The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 65. Sosok Bertopeng Yang Setara Dengan Hydra



Kini mereka hanya perlu berdiri tanpa melakukan apapun untuk menunggu Ironseth mempersiapkan semuanya.


“Hm?”


Dyze melirik ke sampingnya karena merasakan ada sesuatu yang menarik-narik bajunya, dan mendapati Livia di sana.


“Bisakah Livia berteman dengannya?”


Dyze menatapnya dengan sorot mata dingin, setelah memikirkan dan mempertimbangkannya hingga matang, dia pun mendapatkan jawabannya.


“.., Yah seharusnya tidak ada masalah sih.”


“Yees!”


Livia langsung berlari dengan bahagia menuju ruangan yang dituju oleh Ironseth dan Erina sebelumnya.


Chloe mengira Livia merupakan ‘kelemahan’ dari Dyze, hal ini membuatnya ingin menggodanya, sementara itu Claire dia hanya diam seperti biasa mengamati keadaan dan jika ada kesempatan maka dia pasti tidak akan menyia-nyiakannya.


“Sepertinya kamu lemah pada Livia ya?”


“Apakah itu candaan?”


Dyze menatap Chloe dengan intens, Chloe merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya.


Celaka.


Seharusnya aku tidak mengatakan itu sebelumnya..


“Ahaha.., maaf. Aku hanya bercanda..” – Chloe tertawa canggung sambil menahan perasaan malunya.


“Candaan itu.., tidak menyenangkan.”


Atmosfer canggung mulai menyelimuti, tidak ada satupun dari mereka yang membuat suara, bahkan detak jantung milik Chloe yang berdetak sangat kencang dapat terdengar jelas.


“Hamba kembali..”


Kedatangan Ironseth membuyarkan suasana canggung, meski dia tidak menyadarinya tapi suasana telah kembali seperti semula.


“Erina, tolong ambilkan meja yang ada di sana.”


Erina langsung berjalan dan mengambil meja dari sudut ruangan ke tempat mereka sekarang.


Dia lalu membuka sebuah gulungan kertas di atasnya, dan dapat terlihat itu merupakan sebuah peta dari Arbeltha.


“Hamba tidak begitu tahu tentang Noire, tapi ada suatu kejadian akhir-akhir ini yang mungkin akan membuat anda tertarik.”


“Oh..?”


Ironseth melanjutkan:


“Ada rumor tentang orang dengan topeng misterius melakukan suatu pembantaian keji, dia berasal dari guild di kota Parsia yang berada di utara. Namun anehnya Guild itu tidak menindak ataupun menyelidiki latar belakangnya..”


Melihat raut wajah Dyze yang murung, Ironseth tahu bahwa dia tidak menyukai sesuatu yang bertele-tele.


Dia kembali melanjutkan:


“Hamba tidak begitu tahu banyak tentang dirinya, tapi menurut kabar yang hamba dengar beberapa hari yang lalu, orang itu memiliki sebuah pedang pusaka..”


“Oh?” – Dyze memasang senyum di sudut bibirnya.


“Dan dari pernyataan saksi mata yang pernah bertemu langsung dengannya, dia memiliki sebuah ukiran di sarung pedangnya.”


“Sarung pedang..?”


“Ukirannya bertuliskan [ Arcandra ] .“


“Arcandra— katamu!?”


Seisi ruangan terlihat asing dengan nama tersebut, kecuali satu orang.


“Tampaknya ini akan menarik, iya kan, Argus?”


“I-iya..”


Argus, hanya dia satu-satunya yang merespon saat Ironseth mengatakan sebuah ukiran di sarung pedang.


Dan hanya dia seorang yang terlihat mengenali saat ‘Arcandra’ disebutkan.


“Uhhm.., haruskah hamba melanjutkannya?”


Dyze hanya mengangguk sebagai isyarat.


“Ini. Benda sihir yang anda minta..”


Dyze menerimanya dengan senang hati.


“Tidak buruk.”


Benda sihir yang berada di tangannya berupa sebuah gelang yang memiliki beberapa batu unik tertempel di permukaannya.


Tidak heran apabila Ironseth mampu membuat benda sihir yang berkualitas dengan tubuhnya yang penuh dengan luka permanen, kemampuan dan pengalamannya mungkin telah jauh di atas Sven.


“Ambillah.”


Argus yang mendengar itu spontan langsung menangkapnya, ekspresi kebingungan dapat terlihat jelas di wajahnya.


“Aku tidak membutuhkannya. Lagi pula karena usahamu juga kan kita dapat memperoleh informasi termasuk benda sihir tersebut.”


“Eh? Te-terima kasih!”


“Tapi sebagai gantinya..”


Saat Argus berterima kasih dengan menundukkan badannya, Dyze melukis seringai di wajahnya.


“Aku akan menggantikanmu dalam pertarungan. Aku akan mencabik-cabik tubuhnya, ku robek mayatnya, dan ku makan jantungnya..”


Argus bergetar, tidak, tidak hanya Argus, tapi seisi ruangan gemetar saat melihat Dyze yang begitu berbeda dari sebelumnya, hanya satu kata yang mampu menggambarkan sosoknya yang berada di hadapan mereka sekarang.


Yaitu: perwujudan dari bencana(malapetaka).


Karena atmosfer yang begitu berat dan sesak, membuat Argus sampai pada titik dimana dia bahkan tidak mampu menggerakan matanya untuk melirik ke arah Dyze.


“Suasananya terlalu berat. Aku tidak sengaja melepaskan hasratku..”


Keinginan membunuh dan Atmosfer yang berat kini telah menyusut, mereka semua yang berada di dalam ruangan akhirnya dapat bernapas dengan lega.


“Ngomong-ngomong ada satu hal yang membuatku penasaran.., bukankah seluruh populasi manusia berada di stolas? Lalu mengapa para penduduk desa.. dan Erina begitu serupa dengan manusia?”


Ironseth menarik napas panjang karena ingin melupakan perasaan sesak yang terjadi sebelumnya.


“Mereka semua adalah High-Human, termasuk dengan Erina.”


“High-Human?!”


Dyze dan yang lainnya terkecuali Alpha dengan teman-temannya tercengang saat mengetahui para penduduk ‘biasa’ itu merupakan High-Human.


“High-Human berbeda dengan manusia biasa, mereka memiliki kekuatan lebih dari para manusia pada umumnya. Namun para High-Human hampir tidak memiliki hasrat serakah, mungkin itulah salah satu faktor yang membuat mereka mengasingkan diri dari dunia luar.”


“Tapi para High-Human tidak sekuat yang kubayangkan..”


“Itu mungkin karena anda yang terlalu kuat..”


“Lupakan tentang itu, tetap saja aku tidak dapat membayangkan makhluk serakah seperti mereka kehilangan hasratnya..”


Ironseth meneguk liurnya dan berkata:


“Mungkin hal ini berkaitan dengan perang 3000 tahun lalu..”


Livia yang berada di samping Dyze terlihat penasaran, dia pun menanyakannya:


“Perang 3000 tahun lalu?”


“Benar. Perang terpanjang, terparah, dan mengakibatkan kehancuran terbesar sepanjang sejarah. Sebuah perang yang melibatkan seluruh ras melawan satu ras perusak. Tapi sayangnya sepertinya sejarah itu telah dikubur jauh dari dalam diri mereka.”


“RROOAAR!”


“Ap--?!”


Sebuah raungan terdengar dari arah gunung, dan bersamaan dengan itu Bumi(tanah) berguncang, mereka langsung menyadari bahwa ini perbuatan Hydra.


“H-hey!”


Mereka dengan sigap langsung berlari ke arah gunung, meninggalkan desa tanpa nama jauh di belakang.


Setelah beberapa saat guncangan itu mereda, karena kehilangan arah, Ironseth tidak dapat berbuat apa-apa.


Di sisi lain, Dyze yang lainnya telah sampai di tempat sebelumnya, dan menyaksikan Hydra yang seperti dipukul mundur oleh seseorang.


“Tunggu!”


Mengabaikan perkataan Chloe, Dyze langsung melesat kearah sosok bertopeng yang dapat memojokan Hydra.


Dengan sebatang ranting pohon di tangannya yang dia ambil di dekatnya, Dyze langsung mencoba menebas titik vital dari sosok tersebut.


“?!”


“Oh?”


Namun tanpa diduga, sosok tersebut dapat melihat gerakannya dan berhasil menangkisnya hingga mampu mendorong Dyze belasan meter jauhnya untuk menjaga jarak.


“Cukup mengesankan, dapat membuat beberapa kepala Hydra terpotong dan mampu menangkis serangan ranting kayuku.”


“…”


Sosok bertopeng itu sama sekali tidak menghiraukannya, dia terlihat hanya melirik ke arah Argus yang juga syok tidak percaya saat melihatnya.


“Arcandra..!”


Argus hanya bisa bergumam dan tidak dapat berbuat apa-apa. Sebuah pertanyaan besar muncul di kepalanya.


“Apa yang membuatmu menjadi seperti ini..?!”


“Heeh.., nyalimu berani juga untuk mengabaikanku..!”


Dyze dengan ranting pohon di tangannya dan seringai yang terlukis di wajahnya langsung melesat ke arahnya.