The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 23. Rahasia Dunia?



Chapter 23. Rahasia Dunia?


“Membunuh untuk membebaskan. Membunuh dengan penuh penyesalan.. Membunuh untuk kebaikan… Dan Terbunuh demi kebahagiaan.”


“Kamu.. Harus mati… Demi menuntaskan misi...”


Suara mereka yang terus berulang ulang memenuhi kepala Chronoa, membuatnya menjadi berat. Hingga membuat Chronoa tersentak dari tidurnya.


Dengan keringat yang telah membasahi tubuhnya, Chronoa meletakan telapak tangannya di mata(kanan) karena masih merasakan pusing yang hebat.


“Ukhh.. Misi..? Apa maksudnya itu?”


Chronoa terbangun dan menyadari hari telah pagi, serta Dyze yang tidak berada di sisinya. Dengan kepala sempoyongan dia memegangi tembok, dan mulai berjalan keluar mencari Dyze.


---


Seorang individu dengan tampang laki laki manusia berumur sekitar 24 tahunan sedang berusaha membebaskan diri dari rantai yang mengikat seluruh tubuhnya.


Laki laki berambut hitam panjang seperti malam, kulit putih seperti wanita, dan memiliki iris mata biru indah seperti berlian itu membutuhkan waktu hingga berjam-jam untuk melepaskan diri dari rantai yang melilitnya.


“Uggh? Dimana ini..?”


Dengan kepalanya yang berat, dia meraba sekitar, mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.


“Tekstur tanah ini.. Aku sedang berada di Gua?”


“..Akh!”


Memorinya mengalir deras di kepala laki laki itu, membuatnya meringkuk karena ingatan tersebut terlalu banyak dan berat.


Setelah beberapa saat, kepalanya yang terasa berat perlahan mereda dan mulai terasa ringan. Dengan emosi yang telah memuncak, dia menghantam tanah dengan kepalan tangannya.


“Sial! Sial! sial! Para manusia brengsek itu selalu saja rakus dan tamak!”


Pukulannya membuat gua menjadi bergetar hebat, hingga membuka mulut gua yang tadinya tertutup.


Setelah lonjakan emosi yang tiba tiba, laki laki itu mengatur napas agar menjadi lebih tenang.


“… Jadi aku telah tersegel selama 3000 tahun ya? Lalu di benua mana aku sekarang..?”


Laki laki itu adalah Argus, salah satu dari 10 Pahlawan manusia di perang 3000 tahun lalu yang membelot. Dia dikenal sebagai ahli sihir terkuat diantara pahlawan lainnya. Namun karena suatu alasan, dia mengkhianati mereka.


Dia justru membantu ras Non-Human untuk memukul mundur ras Manusia.


Di perang yang super dashyat itu mustahil jika seseorang tidak mendapatkan luka parah, meski orang itu sekuat pahlawan seperti dirinya. Dia menyegel dirinya sendiri saat ingin kehabisan Energi Kehidupan, beberapa saat setelah Benua terbesar terbelah.


“Huufft.. Sepertinya tersegel membuat usiaku menjadi beku..”


Dia meregangkan tubuhnya, mempersiapkan diri untuk menyambut Dunia baru.


Argus menyingkirkan batu batu yang masih menghalangi, cahaya matahari yang begitu bersinar terang membuat matanya terasa perih karena telah lama tidak mendapatkan cahaya.


Perlahan suara terdengar, Argus memukul dirinya sendiri karena mengira itu adalah halusinasi.


Namun saat membuka matanya karena cahaya itu perlahan memudar seakan ada orang yang menghalanginya masuk, Argus mendapati seorang wanita berjubah, meski menggunakan jubah, wajahnya masih dapat terlihat, wanita yang cantik jelita.


Pesonanya begitu luar biasa, jika Argus tidak merobek kulitnya sendiri mungkin dia akan tergoda. Dia menenangkan diri dan mencoba berinteraksi dengannya:


“Siapa kamu? Dan apa..--?!”


Wanita itu menghampiri dan melepas jubahnya, dia menutup luka Argus yang masih mengucurkan darah. Kemudian wanita itu merapalkan kalimat yang membuat luka Argus menjadi menutup kembali, seolah waktu diputarnya sebelum luka itu terjadi.


Wanita itu sambil menggumamkan kalimat yang membuat Argus tertegun.


“Orang itu.. Dia memiliki kemungkinan untuk memicu keruntuhan Dunia, yang membuat Neraka itu akan kembali terjadi…”


Argus yang menyadari maksudnya, langsung bertanya dengan wanita itu.


“A-apa? Siapa orang itu? Dimana dia sekarang?”


Argus mengucek matanya karena mengira dia salah lihat saat wanita itu tersenyum singkat.


“Kamu.. Akan mengetahuinya… Saat bertemu langsung. Pergilah ke tempat…”


Setelah wanita itu memberitahukan tempatnya, sebuah cahaya di dalam mulut gua tiba tiba bersinar terang, saat dia membuka matanya, wanita itu telah menghilang.


Argus berjalan keluar gua menyambut Dunia baru. Dia juga memoles senyuman karena menurutnya akan lebih baik membersihkan hama lebih cepat sebelum hama itu menjadi berbahaya.


--


Di tempat paling mulia di seluruh semesta, Firmament deity. Seorang pria sedang duduk di takhta emas yang megah, jika seluruh pengrajin dari Neiphr bersatu untuk membuat replikanya mungkin akan tidak sanggup menyamakan keindahannya.


Pria itu sedang mengamati cermin yang melayang di depannya, memperlihatkan seluruh rekaman kejadian langsung yang berada di Neiphr, seolah olah semua yang berada di Neiphr di awasi oleh kamera yang selalu memantau mereka.


Pria itu memoles senyum di wajahnya, membuat pelayan disampingnya menjadi penasaran.


“Maaf jika tidak sopan, Tuanku. Tapi apa yang membuat anda tertarik?”


Seorang pelayan tidak akan melakukan apapun kecuali diperbolehkan ataupun diperintahkan oleh tuannya, begitulah kodratnya.


Sama seperti takdirnya, pelayan itu hanya berdiri disamping pria itu tanpa melakukan apapun sesuai keinginannya, bahkan jika hanya untuk sekedar menguap ataupun mengedipkan mata.


“Lihatlah kesini, Irene.”


Karena itu merupakan perintah, Irene pun melihat ke arah cermin yang sedang memperlihatkan sebuah pertarungan sengit.


“.. Bukankah pemuda berambut hijau itu lebih mendominasi? Apakah itu yang membuat anda tertarik?”


Pria itu menunjuk pemuda yang sedang diseret di tanah dan berkata pada pelayannya:


“Tidak.. Tidak sama sekali. Justru orang itu, dia sangat berbahaya.”


Seusai mengatakan itu, Pria itu menatapnya dengan serius.


“Irene, sebagai salah satu dari 7 dari ArchAngel(Malaikat agung) gunakan otoritasmu untuk membuat seluruh Dunia ini menjadi musuhnya. Kamu memiliki pilihan untuk memulainya darimana.”


Irene berlutut dengan satu tangan menyilang di dadanya, dia tersenyum, sebuah senyuman yang dapat dikatakan anggun namun begitu menyeramkan.


“Sesuai perintahmu, Tuanku.”


Chronoa memutuskan untuk tidak membicarakan semua yang dia alami di mimpi pada siapapun. Dia akan mencari jawaban itu sendiri dan tidak akan menyusahkan orang lain.


Setelah beberapa saat berjalan keluar, dia bertemu dengan Eiria yang sedang terlihat bahagia karena bisa tertawa lepas. Chronoa menanyakan keberadaan Dyze pada Eiria, dia menunjuk ke dalam rumah tetua Elf.


“Kalau tidak salah di ruang tengah.”


Chronoa berterima kasih padanya, Eiria hanya memberikannya senyuman tulus.


Chronoa mempercepat langkahnya.


Dia membuka tirai dengan membungkuk.


“Permisi maaf mengganggu.”


Dyze, dan tetua Elf serta beberapa pelayan di sekitarnya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Chronoa pun langsung mengambil posisi duduk di samping Dyze.


Perhatiannya terpusat pada beberapa tas berukuran besar, dia menanyakan hal itu pada Dyze dengan berbisik.


“Hey, tas besar itu berisi..—“


“—Makanan. Dengan ini kita tidak akan kehabisan stok makanan selama perjalanan.”


Meski kalimatnya dipotong, Chronoa mencoba menahan kekesalannya, karena dia iri pada sifat dewasa Claire.


“Ngomong-ngomong Aelfric, apakah kau mengetahui tentang makhluk bernama Noire?”


Hanya dengan mendengar nama itu tongkat Aelfric bergetar hebat, jika tidak ditahan oleh para pelayannya maka Aelfric akan jatuh ke lantai.


Melihat reaksi Aelfric, Dyze tersenyum. Karena dia tahu jika lawannya bukanlah sembarangan. Aelfric menjelaskannya dengan gemetaran.


“A-ada perlu apa anda dengannya? Noire itu salah satu dari sedikit entitas di Dunia ini yang nyaris mustahil untuk ditemukan, karena umurnya yang sudah sangat tua, dia mengetahui tentang rahasia Dunia, sebuah rahasia yang Elf telah hidup selama 500 tahun sepertiku tidak tahu menahu mengenai hal itu..”


Alis Dyze terangkat saat mendengar “Rahasia Dunia” seolah dia tertarik untuk mengetahuinya. Merasa tidak puas dengan penjelasan Aelfric, Dyze memintanya untuk melanjutkan ceritanya.


“.. Maafkan saya, hanya itu yang saya ketahui mengenai dirinya.”


Dyze merasa kecewa, karena ingin mengetahui informasi tentang Noire lebih lanjut, Dyze pun menanyakan kota terdekat pada Aelfric.


“Ah, sepertinya anda akan membutuhkan ini selama perjalanan.”


Aelfric membisikan sesuatu kepada pelayan disampingnya, pelayan itu menunduk kemudian pergi ke ruangan belakang.


Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali dengan membawa gulungan kertas di tangannya.


Pelayan itu menyerahkannya pada Aelfric, diapun segera membukanya.


Aelfric menunjuk salah satu hutan lebat yang tercetak di kertas itu.


“Lihat, kita sekarang berada di Omorfia Forest.”


Seolah dituntun oleh jarinya, Dyze dan Chronoa pun mendekati Aelfric dan melihat kertas tersebut dengan lebih jelas.


“Ini..?”


“Peta.”


Aelfric pun menunjuk salah satu kota yang berada di peta itu, dan menjelaskan pada Dyze.


“Sekarang anda berada di luar perbatasan, tidak berada pada kerajaan manapun. Kota terdekat disini berada di utara, dan jika ditempuh dengan kuda saja membutuhkan waktu seharian penuh. Akan terlalu lama bagi anda yang berjalan kaki.. Jika anda tidak keberatan, kami akan selalu menyediakan tempat untuk anda beristirahat meski dalam jangka waktu yang lama.”


Dyze hanya menatap Aelfric tanpa memasang emosi apa apa. Dia kemudian melambai-lambaikan jarinya.


“Tidak. Peranmu sudah cukup kali ini.”


Aelfric tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, karena baru pertama kali dia ditolak mentah seseorang seperti ini.


Dia bukannya marah justru bersujud pada Dyze, membuat pelayan-pelayan disekitarnya menjadi gelisah, melihat kepala tuannya menyentuh tanah(lantai). Aelfric memecah kecanggungan dengan berbicara lantang pada Dyze:


“Kalau begitu! Izinkan kami menjadi bantuanmu di masa depan nanti!”


Dyze menatapnya beberapa saat lalu bersiul, membuat Aelfric mengangkat kepalanya.


Saat Aelfric ingin melihat ke arahnya, Dyze terlebih dahulu menempelkan jari telunjuk di dahinya sambil tersenyum, sebuah senyuman yang membuat seisi ruangan seperti membeku.


Secara mengejutkan, dahi Aelfric mengeluarkan cahaya yang begitu terang. Di saat Aelfric membuka matanya, dia di kejutkan saat pelayannya mengatakan ada sebuah simbol berbentuk bintang dan bulan yang disatukan di dahinya.


Tidak hanya itu, para pelayan itu juga dikejutkan saat tahu di dahi mereka masing-masing memiliki simbol yang sama.


“Dengan ini, kalian semua telah menjadi milikku. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan mainanku rusak, aku akan menjaganya sebaik mungkin.”


“M-mainan?”


Chronoa yang telah sedikit mengerti pemahaman Dyze membisiki Aelfric:


“Maksudnya itu kalian akan dijaga sebaik-baiknya. Analoginya memang aneh..”


Aelfric menarik napas lega saat mendengarnya, namun dia dibuat merinding saat Chronoa melanjutkan perkataannya.


“Namun.. Jika kalian berkhianat ataupun tidak patuh padanya, aku sendiri yang akan membawakan kepalamu untuknya.”


Chronoa tersenyum saat mengatakannya, sebuah senyum yang indah, namun justru itulah membuat kesan mengerikannya semakin menghantui Aelfric.


“Baiklah, sudah saatnya.”


Dyze mengangkat tangannya, mencoba menggapai udara dan merobeknya.


“Tier Out Dimension (Merobek Dimensi).”


Udara menjadi berkecamuk, sebuah lingkaran kecil seukuran lengan berwarna hitam dilapisi warna merah gelap di sekitarnya terbuka di tempat Dyze menaruh tangannya, atau begitulah seharusnya. Namun tidak ada yang terjadi, hal ini membuat Dyze keheranan.


“.. Apa?”


Kata itulah muncul dari mulut setiap orang di ruangan, bukan hanya Dyze yang heran.


Dyze menjadi lemas dan tidak bersemangat saat mengetahui fakta jika dia tidak dapat menggunakan seluruh skillnya saat ini.


“..Yang benar saja…”


Chronoa hanya bisa menghela napas dalam hati karena dilihat dari situasi saja, dia dapat menemukan jawabannya.


Dia mengangkat salah satu dari ketiga tas berisi makanan, meski lebih besar dua kali lipat dari tubuhnya, Chronoa tidak terlihat terlalu kesusahan; yang dirasakannya hanya seperti menggendong mayat beruang, bukan berat yang membuatnya repot melainkan ukuran.


Dyze yang melihat Chronoa mencoba membawa 2 tas berisi makanan pun menghentikannya.


“Jangan. Kau sudah cukup membantu dengan membawa satu.. Biarkan aku mengurus sisanya...”


Chronoa hanya menurutinya karena raut wajah Dyze masih terlihat jelas depresinya.


Meski ingin membantu, Tetua elf tidak berani berbuat apa-apa.


Mereka pun menuruni anak tangga yang panjang ini, meski membawa beban yang cukup berat, wajah Dyze tidak terlihat seperti itu, wajahnya seperti ikan mati karena kehilangan semangatnya.