
Chapter 27. Kegigihan Seorang Argus
Perasaan lega muncul di hati Argus, namun harapannya pupus seketika saat melihat tangan Dyze bergerak.
Tangan Dyze menggenggam mata tombak itu hingga berdarah, seolah tidak merasakan rasa sakit tangannya langsung meremukkan tombak itu begitu saja, menghiraukan serpihan-serpihan mata tombak yang bersarang di telapak tangannya.
Jantung Argus berdetak kencang, seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya. Suara detak jantung dan suara batinnya memenuhi kepalanya, membuatnya tidak dapat mendengar Dyze tertawa.
“Tidak mungkin! Apakah ada makhluk yang dapat kembali dari kematian!? Tunggu—jangan bilang dia tidak mati dari awal..?!”
Sambil bergumam dengan bibir bergetar seperti orang yang kehilangan akalnya, Argus menoleh ke arah Dyze di depannya, yang hanya berjarak sekitar 25 meter jauhnya. Dia melihat Dyze memasang senyuman sambil menutupi sebelah wajahnya dengan telapak tangan, lalu menggerakan mulutnya dengan perlahan.
“Bercanda.. Deng~”
Meski Argus tidak mendengarnya karena hujan badai masih mengguyur mereka, namun tubuhnya semakin bergetar hebat sampai-sampai Argus melukai bibirnya sendiri akibat menahan hasrat ingin roboh.
Argus memiliki bakat berupa dapat membaca isi hati seseorang hanya dengan gerakan bibirnya, dan dia dapat mengetahui dengan sendirinya apakah orang itu berbohong atau tidak melalui gerak-geriknya.
“Apa kau punya kejutan lain?”
Argus kini kembali dikejutkan saat melihat bekas lobang yang berada di perut Dyze kini telah menghilang sepenuhnya, hanya menyisakan bajunya yang robek di area perut.
Meski Argus sendiri mempunyai kemampuan serupa—Regenerasi Tingkat Tinggi namun nyaris mustahil baginya memulihkan luka se-fatal itu dalam waktu singkat terutama hingga tidak berbekas sama sekali.
Karena Argus tidak menjawab pertanyaannya, maka Dyze pun menganggap kini gilirannya. Dyze berteriak ke arah Argus yang masih terlihat linglung.
“Yah. Jika sudah tidak ada lagi maka cobalah untuk bertahan dari seranganku.”
Argus menjadi waspada saat mendengarnya. Tanpa disadari langit seperti tenggelam, seolah ditekan oleh sesuatu.
“!?”
Insting Argus seolah membimbingnya melihat ke arah langit yang berada di atas Dyze. Argus sudah cukup lelah dibuat terkejut, kali ini dia tidak begitu merasakan kejutan yang begitu berarti.
Sebuah Asteroid raksasa sedang membumbung tinggi di langit, dengan percikan api akibat gesekannya dengan Atmosfer. Asteroid itu kini menuju ke arah Argus dan ingin menghantamnya.
Namun berkat Argus tidak begitu terkejut dengan kehadiran Asteroid itu, Argus dapat mempersiapkan Skill untuk melawan atau memblokir Asteroid raksasa yang sedang menggesek udara menuju ke arahnya.
Dengan penuh tekad, Argus menatap tajam Asteroid, seolah rasa takutnya kini telah sirna. Argus membuat sebuah gerakan mengangkat beban kemudian berteriak dengan lantang:
“Jangan remehkan aku--!!”
Bersamaan dengan itu, bibir Argus bergerak dengan cepat, menggumamkan sebuah kalimat.
“Semblant Version(Versi Tiruan)!”
Tanah tiba-tiba bergetar, menggoncang semua yang berada di atasnya. Hanya Dyze dan Argus saja yang terlihat masih berdiri kokoh.
Tidak lama kemudian, tepat di belakang Argus, tanah seakan hancur diterjang sesuatu dari dalam. Sesuatu yang tidak diduga oleh Dyze pun terjadi, sebuah lengan raksasa persis seperti milik Argus muncul dari dalam tanah, ukuran lengan itu kian membesar dengan sendirinya hingga mampu mencapai Asteroid di genggamannya.
Membuat Dyze kegirangan, karena dia sendiri lebih suka menggunakan Skill atau Sihir dibandingkan serangan fisik. Tapi bukan berarti dia membenci bertarung dengan menggunakan fisik.
Namun meski begitu, Asteroid itu masih memiliki keunggulan dalam hal ukuran. Seolah Asteroid itu berada di atas kepalanya sendiri, Argus terlihat mengangkat beban yang sangat berat. Urat-urat di tubuhnya pun dapat terlihat jelas.
Ingin melihat seberapa jauh Argus dapat bertahan, Dyze mengangkat tangan kanannya ke langit dan bergumam:
“Summon Meteorit.”
“Kuh!”
Kedua lengan Argus mulai mengeluarkan darah, merasa jika terus dalam posisi ini maka tidak ada yang akan terjadi, Argus bersiap untuk mengubah rencana.
Meski menggunakan kedua tangannya Argus tetap kesulitan, Argus mencoba berpacu dengan waktu. Dia ingin lengan kanannya menahan Asteroid meski harus mengorbankannya, dan lengan kiri bertugas untuk menggusur Meteorit yang berada di atasnya.
Dalam posisi ini Argus tidak memperdulikan jika ada Makhluk hidup yang tertimpa Meteorit itu.
“Ugghh!”
Lengan kanannya seperti ingin patah, Argus seolah mendengarkan bisikan-bisikan yang menyuruhnya beristirahat, namun Argus berteriak dengan gagah layaknya seorang Pejuang.
“Gaaargggh!!”
Mengerahkan setengah tenaganya, Argus berhasil menyingkirkan Meteorit itu. Kini hanya tersisa Asteroid saja. Meski lengan kanan Argus seperti mati rasa, dia tetap berusaha untuk melakukan sesuai rencananya.
Argus sadar jika terus-terusan bertahan maka dia tidak akan menang di suatu pertarungan, dia perlu menyerang, membuktikan kekuatannya pada musuh.
Argus berusaha meremukkan Asteroid itu dari dua sisi; layaknya seorang anak kecil yang berusaha menghancurkan bola tanah liat.
Sekali lagi Argus berteriak dengan kuat agar dapat menutupi suara retakan dari tulang-tulangnya serta bisikan-bisikan dari bawah alam sadarnya.
Usaha keras dari Argus tidak berakhir sia-sia, Asteroid itu mulai retak dan akhirnya hancur.
Bersamaan dengan hancurnya Asteroid, terdengar suara dentuman dashyat yang memekikkan telinga.
Dan dashyatnya dentuman ini membuat suara petir yang terus menggelegar terlihat tidak ada apa-apanya.
Argus menatap Dyze dengan setengah napas berat, dia tahu dari Dyze yang menepuk-nepuk tangannya seolah berkata semua ini belum berakhir.
--
Dyze dengan pelan menggerakan kaki kanannya sambil menggumamkan sesuatu.
“Hey..—“
Kata-katanya terputus karena Dyze menghilang dari tempatnya, angin segar yang berhembus saat kepergiannya pun terlihat masih utuh. Tanpa sempat berbuat apa-apa Dyze muncul di depan Argus, bersamaan dengan angin kencang yang tercipta akibat kedatangannya.
“—Apa kau sudah selesai?”
Belum sempat bereaksi, Argus mendengar suara tawa kecil mengalir di telinganya. Dan bersamaan dengan itu wajah Argus mendapatkan sebuah pukulan yang seperti dilapisi api dari Dyze.
Hidungnya mengeluarkan darah, kesadarannya ingin menghilang saat pukulan telak itu menghantam wajahnya, meski terpental jauh, Argus berusaha mempertahankan kesadarannya dengan melukai bibirnya sendiri.
Argus berusaha menjangkau tanah dengan kakinya, lalu berusaha menghentikan laju dirinya yang terus bertambah. Akibat gesekan kakinya dengan tanah, kecepatannya mulai berkurang dan kini telah menghilang.
Argus menekan hidung dan mengeluarkan sisa darah didalamnya. Argus menarik napas panjang dan berteriak agar Dyze mendengarnya.
“Cih! Mengapa kau menyerangku seperti itu tanpa adanya peringatan?!”
Merespon perkataan Argus, Dyze hanya menaikan bahunya. Seolah mengalihkan topik, Dyze memuji Argus.
“Wow! Pukulan berapi telak mengenai wajahmu tapi kau tidak tumbang, padahal energimu telah terkuras. Tampaknya kau lebih tangguh dan juga kuat dari Asmodeus.”