
Dyze sekarang persis seperti mainan rusak, pikirannya kini buram, penglihatannya mulai kabur, dan di hatinya terdapat sebuah titik hitam yang terus meluas, sebuah perasaan rumit yang tidak dapat dijelaskan.
Kemudian sebuah kilatan sosok cahaya biru yang di dominas warna ungu di sebelah kirinya. Sosok itu memiliki wujud perempuan dewasa dengan rambut berwarna ungu gelap dan mata sayu berwarna biru langit malam, seakan menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Sepertinya dia adalah Len, perwujudan dari segala emosi negatif 『 Night falls 』.
Dyze menoleh ke arah Len yang menatapnya dengan pilu lalu bergumam:
“Len..”
Melihat Tuannya yang menatapnya dengan sorot mata kosong membuat dadanya terasa sesak dan hampa.
“Anda tidaklah salah, wahai Tuanku. Justru jika anda ingin menyalahkan seseorang atas kondisi anda sekarang ini, yang disalahkan bukanlah anda, melainkan wanita itu sendiri. Mengapa dia melompat ke arahmu seakan merencanakannya?”
Kalimat itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Di saat yang bersamaan, seorang gadis kecil berusia sekitar 8 tahun dengan rambut twintail bewarna merah dan mata merah gelap seakan mengisyaratkan kemurkaan yang terpendam, muncul disebelah kanannya. Dia adalah ... Nel, perwujudan atau manifestasi dari Wrathful King Satanel.
Nel tidak ingin kalah saing dengan Len, terutama dia juga bersedih karena melihat Tuannya menjadi seperti ini. Namun Nel berusaha menyembunyikannya dan kembali berakting seperti biasa.
“Benaaar! Itu benar master! Dia pasti melakukan itu dengan sengaja! Kenapa master harus meratapi wanita yang memang menginginkan kematian? Master tidak bersalah!!”
Berbanding terbalik dengan Len yang kalem dan anggun, Nel memiliki sifat ceria dan berisik. Jika Len adalah bulan maka Nel adalah matahari.
Kalimat-kalimat yang mereka lontarkan membuat pendirian Dyze menjadi goyah. Di satu sisi dia merasa pernyataan mereka ada benarnya juga, namun di lain pihak, sebagian dirinya tetap menolak keras hal tersebut.
Sampai pada akhirnya, mereka dikejutkan oleh lubang neraka yang terbuka tepat di belakang Dyze. Lubang itu berisikan jiwa-jiwa yang pernah dia musnahkan, termasuk Asmodeus dan Klera berada di dalamnya. Jiwa-jiwa itu berusaha meraih Dyze yang tidak jauh berada di depan mereka.
Hingga jiwa-jiwa itu berhasil meraih pundaknya, namun anehnya, Nel dan Len tidak bereaksi sama sekali, yang itu artinya mereka tidak berniat membahayakan Dyze. Tidak hanya itu, Len dan Nel justru memeluk tangannya dari kedua sisi yang berbeda. Mereka membisikkan kalimat di telinga Dyze secara berulang-ulang yang membuatnya menjadi mengantuk.
“Tidurlah, silahkan beristirahat, wahai Tuan yang kami cintai. Biarkan dunia yang terkutuk ini hancur di tangan kami.”
Len membisikan kalimat tersebut di telinga Dyze yang mulai kehilangan kesadarannya. Dengan kesadaran yang tersisa, dia dapat merasakan bahwa dirinya akan ditarik ke dalam lubang neraka. Namun tidak ada yang dapat dia lakukan.
“Tenanglah Master, kami pasti akan membuat dunia ini menderita dan mendapatkan kesengsaraan dimana-mana. Oleh karena itu, master yang kami cintai ... jangan khawatirkan dunia ini lagi.”
Ahh.. aku lelah sekali. Biarkan aku terlelap tuk sejenak…
Setelah itu Dyze pun kehilangan kesadaran sepenuhnya.
--
Meski Argus masih tercengang dengan apa yang di alaminya sekarang namun dia tersadarkan oleh tubuh Dyze yang mulai bergerak dengan tidak wajar.
Mengingat petunjuk atau juga bisa disebut perintah yang ditunjukan padanya, Argus bersiap untuk menggunakan Ultimate Skillnya meski sekarang dia sendiri tidak berada dalam keadaan prima. Setelah menjaga jarak sekitar 100 Meter dari Dyze, dia pun langsung mengaktifkannya.
“Absolute Restraint!”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, rantai-rantai itu mengikat kedua lengan, kaki, pinggang, serta leher dari individu yang dia waspadai.
“Uhuk! Uhuk!”
Argus memuntahkan darah, secara spontan dia memegang luka di perutnya, khawatir jika lukanya akan kembali terbuka. Meski begitu dia tidak takut jika tubuhnya akan hancur karena menyentuh limit ataupun kehilangan Energi.
Tapi, Argus masih menatap Dyze dengan penuh tekad, lalu berteriak:
“Jangan bercanda! Aku dijuluki Sang Ahli Sihir Terkuat di antara 9 pahlawan lainnya bukanlah tanpa alasan!”
***
"Uhh rantai menyebalkan...! Kenapa masih ada pengganggu saja sih!"
Nel menggerutu kesal seraya berusaha melepaskan rantai yang mengekang Dyze dengan sangat kuat. Len dan Jiwa-jiwa penuh kebencian pun berusaha melepaskan rantai itu, tapi seperti dugaan Argus sebelumnya, rantainya benar benar kuat hingga membuat mereka kerepotan.
Dyze semakin tertarik ke dalam lubang Neraka, Argus yang tidak ingin membuang waktu langsung mengambil tindakannya, berupa menyerap kesadaran Dyze dan meniadakannya.
‘A-apa? Tubuhnya sama sekali tidak memberontak. Ini aneh ... selama aku menggunakan ultimate skill ini, target-target terdahulu selalu memberontak meski tidak membuahkan hasil, tapi orang ini..’
Tapi saat Argus sedang bingung, dia menjadi lengah, dan baru menyadari jika sesuatu yang aneh terjadi pada tangan Dyze.
“T-tangannya?! Apa-apaan energi negatif itu?! Ini aneh, bagaimana bisa dia mengumpulkan energi itu saat kesadarannya lagi diserap?!”
Tangan kanan Dyze mulai bergerak dengan menghantam udara di sebelahnya. Udara itu seperti retak karena ulahnya, melihat kejadian mustahil untuk sekian kalinya tidak membuat Argus terkejut lagi.
Argus berusaha mengulur waktu lebih banyak dengan meningkatkan sedikit kekuatannya.
“Sudah kubilang! Jangan remehkan aku!”
Di sisi lain, Dyze yang setengah sadar, merasa tidurnya sedang diganggu oleh Chronoa. Ia mencoba mengayunkan genggaman tangannya ke arah bayang-bayang Chronoa yang muncul di pikirannya.
Tapi yang sebenarnya terjadi, Dyze hanya menghantamkan tinjunya ke udara, hingga energi negatif di tangannya meledak membuat udara menjadi retak dan menghasilkan Shockwave dashyat yang menyapu segalanya, termasuk salah satu bagian rantai yang mengikatnya.
“Apa?! Masih kurang!?... Sial. Tapi kelihatannya kerusakan yang dapat dihasilkan Shockwave itu hanya searah, dengan kata lain butuh beberapa kali percobaan lagi untuknya menghancurkan seluruh rantai, ‘kah?”
“Tidak ada pilihan lain.. Demi membalasnya!”
Argus menggunakan nyaris 1/3 dari Energi Kehidupannya, seluruh tubuhnya mengeluarkan urat yang menonjol, jika dia meningkatkan kembali kekuatannya, maka pembuluh darahnya pasti akan meledak saat itu juga. Tapi dia sama sekali tidak masalah jika harus mati demi “Kehormatan-nya”.
Sedangkan Dyze terlihat terdiam untuk beberapa saat sehingga membuat Argus merasa heran sekaligus sedikit lega, karna ia kira semua ini akan segera berakhir. Namun tidak semulus yang ia bayangkan, Dyze mulai bergerak kembali, Energi Negatif itu seperti menggumpal dan menyelimuti dirinya.
Argus dengan penuh tekad menggunakan kekuatan penuhnya hingga dia pun menyentuh Limitnya sendiri. Pembuluh darah di bagian lengan dan tubuh bagian bawahnya mulai pecah, mengucurkan darah segar yang membuat Argus merasa lemah. Tapi luka yang dia dapatkan 3000 tahun lalu jauh lebih parah dari ini, karena itulah Argus tidak akan mundur lalu melarikan diri.