
Setelah sarapan pagi, Argus memohon seperti anak kecil pada Chloe untuk diperbolehkan menetap di kamarnya selama mereka masih bersantai. Chloe pun mengizinkannya, di dalam kamar, Chloe menceritakan tentang kemampuan meniru milik Noire pada Dyze.
“『 Perfect Doppelgänger 』ya? Kelihatannya seperti Skill yang kuat sekali. Aku penasaran apakah dia bisa meniru wujudku? Aku semakin tidak sabar dan antusias menanti pertarungan dengannya.”
“Tidak, tidak, tidak. Bukankah akan gawat jika dia benar-benar bisa meniru wujud dan 80% kekuatanmu?”
“?”
Merespon Chloe yang keliatannya khawatir Dyze justru hanya mengangkat kedua bahunya dengan enteng tanpa memikirkan apa-apa.
Dari luar kamarnya maupun dari bawah lantai, terdengar begitu banyak gemuruh getaran orang-orang yang seperti sedang panik berlarian.
“Diluar berisik sekali ya..”
“Apa kamu ingin keluar memeriksanya?”
“Saya akan selalu ikut kemanapun kalian berada.”
“Hmm~ Boleh. Ayo.”
Dyze bangkit dari posisi tidurnya lalu membuka pintu dan mulai menuruni anak tangga setelah beberapa saat berjalan di lorong.
Dengan kebiasaannya, Chloe langsung memeluk sebelah tangan Dyze lalu berjalan di sisinya.
Saat menuruni tangga mereka dapat melihat orang-orang yang menginap di penginapan ini semuanya berusaha melarikan diri.
Dyze meraih tangan salah satu orang yang berusaha melarikan diri, dia terlihat seperti seorang pria yang menggunakan tudung untuk menutupi kepalanya.
“Apa yang sedang terjadi?”
“Terjadi penyerangan dan warga arahkan untuk evakuasi!” Orang itu langsung berlari keluar setelah menjelaskannya pada Dyze.
“Oh~ Penyerangan, ‘kah?”
***
Beralih pada Claire sehari sebelum kejadian penyerangan terjadi.
“Haah.. Haah…”
‘Sampai berapa lama lagi kau akan berlari tanpa arah seperti ini?’
“Diamlah..”
Claire telah berhari-hari melintasi daratan sendirian tanpa teman dengan noda darah di bajunya yang telah mongering.
‘Hey lihat itu!’
“Hah?!”
Suara di kepalanya merupakan Alter Ego miliknya, hanya dia seorang satu-satunya yang menemani perjalanan Claire. Alter Ego itu menyuruhnya untuk melihat ke arah pepohonan di dekatnya-- Karena sekarang Claire berada di tepi hutan, dia baru saja keluar dari dalam hutan setelah meminum air sungai dan memakan buah-buahan.
“Orang?”
Sebuah sosok berjubah tidak jauh dari pepohonan di dekatnya, dia terlihat mengawasi Claire dari kejauhan.
“Keluar kau k*parat!”
Terjadi perubahan drastis pada kepribadian Claire-- Hal ini dapat terjadi karena setiap kali bertarung ataupun yang berkaitan dengan konflik maka Alter Ego miliknya akan lebih dominan dalam mengendalikan tubuhnya.
Jika kepribadian sejati Claire itu penyayang, anggun, dan baik hati, maka Alter Ego miliknya adalah kebalikan darinya, dengan sifat; Angkuh, kejam, dan menjadi lebih pesimis.
Orang yang bersembunyi di balik pohon itu merespon dengan mengangkat kedua tangannya lalu perlahan keluar mendekati Claire.
“Aku tidak ada niatan bertarung!”
‘Kurasa dia memang tidak ada niatan bertarung..’
“Begitukah menurutmu? Tapi jika dia menyerang akan jadi kesempatan untuk mengukur seberapa kuat kemampuan Barrier kita sih.”
‘Ya, lakukan sesukamu. Alter Ego-ku.’
Dengan sedikit hati-hati Alter Ego Claire mendekatinya, jika ada pergerakan mencurigakan sedikit saja dia akan langsung mengaktifkan barrier miliknya.
“Aku dapat memberitahumu lo! Tempat yang menjadi tujuanmu selama ini!”
“…?”
Mendengar perkataannya membuat Claire beserta Alter Ego-nya tergiur dan mulai mendekati sosok berjubah itu tanpa mengendurkan pertahanan.
“Di kota dinding, Evalon, kamu akan menemukan orang yang dicari. Kamu hanya perlu menempuh jarak 100 Mil ke utara untuk bisa sampai disana.”
“Butuh berapa hari untuk sampai?”
“Hmm.. Dengan kecepatan suara mungkin kamu dapat sampai disana di esok hari..”
“Begitu.”
Claire memasang tatapan curiga pada sosok tersebut hingga membuatnya menjadi bingung dengan sendirinya, “Apa tujuanmu?”
“Ah, tidak ada kok. Hanya kebetulan mengetahuinya saja..”
“Begitu”
‘Apa kamu akan membiarkannya lolos?’
“Mungkin sih. Kita telah berhutang budi padanya, meski kita belum tahu kebenarannya.”
Claire hanya menundukkan wajahnya sesaat lalu langsung melesat dengan kecepatan suara menuju ke utara.
--
Waktu telah mencapai malam hari, meski begitu, Claire tetap fokus melanjutkan perjalanannya, karena dia sendiri dapat bertahan tanpa makan dan minum serta istirahat selama tiga hari lebih.
Keesokan harinya, dia telah sampai sekitar 100 meter dari gerbang kota Evalon.
“Jadi itu kota dinding, Evalon..”
‘Terlihat kokoh! Meski aku tidak yakin prajurit yang menjaganya kuat dan tangguh sih’
“Jangan terlalu meremehkan kemampuan seseorang.. Jadi apakah kita akan langsung masuk?”
‘Apa kau gila? Noda darah di bajumu meski telah mongering masih terlihat dengan jelas lo! Dan juga sobekan-sobekan akibat sabetan pedang serta pisau di bajumu juga terlihat mencurigakan..’
“Begitukah? Yah aku tidak masalah sih jika perlu membantai mereka semua, apabila mereka menghalangi jalanku.”
‘… Kau sudah berubah ya.’
“Tidak, kita yang telah berubah.”
“Baiklah jadi harus bagaimana kita memasukinya?”
‘Hmm.. Kurasa lebih baik kau memanjat dinding, lalu membunuh para penjaga di tower secara diam-diam lalu berkamuflase lah dikerumunan orang, dengan itu noda darah di bajumu tidak akan ada yang menyadarinya.’
“Memanjat ya..?”
Claire perlahan mendekati titik buta dari penjagaan lalu mulai bersiap untuk memanjat dindingnya.
Dinding kota Evalon terbuat dari tanah yang dipadatkan hingga dibentuk sedemikian rupa, dinding kota Evalon juga terbilang sangat kokoh karena telah berdiri dalam kurun waktu 100 tahun lebih. Selain itu celah dari dinding Evalon terbilang sedikit, karena itulah jarang terjadi penyusupan melalui pemanjatan dinding. Tapi untuk mengantisipasi, mereka membangun 12 tower di atas dinding untuk mengawasi dan menjaga keamanan yang dibagi menjadi 2 barisan; Barisan depan dan barisan belakang.
Tapi meski terbilang sedikit, bukan berarti tidak ada. Dengan memanfaatkan celah dari rongga dinding, Claire mulai memanjatnya..
Memanjatnya..
Dan memanjatnya…
Meski tangannya berdarah karena celah dinding yang terlalu kecil dia tidak mempermasalahkan hal tersebut, yang dia lakukan sekarang hanya terus maju.
Setelah menemukan jarak yang pas, Claire melompat dan menyelinap ke salah satu tower terdekat lalu membungkam mulut penjaga dengan tangannya terlebih dahulu sebelum mematahkan lehernya.
“Urggh..”
Setelah memastikannya telah benar-benar mati, Claire mengambil belati di kantong celana penjaga tersebut lalu menatap intens tower yang tersisa di dekatnya, “Sisa empat lagi ya.”
Claire pun melesat dan menyelinap ke tower terdekat dan membungkam mulut si penjaga lalu langsung menggorok lehernya.
“Tiga.”
Sebelum melesat ke tower berikutnya, Claire merobek sedikit bagian baju dari penjaga tersebut untuk pengganti tangannya.
Claire pun melakukan hal yang sama untuk ketiga tower yang tersisa; Membungkam mulut mereka dengan sobekan baju agar tidak dapat berteriak lalu sisanya hanya tinggal mengeksekusinya saja.
‘Apa kau tidak ingin kugantikan?’
“Tidak, tidak usah. Aku bisa kok.”
‘Begitu. Tunggu apa lagi? Cepatlah turun sambil mengendap-ngendap lalu berkamuflase di kerumunan.’
Claire pun hanya mengangguk dan langsung mencari tempat sepi untuk melompat lalu setelah itu dia menuju dan menyatu di keramaian.
Dia kembali berjalan tanpa arah berharap menemukan keajaiban yang mempertemukan mereka. Claire mempertajam indra pendengarannya dan mulai mendengarkan satu persatu pembahasan orang-orang yang lewat disekitarnya.
“Hey.. Dimana WC? Aku sudah tidak tahan lagi..”
“Baj*ngan! Berani-beraninya kau menduakan-ku?!”
“Ugh kepalaku pusing.. Bwhee..”
Claire menghela napas karena hanya mendengar ocehan tidak berguna dari orang sekitarnya.
“Yang benar saja.. Tidak adakah sebuah percakapan yang memiliki makna?”
“Kau tau? Aku sangat iri pada pemuda yang di penginapan tersebut! Dia memiliki seorang Wanita berdada besar yang sangat cantik dan menawan di sisinya!”
“Pemuda? Ah. Yang rambutnya hitam dengan sedikit bagian abu-abunya dan tatapan mata merahnya yang tajam itu ya?”
“?!”
Claire mulai memusatkan pendengarannya pada kedua pria yang sedang berbincang tidak jauh darinya. Claire sangat mengenali ciri-ciri yang disebutkan oleh pria tersebut.
“Ya benar sekali. Sheesh.. Selain itu bukannya bersyukur memiliki seorang Wanita cantik dan menawan di sisinya, dia justru seolah tidak menghiraukan perhatian yang diberikan padanya! Sial. Aku heran dari segi apa wanita itu melihatnya?”
“Kau benar. Seandainya kita bangsawan atau orang terpandang sudah pasti kita goda dia menggunakan uang, daripada harus bersama pria tolol itu.”
“Benar benar.. Hahaha.”
“B*ngsat..!”
Emosi Claire memuncak dan seakan meledak, dia menjadi seperti orang kesetanan yang langsung melesat ke arah kedua pria itu lalu mencekik salah satunya.
“B*jingan rendahan seperti kalian tidak akan tahu nilai apa yang hanya dimilikinya seorang di muka Bumi ini!”
“Ugghh.. To-tolong..”
“Kyaaaa!”
“Pembunuh!”
“Sebuah penyerangan terjadi!”
“Seseorang panggil penjaga!”
Mengabaikan orang-orang yang berlarian menghindarinya, Claire menatap intens orang yang berada di genggamannya lalu memperkuat cekikannya sambil memasang senyum sinis, “Kalau begitu. Matilah karena dosamu. 「 Absorb Life 」”
“Ti-dak..!”
Mata Claire menjadi merah menyala seperti dalam kegelapan, dan saat matanya memerah, orang yang berada di genggamannya perlahan menjadi kering dan layu seolah tidak memiliki darah yang tersisa.
“Terima kasih atas hadiahnya.”
“Baiklah, mari kita basmi satu lagi yang tersisa..”
“Keek!”
Claire mulai mendekati salah satu pria yang tersisa, dan seperti anak kecil, pria itu meringkuk ketakutan dengan celananya yang telah basah akibat terkencing ketakutan melihat aksi yang dilakukan Claire.
“Apa? Memalukan sekali.”
Tanpa basa-basi, Claire langsung mencekiknya dan menggunakan kemampuan yang sama seperti sebelumnya.
“Fuwaah! Menghisap Energi Kehidupan milik orang lain memang mantap rasanya! Mungkin inikah yang dirasakan para Vampire?...”
“Berhenti! Jangan bergerak!”
“Dasar penyusup!”
“Berani-beraninya telah membunuh penjaga dari tower depan!”
Claire membuang mayat yang telah kering tersebut lalu tersenyum ke arah mereka sambil memainkan lidahnya, “Sudah ketahuan ya?”
“B*ngsat!”
Para penjaga yang berjumlah ratusan itu mengepung Claire, mereka menggunakan baju zirah lengkap, seolah sedang bertempur.
Tapi Claire dapat menghindari tusukan tombak mereka, tebasan pedang mereka, dan tembakan anak panah mereka dengan sangat mudah.
“Hoamm.. Mungkin sudah cukup main-mainnya.”
“Aku ingin mencoba kemampuan baru tipe Attack yang baru kudapatkan sebelumnya!”
“Hah?! Apa yang kau maksud--?!”
『 Mass Massacre 』
Pupil mata Claire menjadi menghitam, dan seluruh penjaga yang melihatnya seketika berhenti menunjukan tanda pergerakan.
“Ughok!”
Salah satu penjaga memuntahkan sesuatu, dan betapa mengejutkannya saat dia melihat organ dalamnya sendiri telah jatuh di tanah, sesaat kemudian, penjaga itu ambruk.
Kematiannya disusul oleh para penjaga lain yang mempunyai gejala aneh yang berbeda-beda; ada yang merasakan pusing dashyat, ada yang merasakan sakit di perutnya, dan ada yang kepalanya meledak seketika.
“Wow~ Sesuai namanya, Pembantaian masal.”
Meski mereka merasakan gejala yang berbeda-beda, tapi satu hal pasti yang akan menanti mereka di ujung sana, yaitu kematian.
Di saat suasana kota yang mulai sepi, Claire hendak bersiap-siap untuk mencari penginapan yang dimaksud dalam percakapan kedua pria sebelumnya.
‘Hati-hati ada sesuatu akan datang!’
Suara di kepalanya memperingatkan bahwa sesuatu akan datang padanya, Claire langsung sigap mengaktifkan『 Barrier 』dan benar saja, meski mata Claire masih belum dapat menangkap apa yang terjadi padanya, tapi Claire dapat mendengar dengan jelas suara percikan pedang yang sedang bentrok dengan Barrier miliknya.
“Cih!”
Decihan khas milik suara tersebut langsung membuat Claire dapat memproses semuanya, dengan mata berkaca-kaca dia memanggil nama orang tersebut—
“Dyze!”
“Hah?”
Claire menon-aktifkan Barrier miliknya, kini dia dapat melihat dengan jelas seorang pemuda dengan rambut hitam dan memiliki sedikit bagian abu-abu, tatapan mata merahnya yang selalu tajam dan sinis, sosok yang selalu dia cari selama ini.
“.. Tunggu? Claire!?”
Bukan Dyze yang pertama kali terkejut saat melihatnya, melainkan seorang wanita cantik berambut hitam terurai dan mata hitamnya yang elegan, dialah yang pertama kali terkejut melihat kedatangan Claire.
“Siapa?”
Kata itulah yang keluar dari Claire dan seorang laki-laki berambut hitam seperti Dyze dengan mata biru seperti lautan murni, dia berdiri di belakang Wanita berambut hitam tersebut.
“Claire?! Claire yang naif dan baik hati itu? Kau?”
Di saat Dyze baru menyadari dirinya adalah Claire, seorang warga tiba-tiba berteriak yang mengundang kerumunan warga ke arah mereka.
“SI PENYUSUP MEMILIKI REKAN!”
“Cih!”
“Tutup telinga kalian!”
Claire, laki-laki bermata biru dan wanita berambut hitam itu langsung menutup telinganya saat Dyze berteriak.
Klikk.
Sebuah gelombang meledak keluar dari jentikan Dyze lalu menyelimuti seisi kota, setelah itu dia berbicara dengan memasang senyum, “Kalian yang mendengar suaraku, patuhi perintahku lalu matilah.”
Brukk
Saat itu juga..
Seisi kota menjadi sepi tanpa suara, dan setelah memastikan tidak ada satupun tanda kehidupan, Dyze langsung berteleport bersama Claire dan dua orang lainnya.