The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 20. Kebodohan Dan Ketakutan Para Elf



Di saat yang sama terdengar sebuah suara yang bergema di hutan, seolah hutan itu sendiri yang berbicara pada mereka.


“Manusia. Apa tujuanmu datang kesini..?”


Dyze hanya tersenyum saat mendengarnya. Kemudian terdengar seperti tali busur yang sedang ditarik dengan kuat, saat itulah Eiria dan Chronoa menyadari mereka telah dikepung.


Saat Dyze ingin menjentikan jarinya, Eiria berteriak yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


“Tunggu!”


Suara Eiria membuat Dyze meliriknya, Dyze pun menurunkan tangannya membiarkan Eiria menjalankan perannya.


Terdengar suara bisik bisik dari segala sudut hutan, meskipun tidak jelas, Dyze tahu jika mereka sedang membicarakan Eiria.


Dia melangkah maju dan menegakkan badannya agar terlihat berkarisma.


“Aku adalah Light Elf satu satunya yang tersisa di Dunia ini, seharusnya kalian telah mendengar berita mengenai genosida yang dilakukan oleh Asmodeus kan?”


Sekilas Dyze dan Chronoa meliriknya heran, karena di koran tidak satupun menyebutkan tentang hal itu.


Kemudian terlihat sebuah siluet yang turun dari pohon, dia berdiri di hadapan Eiria, seperti mengamatinya dari kepala hingga ujung kaki.


Siluet itu seorang laki laki yang memiliki telinga runcing seperti Elf kebanyakan, mempunyai kulit putih namun tidak terlalu mulus, rambutnya pirang panjang terurai, dan iris mata yang hijau terkadang bersinar.


Eiria mengatur cahaya di tubuhnya semakin bersinar, membuat keberadaan Elf lain yang berada di dahan pohon diketahui. Terlihat juga banyak serigala bersama mereka.


Elf laki laki itu kemudian berlutut dan disusul dengan ratusan Elf di belakangnya.


“Ya. Kami telah mendengarnya dari Doritis mengenai hal itu, kami turut berduka atas kejadian yang menimpa ras Anda, di saat yang sama kami bersyukur karena Light Elf tidak punah sepenuhnya.”


“Doritis?”


Sebuah kata yang spontan keluar dari mulut Dyze dan Chronoa.


Eiria bergumam kecil menjawab pertanyaan mereka:


"Burung penyampai pesan. Burung jenis ini dapat di kontrol oleh ras Elf."


Dyze dan Chronoa mengangguk sambil menyentuh dagu.


Dyze melihat ke arah Para Elf yang sedang menatap sinis dirinya dan Chronoa. Elf laki laki yang berada paling depan berkata dengan sombongnya:


“Huh! Kalian terselamatkan oleh keberuntungan.”


Dyze dan Chronoa merasa kesal mendengarnya, namun kemarahan mereka mereda saat melihat Eiria yang biasanya seperti anak kecil tiba tiba menampar Elf itu.


“Ketua!”


Para Elf di belakangnya bersiap ingin melindungi namun dihentikan oleh Ketua elf tersebut dengan mengangkat tangan kanannya.


“Dasar tolol! Justru kalian yang diselamatkan oleh keberuntungan!”


Seisi hutan menjadi hening saat mendengar perkataan Eiria. Ketua Elf itu pun meminta kejelasan tentang yang dimaksud oleh Eiria.


Dia menunjuk ke langit dan berteriak:


“Coba lihat! Lingkaran sihir raksasa itu dapat aktif hanya dengan jentikan jari! Dan itu dapat memusnahkan seisi hutan dalam sekejap, termasuk kalian yang berada di dalamnya!”


Para Elf menjadi tercengang saat melihat lingkaran sihir raksasa yang samar berada tepat di atas mereka. Karena mereka sendiri tahu betul jika nyaris mustahil untuk membuat lingkaran sihir seperti itu jika hanya dengan sedikit orang, apa lagi mengaktifkannya hanya dengan jentikan jari, itu sangat mustahil menurut pemahaman mereka.


Ketua Elf itu bersujud di hadapan Dyze, karena dia tahu, memancing kemurkaan makhluk seperti ini adalah pertanda kematian bagi kaumnya.


“Hamba mohon! Meski kepala ini tidak begitu berharga, tapi hamba mohon! Kepala ini akan bisa menebus nyawa mereka.”


Para elf itu juga bersujud dan berkata secara


serempak:


“Kami mohon! Dengan kepala ini dapat menebus nyawa kaum kami!”


Mereka gemetar dan keringat dingin dengan deras mengalir, daripada takut akan kematian, mereka lebih takut jika penyebab kemusnahan kaum mereka adalah kebodohan mereka sendiri.


Mereka tidak berani menatap mata Dyze, sampai terdengar suara rengekan perut dan perkataan Dyze membuat mereka berani menatapnya.


“Yah tidak apa apa, lagipula jika hutan ini musnah mungkin aku tidak akan menemukan persediaan makanan selama perjalanan nanti..”


Dyze mendekati Eiria dan menyentuh dengan lembut kepalanya.


“… Lagipula dia melakukan perannya dengan sangat baik.”


Eiria tersenyum malu, sedangkan Chronoa hanya menghela napas pendek sambil tersenyum tipis.


“Bawakan padaku, hidangan terbaik kalian.”


Mereka saling menatap, tidak menyangka jika masih dapat bertemu dengan keluarga. Mereka bersorak dan mengatakannya dengan keras:


“Iyaaaa!!”


Dyze, Chronoa, Eiria dituntun menuju kediaman ras mereka.


Sebuah desa besar di pedalaman hutan, meski waktu sudah malam, cahaya obor yang menggantung di setiap rumah, membuat desa itu sangat cukup untuk menghindari kegelapan.


Kini Ketua Elf itu sedang mengajak Dyze beserta Chronoa dan Eiria menemui kepala desa Wood Elf.


Rumah Tetua elf ini sangat unik karena pintu masuknya hanya dapat dicapai melalui tangga yang melingkari rumahnya.


Meski cukup aneh, mereka menghiraukannya.


Saat menaiki anak tangga di rumah unik kepala desa, Ketua Elf itu memperkenalkan dirinya.


“Ah, sungguh tidak sopan. Namaku Adelf Hitolar, seorang ketua divisi dalam bagian keamanan.”


Dyze hanya mengangguk, begitu pula dengan Chronoa dan Eiria.


Merasakan suasana canggung, Adelf menanyakan nama pada mereka.


“Err.. Nama kalian?”


“Oh, namaku Dyze.”


“Aku Chronoa.”


“Kalau aku Eiria.”


Adelf mengangguk dalam dalam karena dia berpikir dalam lamunannya, dia harus mengingat nama ini, karena ada kemungkinan nama mereka akan mengguncang Dunia.


“Kita sampai.”


Kata kata itulah yang keluar darinya saat di hadapan mereka tedapat sebuah tirai berwarna hijau, tidak cocok disebut sebagai pintu.


Adelf membuka tirai itu dan menutupnya kembali saat Dyze serta Chronoa dan Eiria telah memasukinya.


Adelf berlutut saat mereka berhadapan dengan Elf laki laki yang terlihat sudah rapuh karena umurnya. Kumis putih seperti bulan sabit terbalik menjadi ciri khasnya.


“Adelf Hitolar, ketua divisi keamanan telah kembali. Senang melihatmu baik baik saja, Tetua.”


Tetua elf itu membuka sebelah matanya yang telah keriput dan melihat ke arah Dyze dan Adelf.


“Senang melihatmu kembali, Adelf. Sepertinya kamu membawa seseorang..?”


Dia menundukan wajah dalam dalam, karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


“Dia..—“


Di saat Adelf sedang memutar otak untuk menemukan jawaban, Dyze menyelanya, yang membuat Adelf dapat bernapas lega.


“--..Aku Dyze, hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat.”


Jawaban Dyze membuat tetua itu menatapnya dengan curiga, namun karena takut Dyze merasa jengkel, Adelf dengan buru buru menghampiri dan memberitahunya kejadian yang sebenarnya.


Secara seketika tongkat yang menopang tubuhnya terjatuh karena tetua tersebut bergetar hebat.


Mencoba untuk lebih sopan, tetua itu memperkenalkan dirinya.


“.. Maafkan aku atas tindakan bodoh sebelumnya. Namaku Aelfric, seorang tetua Wood Elf sekaligus menjabat sebagai kepala desa. Aku telah hidup selama 500 tahun jika dihitung dalam umur manusia, aku telah menyaksikan banyak peperangan antar ras selama hidupku, namun aku tidak pernah mendengar ataupun melihat dengan mata telinga sendiri mengenai lingkaran sihir raksasa yang dapat diciptakan hanya oleh 1 orang. Mengenai permintaan anda, kami akan menyiapkan sebuah pesta dengan hidangan terbaik di dalamnya.”


Dyze terlihat senang mendengarnya.


“Bagus! Dan juga 500 tahun?—“


Dia melirik ke arah Eiria yang sedang tenang


memperhatikan topik pembicaraan.


“--.. Sedangkan kamu? Berapa umurmu?”


Eiria terlihat kaget saat ditanya, dia secara spontan menunjuk dirinya sendiri.


“Eh, aku? Aku.. baru 97 tahun.”


“Eh?”


Jawabannya membuat Dyze dan Chronoa tercengang.


“97 tahun?! Padahal tubuhmu lebih cebol dariku?!”


Eiria terlihat kesal dengannya dan memukul mukul Chronoa seperti adik yang sedang marah dengan kakaknya.


“Jahat sekali, padahal aku lebih tua darimu lo!”


Chronoa hanya menanggapinya dengan tertawa saat Eiria sedang memukul mukulnya, sensasi yang dirasakannya seperti dipijat, oleh karena itu dia tertawa menikmatinya.


“Eh? Apakah tinggimu menambah Chronoa?”


Chronoa berhenti tertawa dan menatapnya dengan kebingungan.


“Hah? Tidak ada yang berubah kok!”


Mendengar jawaban Chronoa, Eiria terlihat langsung membuang pertanyaannya. Dia menghampiri daging kelinci yang hampir matang.


Pesta hampir dimulai, Dyze tidak sabar menunggunya.