
Kembali pada malam hari itu, setelah Dyze dan Chronoa tertidur pulas, Claire mengalami mimpi yang aneh.
Claire terbangun di sebuah gua yang gelap gulita. Setelah mencoba berdiri, dia mendengar suara yang berada langsung di kepala nya.
“Kamu sudah mengetahuinya bukan..?”
Claire memegang kepala nya, dia menjadi terduduk karena suara yang berada di kepala nya membuatnya merasa pusing.
“Uggh.. Siapa?!”
Suara itu tidak menjawab nya.
“Kamu tahu jika Eiria memiliki potensi yang dapat membahayakan dirimu, Dyze, Chronoa, dan bahkan seisi kota. Namun mengapa kamu seolah mengabaikan semua itu demi 1 Jiwa yang malang?”
“..K-kamu mengenal mereka?!”
Suara itu kembali mengabaikannya.
“Aku ingin melindungi nya. Dan hanya bisa berharap jika Asmodeus tidak dapat menemukan nya. Itu yang kamu pikirkan, bukan?”
Claire tertegun saat suara itu mengetahui nya.
“Aku adalah Alter Ego mu.”
Claire bingung dengan yang suara itu maksud.
“Dyze pasti membenci sifat naif mu.”
Mendengar kalimat itu Claire menjadi terbakar amarah.
“Huh!? Apa maksudmu?! Dyze juga pasti..—“
Kalimat nya dipotong oleh Alter Ego nya.
“--..Dyze tidak akan melakukan itu demi orang lain. Apakah kamu lupa? Dia yang bercerita waktu itu. Dia bilang sangat menikmati detik detik kematian para warga desa. Tipe orang seperti nya akan memprioritaskan nyawa sendiri dibanding orang lain.”
Claire tidak dapat berkata kata.
“Apakah kamu tidak dapat melihatnya? Orang seperti nya memiliki Aura yang berbeda dari kita.”
“Maksudmu..?”
Claire merasa tidak ada sesuatu yang ‘aneh’ mengenai Dyze.
“Dia berada di Dunia yang jauh berbeda dari kita. Meski Dyze terlihat bahagia bahagia saja saat kamu melihatnya, tapi itu salah. Semua hanya emosi palsu yang dimiliki nya. Mungkin.. mungkin saja alasan dia tidak membawa mu itu karena sifat mu yang terlalu baik.”
Claire yang menyadari diri nya sangat lemah tapi dengan egois nya melindungi seseorang yang memiliki resiko membahayakan diri nya dan orang terdekat nya menjadi frustasi.
Tiba tiba Claire seperti menyentuh sesuatu di dinding gua.
Hal itu memicu gua menjadi bergetar dan membuka sebuah ruangan menuju bawah tanah.
Dia menuruni ruangan yang memiliki tangga dan penerangan yang cukup. Saat menyentuh lantai dasar dia menemukan sesuatu seperti altar kecil, dan di atas terdapat 2 bola yang di rantai layak nya di segel.
Saat Claire mendekati altar itu, dia dikejutkan saat mengetahui jika 2 bola itu adalah sepasang bola mata.
Tidak cukup sampai disitu, Claire kembali di kejutkan saat mengetahui mata itu bisa berbicara.
“Kamu.. butuh kekuatan ya?”
“Huh..?”
Situasi yang benar benar tidak di pahami oleh Claire. Sebuah altar kecil di bawah tanah dan sepasang bola mata yang dapat berbicara.
“Kamu menginginkan kekuatan bukan? Aku dapat mendengar nya lo. Hasrat di dalam tubuh mu berteriak bahwa kamu menginginkan kekuatan.”
“Untuk alasan apa kamu menginginkan kekuatan? Demi melindungi seseorang?”
“Demi melindungi seseorang..”
Kalimat itu keluar dari mulut Claire tanpa dia sengaja.
“Begitu ya! Kalau begitu aku memiliki penawaran untukmu.”
“Penawaran..?”
Claire seperti terhipnotis oleh hasrat nya sendiri.
“Benar. Kamu akan memperoleh kekuatan yang begitu besar, akan tetapi kamu akan kehilangan sisi manusia mu. Apakah kamu tidak masalah dengan itu?”
“Jika dia bahkan tidak memiliki nya, maka untuk apa diri ku mempunyai nya?”
“HaHaHa bagus bagus! Sekarang mendekatlah dan sentuh aku!”
Claire mendekat dengan mata nya yang kosong dan menyentuh bola mata itu.
Saat dia menyentuh nya, terdengar suara retakan. Kemudian cahaya yang menyilaukan mata bersinar dari rantai yang seperti menyegel nya.
Cahaya itu membuat Claire terbangun dari tidur nya.
Ia merasakan pusing dan samar samar mengingat apa yang dikatakan bola mata tadi di saat terakhir.
Kedelapan. Itulah kata yang Claire berhasil ingat.
Claire mengamati sekitar.
“Mimpi..?”
Menyadari itu hanya mimpi dan kini masih malam hari, Claire memutuskan untuk tidur kembali.
Di pagi yang mendung, kota Erdein, tidak. Di dua kerajaan sekaligus, Azerbazan, Historian. Di gemparkan oleh koran berita mengenai insiden desa Elvire. Di koran itu menjelaskan dengan rinci setiap kejadiannya. Rumor mengenai Riley yang menyerahkan jiwa nya ke iblis juga ditulis sebagai ‘kebenaran’ di koran itu. Hal ini membuat Claire menjadi panik sendiri.
Di ruang tengah, Claire sedang mengoceh sendiri pada Dyze dan Chronoa yang mengacuhkannya.
“Hey! Bagaimana kalian bisa tetap tenang dalam keadaan seperti ini?! Bukankah kalian juga bisa mendengar suara kericuhan diluar.”
Claire mengomel sambil menunjuk keluar. Sedangkan Dyze dan Chronoa hanya menatap satu sama lain dan mengangkat bahu mereka.
Melihat mereka yang tidak terlalu peduli dengan keadaan ini membuat Claire kesal dan menepuk nepuk koran berita.
“Lihat! Disini tertulis bahwa Kamu dan Chronoa menjadi buron 2 kerajaan dengan dihargai nilai yang sangat tinggi!”
Dyze menjadi tertarik dengan ‘harga’ yang manusia berikan pada nya.
“Berapa?”
“Apanya?”
“Harga buron nya.”
“..Kamu malah mempedulikan itu?”
Claire menghela napas.
“Kamu dan Chronoa masing masing dihargai seharga 2 koin singa emas! Syarat nya juga hidup ataupun mati, yang penting ada bukti!”
Suara Claire yg terlalu keras membuat kericuhan di depan rumah nya semakin membesar.
Hingga seisi kota menjadi hening saat mendengar suara terompet. Setelah suara terompet itu mereda dan menghilang, terlihat sosok iblis bersayap di atas kota Erdein. Iblis itu memegang sebuah kertas dan membacakan nya.
“H-hei lihat! Di atas sana!”
Warga kota menjadi berkumpul dan melihat keluar, para Ksatria yang ada mulai bersiap di benteng nya. Salah satu dari 2 tower kota Erdein di hancurkan saat penjaga berusaha memanah iblis yang sedang terbang.
Suasana menjadi mencekam saat Iblis itu menyebutkan dia adalah utusan dari Tuan nya, Asmodeus.
“A-apa..? Asmodeus!? Raja iblis bengis itu ada disini?!”
Suara warga yang saling bersahutan memenuhi isi kota. Banyak, tidak, hampir seluruh warga kota bersujud pada Iblis itu sebagai tanda meminta pengampunan. Begitu pula dengan Ksatria yang berjaga, mereka juga melakukan itu demi ‘bertahan hidup’.
Melihat mereka yang meminta ampunan, Asmodeus memberi mereka kesempatan. Karena tujuan Asmodeus untuk meluluhlantahtakkan kota Erdein hanya jika Eiria tidak diserahkan.
“..Raja ku memiliki penawaran untuk kalian.”
Mendengar itu, rakyat kota menjadi gembira, mata mereka memancarkan harapan.
“Bawakan Elf yang bernama Eiria ke hadapan Raja ku. Bagi orang yang menyembunyikan atau berusaha melindungi Elf itu maka hanya akan mendapatkan kematian!”
Kota Erdein seakan menjadi bergetar karena teriakan yang memenuhi kota.
“Eiria?! Nama yang sangat asing bagi ku! Hey! Apakah kau mengenalnya?!”
“Apa?! Tidak! Aku juga tidak mengenal nya!”
“Jangan bohong!”
Kericuhan ini menimbulkan kekacauan, para warga saling ber prasangka dan akhirnya menjadi berkelahi satu sama lain. Hingga—
“Tunggu.. Aku seperti pernah mendengar nama itu di ucapkan oleh Chronoa dan Claire!”
Salah satu warga berteriak seperti itu. Seketika gelombang warga menyerbu kediaman Claire.
“Hey! Claire keluar kau! Cepat serahkan Elf itu! Jika tidak kami akan merebutnya dengan paksa!!”
“Benar! Cepatlah keluar! Jangan menjadi pengecut!”
“Jangan sampai diri ku mati karena perempuan jalang seperti mu!”
Claire yang berada di ruang tengah menjadi semakin panik, hingga membuat nya berlari kesana kemari.
“Bagaimana ini.. Bagaimana ini..!”
Eiria terlihat merasa bersalah saat melihat tuan rumah sedang ketakutan karena diri nya.
Eiria mengangkat tangan nya untuk meminta izin keluar.
Dyze terlihat sangat murka dari mimik wajah nya, ini mengingatkan nya pada warga desa Elvire. Namun seperti nya hanya Chronoa yang menyadari nya. Dia pun menenangkan Dyze dengan cara memegang tangan Dyze dari belakang.
“Tidak. Kau adalah aset berharga.”
Dyze menolak nya. Lalu Claire menanyai nya, apakah dia mempunyai sebuah cara atau apapun itu.
Dyze hanya tersenyum singkat, dan meminta Chronoa mengambil tali dari ruangan gudang.
“Eh? Tali? Untuk—“
Belum dapat menyelesaikan kalimat nya, Chronoa telah kembali dengan membawa tali.
Tanpa menunggu lagi, Dyze segera mengambil tali itu dan mengikat nya pada Claire dengan sangat erat.
“A-apa ini?!”
Claire berontak, namun percuma saja ikatan nya sangat kuat. Dyze kemudian meminta pisau kepada Chronoa.
Chronoa berlari menuju dapur, dan dalam waktu singkat dia kembali dengan pisau yang berada di genggaman nya.
“Baiklah. Oh ya, Chronoa. Siapkan tas dan barang barang mu, kita tidak akan bisa tinggal disini lebih lama lagi.”
Dyze pun menuju lantai atas, lebih tepatnya ke balkon.
Dia menempatkan pisau di leher Claire.
“A-apa yang dia lakukan?!”
“Bukankah Claire membantu nya?!”
Dyze tertawa. Sebuah tawa yang dapat membuat mereka merinding, dan udara seketika menjadi dingin.
“Yang benar saja! Dia membantu ku?! Selama ini aku hanya mengancam nya saja! Oleh karena itu aku dapat tinggal disini dengan nyaman!”
Warga saling berbisik, mendiskusikan apa yang dikatakan oleh Dyze. Terlihat salah satu warga menyangkal pernyataan nya.
“I-itu tidak mungkin! Habis nya, Claire tidak terlihat tertekan sama sekali saat berada bersama mu! Dan k-kamu juga seperti menikmati kehidupan di dalam rumah Claire!”
Dyze tidak menjawab nya. Dia hanya mengamati mereka dengan mata yang seperti memiliki bara api.
“B-benar! Dia seperti nya hanya bersandiwara!”
“Claire tetap bersalah!”
Dyze kemudian tersenyum saat melihat warga mengatakan dia hanya bersandiwara.
Dyze menyayat leher Claire, tapi tidak begitu dalam. Claire merintih kesakitan. Warga menjadi bergidik ketakutan saat mengetahui
Dyze benar benar serius.
Eiria terlihat ingin menghentikan Dyze, namun saat dia ingin melangkah—
Deg!
Jantung nya berdetak sangat kencang, keringat dingin mengalir dari wajah nya, napasnya menjadi berat. Insting nya seperti berteriak jika dia melangkah maka dia akan mati saat itu juga. Hal ini membuat nya menjadi mematung.
Sementara itu Chronoa di kamar nya telah hampir menyelesaikan urusan nya. Tinggal menata rapi isi tas nya dan menyusun posisi kotak pedang biru di punggung nya.
Kembali pada Dyze, dia berteriak dengan lantang pada para warga:
“Aku akan menyayat nya lebih dalam jika kalian masih menganggap Claire membantuku! Dan kalian akan menyaksikan kematian seseorang secara perlahan dengan mata kepala kalian sendiri.”
Tidak sedikit dari warga kota yang muntah mendengar pernyataan Dyze. Karena tidak ingin melihat seseorang mati secara perlahan di depan mata mereka sendiri, para warga pun menyatakan bahwa Claire tidak memiliki hubungan dengan para buron.
Di saat yang sama, Dyze mendengar suara langkah kaki yang cepat dari lorong kamar menuju diri nya.
“Hey Dyze? Ah disitu kamu rupanya—“
Dyze langsung melemparkan Claire di atas para warga yang menyambut nya saat mendengar suara Chronoa.
“
—Eh? Apa yang kamu tadi lakukan? Dan mengapa ada darah di tangan mu?”
Dyze menghampiri nya dan menarik tangan Chronoa yang masih kebingungan, ia juga menarik tangan Eiria yang masih mematung.
“Tidak ada yang terjadi..”
Setelah itu Dyze mulai berdiri di atas railing balkon.
Warga mulai berteriak saat melihat mereka. Seisi kota menjadi ricuh kembali.
“Cepat! Serahkan diri mu dan Elf bajingan itu pada nya! Sebelum kami menjadi korban!”
“Benar!”
“Jangan hanya diam saja!”
Chronoa menelan ludah.
Eiria pun begitu.
“Jadi.. Bisakah kita mulai?”
Bersamaan dengan itu, sebuah bola api besar yang panas dari kejauhan mengarah ke mereka.
Dyze tersenyum pada bola api itu.
Saat jarak nya telah cukup dekat dengan nya, warga di sekitar rumah Claire menjadi kepanasan karena bola api itu memiliki suhu sekitar 700°.
Dyze memeluk Chronoa dan Eiria. Ia melompat dari balkon tepat saat bola api itu berada di depan wajah nya.
Boom!
Bola api itu meledak, namun sesuatu yang ganjil terjadi. Para buron dan Light Elf itu menghilang. Dan terdapat angin sejuk yang berhembus saat bola api itu meledak.
Warga kota bersorak-sorai karena penawaran mereka berhasil. Beberapa warga kota membantu Claire melepas tapi nya.
“Untung saja mereka sudah mati. Lagi pula lihatlah bagaimana dia memperlakukan mu.”
Claire tidak menyangka, mereka bahkan tidak merasa bersalah setelah mengorbankan orang lain demi tujuan yang terpenuhi.
“Benar! Untung anak dan diri ku tidak menjadi korban.”
“Apakah mereka orang jahat, bu?”
“Ya.. Mereka orang jahat. Membunuh demi mendapatkan kesenangan, sungguh keji bukan?”
“Benarkah bu? Kalau begitu mereka pantas mendapatkan nya.”
“HaHaHa, menakutkan sekali. Aku kira aku akan mati hari ini.”
Tawa se isi kota menjadi terulang ulang di kepala Claire. Saat tersisa beberapa ikatan tali saja, Claire menatap intens mereka dengan aura yang sangat berbeda.
Secara mendadak, se isi kota menjadi seperti ditekan oleh sesuatu, sekujur badan mereka menjadi gemetar, keringat dingin mengalir dari dahi mereka. Mereka menjadi tidak bisa berbicara, dan napas mereka menjadi sesak.
Sesuatu terjadi pada tubuh nya. Pupil Claire berubah menjadi merah bergaris, seperti Predator yang kelaparan menatap mereka dengan penuh kebencian. Nada bicara nya yang berat juga membuat warga kota semakin ditekan sampai sampai seperti merasakan kehancuran dari dalam tubuh nya. Claire saat ini benar benar seperti orang yang berbeda dari biasanya.
“Jika.. Sesuatu.. TERJADI PADANYA.. Maka.. KALIAN AKAN MATI!”
Teriakan amarah nya membuat tekanan itu semakin kuat dan berat, mayoritas di antara mereka menjadi tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen.
Claire berlari menuju gerbang dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
Sementara itu Dyze kini berada di bebatuan besar yang berjarak 15 meter dari gerbang kota. Ia ber teleport tepat saat bola api itu meledak.
“Dyze. Mengapa bola api tadi meledak saat kamu meniup nya? Dan juga dengan jelas tadi aku dapat melihat ledakan itu seperti tidak menyentuh rumah Claire sedikitpun. Apakah itu perbuatanmu?”
Chronoa tidak mampu menekan rasa penasaran nya.
“Huh? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud.”
Jawaban dari Dyze membuat Chronoa sedikit kecewa karena tidak mendapatkan penjelasan sedikitpun.
Eiria memberanikan dirinya untuk bertanya pada Dyze dengan gugup:
“A-apa y-yang akan.. Anda.. Lakukan selanjutnya?” Dia bertanya sambil menarik baju Dyze.
Eiria tidak terpukau atau terperangah saat melihat ataupun menyaksikan kekuatan Dyze, dia hanya merasakan rasa takut yang besar pada nya.
Melihat Eiria yang seperti mainan rusak, mengingatkan nya pada kenangan pahit.
Dyze menepuk kepala Eiria dan mengelus nya dengan pelan.
“..Ikuti saja alur permainan ku. Jika kau berperan penting di dalam nya maka aku pasti akan menjaga mu.”
Mendengar itu Eiria menjadi tersenyum lega. Ketakutan yang selalu menghantui nya kini perlahan memudar.
“Baiklah. Chronoa bisakah kau meminjamkan ku pedang kayu mu?”
Chronoa hanya mengangguk dan membuka tas nya. Setelah merogoh rogoh isi tas nya, ia mendapatkan pedang nya.
“Untuk apa..?”
Menjawab ekspresi bingung Chronoa dan Eiria,
Dyze menjawab dengan bangga:
“Dengan ini seharus nya sudah cukup.”
Setelah mengatakan itu turun hujan yang deras. Mengguyur kota Eiden dan sekitar nya. Dyze tertawa dan berteriak:
“Benar benar pas! Hujan ini akan menjadi saksi bisu atas pembantaian yang akan terjadi! Lalu dia juga lah yang akan membersihkan kekacauan yang ada!”
Mengabaikan Eiria dan Chronoa yang terlihat gemetar, Dyze langsung menggunakan Skill nya untuk mengudara.
“Fly.”
Kata kata itu memicu Skill Dyze. Sebuah aura berwarna putih menyelimuti tubuh Dyze yang membuat nya menjadi tidak terpengaruh gravitasi dan dapat terbang.
Dyze memusatkan kekuatan pada kaki nya. Dalam sekali lompatan dia telah mencapai awan. Lompatan nya menimbulkan angin besar yang berhembus, setelah angin itu mereda, Chronoa dan Eiria dibuat terkesima setelah menyadari Dyze sedang terbang tinggi mencapai awan. Dia tertawa saat merasakan sensasi ini setelah sekian lama tidak menggunakan nya.
--
Bersamaan dengan itu petir menyambar yang membuat langit mendung menjadi terang sesaat. Dan itu membuat seseorang yang mengenakan jubah menyadari kehadiran sosok aneh di langit.
“Hey lihat! Apa itu!?”
Orang misterius itu menunjuk ke langit.
Beberapa warga menjadi teralihkan dan juga memperhatikan apa yang dimaksud oleh orang tersebut.
“Apa? Apa maksudmu?”
“Tidak ada apa apa di situ!—“
“—Tunggu! Aku melihat nya! Seperti se sosok Manusia yang sedang berada di langit!”
Salah satu warga berteriak sambil menunjuk lokasi Dyze.
Hal ini sampai ke telinga Claire, yang membuat nya berhenti untuk sementara mencari keberadaan sosok yang dimaksud.
Setelah petir itu mereda, Dyze melesat dengan kecepatan tinggi; seperti membelah udara di sekitarnya, menuju Asmodeus yang sedang duduk menempati takhta yang diangkat oleh bawahan nya.
Untuk menambah kekuatan, Dyze berputar seperti roda di udara, kemudian melaju menggunakan kecepatan suara.
“!”
Merasakan sinyal bahaya, Asmodeus segera mengambil kapak besar yang berada tidak jauh dari nya.
Saat dia dalam posisi bertahan dan waspada, sesuatu dari langit datang menyerang nya. Namun karena Asmodeus dalam posisi bertahan, dia berhasil mengantisipasi nya.
Akibat perputaran roda yang dilakukan oleh Dyze membuat tanah menjadi retak saat pedang kayu nya dihadang oleh kapak besar Asmodeus.
Karena tekanan yang diakibatkan senjata mereka membuat angin besar tercipta, para bawahan Asmodeus yang bertugas mengangkat takhta menjadi gagal dalam tugas nya.
Takhta itu runtuh dan para iblis yang mengangkatnya mati dengan tragis karena hancur oleh tekanan senjata Dyze dan Asmodeus.