
Raizel kini diselimuti aura negatif, yang terdiri dari kemarahan, kebencian, kedengkian, hasrat balas dendam, dan pengkhianatan. Pupil Raizel menjadi hitam penuh sepenuhnya, ekspresi wajah yang tadinya putus-asa kini perlahan berubah menjadi senyuman dan tawa.
“A-apa?”
Perubahan Raizel yang begitu drastic membuat para bandit itu gelisah. Tapi dia sendiri hanya diam tanpa mengucapkan satu patah katapun.
Tapi dibalik keheningan itu, dia secara tiba-tiba menghilang dalam sekejap mata saat percikan petir muncul di tempatnya berpijak. Dan tanpa mereka sadari sebuah pedang dari mereka telah menghilang
“ARGGHHH!!”
Raizel muncul kembali di hadapan ketua bandit itu, dia mengeluarkan dan melempar Shina menjauh terlebih dahulu lalu memotong benda menjijikan miliknya dengan pedang salah satu bandit.
Dengan senyum mengerikan dan wajah pucatnya, Raizel berbicara di depan wajah ketua bandit itu:
“Walaupun kau abadi, kau pasti akan memohon mati jika disiksa layaknya mainan seperti ini.”
Raizel mengambil pedang Zweihander milik ketua bandit itu lalu memotong kedua kakinya. Meski dia menjerit kesakitan dan berteriak histeris sekalipun, Raizel tidak berhenti, justru dia semakin menjadi-jadi.
Para bandit tersisa yang melihat ketuanya disiksa seperti itu berhamburan ingin menyelamatkan diri.
Namun layaknya kilat, Raizel dengan kecepatan tidak terukur mengejar mereka dan membunuh mereka satu persatu hanya dengan menggunakan sebuah pedang rendahan.
Dia tidak puas hanya dengan membunuh mereka begitu saja, Raizel yang awalnya tidak begitu menyukai kekejaman seperti Dyze kini menjadi brutal, dia memotong perut mereka dan mengeluarkan isinya lalu membakarnya dengan api.
Para warga desa yang terlihat ketakutan melihat pemandangan tidak manusiawi ini pun tidak luput dari kemurkaannya, dia membantai mereka, membunuh dengan cara yang berbeda-beda.
Raizel membenturkan kepala beberapa bandit ke pohon hingga cairan otaknya yang telah hancur muncrat kemana-mana mengotori wajahnya, tapi Raizel justru tersenyum lebar dan menjilat darah di wajahnya.
Lalu ada beberapa diantara mereka yang ditusuk-tusuknya dengan pedang dan akan mati secara perlahan, ataupun Raizel langsung memotong perut mereka dan mengeluarkan isinya secara hidup-hidup, dia membiarkan para bandit itu mati dengan sendirinya.
Begitu banyak perbedaan dalam kematian mereka, tapi Raizel memastikan satu hal yang sama, yaitu di detik-detik terakhir saat kematiannya, mereka telah merasakan penderitaan yang menurut mereka lebih baik mati daripada harus tetap hidup dengan kondisi seperti ini.
Hanya membutuhkan waktu 30 detik bagi Raizel untuk membasmi para sampah itu hingga hanya menyisakan Shina dan ketua bandit.
Shina terlihat menggigil ketakutan melihat suaminya berubah menjadi sesosok ‘Monster’ sepert ini, namun saat Raizel hanya mengabaikannya saat berjalan melewatinya.
“Baiklah, maaf menunggu.”
Raizel memasang senyum yang membuat ketua bandit itu kini sadar bahwa ajal berada di depan matanya.
“Hmm~ Sepertinya kaki dan benda menjijikkanmu masih belum tumbuh ya. Apakah kau harus mati terlebih dahulu?”
Raizel tidak mendapatkan jawaban, tapi daripada memusingkannya dia justru hanya menaikan kedua bahunya dan berkata:
“Kita tidak akan tahu jika belum dicoba.”
“TIDAK, TIDAK! JANGANNN!!”
“Ke-kekekek-HAHAHAHA!”
Dia menusuk-nusuk paha ketua bandit itu berkali-kali hingga mengucurkan darah dengan deras ke wajahnya. Sampai pada akhirnya dia menusukkan mata pedangnya ke leher bandit tersebut hingga tewas seketika.
Tapi anehnya, benda menjijikan milik bandit itu dan kaki serta pahanya yang bolong kini beregenerasi seperti semula, dan si bajingan itu benar-benar bangkit dari kematiannya.
“Ho. Jadi kau benar-benar abadi ya. Baguslah, dengan ini aku dapat menyiksa dan menjadikanmu sebagai sepuas hatiku.”
Senyuman milik Raizel membuat ketua bandit itu trauma, bahkan belum disentuh sedikitpun olehnya, dia telah pingan terlebih dahulu.
“Lemah, tolol. Orang seperti ini berani mengacaukan hidupku?”
“-- Jangan bercanda!”
Dia menginjak bola ‘emas’ milik ketua bandit itu hingga hancur, membuatnya kembali sadar dan merintih kesakitan dengan berguling-guling di tanah menggenggam ‘bola’ miliknya yang telah hancur.
“Aku tidak akan membiarkanmu memohon mati dengan mudah.”
“ARKHHH! TOLONGGG!”
Raizel menyiksanya hingga mati dengan berbagai cara; membenturkan kepalanya ke pohon dan membuatnya otaknya hancur tanpa tersisa, menggantung lehernya dengan tali sampai kehabisan napas, membakarnya hidup-hidup menggunakan percikan api dari listriknya, memotong jarinya satu persatu kemudian lidahnya lalu memaksanya untuk berbicara, dan masih banyak lagi metode penyiksaan yang Raizel lakukan padanya, hingga sampai pada titik dimana bandit itu terlihat sudah seperti mayat hidup yang tidak memiliki keinginan lagi.
“Aku akan mengurusmu nanti.”
Raizel mendekat ke arah Shina yang sedang ketakutan, tapi meski dia tidak sadar sekalipun, yang terlintas di pikirannya hanyalah membunuh Shina tanpa harus menyiksanya.
Dia langsung melesat seperti petir dan langsung menusuk jantungnya, Shina memuntahkan darah dan langsung menjadi lemas saat itu juga.
Tapi meski dia terkapar sekalipun, Shina tetap berusaha untuk meraih pipi Raizel, dan sampai pada titik dia berhasil menyentuh pipi Raizel hingga membuatnya sadar.
“Ap—Yang terjadi..?”
Dia melihat sekitar pemandangan yang tidak manusiawi, bau darah dimana-mana, mayat berserakan, dan kabut darah yang samar terlihat mengambang di udara.
“Sirius..”
Perhatiannya teralihkan pada suara Shina yang sedang berada di pelukannya, dia sedang sekarat.
“SHINA! BERTAHANLAH!”
“Sirius.. Maaf…”
Di saat itu Raizel seperti mendengar suara bisikan dari kedua telinganya, dan tiba-tiba saja mimik wajah Shina menjadi berubah, dia memasang senyum lebar seolah tertawa.
“Dan terima kasih. Berkatmu aku dapat berguna untuk Tuan Dyze..”
“Apa..?”
“Hei.. Apa yang kau katakan..?”
“Shina!”
“SHINA!”
Raizel dengan emosi yang mulai menjadi kabut di otaknya mengguncang-guncang tubuh pucat Shina, dia mencoba mendengarkan detak jantung di dadanya dan--
-- Tidak berdetak
Dia langsung memeriksa hidung Shina dengan jarinya, dengan harapan setidaknya Shina masih dapat bernapas, dan--
-- Tidak bernapas
Dia mati. Apakah ini salahku?
Pemikiran itu mulai menyelimuti Raizel, ketakutan akan kehilangan orang yang disayang membuatnya sekali lagi jatuh dalam kegelapan.
Tidak! Ini salah ketua bandit itu! Kalau saja dia--!
Pupil Raizel mulai menghitam seperti sebelumnya, dengan kalimat yang terus terulang dari mulutnya dia mulai bergerak ke ketua bandit itu.
“Kubunuh kau. Kucabik-cabik isi perutmu. Dan kumakan jantungmu..”
Ketua bandit yang tadinya seperti mayat hidup sekalipun kini menjadi kembali ketakutan, dia sadar jika penyiksaan ini akan jauh berbeda.
Raizel sekilas melihat beberapa kayu panjang dan seutas tali panjang, dia tersenyum, membuat bulu kuduk ketua bandit itu merinding.
Dengan kecepatannya yang hanya meninggalkan bekas percikan petir dia mengambil kayu itu dan langsung menyalibnya dengan terbalik.
“JANGAN! JANGAN! AAAAAAAAAAAAHHHHHH!”
Dia menusuk satu per satu mata ketua bandit itu dengan pedang, lalu mencongkelnya keluar.
“Urrkhh..”
Tidak peduli dengan rintihannya, Raizel berencana untuk melelehkan pedangnya dengan petir miliknya hingga pada titik jarum yang sebesar sebuah proyektil berukuran 7.62mm.
“Hm. Segini sudah cukup.”
‘”PANAAASSSSSS!!”
Raizel memaksakan jarum yang masih panas itu masuk ke dalam rongga hidung ketua bandit tersebut, namun karena terlalu besar, dan terlalu dipaksakan akhirnya jarum sebesar itu dapat masuk dengan merobek hidungnya lalu bersarang di dalamnya.
“HAHAHA! BUKANKAH KAU TADI BERSENANG-SENANG!? KINI GILIRANKU UNTUK MENJADIKANMU HIBURAN UNTUKKU!”
Raizel terlihat menyeringai dan tertawa puas saat menyiksanya, seharusnya kepribadian Raizel sebagai dewa sekalipun tidak akan sebrutal ini..