran.
“B-benar. Apakah kamu mengetahui sesuatu?”
“Cobalah, untuk memanipulasi air ini. Ras Xana selalu tinggal di dekat perairan, bukan? Seharusnya memiliki kelebihan dalam bidang ini..”
Meski Livia awalnya hanyalah seorang gadis kecil lugu biasa, sekarang telah berbeda.
Meski tidak pernah mencoba sebelumnya, Livia tetap percaya dengan keputusan Dyze.
Dia membalikan telapak tangannya dan menurunkannya hingga hampir menyentuh permukaan tanah.
Livia merasakan gejolak yang berada di nadinya semakin panas dan cepat, setelah merasa cukup panas, dia dengan cepat langsung mengangkat tangannya ke langit.
“Khiiirk!!”
“Ap--!?”
Dan yang terjadi setelah itu mengejutkan Hydra itu sendiri serta semua yang ada disana, terkecuali satu orang. Dia hanya bersiul saat melihat Livia mampu membuat air danau menjadi seakan terhempas ke udara sesuai dengan gerakan tangannya.
“Woah..”
Tidak hanya mereka yang kagum dengan pencapaiannya, bahkan Livia itu sendiri takjub oleh kemampuannya sendiri.
“Itulah kekuatan yang kau dapat. Memanipulasi air. Meski skalanya masih kecil sih, mungkin suatu saat nanti kau akan dapat memanipulasi laut hingga samudra di seluruh Dunia.”
“Hahaha.. Kamu terlalu berharap tinggi..”
“Namun, Livia akan tetap berusaha untuk mewujudkannya!”
“Mhm. Berjuanglah.”
Dyze hanya mengatakan itu dengan singkat lalu pergi mendekati Hydra.
“Lihat. Bubuk-bubuk mengganggu itu kini telah hilang sepenuhnya.”
Dia menepuk-nepuk kulit Hydra yang kini telah menjadi transparan sepenuhnya.
“Ayo mendekatlah.”
Saat mereka berjalan mendekati Dyze, tiba-tiba sesuatu menarik mereka.
Ternyata itu merupakan Hydra yang tembus pandang, bahkan oleh indra sekuat milik Chloe dan Argus sekalipun masih sulit untuk merasakan keberadaannya secara penuh.
Hydra mengangkat dan menempatkan mereka di masing-masing kepalanya. Melihat pemandangan indah Arbeltha dari ketinggian juga merupakan salah satu mimpi dari Livia, dan hari ini mimpinya dapat terwujud.
Dia dengan senyum lebarnya, antusias melihat sekitar. Bahkan dengan cuaca mendung sekalipun Livia tidak merasa terganggu sama sekali.
Saat mereka sedang asik melihat pemandangan Arbeltha dari sudut pandang Hydra, pandangan Chloe teralihkan.
"Tunggu. Sepertinya ada sesuatu.."
Perkataannya membuat suasana hening, Hydra yang tadinya ingin melangkah kini mengurungkan niatnya.
Mereka menoleh ke belakang melihat ke arah Chloe yang sedang memperhatikan sesuatu di bawah.
Seakan dituntun oleh sorot matanya, mereka juga melakukan hal yang sama.
Di bawah sana, terlihat beberapa figur wanita yang masih tidak jelas berasal dari mana rasnya berasal.
Figur-figur wanita itu seperti sedang memohon ke arah mereka, dan sepertinya memiliki suatu permintaan.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
Pertanyaan khas dari Chloe itu selalu membuatnya berhati-hati dalam mempertimbangkan suatu keputusan.
Karena bagaimana pun juga, dia tidak bisa membiarkan sebuah hama ataupun parasit menghambat perjalanan mereka.
“Kita akan melihat dulu apa tujuan mereka. Jika ada tanda-tanda penyergapan atau mereka adalah Sandra, bunuh ditempat.”
“Baik!”
Hydra pun menurunkan kepalanya ke arah wanita-wanita itu sesuai dengan perintah Dyze.
Dan saat hanya jarak beberapa meter saja yang memisahkan mereka, Dyze merasa familiar dengan para wanita itu.
Saat Dyze mulai memuncak, dia ingin mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk menyerang, Claire bersiap di belakang Dyze untuk melindunginya, sedangkan Chloe dan Argus bersiap untuk langsung membunuh mereka di tempat.
Namun saat tepat Chloe hendak mengayunkan pedangnya, dan Argus hendak mengaktifkan lingkaran sihir yang telah ada di kepala mereka, para siren itu langsung berteriak menjelaskan kedatangan mereka.
“T-tunggu dulu! Kedatangan kami tidak dengan niat yang sama seperti sebelumnya!!”
“Biarkan mereka bicara.”
Karena perintah itu, Chloe menyarungkan kembali pedangnya, dan Argus menarik kembali lingkaran sihirnya.
Salah satu diantara mereka maju dan berlutut seakan menjadi perwakilan dari semuanya.
“Kami telah melihat dan mendengarkan semuanya dari awal..”
Meski mata Dyze melotot hingga membuat para Siren itu merinding, dia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyingkirkan mereka.
“Lanjutkan.”
Hanya dengan sepatah kata saja mampu membuat para Siren itu merasa sangat tertekan, dan secara serentak mereka bersujud ke arahnya.
“Kami mohon! Kami kini tidak memiliki siapapun untuk dilayani! Tuan Leviathan telah dikabarkan mati, dan Nyonya Gorgon juga tidak ada lagi di Dunia ini. Kami ingin mengabdikan nyawa ini pada yang terkuat!”
“Wew. Sepertinya terkadang kita tidak perlu susah-susah untuk menaklukkan suatu ras. Lihatlah mereka takluk sendiri dengan kehebatanmu, Dyze.”
Chloe, Claire, Argus, dan Livia tidak memberikan jawaban apapun mengenai permintaan mereka, karena pada akhirnya yang menentukan nasib dari yang kalah adalah pemenang.
Dyze memiliki otoritas absolut dimana dia yang merupakan pemenang dapat menentukan jawaban sesuka hatinya.
“Hmm.., itu merupakan tawaran yang bagus..”
Kata-kata Dyze seperti membuat harapan bagi para Siren itu, namun harapan itu seketika pupus saat Dyze melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum.
“– Tapi.. Apa yang dapat membuktikan bahwa kesetiaan kalian memang berasal dari hati tanpa adanya niat tersembunyi?”
Mereka terdiam, menatap satu sama lain tanpa adanya jawaban pasti, karena sampai sejauh ini mereka tidak mengiranya, ada seseorang yang bahkan menolak ketika ada orang lain ingin tunduk padanya.
“Tidak ada kan..?”
Dyze mulai mengintruksikan Chloe untuk menarik pedangnya, namun di saat itu juga Siren yang menjadi perwakilan mereka langsung bertindak hingga membuat Dyze menarik kembali intruksinya.
“Tunggu! Kami bersedia melakukan semuanya! Apapun itu!”
“Apapun.., ‘Kah?”
Dyze menyeringai, dia meminta Chloe untuk memberikan pedangnya.
“Ini. Gunakanlah.” – Dyze melempar pedang itu pada mereka yang sedang kebingungan dengan maksud dibaliknya.
“Bunuhlah diri kalian sendiri, maka aku akan langsung menerima kesetiaan kalian di saat itu juga.”
Para Siren tersentak mendengar perkataan Dyze, di saat para siren lainnya sedang ragu, hanya ada seorang yang mampu mengambil pedang itu.
“Jika hanya ini syaratnya, maka tidak akan menghalangi tekad hamba untuk mengabdi pada anda.”
“He..~”
Dyze cukup takjub dengan tekad yang dimiliki oleh perwakilan Siren itu, dan di antara puluhan Siren yang ada disitu, hanya ada beberapa saja yang mengikuti jejaknya.
Perwakilan Siren itu langsung menusuk perutnya hingga tembus, dan saat pedangnya hampir terjatuh ke tanah, salah satu dari Siren yang mengikuti jejaknya langsung melakukan hal yang sama.
Hal itu berlangsung hingga pedang itu jatuh ke tanah, yang artinya hanya yang menusukan pedang itu ke perutnya yang ingin membuktikan tekad besarnya untuk mengabdi pada Dyze.
Darah yang mengalir mulai mengotori udara, baunya menyengat, dan para Siren yang tersisa ketakutan melihat pemandangan mengerikan ini.
Saking mengerikannya, membuat keinginan mereka untuk melayaninya dengan melakukan apapun langsung musnah seketika.
Dyze bersiul, dia tidak menyangka bahwa tekad siren-siren itu cukup besar sehingga membuat mereka mampu mengorbankan nyawanya sendiri demi perintah.
“Aku menerima kesetiaan kalian yang terbaring di tanah.”
Dan tanpa sepatah kata pun Dyze mengangkat tangannya lalu bergumam:
“Bunuh mereka yang tidak menuntaskan perintah.”
“Siap.”
Chloe, Claire, dan Argus menjawabnya dengan singkat, mereka memasang mata dingin, tanpa menunjukan belas kasihan sedikitpun.
Chloe langsung melambatkan waktu di sekitarnya dengan mengecualikan orang-orang yang berkaitan dengan Dyze. Dia langsung melesat mengambil pedangnya dan memenggal beberapa kepala Siren saat itu juga.
Sedangkan Claire mempersiapkan kemampuan matanya; 『 Absorb Life 』sebelum dia melangkah dengan cepat menuju ke arah para Siren itu dan menghisap Energi kehidupannya hingga kering.
Dan Argus mempersiapkan sihir yang langsung merenggut nyawa seseorang ketika dia menyentuhnya; 『 Instant Death 』setelah selesai menyiapkannya barulah dia menyusul kedua wanita yang telah mendahuluinya.
Sangat mudah bagi mereka bertiga untuk membasmi seluruh Siren itu hanya dalam satu kali serangan.
Namun mereka saling menghargai keberadaan satu sama lain, sehingga tanpa berdiskusi sekalipun mereka hanya membunuh beberapa Siren dan menyisakannya untuk yang lain.