The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 15. Pertarungan Dyze melawan Asmodeus



Dyze mengira hanya seperti ini saja kekuatan Asmodeus, hal ini membuat nya kecewa dan bergumam dengan ekspresi pahit:


“Huh? Begini saja..? Membosankan..”


Asmodeus yang memiliki pendengaran hebat menjadi tersulut amarah nya. Dia yang awalnya seperti tertekan dengan sekejap mulai membalikkan keadaan.


Kekuatan fisik nya menjadi berkali kali lipat lebih kuat dari sebelum nya, tangan nya yang dari awal berukuran besar menjadi tambah berotot. Hal ini dapat membuat Asmodeus memukul mundur Dyze hingga puluhan meter jauh nya.


Asmodeus melompat dari Takhta nya, ukuran raksasa yang dimiliki tubuh nya membuat tanah menjadi bergetar hebat. Pasukan Asmodeus mengepung Dyze dan melindungi Asmodeus dengan tubuh mereka sendiri yang dijadikan perisai hidup.


Meski Dyze telah terpental cukup jauh, pedang nya terlihat masih kokoh di tangan nya. Dia yang masih berada di udara dan hendak menyentuh tanah pun langsung membenamkan kaki nya ke dalam tanah.


Meski dia dikepung oleh banyak sekali iblis yang terlihat mumpuni, Dyze tidak merasakan takut atau khawatir sama sekali.


Dia justru memegang tengkuk dan membunyikan leher nya.


“Ah. Kukira hanya sebatas itu saja. Tunjukan padaku kekuatan Raja Iblis!”


Para iblis yang mengepung Dyze seketika murka saat mendengar Tuan nya di remehkan seperti itu. Namun mereka mengurungkan niat nya saat Asmodeus melambaikan tangan pertanda dia akan mengambil alih situasi.


Asmodeus mulai melangkah keluar dari lingkaran Pasukan yang berusaha melindungi nya. Asisten nya terlihat khawatir dengan hal itu dan meminta nya menyerahkan ini pada mereka. Namun Asmodeus menghiraukan nya dan berjalan dengan sombong nya mendekati Dyze.


Hingga dia berhenti pada jarak 25 meter yang memisahkan mereka. Asmodeus bertanya dengan mengarahkan kapak besar nya pada Dyze:


“Siapa kau? Dan apa tujuanmu?”


Dyze hanya berdecih dan tidak menjawab pertanyaan nya.


Asmodeus menyerahkan kapak besar itu untuk dipegang sementara oleh Asisten nya.


Sementara itu diri nya melipat tangan dan mengamati Dyze secara seksama.


“Kau.. Sepertinya bukan manusia biasa. Seorang High Human?”


Dyze tidak merespon karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh nya. Dia mulai mencabut kaki kanan nya dari kedalaman tanah. Pasukan Asmodeus menjadi siaga. Asisten nya sigap dalam kondisi bertahan berdiri di depan Asmodeus, mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi.


“Aku tidak mengerti maksudmu..”


Dyze merapikan rambut nya dan mulai mencabut kaki kiri nya dari tanah.


“..—Tapi jika kau mencari nya, maka langkahi dulu mayat ku.”


Dyze menyeringai dan bergumam kecil:


“Circle Of The Death: Reverse (membalikan).”


Terdapat sebuah lingkaran sihir besar berwarna biru di tanah para pasukan yang mengepung Dyze. Asmodeus yang dari awal telah mewaspadai Dyze memerintahkan bawahan nya untuk mundur namun—


“—Sudah terlambat.”


Dyze tersenyum dan menjentikkan jari nya. Lingkaran sihir yang awal nya berwarna biru muda menjadi merah menyala.


Bising yang menusuk telinga, sesaat kemudian sebuah pilar api raksasa menyembur tinggi ke langit.


Seperti menyaksikan gunung erupsi, pilar api itu mengeluarkan asap tebal yang panas dan dengan ganas membakar habis segala sesuatu yang berada di dalam nya termasuk pasukan Asmodeus hingga musnah.


Meski hanya berlangsung selama 8 detik saja, rasanya seperti berkali kali lipat lebih lambat.


Tidak lama kemudian, pilar api itu menghilang. Setelah api itu lenyap, hasilnya adalah sebuah bekas lingkaran dengan pemandangan Neraka yang nyata.


Dyze menatap neraka itu dengan tatapan sayu – dia menyesal karena tidak dapat menyaksikan kematian mereka lebih lama lagi.


Di pihak lain – Asmodeus terdiam. Tidak dapat berkata kata saat menyaksikan pemandangan hina bagi harga diri nya. Dari tatapan tajam mata nya, seakan memberitahu bahwa, dia akan membuat Dyze menyesal atas perbuatan nya.


Dyze yang menyadarinya, justru tersenyum kepadanya. Membuang tatapan sayu yang dia pasang sebelumnya.


Api yang menjulang tinggi ke langit seperti pilar itu pun disaksikan oleh warga kota dan Claire. Hal itu membuat para warga banyak yang menuju gerbang sehingga membuat Claire tambah menjadi kesulitan untuk keluar.


Sementara itu Eiria terlihat merinding karena ratusan iblis bawahan Asmodeus yang terkenal tangguh langsung hangus tidak tersisa di hadapan Dyze. Melihat Eiria yang bergetar, Chronoa menggenggam tangan nya dan mendekatkan kepala nya ke pundak Eiria.


“Meski dia kasar begitu, Dyze tidak akan pernah membiarkan kamu ataupun aku mati, karena itu pasti akan berpengaruh pada permainan yang dia maksud.”


Eiria hanya merespon dengan sedikit tersenyum.


“Metafora yang aneh.”


“Hey.. Apakah kita tidak akan membantu nya?”


Pertanyaan Eiria membuat Chronoa memasang wajah konyol.


“Huh? Memangnya kita bisa apa dalam membantu nya?


Jika kita mengganggu kesenangan nya, kamu mungkin juga tahu apa akibat nya.”


Seketika tubuh nya bergetar hebat membayangkan hal itu terjadi. Mereka pun untuk saat ini hanya mengamati Dyze dari kejauhan.


Meski sempat tertegun untuk beberapa saat, Asisten Asmodeus yang bernama Klera berusaha meyakinkan Tuan nya untuk tidak menanggung resiko.


Tapi Asmodeus kini hanya dipenuhi amarah, dan kebencian yang membara. Harga diri nya seperti terluka saat melihat prajurit Iblis yang dibanggakan nya musnah begitu saja.


Melihat Tuan nya yang telah dibutakan amarah, Klera tidak memiliki pilihan selain percaya pada nya. Klera memerintahkan pada pasukan iblis Asmodeus untuk tidak menghalangi jalan Asmodeus, meski beberapa dari mereka beradu argumen dengan Klera, pada akhir nya mereka menuruti nya.


Asmodeus mengambil kapak nya, dan mulai melangkah mendekati Dyze.


Dyze pun begitu, selangkah demi selangkah, semakin jauh jarak yang mereka tempuh semakin cepat langkah mereka, hingga—


“Tunjukan pada ku Asmodeus! Perlihatkan pada ku bahwa kau dapat menghiburku!”


Asmodeus menjawab dengan suara berat dan tatapan intens:


“Heh! Sombong sekali, akan kubuat kau menyesalinya nanti!”


Sedangkan Dyze terlihat tidak memasang emosi atau ekspresi apapun.


“Ya. Kuharap juga begitu.”


— Mereka melesat dengan kecepatan supersonik(setara dengan kecepatan suara), saat berhadapan, Dyze membiarkan Asmodeus bertubi tubi menyerang nya, dia hanya menangkis menggunakan pedangnya.


“Lumayan juga! Tapi ini masih belum seberapa!”


Asmodeus mengatakan nya dengan tegas, membuat darah Dyze semakin mendidih.


Karena kecepatan yang tidak bisa di ikuti oleh mata, mereka terlihat beradu senjata di berbagai tempat. Tanah, udara, langit.


Kini pertarungan mereka semakin sengit saat di langit, beberapa saat telah berlalu, mereka terlihat masih tidak ingin ada yang mengalah, sampai Dyze bosan melakukan pertarungan di langit.


Dyze memanfaatkan Asmodeus yang tepat berada di depan nya sebagai pijakan lalu memusatkan kekuatan pada kaki nya. Dia kemudian menendang dada Asmodes untuk menjaga jarak.