The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 63. Laki-Laki Yang Lancang



Pada akhirnya, Dyze memutuskan untuk menerima mereka selama perjalanan di Arbeltha.


Terutama salah satu dari mereka, yakni Delta, memiliki sebuah koneksi dengan salah satu dwarf ahli dalam bidangnya.


Dalam perjalanan menuju tempat yang diarahkan oleh Delta, Dyze menanyakan sesuatu pada mereka.


"Hey, bagaimana bisa Siren yang habitatnya hidup di laut seperti kalian dapat bertahan hidup di daratan?"


Mereka menatap satu sama lain kemudian menjadikan Alpha sebagai perwakilan suara.


"Ah itu.. Kami merupakan Elder Siren, Tuan.."


"Elder Siren?" Dyze memutus perkataannya, dan setelah Dyze sepenuhnya diam tanpa menanyakan apa-apa, Alpha melanjutkannya.


"Saat para Siren mencapai periode waktu tertentu, dan ada keinginan besar untuknya dapat berjalan di daratan maka bagian bawah tubuhnya, dan hampir seluruh bagian tubuhnya sebagai Siren akan berubah menjadi Manusia, itulah para Elder Siren, yang dapat berubah menjadi manusia di daratan, dan dapat kembali menjadi Siren di lautan lepas."


"Hmm~ Cukup menarik. Jadi seberapa kuat kalian?"


Mereka bertukar pandangan, bingung memikirkan jawaban yang dapat memuaskan Dyze.


Saat Delta terlihat ingin berbicara sesuai kesepakatan mereka, Chloe, dan Claire memanggilnya.


"Dyze! Coba lihat kesini sebentar!"


"Ada apa?!"


Dyze berteriak menyahuti mereka, dan sebelum dia pergi mendatanginya, Dyze berbicara hal terakhir dengan bawahan barunya.


"Keberuntungan juga merupakan bagian dari kekuatan."


Mereka termenung, memikirkan maksud dari perkataan Dyze yang diberikan pada mereka.


Apakah ada maksud tersembunyi?


“Ada urusan apa kalian memanggilku?”


“Lihat kedepan!”


Dyze melihat arah yang ditunjuk oleh Chloe, dan mendapati sesuatu menghalangi jalan mereka.


“Gunung?”


“Benar sekali, bukankah Arbeltha merupakan benua yang kaya akan perairan?”


Perkataan Chloe membuatnya bingung dan ragu.


“Maaf menyela, meski Benua Arbeltha dikenal sebagai benua yang kaya akan perairan, tapi bukan berarti dia tidak memiliki gunung sama sekali.”


Perkataan Delta ada benarnya juga.


“Baiklah. Perkataanmu masuk akal. Apakah disini tempatnya?”


“Benar, anda hanya perlu mendaki puncaknya dan akan mendapati sebuah desa kecil di baliknya.”


“Begitukah? Kalau begitu apakah aku boleh membawa Hydra?”


“Tidak ada yang berani untuk melarang anda.”


Dyze memasang seringai saat mendengarnya.


“Kau benar juga.”


“Hydra. Lanjut saja, kau bisa mendaki gunung kan?”


“Khiierrk!”


Kurasa jawabannya adalah iya.


Setelah Hydra mendaki gunung, mereka benar-benar mendapati sebuah desa di baliknya.


“Woah!”


Tidak hanya Chloe, Claire, Argus dan Livia saja yang terpukau, bahkan Dyze saja juga mengakui bahwa pemandangan di atas sana jauh lebih baik dari pada kebiasaannya melihat bintang di malam hari.


Tapi meski begitu, sepertinya selain Delta yang terlihat biasa saja karena dia memiliki sebuah koneksi di sana, hal itu juga berlaku pada mereka. Para siren itu terlihat seperti sudah mengenali tempat ini.


“Apa yang akan kamu lakukan Dyze? Hydra akan sulit berada di sana karena sempit.., dan mungkin saat berjalan dia akan tidak sengaja menghancurkan perumahan..”


Dyze memikirkan jawaban dari pertanyaan Chloe sejenak.


“Kurasa kau benar. Kalau begitu.., Hydra. Kau menetap disini untuk sementara ya, apabila melihat pergerakan mencurigakan langsung melompat saja. Maka sebuah guncangan dahsyat sudah cukup untuk menarik perhatian kami.”


“Khierk..”


Dia menjawabnya dengan lesu, namun tetap berusaha menuruti perintahnya tanpa membantah sedikitpun.


Di saat sedang mempersiapkan barang bawaan, Alpha dan teman-temannya menawarkan diri.


“Anda tidak perlu repot-repot, kami dapat membawanya untuk anda.”


“Begitukah? Kalau begitu aku mengandalkan kalian.”


Mereka tersenyum manis, karena akhirnya dapat merasakan perasaan diandalkan oleh seseorang.


Setelah persiapan matang, Dyze menggunakan skillnya; Rolling Air untuk dapat menuruni udara tanpa menerima sedikitpun kerusakan saat mendarat di atas permukaan tanah.


Dia juga memakaikan skillnya itu pada Chloe, Claire, Argus, Livia beserta Alpha dan teman-temannya.


Setelah sampai dan dapat menginjak permukaan tanah, Skill Dyze secara otomatis langsung menjadi non-aktif, sehingga mereka kini dapat berjalan seperti biasanya.


Dyze menunjuk Delta sebagai pemandu sementara di desa baru yang mereka temukan.



Setelah berjalan beberapa saat dan akhirnya mulai memasuki perdesaan asing tersebut, kesan pertama yang mereka rasakan adalah heran dan kagum secara bersamaan.


Karena para penduduk sama sekali tidak memiliki sistem keamanan sedikitpun, apakah mereka bodoh? Atau karena percaya diri?


Dyze menyeringai, darahnya memanas, semangatnya mulai membara, namun semua itu langsung sirna saat dia menyadari hanya ada warga desa di dalamnya, tidak ada individu spesial.


Di tengah kekecewaannya, Delta mengajak Dyze dan yang lainnya menuju sebuah rumah yang jauh dari kata sederhana, bahkan dapat disebutkan serba dengan kekurangan.


Dyze dan yang lainnya pun berjalan sesuai arahannya tanpa memperdulikan tatapan asing yang ditujukan pada mereka.


Mereka mulai memasuki rumah tersebut melalui pintu, tidak, bangunan itu bahkan sulit dapat disebut sebagai rumah, karena terlihat sangat tua dan ada kemungkinan sekitar 79% kemungkinan dari perhitungan Skill milik Dyze bahwa rumah itu akan runtuh dalam waktu dekat.


Bagaimanapun juga, siapapun orang yang berada di dalamnya, dia cukup mengagumkan karena masih betah dapat tinggal di situ dan lolos dari kemungkinan bencana yang cukup tinggi hingga hari ini.


“Huh? Siapa disana?!”


Seorang laki-laki membentak mereka yang baru memasuki rumah, dia mengomel dengan menutup mata berjalan ke arah mereka.


Sampai seorang gadis kecil seumuran dengan Livia keluar dari ruangan di sebelahnya dan terkejut mendapati keberadaan Delta dan teman-temannya.


“Kalian! Apakah Nyonya Gorgon sedang mengunjungi desa..!?”


Gadis kecil itu langsung berlutut di hadapannya, dan laki-laki yang sebelumnya mengomel mulai membuka matanya.


“Nyonya Gorgon..? Jangan bilang..?!”


Dia menganga saat mendapati bawahan langsung dari Medusa mendatangi rumahnya, laki-laki itu langsung bergegas memperbaiki posenya dan berlutut ke hadapannya.


“Maafkan saya! Tolong jangan beritahu Nyonya Gorgon tentang ini..!”


Saat laki-laki itu memohon, Delta langsung mengangkat tangannya dan berkata:


“Berdirilah. Dan aku akan memberitahumu dua hal, pertama. Nyonya Gorgon telah mati, dan kedua. Aku bukanlah bagian dari pasukan atau bawahan dari tuan Leviathan.”


Laki-laki itu tercengang mendengar jawabannya, dia seketika langsung berdiri dan mencekik kerah baju Delta.


“Aku tidak tahu apakah ceritamu barusan merupakan sebuah karangan atau kebenaran, tapi setinggi apapun pangkatmu dan setua apapun kamu, aku tidak akan memaafkan pengkhianatan!”


“Dia menyebalkan, haruskah aku membunuhnya?”


Celetukan Dyze dibalas oleh Delta dengan sangat sopan dan santai agar emosinya dapat tetap stabil.


“Tidak, tidak untuk sekarang. Dia akan sangat berguna pada anda jika dimanfaatkan dengan benar. Hamba bertaruh dengan kehormatan dan nyawa hamba sendiri sebagai bayarannya.”


“Oh~?”


Dyze tersenyum, moodnya kembali stabil.


“Itu akan menarik.”


“Ap--? Apa maksudnya itu!?”


Laki-laki itu mengguncang Delta, namun saat Alpha terlihat ingin bertindak, Delta mengangkat tangan kirinya sebagai isyarat percayakan semua padanya.