The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 7. Sang Druggist Yang Menawan



Chronoa pun kembali dengan susah payah menggendong tubuh Dyze yang mulutnya berlumuran darah.


Ia keluar dari desa Elvire yang telah dibumi hanguskan dan berjalan menuju kota terdekat—kota Erdein—


Disisi lain, Shearly kini telah terbangun dari pingsannya. Ia tersadar di kereta dengan jeruji besi yang mengurungnya, ia menyadari bahwa ia telah dijual sebagai budak.


Shearly tidak dapat berbuat banyak karna ia dalam kondisi terikat, dan kalaupun ia bisa terbebas dari ikatan tersebut, ia akan dihadang oleh banyak penjaga yang mengawal kereta ini.


Ia tidak bisa mengambil konsekuensi ini dikarenakan ia tidak sendiri didalam kereta itu, banyak orang lain di dalamnya, rata-rata yang berada di jeruji atau kurungan besi ini ialah Wanita dan anak-anak.


Jika ia gagal, yang menjadi korban bukan dirinya sendiri, bisa jadi orang lain yang tidak bersalah secara tidak diinginkan terlibat dengannya.


Ia hanya bisa menunggu dan berharap pertolongan datang kepadanya sebelum sampai ke penjual budak yang sepertinya berada di Historian kingdom.


Kembali pada Chronoa, ia kini telah berada didalam Azerbazan kingdom setelah ber jam jam menggendong Dyze – lebih tepatnya pada kota Erdein – alasan Chronoa menuju kota Erdein karna hanya kota inilah yang paling dekat dengan desa Elvire, dan ia cukup hafal dengan jalannya.


Ia juga cukup dikenali oleh sebagian orang disana. Sesampainya di tujuan, penjaga gerbang kota Erdein cukup keheranan karna melihat Chronoa terlihat sangat letih dan menggendong seorang pemuda yang di mulutnya terdapat darah yang telah mengering.


Chronoa yang tidak kuat lagi akhirnya pingsan, di saat-saat terakhir kesadarannya, ia meminta pada penjaga untuk menolong Dyze, karena ia mungkin memiliki luka serius.


Penjaga gerbang itupun memboyong Chronoa dan Dyze menuju seorang ahli obat –Druggist – yang terkenal di kota itu.


Ugghh, badanku rasanya sakit semua, apa yang sebenarnya terjadi?


Dyze membuka mata, akibat cahaya dari lampu sihir yang tiba-tiba menyala.


“Aah.. Maaf, apa kamu terbangun karna aku menyalakan lampu? “


Terdengar suara seorang wanita yang berasal dari pintu, yang membawa sebuah mangkuk berisi tanaman obat-obatan yang kelihatannya telah melebur.


Dyze berusaha bangkit dari posisi tidurnya, namun rasa sakit dan nyeri itu kembali terasa hingga membuatnya mengeluarkan erangan kecil.


“Ow! “


Mendengar itu, wanita itu menghampiri Dyze dan membaringkan nya kembali.


“Kamu masih belum pulih, jadi jangan banyak bergerak dulu.”


Suara lembut nan anggun menjadi kesan pertama saat mendengarnya.


“K-kau..?” Tanya nya sambil menahan rasa nyeri.


“Aku? Namaku Claire, senang bertemu denganmu.”


Claire, seorang wanita dengan rambut merah terikat ponytail yang nampak seperti bunga mawar yang sangat cantik, iris mata berwarna merah seperti batu mulia Ruby, serta bulu mata nya yang sangat indah. Ia juga memiliki kulit yang sangat mulus, dikabarkan juga ia disebut sebut sebagai wanita tercantik di kota Erdein.


Claire selalu memasang senyum hangat di wajahnya yang membuat orang selalu beranggapan kehidupannya itu bahagia, namun nyatanya dia justru pernah mengutuk kehidupannya sendiri.


“A-aku dimana?”


Dyze menggerakkan tubuhnya untuk mengamati seisi ruangan.


Terdapat banyak lemari yang diisi dengan wadah obat obatan, lampu sihir yang terletak di langit langit, dan jendela yang tidak jauh darinya.


Melihat Dyze yang bergerak, Claire memperingatinya sambil mencampurkan obat-obatan dengan air kemudian mengaduk nya dengan sendok hingga rata.


Setelah itu, ia mengambil sesendok dari obat tersebut dan menuangkannya di dada Dyze yang di perban. Ia kemudian mulai meratakan leburan obat itu ke seluruh bagian tubuhku yang memiliki perban.


Dyze mengira rasa sakit itu akan kembali bereaksi, namun sepertinya dugaan Dyze salah.


Sejuk sekali.. tidak terasa sakit seperti tadi.


“Sudah mendingan, bukan? Dan ini adalah kota Erdein. Sepertinya Chronoa yang telah membawamu kesini, ia juga terlihat sangat kelelahan meski tidak mempunyai cedera serius. “


Ia melirik ke arah Chronoa yang sedang tertidur pulas.


Kota Erdein? Kota Erdein.. Ah, kota yang sering dimampiri oleh Layond untuk menjual obat obatan ya? Tunggu, dia mengenal Noa..? Kurasa akan ku tanyakan nanti padanya.


Tapi yang benar saja. Gadis nakal itu membawaku kesini? Apakah dia menggendong ku begitu saja selama ber jam jam? Kalau benar begitu, sialan kurasa aku berhutang kembali padanya.


“Kurasa begitu, ini tidak terasa sakit seperti sebelumnya. Tapi tetap saja aku tidak menyangka bahwa fisik ku selemah ini.”


Dyze bergumam kecil dan mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Claire.


Claire yang mendengar itu menjadi menundukan kepala nya dan bergumam pelan, namun Dyze dapat mendengarnya.


“K-kurasa tidak begitu, kamu adalah pria-- tidak, seorang pemuda pertama yang pernah ku rawat memiliki luka separah ini..”


Dyze dapat merasakan bahwa Claire seperti mengelus tubuhnya yang menggunakan perban dengan lembut, dan kembali melanjutkan.


"Pasti berat ya.. Melalui semua itu."


Dyze tidak meresponnya karna ingin bertanya hal yang lebih berguna.


“Hei Claire, aku mengalami cedera apa? Dan apakah itu serius?” Tanya ku mengalihkan topik.


“Eh? Ah, k-kamu mengalami cedera organ dalam yang sangat serius. Tapi mengagumkan nya, organ tubuhmu bisa dengan sendirinya pulih kembali dalam waktu singkat!”


“O-oh.. Begitu ya..Organ dalam ya? Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya? Apakah kau melakukan sesuatu dengan tubuhku?” Tanya ku kembali untuk memastikan nya.


“Ehh? Aku tidak melakukan sesuatu kok! Hanya saja ini cukup rahasia dan tidak banyak orang yang tahu mengenai hal ini.. “ Ia terlihat bingung dan gelisah.


“Tidak apa, berceritalah, mulutku sangat mengunci rapat informasi.”


Setelah mendengar jawabanku ia terlihat menghembuskan nafas lega. Ia kemudian mulai bercerita..


“Sebenarnya, aku.. –“


***


Setelah menceritakan apa yang menjadi rahasia-Nya selama ini pada Dyze, ia mengungkapkan dirinya seperti telah lepas dari belenggu yang telah mengekangnya sejak lama.


Claire, ia memiliki rahasia yang nyaris tidak diketahui oleh siapapun yang ada di kota Erdein selain paman yang ia anggap sebagai ayah kandung sendiri. Namun kini orang itu tidak lagi berada di sisi nya.


Ia dianugerahi Blessed Eyes seperti milik Riley, namun berbeda kegunaan. Blessed Eyes milik Claire dapat membuatnya mengetahui kelemahan individu dengan cara memindai tubuhnya.


Ia juga menjelaskan bahwa ada 3 kategori yang dimiliki oleh Blessed Eyes:



Ofensif


Defensif


Support


Itulah kategori yang dimiliki Blessed Eyes, Blessed Eyes milik Riley dan Claire tergolong kategori support karna tidak dapat menyerang ataupun melindungi.



Umumnya hanya ada 7 Blessed Eyes di dunia ini, namun ada legenda yang mengatakan bahwa terdapat mata kedelapan. Mata kedelapan ini mempunyai kemampuan yang sangat kuat, bahkan melampaui ke-7 Blessed Eyes itu sendiri.


Claire sendiri tidak memiliki Blessed Eyes dari lahir, ia mendapatkan Blessed Eyes ini setelah kematian paman atau orang yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri.


Ia menggambarkan perasaannya saat itu seperti Dunia itu mengutuk hidupnya, ia selalu menderita sebelumnya, satu satunya kebahagiaan yang dapat ia rasakan hanyalah saat diasuh oleh orang yang ia anggap ayah itu.


Akan tetapi Dunia justru membuat paman nya tidak dapat bertahan hidup lagi, ia saat itu hampir tertelan oleh dendam kegelapan yang berada didalam lubuk hatinya.


Namun tepat setelah itu, ia bilang bahwa Langit seperti terbuka dan menurunkan tangga, tidak lama setelah itu, cahaya yang sangat menyilaukan mata tiba tiba saja bersinar yang membuat Claire langsung pingsan ditempat.


Setelah terbangun ia seperti merasakan gejolak aneh di matanya, Claire pun menyadari bahwa dirinya dapat mengetahui kelemahan dari segala individu, benar benar mata yang diberkahi, tidak, lebih terlihat seperti mata yang dikutuk.


Ia mengakhiri cerita dengan mengatakan bahwa hidupnya menjadi lebih bahagia setelah mendapatkan Blessed Eyes.


Begitu ya.. Blessed Eyes huh? Cukup menarik.


Ah benar juga, mengenai hal itu.. Tanyakan sekarang saja!


“Claire, kau mengenal Chronoa?” Tanyaku sambil sedikit memasang wajah bingung.


“Haha, hampir seluruh kota mengenalnya lo.. “ ia menjawab dengan tertawa kecil sambil menutupi dengan tangannya.


“Eh? Bagaimana bisa anak nakal ini se terkenal itu?!”


Dyze tidak menyangka bahwa Chronoa sangat terkenal.


“Yah tentu saja karena ia mengemban nama Emilton di belakang namanya.. “


Ia terlihat menghela napas pendek dan melihat ke langit-langit.


“Kamu tahu Dyze.. Jika aku menjadi dirinya mungkin tidak akan kuat karena pasti suatu saat nanti aku akan menghadapi tekanan yang luar biasa akibat mengemban nama besar itu di belakang namaku. “ ia melanjutkannya sambil tersenyum, senyuman pasrah mungkin tepat untuk menggambarkan nya.


“.. Yah tetaplah menjadi dirimu sendiri karena kau bukanlah dia. “


Secara naluri aku mengelus kepalanya seperti anak kecil. Sialan aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya!


Ia sedikit terkejut saat Dyze memperlakukan nya seperti anak kecil, disaat Dyze hendak melepaskannya, ia justru menahannya dan menyuruhku untuk tetap seperti ini dengan suara yang pelan, wajahnya juga terlihat merona dengan sendirinya.


Sialan.. Apa yang sebenarnya kulakukan!? Aku harus segera--!


Tiba tiba saja Chronoa tersentak dari tidurnya, keliatannya ia masih sangat syok dengan kejadian mengerikan yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


Aku selamat..


Mungkin karena malu, Claire dengan cepat keluar dari ruangan ini, dan menutup pintunya dengan keras.


Chronoa terlihat berkeringat dingin dan menggigil, padahal cuacanya tidak dingin sama sekali. Aku pun menghampirinya dan ia terlihat bergetar, ia mengalami syok berat.


“Dyze.. Apakah kejadian itu.. Memang benar benar nyata..?” Ia bertanya dengan bibir yang bergetar, seakan tidak sanggup mengeluarkan suara namun dipaksakan untuk mengatakannya.


Meski aku tidak menyukai perbuatannya yang kurang ajar padaku, tapi aku tidak membencinya sama sekali! Melihatnya rusak seperti mainan, meninggalkan rasa tidak nyaman di mulutku.


Dyze memeluk Chronoa dan menyandarkan kepalanya di bahu miliknya.


“Tenang saja bocah.. Kau tidak sendirian di Dunia ini, meski Dunia mengucilkanmu, aku akan tetap berada disini, berdiri bersamamu.”


Setelah mendengar itu ia menjadi sadar dan menangis sejadi jadinya, ia mengeluarkan semuanya, semua yang membuatnya menderita, ia tumpahkan dalam tangisan itu.


Setelah cukup lama, ia menjadi tertidur kembali, yang benar saja.. Padahal baru saja bangun tapi tidur kembali dengan mudahnya.


Anak ini..


Kriit, suara decitan pintu terdengar.


Claire sepertinya kembali karena suara tangisan Chronoa yang nyaring.


“Hey.. Apakah sesuatu terjadi padanya? Mengapa suara tangisannya seperti sangat menderita?” Ia menghampiriku dan kemudian mengelus kepala Chronoa.


“Ng.. Nggh.. “


“Tidak. Tidak ada, nantinya kau akan tahu dengan sendirinya.” Ia terlihat menggembungkan pipinya dan mulai berbicara.. terlihat aneh tapi lucu.


“Yang benar saja.. Aku sudah menceritakan rahasia ku lo!”


“.. Tidak, aku tidak dapat menceritakannya. Ini meninggalkan luka besar di hati Chronoa."


Dyze memasang wajah seriusnya, suasana yang tadinya normal menjadi mencekam, udara menjadi dingin menembus tulangnya. Tubuh Claire bergetar hebat karena menggigil, ia tampak menelan ludah dan sedikit berkeringat.


“B-begitu ya.. Maaf karena menanyakan hal yang tidak perlu.” Ia meminta maaf dengan menundukan kepala sedalam-dalamnya.


Aku menghela napas lega karena Claire tidak membuat suasana menjadi rumit.