The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 16. Dewa Yang Mengejar Kesenangan



Chapter 16. Seorang Dewa Yang Mengejar Kesenangan


Setelah terdorong dengan kecepatan tinggi, Dyze telah menjaga jarak 55 Meter jauh nya dengan Asmodeus.


Dyze berhenti, dengan menendang udara di belakang nya. Kemudian mengaktifkan Skill Fly milik nya. Setelah menjaga jarak, Dyze dengan cepat mencari Klera sebelum Asmodeus yang sedang melesat dengan kecepatan tinggi sampai pada nya.


Perhatian Dyze terpusat saat melihat padang rumput luas dan bekas lingkaran neraka yang masih menyala. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menemukan sejumlah besar pasukan.


“Itu dia!”


Dyze dengan pedang kayu di tangan kanannya langsung menusuk paha nya. Meski terbuat dari kayu, ujung dari pedang ini tetaplah tajam, yang membuat darah segar mengucur deras.


Di tengah air mancur darah dari paha nya, Dyze justru seperti tidak merasakan apa apa – seolah memberitahu sesuatu yang kecil seperti ini tidak dapat Dyze ekspresikan sebagai rasa sakit.


Dyze menutup mata nya, sebuah kalimat keluar dari mulutnya.


“Blood Of Creation: Mini Sun.”


Darah yang tadi nya mengalir dengan deras menjadi terhenti dan menggumpal di udara. Seperti membentuk sebuah bola yang berisi kolam darah, bola merah ini kemudian menjadi bercahaya dan membesar.


Sekarang ukuran nya jauh melebihi Asmodeus, tidak hanya ukuran nya, panas nya juga sangat mengerikan. Dyze yang berada di dekat nya saja menjaga jarak lebih agar menghindari keringat.


-->Skill ini adalah salah satu Skill unik yang dia sukai saat melawan orang yang kuat. Skill ini dapat membuat pengguna menciptakan apapun sesuai imajinasi nya. Tidak hanya itu, pengguna juga dapat mengontrol pergerakan nya dengan baik jika sudah menguasai dengan benar Skill ini. Yang dibutuhkan disini hanyalah darah pengguna sebagai perantara penciptaan<--


Meski Asmodeus yang kini berada hanya sekitar belasan meter saja jauh nya dari Dyze sempat heran dengan ‘bola api’ yang sangat besar di dekat Dyze. Namun dia percaya diri dengan ketahanan tubuh nya.


Saat dia dan Dyze hanya dipisahkan oleh jarak 10 meter, Dyze menyeringai.


Momen seperti ini mengingatkan nya pada Noire, satu satu nya sosok yang dia benci dan takuti di Dunia ini.


Menyadari ‘bola api’ itu telah menghilang, Asmodeus mengira diri nya lengah, dia mencoba menebak kemana tujuan ‘bola api’ itu bergerak.


Selagi terus melesat di udara mendekati Dyze, dia tiba tiba teringat dengan Asisten nya, Klera. Hal ini membuat nya spontan menghentikan laju nya dan langsung mencari keberadaan Klera. Tidak butuh waktu lama dia dapat menemukan ‘bola api’ besar itu sedang mengarah ke pasukan nya.


Saat dia hendak mengubah arah tujuan, dia merasakan hawa mengerikan yang menusuk tubuh nya berasal dari belakang.


Dia tahu betul, seharus nya yang memiliki hawa keberadaan mencekam, menusuk, dan dapat mengintimidasi raja iblis seperti ini hanya dimiliki oleh Noire, sang Iblis tertua dan satu satu nya yang telah mencapai Limit terakhirnya di Dunia.


Tapi! Kali ini dia mengetahui, bahwa yang di lawannya sekarang adalah Monster seperti nya.


Asmodeus dengan segenap reflek nya menoleh ke arah belakang, membayangkan sosok Noire yang sedang terbang di hadapannya, namun yang dia lihat justru –


– Seorang pemuda terbang di atasnya sedang memasang senyum lebar di wajahnya. Asmodeus tidak dapat bergerak, seolah tubuhnya bukan atas kendalinya lagi. Dia menatap senyum pemuda itu, senyuman yang persis membuat nya menggigil, senyum Noire.


Mulut pemuda itu bergerak, mengucapkan sebuah kalimat tepat sebelum Asmodeus dibuat jatuh dari langit.


“Kau tidak boleh mengalihkan pandangan saat dalam pertarungan.”


Dengan reflek ku yang hebat dan tajam, seharus nya aku dapat menghindari segala macam serangan kejutan—begitulah pikir nya.


Namun saat Dyze menendang kepala Asmodeus dengan cara memutar kaki nya dalam sekejap, membuatnya bahkan tidak sempat bereaksi. Dan saking cepat nya hal itu terjadi membuat kepala Asmodeus mengalami pusing yang dashyat saat menerima serangan mentah Dyze.


Asmodeus pun terhempas jatuh dengan kecepatan tinggi, Dyze menggerakan jari nya seperti sedang mengendalikan sesuatu. ‘Bola api’ yang awal nya ingin meledak saat dekat dengan pasukan Asmodeus pun menjadi bergerak menuju Asmodeus yang sedang terbaring terjatuh dari langit.


Tiba tiba saja, sebuah bola api besar menghantam dari bawah dan membakar nya. Tapi Asmodeus tidak berteriak kesakitan justru dia menjadi sadar kembali akibat panas yang dia rasakan.


Tapi karena sudah terlalu dekat dengan daratan, Asmodeus tidak dapat berbuat banyak. Dia pun menghantam tanah dengan keras nya. Pendaratan tidak sempurna itu membuat lubang besar yang mengubur nya.


Sedangkan Dyze telah mendarat dengan normal dengan jarak sekitar 15 meter dari Asmodeus. Terlihat juga dari kejauhan pasukan Asmodeus yang di pimpin Klera menuju ke arah mereka.


“Berapa lama lagi kau akan bertingkah seolah tidak sadarkan diri?”


Seolah merespon perkataan Dyze, tanah yang mengubur Asmodeus bergetar. Dan tanah itu menjadi hancur, membuka jalan. Sosok Iblis bertanduk memiliki sayap burung hantu berambut merah dan tatapan tajam mata berwarna oranye terlihat Asmodeus melompat keluar sambil menggenggam kapak di tangan kanan nya.


Bersamaan dengan keluar nya Asmodeus, para bawahan nya telah berada di sisi nya. Para bawahan nya yang tersisa dalam kondisi siaga saat Dyze mulai berjalan mendekati mereka.


“Bisakah kita lebih serius sekarang?”


Dyze mengajak Asmodeus dengan menguap. Sedangkan Asmodeus terlihat meregangkan otot otot nya.


“Benar. Aku akan lebih serius sekarang!”


Asmodeus membuat kapak nya menancap di tanah, dia kemudian berdiri tegap, menatap Dyze dengan tajam dan menggumamkan sebuah kalimat yang bergema.


“Asmodeus: True Form.”


Setelah itu, tubuh nya menjadi dipenuhi dengan kepulan asap, dan dia tidak terlihat bergerak sama sekali, jika orang yang berada di posisi Dyze sekarang maka pasti orang itu akan menggunakan kesempatan ini untuk mengakhiri nya, namun Dyze justru menunggu nya dengan sabar.


Para bawahan nya meski tidak diperintah sekalipun sigap melindungi tuan nya dengan membentuk lingkaran yang menempatkan Asmodeus di tengah nya.


Dyze mengerutkan dahinya terlihat sedikit kesal dan menendang batu.


“Cih, tenang saja. Aku menunggu nya dengan sabar kok!”


Lalu asisten Asmodeus, Klera menjawab dengan nada rendah tapi menyiratkan kepercayaan diri.


“Naif.”


“Huh?”


Mendengar kata itu hampir membuat Dyze kehilangan ketenangan nya.


Dyze mengatur napas untuk menekan emosi nya.


“Apa maksudmu?”


Klera dengan enteng menjawab tanpa rasa takut.


“Kamu kuat. Tapi naif. Siapapun orang nya jika dalam posisi mu pasti akan memilih untuk menyerang daripada menunggu lawan mempersiapkan semua nya.”


Tanggapan Dyze terhadap perkataan Klera hanya tertawa, tawa nya seperti mengguncang langit, Guntur Guntur yang menyambar menambah kengerian nya.


“Kau pikir aku melakukan itu karena kasihan? Kau pikir aku melakukan itu karena ingin pertarungan yang adil? Kau pikir aku melakukan itu karena yakin dengan pasti akan meraih kemenangan? PFFT! Jangan bercanda! Aku melakukan ini semua demi mencari kesenangan!”