The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 59. Hadiah?



“Heey!”


Dari kejauhan sebuah suara yang mereka kenali terdengar, sesaat kemudian Argus keluar dari semak-semak dan pepohonan kecil dengan membawa sebuah benda di tangannya.


“Sepertinya kau telah menemukannya ya.”


“Benar. Ini dia.”


Argus menyerahkan benda di tangannya pada Dyze, dan mereka mengamatinya secara seksama.


“Jadi ini Relic yang dimaksud..”


Relic itu memiliki bentuk seperti figur seekor naga laut yang menyeramkan, memiliki gigi taring yang sangat tajam, dan sisik yang menyelimuti tubuhnya ditempa dengan sedemikian rupa hingga terasa begitu halus namun terlihat begitu kokoh.


“Bentuknya saja sudah terlihat bahwa ini bukan sebuah barang biasa..”


Chloe memuji tampilan dari Relic ini, begitu pula dengan Claire dan Argus.


‘Lalu bagaimana cara mengaktifkannya?’


[ Izin menjawab. Anda hanya perlu menyalurkan Energi sihir anda ke dalamnya. ]


‘Energi sihir saja? Tidak perlu Energi Kehidupan?’


[ Itu tidak diperlukan. ]


Saat Dyze mengalirkan Energi sihirnya pada Relic, benda itu bercahaya, langit menjadi mendung dan sebuah suara yang memberitahukan ‘Rahasia Lautan’ mengalir di telinga Dyze.


Atau begitulah yang seharusnya terjadi.


Namun terkadang realita tidak seindah ekspetasi, dan kali ini hal itu terjadi pada mereka.


Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada cahaya, tidak ada suara, dan langit masih mendung seperti sama sebelumnya.


“A.., pa?”


Tidak hanya Dyze yang terheran-heran saat melihatnya, Claire, Chloe dan Argus juga mengeluarkan ekspresi yang sama, yaitu kebingungan.


Apa yang terjadi?


Pertanyaan itu mewakilkan hati mereka semua, namun tidak ada yang bisa menjawabnya.


[ Benda itu sebuah replika. Dan tentu saja sebuah replika tidak dapat membuat efek yang sama dengan yang asli. ]


“Replika.., katamu?”


“Eh? Replika?”


Perkataan Dyze mengejutkan mereka semua, karena sulit sekali untuk percaya bahwa benda yang layak untuk menjadi Relic ini sebuah replika.


Lalu bagaimana dengan bentuk aslinya?


“Maaf.. Hamba tidak mengira itu sebuah replika..”


Argus sepertinya merasa bersalah karena dia tidak bisa membedakan replika dengan yang nyata(asli).


“Tidak, itu bukan salahmu. Lagi pula aku juga tidak mengenalinya dalam sekali lihat..”


“Hufft..”


Dyze menghela napas, dan seperti biasa, pertanyaan Chloe selalu ada di setiap kondisi seperti ini.


“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”


“Tidak tahu.. Yang penting akan kusimpan dulu Relic ini karena mungkin suatu saat akan berguna. Dan untuk sekarang kita fokus untuk mengistirahatkan diri saja.”


Dyze berjalan pergi ke Danau yang didiami oleh Hydra. Dan Argus yang melirik ke arah Claire yang sedang menggenggam sebuah jantung membuatnya bertanya-tanya.


“Jantung itu..?”


“Jantung Medusa, sebuah pemberian spesial darinya.. Hehhe” Claire menjelaskannya pada Argus dengan sedikit tertawa kecil, yang membuatnya menjadi sangat manis, bahkan hati kecil Argus sendiri juga mengakui pesonanya.


“Hadiah.., ‘kah? Aku juga ingin..”


Argus meratapi nasibnya, karena hanya dia seorang yang laki-laki, dan kemungkinan besar Dyze tidak akan memperhatikannya.


Dan di tengah suasana gembira itu, sebuah suara yang bukan dari mereka terdengar dari dalam mulut goa.


“Sepertinya dia telah bangun..”


“Ayo.. Claire.”


Chloe mengajak Claire dan Argus untuk masuk dan memeriksa keadaannya, namun Claire harus menolaknya karena dia ingin mencari tempat privasi untuk melakukan suatu aktivitas pribadi.


Pada akhirnya hanya Chloe dan Argus yang memeriksa keadaan Livia, sesampainya di sana mereka melihat Livia yang sedang linglung.


---


Aku...


Dimana?


Ruangan apa ini..?


Livia terbangun di sebuah tempat putih yang tidak memiliki ujung maupun dasar. Dia tersadar dalam keadaan berdiri, dan langsung menoleh sekitar.


“Itu kamu nak.. Livia?”


Deg!


Suara yang begitu familiar di telinganya memanggilnya dari belakang. Dan hanya ada satu sosok yang berada di kepalanya sekarang.


“Mama!?”


Dia langsung menoleh ke belakang dan mendapati ibu dan ayahnya sedang menangis terharu saat melihatnya.


“Livia.. Kemarilah..”


Livia tidak dapat membendung air matanya, dia langsung berlari dan melompat ke arah mereka lalu memeluknya dengan erat.


Orang tua Livia membalas pelukannya namun ibunya berkata sesuatu yang membuat Livia syok.


“Maafkan mama nak..”


“Eh?”


Livia melotot ke arah mereka, air matanya tetap mengalir dari sudut kelopak matanya, hatinya berdegup kencang, dia merasakan firasat buruk.


“Dengar Livia.. Kamu belum waktunya berada di sini..”


“Ayah..?”


Ayahnya mengelus dengan lembut pipinya, lalu tersenyum.


“Mama dan papa akan pergi ke tempat yang jauhhhh sekali.. Dan Livia belum saatnya untuk bersama kami..”


Mereka melepaskan pelukannya, bayangan orang tua Livia perlahan terasa menjadi lebih kabur dan seperti semakin menjauh darinya.


“Mama! Papa!”


Livia berusaha mengejarnya-


“TIDAAAAAAAK!”


Dia berusaha menggapainya dengan berteriak histeris. Namun bagaimanapun juga, itu semua percuma.


Mereka menghilang.


Dan Livia terbangun dari mimpi buruknya.


“Mimpi..? Tunggu—“


Livia baru menyadari bahwa seharusnya dia telah mati, lalu kenapa dia kini terbangun di sebuah tempat yang seperti merupakan sebuah Gua?


Kenapa aku disini?


Apa yang terjadi padaku?


Segala pertanyaan dan keganjilan yang terjadi membuat Livia linglung.


Hingga Chloe dan Argus datang ke arahnya lalu Chloe menjelaskan semuanya, termasuk prasangkanya mengenai tindakan yang Dyze lakukan pada Livia.



“Jadi begitu? Livia tidak mati setelah mengalami luka seperti itu..?”


“Ya. Apakah kamu ada merasakan sesuatu yang berbeda?”


“Berbeda?”


Livia mencoba mencari apa yang dimaksud oleh Chloe, dan ia mendapatkannya.


“Ada! Livia merasakan suatu gejolak aneh di nadi Livia, seakan-akan mereka menunggu untuk dilepaskan..”


“Dilepaskan?”


Chloe dan Argus menatap satu sama lain, mereka tidak dapat menebak apa yang dimaksud olehnya.


“Nanti saja untuk membahasnya! Livia ingin menemui dan berterima kasih padanya!”


Dia langsung berdiri dan berlari ke luar gua, Chloe dan Argus pun menyusulnya dari belakang.


“Heey!”


Karena Livia tidak pernah secara pribadi menanyakan namanya, dia tidak ingin memanggil namanya sebelum meminta persetujuan olehnya.


Livia menghampiri Dyze yang sedang duduk di sebatang pohon yang berada di tanah.


“Bisakah Livia duduk di sebelahmu?”


Kebetulan batang pohon itu memiliki ukuran yang cukup panjang sehingga dapat menampung 2-3 orang sekaligus.


“Mhm.”


Dyze hanya menjawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari danau yang sedang dipakai oleh Hydra untuk bermain.


“Apa kamu menyukai Danau?”


“Tidak juga.”


Livia mencoba mencari topik untuk basa-basi, namun sepertinya itu percuma.


“Terima kasih. Atas segala yang kamu lakukan pada Livia.”


Saat mendengar perkataannya, Dyze melihat ke arah Livia untuk beberapa saat, lalu kembali membuang wajah.


“Aku melakukannya karena ingin. Bukan dengan tujuan untuk menolongmu.”


“Meski begitu Livia tetap berterima kasih!”


Livia tersenyum lebar ke arahnya, kesedihan yang dia rasakan sebelumnya lenyap tidak bersisa saat dia mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Dyze.


“…”


“Hey.., bisakah Livia memanggil namamu?”


“Mhm. Tentu.”


Livia bahagia mendengarnya, meski bagi Dyze itu merupakan hal spele, tapi tidak untuk Livia, baginya itu merupakan kebahagiaan yang cukup untuk menutupi kesedihannya.


Saat Livia ingin beranjak pergi, Dyze menahan tangannya.


“Tunggu. Aku punya sesuatu untukmu.”


“Eh?”