The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 83. Rencana Argus Untuk Membuatnya Tunduk?




Chapter 83. Rencana Argus untuk membuatnya tunduk?



Saat mereka semua ingin menoleh ke arah sumber suara, Dyze tiba-tiba berteriak:


“Claire! Ciptakan sebuah kubah raksasa sebesar mungkin dengan barrier milikmu!”


“Baik--!!”


DUAAARRRR!


Tepat sedetik setelah Dyze mengatakan itu sebuah ledakan dahsyat yang setara dengan (satu) bom atom menghancurkan kedua gunung besar itu.


Dan untungnya Claire berhasil dalam melaksanakan perintahnya, dia mampu membuat sebuah barrier berbentuk kubah raksasa dalam 0.8 detik saja. Karena kesigapannya, pecahan-pecahan dari kedua gunung besar itu tidak menyebar hingga ke seluruh Arbeltha.


“Phew.”


Chloe sendiri tanpa diperintah dengan cekatan menyelamatkan Claire, Livia, Alpha, Beta, Gamma, Omega, Delta, Xelyn, Eleina, dan Argus sebelum ledakan itu terjadi.


Dengan bantuan Support dari Argus, mereka semua melayang di udara tanpa kesulitan bergerak sedikitpun.


“Ahh .. Bau dari Dunia. Sangat nostalgia sekali ..”


Sumber suara itulah yang mampu membuat ledakan yang lebih dahsyat dari serangan Medusa.


“Arcandra ..”


Arcandra, seorang pemimpin dari kelompok 10 pahlawan manusia pada masa kuno, kini telah terbangun.


Ini bukanlah halusinasi ataupun delusi.


Dia benar-benar nyata.


Karena keberadaannya saja mampu membuat sebuah badai abnormal mengamuk di atas Arbeltha, menyebabkan siang hari yang awalnya telah gelap semakin menjadi gelap seolah cahaya itu sendiri telah tertelan sepenuhnya.


Dia merupakan seorang perempuan namun berpenampilan seperti laki-laki, tidak ada yang mengetahui alasannya melakukan itu kecuali satu orang.


“Ular naga sialan itu .. Dia sudah menemui ajalnya .., ‘Kah?”


Arcandra mengepalkan tangannya kemudian tersenyum kecil, matanya yang selalu terlihat murung dan memiliki kantong mata kini terlihat melebar bersamaan dengan alisnya yang terangkat.


“Argus .. Adik kecilku .. Akhirnya aku dapat melihatmu ..”


“Arcandra ..”


Argus menatapnya dengan berkaca-kaca, begitu banyak emosi kini bercampur dalam batinnya.


“Kehk kehk kekh! Sepertinya aku mengganggu reuni-nya!”


Dyze tanpa mereka sadari telah berada di samping Arcandra, dengan ciri khas tawanya, dia menghempaskan Arcandra dengan tangan kosong hingga terbanting ke tanah.


“Sheesh .. Menganggu pertemuan kami saja ..”


Meski telah menghantam tanah dengan tekanan yang sangat tinggi, tidak ada tanda-tanda Arcandra mengalami luka lecet sedikitpun, dia hanya membunyikan lehernya kemudian langsung mengibaskan pedangnya ke arah Dyze.


Sebuah tebasan berbentuk bulan sabit raksasa berwarna hitam dengan dibaluti aura merah berdarah menuju ke arah Dyze yang sedang tersenyum lebar.


Saat tebasan itu berada di depan wajahnya dan hanya terpisahkan beberapa centi meter saja, Dyze meletakkan jari telunjuk di depan serangan itu lalu bergumam:


“Berbeloklah.”


『 Nirvana Word’s 』


Kemudian ..


Tebasan yang dapat membelah gunung seperti memotong mentega menjadi hancur lebur di hadapan kubah Barrier milik Claire yang mengelilingi mereka.


“Apa ..?”


Meski sempat tertegun beberapa saat, Arcandra kembali memulihkan kesadarannya dan membalikan keadaan pedangnya yang ternyata dalam keadaan mata pedang terbalik(tumpul).


“Whoa. Tebasan tadi dihasilkan dari bagian tumpul pedang? Benar-benar menyimpan banyak rahasia.”


Dyze memasang senyuman lebarnya dan membentangkan kedua tangannya sambil berteriak:


“Datanglah! Aku menjamin akan menyambutnya dengan baik!”


“Sesuai keinginanmu.”


Arcandra mengayunkan tebasan vertikal tanpa menggunakan tenaga ke arah Dyze.


Sebuah gelombang kejut tercipta.


Menghempaskan pepohonan di sekitarnya.


Membuat air-air sungai maupun danau dalam radius 1 Kilometer menjadi tumpah ke daratan.


Lalu sesaat setelah itu ..


Tebasan berbentuk hati yang seperti memiliki retakan di tengahnya mengarah pada Dyze dalam kecepatan di atas hipersonik.


Saat Dyze bersiap ingin ‘Menyambut’ serangan milik Arcandra, sebuah raungan Hydra terdengar, suaranya menimpali petir-petir milik badai yang sedang mengamuk di atas Arbeltha.


Di saat yang bersamaan, Argus dan Claire tiba-tiba berada di hadapan Dyze, Claire memasang barrier berbentuk dinding tipis di depan mereka, sedangkan Argus menggunakan sihir 「 Collapse 」 untuk mengantisipasi tebasan di hadapan mereka.


Sihir itu membuat tebasan berbentuk hati yang retak itu menjadi runtuh tanpa alasan yang jelas.


“Hei. Kenapa kalian menggangguku?”


Mewakilkan Claire, Argus menjawab dengan sedikit berteriak:


“Maaf Tuan! Tapi hamba— tidak kami mohon dengan amat sangat untuk menyerahkan orang ini pada kami! Kami ingin berguna untuk anda. Setidaknya hanya untuk sekali.”


“Kami?”


Dyze melihat ke arah Arcandra, di sana dia sedang bertarung dengan Hydra yang dikendarai oleh Chloe, Alpha, Beta, Gamma, Delta, Omega, Eleina, Xelyn dan Livia.


“Hamba mohon. Hamba memiliki rencana.”


Melihat tatapannya yang menyimpan potensi besar, Dyze menghela napas panjang.


“Terserah.”


“Baik! Anda hanya perlu menunggu di atas sini dan mengawasi semua yang akan terjadi!”


Argus dan Claire melesat ke arah Arcandra yang sedang sibuk bertarung dengan Hydra, Chloe beserta yang lainnya.


Sambil melihat punggung dari mereka, Dyze bergumam pada dirinya sendiri:


“Menurutmu seberapa besar kesempatan mereka untuk menang? Tanpa Chloe mengandalkan seluruh potensi dalam kemampuan Space Time Controlnya?”


[ Izin menjawab. Jika potensi penuh dari individu ‘Arcandra’ diperhitungkan maka kemungkinan mereka sangatlah kecil yakni hanya 12% saja. Tapi jika individu ‘Argus’ dapat memaksimalkan potensinya maka akan mengalami kenaikan hingga 50%. ]


“Dengan kata lain itu semua bergantung padanya .., ‘Kah?”