
‘Berapa jumlah mereka?’
[ Totalnya berjumlah sekitar 910.183 dari keseluruhan individu ]
‘Ini bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Jadi begitu, tadi itu hanya sebagai pengalihan dan ini penghabisan .., ‘Kah?’
Alih-alih takut dan waspada dengan jumlah mereka yang begitu banyak serta memiliki kekuatan tempur yang tidak dapat diremehkan, Dyze justru hanya memasang seringai khas miliknya.
[ Death Knight memulai pergerakan. Diperkirakan 3 detik dari sekarang ribuan dari mereka akan dapat menggapai posisi anda sekarang. ]
“Yah mau itu sebanyak apa pun, yang perlu ku lakukan hanyalah menumpas mereka semua hingga habis tidak tersisa!”
[ 2 Detik ]
Dyze membalikan pedang miliknya dengan kecepatan tinggi, mengarahkan mata pedang dan bagian bilah yang paling tajam ke arah para Undead itu.
[ 1 Detik ]
“Khiirk ..”
“Dyze!”
Mengabaikan Chloe dan Claire yang memanggilnya, Dyze melesat maju dengan pedang di genggaman tangan kanannya, kini dia berhadapan langsung dengan ribuan Death Knight yang berusaha menebasnya dengan menggunakan pedang, kemudian Dark Mage yang melafalkan sihir di udara untuk menyerangnya.
Puluhan Gloomy Giant pun ikut memberikan tinjuan mentah yang kecepatannya lebih laju dari angin itu sendiri, tapi di mata Dyze, semua itu seperti melambat.
[ Bukan waktu yang melambat, karena ini bukan ulah dari individu bernama Chloe. Tapi itu semua dapat terjadi karena indra penglihatan anda yang begitu cepat tanggap dan tajam, sehingga semua hal yang lebih lambat dari indra anda, akan terlihat seperti melambat di mata anda. ]
‘Aku tau itu.’
Dyze menghindari tusukan pedang dari Death Knight, peluru tulang dari Dark Mage, dan pukulan dari para Gloomy Giant dengan meliukkan tubuhnya secara fleksibel.
Dia menggapai leher Death Knight yang memiliki tinggi 3 meter, kemudian menjadikannya pijakan untuk melompat tinggi ke udara.
Di udara, tepat sebelum para Dark Mage itu dapat bereaksi, Dyze mengayunkan pedang hitamnya yang telah diisi dengan energi negative dari alam sekitar Silence Forest.
Slash!
Sebuah tebasan unggulan tercipta, ukurannya hampir melebihi para Gloomy Giant, tekanan yang di hasilkan oleh tebasan itu begitu kuat, sehingga tidak sedikit dari para Death Knight, Dark Mage dan Gloomy Giant sekali pun yang mati akibat tertindih tekanan yang begitu kuat.
Tebasan berwarna hitam dan di dominasi oleh warna ungu gelap itu membuat ruang di seluruh wilayah Silence Forest menjadi terdistorsi, hal ini menyebabkan waktu yang mereka rasakan seolah melambat dari biasanya.
Lebih dari sepuluh ribu Undead yang terdiri dari Death Knight, Dark Mage, dan Gloomy Giant langsung gugur menjadi abu.
Hal ini di manfaatkan oleh Chloe dan yang lainnya, karena selama ruang distorsi berlangsung, waktu di sekitar mereka melambat, namun sepertinya itu hanya berlaku untuk para Undead saja.
Dyze yang berada di udara bersenang-senang dengan menghabisi para Dark Mage dan Gloomy Giant yang berusaha menjangkaunya.
Sedangkan Chloe, Eleina, dan Arcandra membersihkan semua Undead dari Death Knight, Dark Mage, serta Gloomy Giant yang berniat untuk mengganggunya.
Sama seperti Chloe dan yang lainnya, Claire, Argus serta Nirvia pun juga menumbangkan para Undead itu dengan kemampuan mereka.
Tidak ada yang terlihat kesulitan meski menangani lebih dari ribuan Undead Death Knight, Dark Mage, dan Gloomy Giant sekaligus.
Hanya saja Nirvia .. Karena dia merupakan Dryad dan Silence Forest yang penuh dengan atribut kematian merupakan tempat terburuk baginya, Nirvia sedikit mengalami kendala dalam menghabisi mereka dalam jangka waktu lama.
『 Extract Soul 』
Itulah yang menyebabkan Nirvia harus memanfaatkan kelemahan terbesar dari para Undead, yakni menghancurkan jiwa buatan yang dipanggil untuk mempertahankan raga mereka. Tapi dengan skill ini membuat inti energi kehidupan miliknya menjadi terkontaminasi setitik dari atribut kematian.
Meski untuk saat ini hanya lah setitik saja, tidak menutup kemungkinan jika titik ini memiliki potensi melebar dan meluas sehingga menyebar ke seluruh inti energi kehidupannya.
.
..
Lebih dari 900 ribu mayat Undead menumpuk, menindih satu sama lain seperti gunung. Dyze yang duduk di atas itu semua merasakan sensasi kosong dalam jiwanya.
'Aku tidak nyaman.'
[ Jika anda merasakan itu karena jenuh disebabkan pertarungan yang masih belum memuaskan, ada kabar gembira untuk anda. ]
'Kabar gembira?'
[ Gelombang ketiga akan segera datang. ]
Tepat setelah hal itu dikatakan Athena, dua serangga yang terdiri dari kupu-kupu berwarna kuning serta seekor lebah menghampirinya.
"Apa-apaan ini?"
Kedua serangga itu seolah hinggap di pundaknya untuk beberapa saat, kemudian setelah itu terbang menjauh darinya.
Sorot mata Dyze seolah di tarik seperti magnet oleh gerakan sayap mereka, dia melihat kedua serangga itu terbang mendekat ke arah Chloe.
Chloe menaikan jari telunjuknya, kupu-kupu kuning itu kemudian hinggap di atasnya.
Sedangkan untuk yang lebah dia hanya terbang memutari Chloe, tanpa tahu maksud alasan di baliknya.
"... Ini?"
Chloe teringat sesuatu, dia mengingat perkataan kedua orang tuanya saat sebagai Chronoa.
Ibunya mengatakan bahwa dia akan menjelma sebagai kupu-kupu kuning yang akan menghampirinya saat dia dalam keadaan suka atau pun duka.
Kemudian Layond-- ayahnya mengatakan bahwa dia akan berubah menjadi lebah ketika Chloe dalam keadaan bahagia atau tertawa.
Degg!
Jantung Chloe berdegup kencang, dia merasakan perasaan mencekam yang mencekik hatinya.
Chloe segera berbalik menghadap Dyze dan berteriak.
"Dyze!"
"?"
Semua perhatian terpusat padanya.
"Aku merasakan firasat buruk!"
"Apa maksudmu ..?"
"Khe khe khe."
Suara tawa kecil berat yang menyeramkan terdengar dari kejauhan, perhatian mereka menjadi terfokus padanya.
Dari balik kabut, terdapat 4 orang siluet berwarna hitam berdiri secara sejajar.
Kabut itu mulai menipis, dan pupil Dyze mulai membesar saat melihat 3 dari 4 sosok undead itu begitu familiar baginya.
Dan karena alasan yang tidak diketahui, tumpukan mayat undead yang dia duduki mulai menjadi abu.
Dimulai perlahan dari yang paling bawah.
"Layond .. Riley .. Lealta ..?"
Dyze menggertakkan giginya hingga berbunyi, sorot matanya menjadi intens, aura gelap mulai menyelimuti dan membungkus seluruh tubuhnya.
Tepat sebelum semua tumpukan mayat di bawahnya habis menjadi abu secara sepenuhnya, Dyze telah melesat dengan kecepatan cahaya terlebih dahulu menuju ke arah Undead tengkorak berjubah mewah yang berada di tengah-tengah dari ketiga Undead yang familiar baginya.