The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 82. Lenyaplah, Nirvana Words




Chapter 82. Lenyaplah, Nirvana Words.


“Jadi ini ..?”



Dyze dan yang lainnya kini berada di sebuah tempat seperti balkon pada perumahan, jika menoleh ke belakang mereka dapat melihat jarak tanah dengan mereka hanya berselisih sekitar 300 meter saja.


“Memang benar sih tempat ini seolah menyatu dengan kedua gunung besar ini .. Tapi apakah di dalamnya benar-benar menyimpan sebuah kehidupan?”


Pertanyaan Chloe juga merupakan pertanyaan besar yang menyangkut di hati mereka.


“Jika ragu kita hanya perlu memeriksanya. Ayo.”


Dyze mengetuk dinding dari gua itu dan tanpa diduga, permukaan dari dinding gua itu tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya.


“Bau darah.”


Setelah mendengar hal itu keluar dari mulutnya, mereka semua bersiap pada posisi bertarung.


Mereka pun berjalan menelusuri gua itu yang tercium bau darah menyengat di udara.


Sampai ketika ..


“Kau!”


Saat Chloe ingin menghentikan waktu ketika melihat sosok pirang yang sebelumnya Dyze telah lumpuhkan kini berada di hadapan mereka—


“Tunggu.”


Sebuah suara menghentikannya. Dia melihat ke arah sumber suara— Dyze yang sedang memasang wajah serius.


Sosok pirang itu berbalik dan memperlihatkan sebuah kondisi yang memprihatinkan. Darah terus mengucur dengan deras dari lubang yang Dyze buat di dadanya.


Jantung yang terlihat masih berdetak berada di genggaman tangan kirinya, sosok pirang itu— Andrius, dia memasang seringai lebar yang membuat Chloe, Claire dan yang lainnya merasa jengkel.


“Aku menang.”


Pedang hitam yang berada di pinggang Dyze tiba-tiba terangkat dan terbang ke arah Andrius.


Dia menggenggam pedang hitam itu di tangan kanannya, kemudian mengibaskannya ke samping.


Noda darah yang awalnya melekat di mata pedang itu menjadi tersebar di dinding sisi kanannya.


Andrius menyerahkan jantungnya pada ‘sesuatu’ yang berbentuk seperti kepompong raksasa di belakangnya.


Sesuatu— kepompong itu berdenyut layaknya sebuah jantung, dan ketika jarak jantung dengan kepompong itu hanya terpisah beberapa meter saja, Andrius bergumam:


“Aku tidak tahu apa alasanmu sengaja melepaskanku. Tapi akan kubuktikan padamu bahwa kekuatannya tidak akan mengecewakanmu.”


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan tapi ..”


Dyze tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya, matanya melotot hingga pada titik seolah ingin melompat keluar dari tempat yang seharusnya.


“.. Peranmu sudah habis sampai disini.”


Tangan kanan Dyze yang awalnya terbuka tiba-tiba tertutup seperti menggenggam sesuatu, di saat yang bersamaan dia bergumam kecil:


“Yah meski begitu ku harap pertunjukanmu akan memuaskan hasratku ..”


『 Nirvana Word’s 』


“Lenyaplah.”


Wuush!


Baik itu keberadaan atau jiwanya sekalipun, semuanya lenyap tidak tersisa.


Merasakan keberadaan Andrius yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa adanya petunjuk dari alam seperti hembusan angin atau semacamnya membuat mereka begitu gemetar.


Bagaimana bisa?


Dia bahkan tidak menggerakan jarinya sejengkal pun!


Di saat Alpha dan yang lainnya sibuk memikirkan apa yang terjadi di hadapan mereka sekarang, Chloe tiba-tiba mengangkat suaranya.


“Itu adalah Nirvana Word’s. Salah satu Skill(pasif) dari seri Nirvana.”


Seri Nirvana?


Seluruh perhatian menjadi terpusat padanya. Menunggu jawaban satu-satunya orang yang mengetahuinya.


“Seri Nirvana. Itu merupakan kumpulan Skill yang murni dia ciptakan sendiri. Rata-rata Skillnya memiliki daya hancur yang luar biasa. Dan yang barusan dia gunakan ialah Nirvana Word’s.”


“Nirvana Word’s digolongkan skill pasif karena hanya akan aktif pada kondisi tertentu saja. Contohnya seperti tadi, skillnya menjadi terpicu karena Dyze menginginkan Andrius menjadi lenyap, mengapa itu bisa terjadi? Itu karena kondisi tertentu itu sendiri ditentukan oleh seberapa besar keinginannya.


Semakin besar keinginannya maka semakin besar pula dampak yang dapat terjadi.”


“Itu berarti jika dia(Tuanku) ingin melenyapkan kami, dia hanya perlu berbicara saja ..?”


Semua orang yang ada di sana terkecuali Chloe dan Dyze meneguk liurnya saat mendengar kesimpulan yang di dapat Delta.


“Itu benar. Dan ada kemungkinan yang sangat besar ketika dia berevolusi ke tingkatan yang lebih tinggi maka kemampuan dari skill-skillnya juga semakin hebat dan rusak.”


Setelah mendengar ini, mereka semua menjadi tahu bahwa perjalanan mereka akan semakin berbahaya dan kemungkinan mati masih sangat tinggi.


“Kemarilah. Sepertinya benda menjijikan ini yang kita cari-cari selama ini.”


Chloe berjalan ke arahnya, disusul dengan Alpha serta yang lainnya.


“Andrius ..”


Chloe melihat Argus sedang mengelus permukaan kepompong itu yang berlendir seperti slime.


“Berbicaralah. Aku tahu bahwa ego-mu tidak akan terhapus bersama raga milikmu—tidak, kurasa lebih tepatnya boneka?”


“Khe khe khe ..”


Sebuah tawa terkekeh-kekeh terdengar, mereka semua mencoba mencari dimana sumber suaranya.


Dan mendapati pedang hitam yang tergeletak di tanah bersebelahan dengan jantung Andrius sedang mengeluarkan tawa.


“Luar biasa! Bagaimana kau bisa tahu!?”


“Hanya dengan menggunakan sedikit logika. Menurut cerita salah satu orang yang pernah bertemu denganmu, sebuah pedang yang memiliki ego. Tapi selama bersamaku kau tidak pernah berbicara ataupun menunjukan tanda-tanda kehidupan. Lalu saat bertemu dengan boneka-mu barusan aku langsung sadar bahwa kau memindahkan keseluruhan kesadaranmu padanya.


Sebelum menghapus raga— boneka-mu, aku bertanya-tanya, apakah kau dapat bertahan dari penghapusanku? Ternyata benar! Selama wujud asli-mu sebagai pedang tidak hancur maka kau akan selalu dapat mempertahankan kesadaranmu baik itu di wujudmu sendiri atau mengambil wadah berupa manusia.”


“Hahaha! Sepertinya akalmu tidak sependek yang kubayangkan!”


“Kekh kekh kekh! Lihat saja nanti.”


Saat Dyze hendak melakukan sesuatu, sebuah cahaya yang sangat menyilaukan bersinar dari kepompong itu.


Shrekk..


Suara robekan terdengar.


“Aku .. Akhirnya dapat menghirup udara segar lagi.”