
-Chapter 100
Karena terus berjalan menelusuri Silence Forest selama beberapa saat tanpa menemukan apa-apa, Athena menawarkan sesuatu pada Dyze.
[ Hamba telah merekap semua data mengenai Silence Forest. Apakah anda menginginkannya? ]
‘Tentu. Kau bahkan pengertian ya tanpa kuperintah sekalipun.’
[ Suatu kemuliaan bagi hamba menerima pujian anda. ]
[ Silence Forest merupakan wilayah hutan dengan luas 5 mil atau sama dengan 8 kilometer. Hutan ini disebut sebagai Silence Forest(Hutan kesunyian) karena hampir tidak ada makhluk hidup yang dapat bersuara di sana.
Seperti yang anda lihat sebelumnya, makhluk-makhluk yang menghuni tempat ini hanyalah Undead dari berbagai macam ras. Dan jumlah mereka tidak hanya ada belasan atau puluhan saja.
Jumlah mereka sekarang telah mencapai ratusan ribu. Hamba akan memvisualisasikannya pada otak anda. ]
Sebuah ilustrasi layaknya hologram terputar di otak Dyze, menunjukkan posisi persis dimana saja mereka berada.
Sambil berjalan Dyze bergumam pada dirinya sendiri.
“Dengan hutan seluas ini seharusnya tidak begitu mengherankan. Tapi kenapa hingga sekarang kita hanya menemukan satu saja diantara mereka?”
[ Barrier milik individu Claire membuat bau ‘kehidupan’ tidak dapat dicium oleh para Undead. Jika anda ingin memancing mereka, maka anda hanya perlu membuat keributan. ]
Dahi Dyze mengkerut mendengar jawabannya.
“Itu tidak dibutuhkan untuk sekarang. Lagi pula Undead merupakan makhluk paling lemah diantara semuanya.”
“…” Keenam orang yang bersamanya tidak memberikan komentar apa-apa, mereka semua hanya mendengarkannya saja.
[ Hamba tahu apa yang membuat anda berpikir demikian, habisnya anda merupakan penguasa sejati dari kematian secara absolut, tidak ada yang lebih mengetahui tentang kematian selain anda. Tapi Tuan beberapa diantara mereka memiliki kualitas yang tidak akan mengecewakan anda, hamba menjamin hal itu. ]
‘Benarkah? Tunjukan padaku dimana posisi mereka sekarang.’
[ Dengan senang hati. Tapi sebelum itu hamba memiliki satu hal yang harus diberitahukan pada anda. ]
‘Apa?’
[ Terdapat sesuatu yang tidak wajar di tengah hutan, itu pasti merupakan hal yang paling anda cari selama ini. ]
“Dyze!?”
“Tuan?!”
Mendengar penjelasan dari Athena, Dyze langsung melesat tanpa aba-aba menuju ke tengah hutan—sesuai dengan peta yang terukir di kepalanya melalui kekuatan Athena.
---
“Itu dia!”
Dyze menghampiri sebuah benda yang terlihat seperti gagang pedang sedang tertancap di gundukan tanah kuburan.
Dyze mendekat dan menyentuh gagang pedang itu.
[ Apakah anda yakin untuk mengangkatnya? ]
Konfirmasi dari Athena sedikit membuat Dyze merasa bingung.
‘Tentu saja.’
Dyze kemudian menariknya tanpa rasa ragu, dan dia menjadi bertanya-tanya saat hanya mendapati pedang yang dicarinya hanya terdapat gagangnya saja.
“Sensasi lembut ini .. Dan struktur pedangnya yang kuat namun tidak melukai. Tidak salah lagi ini benar-benar milik Ramiel!”
“Tapi kenapa hanya ada bagian gagangnya saja?”
[ Rise Of The Dawn terkonfirmasi .. ]
[ Berganti nama menjadi The Fallen Dawn karena mengalami kehancuran berkala yang membuat bagian pedang terpecah menjadi 4 bagian yang disebut sebagai Fragment. ]
“Dan sekarang baru terkumpul 1 .., ‘Kah?”
[ Fragment Fallen Dawn 1/4 terkonfirmasi. ]
“Hm?”
Dyze menoleh ke belakang karena dia merasakan adanya getaran yang tidak wajar, dan matanya membelalak entah karena senang atau terkejut.
“Dyze .. Aku tidak tahu ini merupakan kabar buruk atau baik ..” Selepas mengatakan itu Chloe menjadi siaga, diikuti dengan Claire yang ingin menyiapkan barriernya, Argus yang bersiap dengan sihir serta skill penghancurnya, Arcandra dan Eleina yang memasang kuda-kuda.
Sedangkan untuk Nirvia tempat seperti ini menjadi kelemahan terbesar bagi Dryad sepertinya. Tapi dia tidak ingin menjadi beban, Nirvia juga berusaha untuk mengambil alih pepohonan mati di sekitarnya dengan kekuatan miliknya.
Hal ini membuat inti kehidupannya perlahan menjadi di grogoti oleh atribut kematian.
[ Terlepasnya segel yang mengisolasi para Undead di Silence Forest membuat mereka yang tertidur menjadi terbangun, mereka yang bangun menjadi semakin agresif dari biasanya. ]
Saat Claire hendak membuat kubah barrier yang melindungi mereka ketika melihat lautan mayat hidup yang disebut sebagai Undead berlarian ke arah mereka, Dyze memerintahkannya untuk tidak perlu melakukan hal itu.
Dia perlahan menuruni gundukan tanah itu dengan seringai yang terukir di wajahnya.
Dyze menatap intens lautan Undead yang ada di hadapannya, sekilas kilatan cahaya merah seperti kilat juga terlihat dari kedua matanya.
“Ini benar-benar membuatku bersemangat.”
[ Perhatian! Lautan Undead tidak hanya berada di hadapan anda! Terdapat lautan Undead dari arah jam pukul 9 dan 3 juga menyusul untuk menyerbu anda! ]
[ Perhatian! Lautan Undead dari arah belakang anda—jam pukul 6 juga mengalami kebangkitan, hanya membutuhkan beberapa detik saja bagi mereka untuk mencapai anda! ]
Di saat-saat genting seperti ini, Dyze justru memegangi bagian belakang lehernya(tengkuk) kemudian membunyikannya.
“Tidak perlu panik begitu. Lautan Undead ini sama sekali bukan tandingan kita.”
Dari awal mereka semua sebenarnya tidak pernah gelisah karena yakin dengan kekuatan masing-masing, tapi kata-kata Dyze kini benar-benar membuat mereka tenang, baik itu secara mental atau pun fisik.
“Kalian dapat menghabiskan waktu dengan berkompetisi siapa membunuh yang paling banyak diantara kalian. Dengan itu kalian tidak perlu menahan diri dan membagi musuh lagi.”
[ 3 detik ]
Keenam orang itu melirik satu sama lain, perlahan sebuah seringai menakutkan terbentuk di wajah mereka masing-masing.
[ 1 detik ]
“Ayo bersenang senang!”
Dyze melesat, diikuti dengan keenam orang dibelakangnya yang juga dalam keadaan membara, Nirvia merupakan orang baru, namun entah kenapa dia seperti dapat memahami perasaan mereka sekarang.
“INI YANG KU TUNGGU TUNGGU KAHAHAHA!”
Chloe yang biasanya tidak bertindak terlalu agresif melampiaskan seluruh nafsunya dengan melibas para Undead skeleton itu.
Dalam sekali tebasan secepat cahaya, ratusan Undead gugur di hadapannya.
“MESKI AKU TIDAK BERFOKUS PADA SERANGAN, AKU AKAN TETAP MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK BERSAING DENGANMU!”
Claire yang biasanya tenang seperti air yang menghanyutkan, kini berubah drastis, mata merahnya melotot, tawa terus keluar dari mulutnya, dia kini seperti kepribadian yang sepenuhnya berbeda.