
Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian itu, Dyze dan Chronoa tinggal untuk sementara di kediaman milik Claire, dan tentu Claire dengan senang hati menerima mereka.
Dan Claire, ia telah diceritakan oleh Chronoa sendiri meski tidak sepenuhnya Chronoa ceritakan seperti kekuatan Dyze. Claire turut berduka atas kejadian itu. Chronoa seperti nya telah sedikit mempercayai Claire, oleh karena itu ia memutuskan untuk menceritakan luka terbesarnya.
sedangkan Chronoa.. Ia kini terlihat kembali seperti biasa, meski tidak se energik dulu. Tapi dia sudah dapat tertawa dan perlahan menutup luka besar di hatinya.
Saat ini Dyze dan Chronoa sedang makan bersama Claire di meja makan, ya hanya mereka bertiga.
Dyze selalu kagum dengan masakan yang diolah oleh Claire, meski dia sendirian, ia dapat membuat makanan dengan sangat baik.
Mengenai Pedang Biru yang diberikan oleh Sven, Dyze mengambilnya tepat sebelum rumah Emilton terbakar habis. Kini pedang itu berada dirumah Claire dan disimpan rapat oleh Chronoa.
“Hei, aku ingin membicarakan sesuatu.”
Perhatian kedua gadis itupun berpusat pada sumber suara, Dyze.
Dyze sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang serius, atmosfer di ruangan itu menjadi berubah secara signifikan.
“Aku ingin pergi ke Kota Elfimp. Ada sesuatu yang harus kupastikan disana.”
Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain, dan kemudian mengangguk, seolah telah saling mengerti.
“Aku ikut.” Clora mengajukan diri untuk ikut bersama Dyze, karna itu juga tanggung jawabnya Dyze tidak dapat menolaknya.
Akan tetapi untuk.. “Aku ju—“
“Claire, aku punya permintaan padamu.”
“Eh? Jangan mencoba untuk menghentikan ku lo..” Ia sepertinya memang bertekad untuk mengikuti Dyze.
“Tidak, kau harus tetap disini. Aku tidak dapat membawa beban lebih dari ini, jika kau tetap memaksa, kau mungkin akan kehilangan nyawamu.” Tatapan Dyze begitu tajam dan intens, membuat tekad siapapun pasti akan bergetar dan dipertanyakan.
Sesaat terlihat Chronoa memasang wajah “Apa?! Beban!? Aku!?” namun ia tidak mengeluarkan kata kata sedikitpun.
Namun tekad Claire telah bulat, ia tak peduli jika harus mati bila itu adalah konsekuensi nya.
“Sheesh, Claire. Kau harusnya lebih menghargai nyawamu, nyawamu tidak dapat ditukar dengan apapun yang ada di dunia ini bukan?”
Menjijikkan, untuk seorang dewa malapetaka membicarakan tentang menghargai nyawa, sungguh lelucon. Itulah yang ada dipikiran Dyze saat ini.
Ia terdiam.. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.. Tidak lama kemudian bibirnya mulai bergerak.
“.. Kapan? Kalian akan berangkat.. “
“Segera, setelah kita habiskan makanan ini.”
***
Kesedihan tergambarkan di wajahnya namun tidak ada yang dapat diperbuat olehnya, ia hanya bisa melepaskan mereka berdua.
Kini Dyze dan Chronoa telah bersiap dengan peralatan dan bekal yang diberikan Claire. Disaat diambang pintu, Claire tiba tiba memeluk Dyze dari belakang dan berkata dengan pelan dan sedikit terisak.
“Jika kamu telah menyelesaikan urusanmu disana, bawalah aku untuk melihat seberapa luasnya Dunia ini.” Pelukannya semakin erat hingga membuat Dyze sesak.
“U-ugh.. Entahlah. Aku tidak akan membawa orang lemah bersamaku.” Dyze kemudian melepaskan pelukan Claire dan beranjak pergi meninggalkan kota Eiden.
“.. Lemah ya?” Claire menatap langit yang mendung.
Fiuhh 2 jam telah berlalu, dan kita baru akan melalui reruntuhan desa Elvire. Aku sebenarnya tidak ingin melihat kenangan itu lagi tapi sepertinya Chronoa menginginkannya.
Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahan nya, dan aku tidak dapat berbuat apa apa selain hanya melihatnya.
Tidak lama kemudian aku merasakan tarikan di bajuku, dan itu Chronoa, ia menarik bajuku. Aneh, Chronoa biasanya tidak akan seperti ini, apakah trauma mengubahnya seperti ini?
“Dyze.. Apakah urusanmu disana terkait dengan kekuatanmu?” Yang benar saja.. Ia bertanya dengan nada rendah.
“.. Siapa yang tau? Aku hanya mengikuti petunjuk saja.”
“Petunjuk? Dari siapa?” Sialan pertanyaannya membuatku terpojok.
“Lihat Chronoa, matahari telah berwarna oranye kekuningan. Ayo kita bergegas!”
“.. Benar juga.”
Hufft aku selamat. Tapi aku tak menyangka kepribadian nya akan berubah se drastis ini, apakah ini jati dirinya?
Sudah cukup lama kami berjalan melewati desa Elvire, matahari terlihat akan terbenam tidak lama lagi. Dengan cahaya yang tersisa, sesuatu dari kejauhan menarik perhatian ku.
“Hei Chronoa, apakah kau melihatnya?”
Aku menunjuk kearah sesuatu yang menarik perhatianku.
“itu..? Puing kereta..?” Ia membuat gerakan telapak tangan berada diatas mata, kemudian ia menyipitkan nya. Gerakan yang aneh, apakah itu bisa membantu penglihatan?
Benar, sepertinya itu memang puing kereta, kurasa ada sesuatu yang terjadi.
Untuk menghemat waktu, aku berlari dan menarik tangan Chronoa, benar benar terbalik dari yang biasanya.
Setelah beberapa saat berlari, kami dapat melihat banyak sekali mayat yang dihinggapi burung gagak berserakan disekitar puing kereta. Mayat Prajurit Kerajaan juga terdapat disini, dan jumlah nya cukup banyak.
Selain mayat Ksatria Kerajaan, mayat-mayat wanita, dan anak kecil juga tak jauh dari para mayat Ksatria Kerajaan.
Mayat mereka telah membusuk.. Yang artinya ini telah terjadi selama lebih dari sehari yang lalu.
“Dyze! Coba lihat kesini!” Aku pun bergegas kearahnya.
Ia terlihat sedang mengamati 1 mayat dengan sangat serius, ia seakan mengenali mayat itu sebelumnya..
Dan aku.. Tunggu sebentar, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?
Meski mayatnya telah membusuk, aku dan Chronoa masih dapat mengenalinya.
“Apakah itu kamu.. Shearly!?” Chronoa terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Kembali, ia lagi lagi kehilangan orang yang ia kenal didepan matanya sendiri.
Tidak salah lagi itu Shearly. Rambut biru pendek miliknya membuat mayatnya mudah dikenali oleh kami.
Ini aneh.. Kenapa Shearly bisa berada di kereta ini sebelumnya? Apakah para Knight ini memiliki hubungan dengan kematiannya? Kematian mereka juga cukup aneh, tidak terlihat seperti ada sabetan pedang ditubuh mereka, ataupun tusukan tombak sekalipun.
... Yang jelas sekarang kita harus bergegas ke kota Elfimp, malam akan segera datang.
“Dengar, ini bukan waktunya untuk berduka, malam akan segera datang, kita harus bergegas!”
Aku menarik Chronoa yang sedang membisu, sialan kenapa bisa menjadi seperti ini?
Harusnya tidak akan lama lagi kita akan sampai di kota Elfimp, semoga dengan ini akan tepat waktu.
Author pov
Setelah cukup lama berjalan di kegelapan malam, akhirnya Dyze dan Chronoa sampai di gerbang kota Elfimp.
Mereka pun memasuki kota Elfimp, terlihat kota Elfimp seperti sedang sibuk, karena terlihat para Knight Kerajaan sedang berpatroli seakan mewaspadai sesuatu.
Karna sudah larut malam, Dyze dan Chronoa memutuskan untuk beristirahat di penginapan. Mereka menyewa kamar yang cukup berkualitas dengan harga 2 serigala perak dan 10 beruang perunggu.
Mereka pun membayarnya dengan uang yang disediakan oleh Claire, karena selain uang dari Claire, yang mereka miliki hanyalah koin singa emas.
Setelah membayar, mereka diarahkan menuju lantai atas, dan berjalan di lorong hingga menemukan kamar 302.
Sesampainya di lantai atas, mereka segera mencari lorong yang dimaksud. Setelah beberapa saat mereka pun menemukan lorong tersebut dan memasukinya.
Mereka kemudian membuka pintu kamar bernomor 302. Saat di dalam mereka cukup terkejut mendapati hanya ada 1 ranjang di kamar tersebut. Karena telah larut malam dan mereka sudah sangat kelelahan, hal tersebut tidak mengganggu mereka sedikit pun. Dalam pikiran mereka asalkan dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman itu sudah cukup.
Chronoa melepaskan wadah pedang yang berada di punggung nya dan menggantungkannya di dinding. Ia merasa cukup lega karena tidak ada satu pun orang yang tertarik dengan pedang nya karna itu akan membuatnya kerepotan.
Setelah membasuh tubuhnya dengan air, ia pun segera tidur, bersama Dyze.
***
Di pagi harinya, Chronoa dan Dyze bangun terlalu pagi, tidak biasanya Dyze dapat bangun semudah itu.
Setelah meregangkan badannya, Dyze dan Chronoa membereskan barang barangnya dan bersiap sarapan di bawah.
“Fwuahh. Tak kusangka makanan disini juga enak! Minumannya juga lezat sekali!” rupanya itu alasan Dyze bangun terlalu pagi, perutnya telah keroncongan dari tadi Malam.
Sementara itu Chronoa, dia terlihat muram dan tidak bersemangat. Namun meski begitu dia tetap menyantap makanan karena ia juga kelaparan.
Setelah menghabiskan Makanannya, Dyze pun menuju pasar di mana ia pernah bertemu nenek kucing itu.
Di perjalanan Dyze mendengar warga sedang membicarakan suatu penyerangan yang terjadi kemarin.
Warga membicarakan telah terjadi penyerangan oleh para bandit yang diburu Kerajaan di pasar kota Elfimp. Kejadian itu tidak menelan korban karena para bandit itu konon menawan korbannya untuk dijual sebagai budak.
Dyze berharap jika pasar yang di serang bukanlah pasar yang sedang ia tuju.
“Dyze, mengenai penyerangan itu, apakah itu ada kaitannya dengan Shearly?”
“Oh, kau benar juga. Didekat Shearly terdapat puing kereta bukan? Jika benar begitu maka mungkin saja Shearly dan para korban yang meninggal itu merupakan korban dari kejadian ini.”
Saat mereka melewati gang sempit, Dyze mendengar sesuatu.
“Suatu saat nanti Dunia akan terguncang.. Uhuk! Karena eksistensi yang dapat menghancurkan Dunia ini dengan sangat mudah akan saling bertarung.. Uhuk! Mengerikan sekali.. Kasihan sekali..”
Dyze yang mendengar itu spontan menoleh, dan dugaannya benar. Orang itu adalah Nenek tua dengan kucing putih yang selalu berada di sampingnya.
Chronoa terlihat bingung karna melihat Dyze berhenti, seakan dituntun oleh perhatian Dyze, ia juga menoleh kearah gang sempit tersebut.
Dyze pun menghampiri nya dan bertanya pada nenek itu.
“Nek, siapa sebenarnya dirimu? Mengapa Ariel sampai mengarahkan ku untuk mencarimu?” Dyze sepertinya sudah merasa aneh karena tidak mungkin manusia biasa akan menarik perhatian Ariel, terlebih ia sangat membenci manusia.
Nenek itu tersentak saat mendengar kata ‘Ariel' secara seketika, badan nenek tersebut tiba tiba bergetar hebat.
“A-apakah e-engkau... Yang dimaksud oleh orang tersebut..?” Dyze sedikit bingung dengan kata ‘orang tersebut’ tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
“Sebuah kehormatan bagi saya, Cassandra untuk berkorban demi anda.” Nenek tersebut berbicara sambil menangis.
Nenek tersebut kemudian menggunakan teknik terlarang, ia mengubah jiwa nya menjadi sebuah pil yang dapat dikonsumsi.
Dyze yang melihat nenek itu tiba tiba tergeletak tidak berdaya itupun terkejut, begitu pula dengan Chronoa.
Ia menyadari bahwa Nenek itu mengubah jiwa nya sendiri agar dapat dikonsumsi oleh Dyze, karna ia dapat merasakan jiwa di pil tersebut.