
Rupanya sosok figur yang penuh luka sebelumnya itu merupakan Livia yang dijadikan sandera olehnya.
Dan entah apa yang membuatnya berbeda, emosi Dyze justru terbakar dan memuncak, padahal dia juga sering menyiksa orang, tapi kenapa kali ini berbeda?
“Jangan pedulikan aku..”
Di tambah dengan rintihan seorang gadis kecil yang tidak bersalah, dia hanya terseret dalam masalahnya, namun meski begitu Livia tidak meneteskan setitik pun air mata di hadapan Dyze.
“Haruskah aku?” Chloe menawarkan diri, dan telah bersiap untuk melesat ke arah Orchid lalu memotongnya dengan pedang biru miliknya tanpa melukai Livia sedikitpun.
“Tunggu.” Dyze menarik tangan Chloe, yang membuatnya kembali ke posisinya semula.
“Untuk kali ini biarkan aku yang membunuhnya.”
Dyze berusaha berdiri tegap tanpa bantuan Claire, dan karena masih belum pulih sepenuhnya, dia hampir kehilangan keseimbangan, saat mereka ingin menangkapnya, Dyze berbicara sesuatu yang membuat mereka mengurungkan niatnya.
“Aku tidak selemah yang kalian pikirkan.”
Dia berjalan dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk karena masih belum dapat menjaga keseimbangan dengan sepenuhnya.
Melihat Dyze yang begitu berbanding terbalik dari sebelumnya membuat Orchid tertawa.
“Haha! Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu! Ingat kau sama sekali belum menang dalam melawan Nyonya Medusa!”
“Orchid! Kendalikan dirimu, jangan sekali-kali meremehkannya!”
“Tenang saja Nyonya. Dengan sandera di tangan saya, tidak mungkin dia berani melukainya.”
Meski telah ditegur dan diperingatkan oleh Medusa untuk tidak sekali-kali meremehkan Dyze, dia justru menjadi besar kepala karena Dyze yang dalam kondisi tidak prima.
“Khek khek khek.. Aku suka lo menikmati detik kematian orang sepertimu..”
Dyze tertawa terkekeh-kekeh karena melihat tingkah Orchid yang terlalu merasa di atas angin. Sepertinya dia tidak tahu bahwa pepatah pernah mengatakan Jangan sekalipun kamu mengganggu serigala berbulu domba.
[ Peringatan! Daya tahan tubuh anda menurun drastis, memiliki kemungkinan akan menderita luka serius apabila terus dipaksakan! ]
“Berisik..”
Skillnya berusaha memperingatkan Dyze betapa besarnya kerusakan yang mungkin ia akan dapatkan. Namun menasehati Dyze saat ini bagaikan menghancurkan sebuah gunung yang kokoh hanya dengan sebuah kata-kata, selain dengan sebuah mukjizat tentu itu sangat mustahil untuk dilakukan.
“Jangan mendekat kemari! Apakah kau ingin sandera ini mati!?”
Mendengar Orchid mengancamnya untuk kedua kalinya, Dyze tidak akan membiarkan cecunguk seperti dia menghina harga dirinya lagi.
“Bisakah kau mengulanginya? Aku tidak dapat mendengarnya.”
“Ba-bagaimana kau bisa!?”
Dyze saat itu langsung menghilang dan hanya meninggalkan angin sepoi-sepoi yang menerpa tempat terakhirnya.
Hanya dalam sekejap, dia dapat berada di hadapan Orchid, mendekatkan wajahnya dan menampilkan sebuah senyuman ramah, hal ini membuat Orchid merasakan teror dan ketakutan yang luar biasa.
Ketakutan seperti tidak bisa makan di esok hari, ataupun adanya granat yang nyasar di dekatmu, tidak sebanding dengan ketakutan yang Orchid rasakan saat ini.
“Livia, jawab aku. Maukah kau mati demi membalaskan dendam-mu?”
“Tunggu ap—!?”
Seharusnya tidak begini kan!
Orchid jatuh dalam kepanikan, karena tidak mungkin seorang sandera diminta untuk merelakan nyawanya hanya untuk mati bersama sang penyandera.
Itu sebuah pertanyaan bodoh!
Tidak mungkin kan dia menjawab—
“Unn! Aku tidak mempermasalahkannya.. Apabila hanya itu jalan yang tersisa.”
Tidak mungkin..
Bagaimana bisa seorang gadis kecil mengatakan hal berat seperti itu dengan lapang dada dan senyuman tulus masih terlukis jelas di wajah pucatnya?
Hanya ada satu jawaban yang dapat menjelaskan semua ini..
Yaitu memiliki ketulusan dalam melakukan sebuah pengorbanan.
“Baguslah.” – Dyze tersenyum padanya, yang membuat Livia membalasnya dengan senyuman kaku karena wajahnya yang penuh dengan luka.
“Ughuk!”
“—Tidak mungkin..!”
Orchid dan Livia, mereka sama-sama memuntahkan darah dari mulutnya, Orchid merasa dia tidak dapat merasakan rasa sakit lagi, dan saat itulah dia baru menyadarinya.
Dyze menembus masuk melewati Livia untuk dapat mencapai jantungnya. Dan kini dia dapat merasakan sebuah kehangatan dari tangan manusia sedang memegang organ vitalnya.
Meski sangat ingin meremasnya saat itu juga, Dyze berusaha sesabar mungkin untuk dapat mengendalikan emosinya saat ini.
Pada akhirnya, Dyze hanya mengambil keluar jantung dari Orchid dan di saat itu juga dia dan Livia jatuh terkapar di tanah.
“OOORCHIDD!”
“Nyonya Medusa.. Suara anda.. Terasa begitu jauh.. Dan Dunia mulai gelap.. Aah.. Jadi beginikah rasanya kematian..?”
Dyze mendekati Livia yang sedang sekarat, dia terlihat sangat kesulitan untuk bernapas.
“Sepertinya paru-paru yang berlubang tidak akan membuatmu mati begitu saja ya?”
Meski kata-kata Dyze begitu pedas dan menyakitkan, Livia tidak mengganggap serius hal tersebut, dia tersenyum ke arah mereka saat menyadari Chloe, Claire, dan Argus telah berada di sisi Dyze menyaksikan detik-detik terakhirnya.
“Jangan khawatirkan aku..”
Livia mengangkat tangannya dengan lemas, dan Chloe menyambutnya.
“Tanganmu dingin..”
“Tapi tidak sedingin hatinya.. Hehe.. uhuk!”
Meski dalam kondisi sekarat, Livia tetap berusaha menjadi seperti biasanya, karena dia tidak ingin di saat-saat terakhirnya, suasana menjadi canggung.
“Sungguh.. Meski hanya sebentar aku sangat bahagia dapat bersama kalian..”
“Tapi andai ada keajaiban.. Keinginan dari lubuk hatiku terdalam ingin bersama kalian menikmati dan memperkenalkan segala hal yang kutau di Arbeltha..”
“Seperti mandi bersama di Danau dan sungai yang indah.. Ataupun melakukan segala aktivitas menyenangkan lainnya.. Namun bagaimanapun juga itu merupakan suatu keberkahan yang terlalu besar untuk ukuran makhluk hina sepertiku..”
“Livia..”
Meski nada Chloe seperti orang yang sedih, dia tidak menunjukan tanda-tanda ataupun memasang wajah murung sedikitpun.
“Papa..? Mama..?”
Di tengah suasana haru itu, Livia tiba-tiba saja berbicara sendiri dan tangannya berusaha menggapai sesuatu.
“Matanya.. Telah mati.” – Claire mengatakan hal tersebut karena telah melihat begitu banyak mata seperti ikan mati dari orang yang sudah sangat dekat dengan ajalnya.
“…”
Dan bahkan di penghujung hayatnya, Livia sama sekali tidak meneteskan air matanya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Claire dan Chloe menanyakan tindakan Dyze yang menyayat tangannya sendiri.
“Lihat dan perhatikan.”
Dia membuat setetes darahnya itu masuk ke dalam kerongkongannya dan mulai menyatu dengan darahnya.
Livia belum sepenuhnya mati, kondisinya sekarang lebih seperti tertidur pulas dari pada disebut mengalami sebuah kematian.
“Lukanya sembuh..” – mereka tidak dapat berkata banyak mengenai ini, karena dibanding dengan kehebatan Dyze lainnya, ini tidak seberapa.
“Sepertinya dugaanku benar..”
[ Izin mengomentari, tepat seperti yang anda duga, darah manusia anda ternyata masih memiliki khasiat mujarab yang menyembuhkan layaknya darah Dewa. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena anda yang perlahan mulai mendapatkan kembali kekuatannya. ]
“Begitukah..?”
“Apa yang kamu gumamkan?”
“Ah, tidak.”
“Jadi apa yang akan kita lakukan padanya?”
Claire dan Argus melihat ke arah Medusa.
“Aku terlalu lelah untuk dapat membunuhnya sekarang..”
“Maka sesuai perkataanku sebelumnya, aku mengandalkan kalian.”
“Baik!”
“Tunggu!”
Saat mereka sedang bersiap untuk melakukan sebuah serangan terakhir, Medusa mencoba melakukan runding.
“Aku bersedia untuk mati saat ini juga tapi bisakah kalian membuatku mati dalam keadaan tenang?”
Medusa sepertinya sudah lelah, dia tidak ingin dipermainkan dan disiksa lebih jauh lagi.
“Apa kau gila? Tentu saja aku—“
Perkataan Dyze terpotong, dan jawaban yg dilontarkan Medusa membuat Dyze kembali mempertimbangkannya.
“Aku akan memberitahu motifku melakukan hal ini.”
“…”
Setelah mempertimbangkannya selama beberapa saat, Dyze pun menemukan keputusannya.
“Berbicaralah dalam wujud manusiamu.”
“Terima kasih atas ampunannya.”
Medusa mengecil dan kembali ke wujud manusianya, dia sekarang dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan sehelaipun pakaian, namun apa yang harus dipedulikan di saat saat menjelang kematian?