
"Beraninya kau.. Beraninya kau.. Beraninya kau..!"
Kalimat itu terus berulang-ulang diucapkan dari mulut wanita berambut putih tersebut, dia menatap banteng tersebut dengan melotot, hingga pada titik bola matanya seolah ingin melompat keluar dari tempat yang seharusnya.
“Keh.. Keh.. Keh..”
Mereka semua melirik ke arah sumber suara dan mendapati Dyze sedang tertawa terkekeh-kekeh sambil menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangan miliknya, sambil bergumam:
“Bagus.. Bagus.. Bagus..! Hahaha.. Dia benar-benar tahu caranya untuk menyiksa lawan secara mental..! Keh keh keh.. Ini akan menyenangkan!”
Dyze tiba-tiba membelalakan matanya yang membuat mereka sedikit tersentak saat melihatnya.
“Ah.. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”
Dia langsung keluar melewati jendela menuju banteng itu dengan kecepatan yang membelah angin.
Chloe dan Claire berhasil menyusulnya beberapa saat setelah dia melesat dari tempat sebelumnya, sedangkan Argus dan yang lainnya baru merespon akibat semua peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba.
“KE—HAHAHA!”
Tawanya yang begitu menggelegar bagaikan Guntur merambat di udara dengan sangat cepat hingga sampai ke telinga banteng tersebut dalam kurun waktu beberapa detik saja.
“?!”
Baru saja saat dia membalikan badannya karena merasakan sesuatu yang ganjil, banteng itu bertatapan secara langsung dengan Dyze yang sedang tersenyum lebar.
“Baa!”
Banteng itu merinding karena terdapat sosok yang tidak dia ketahui asal-usulnya berada di hadapannya dengan tersenyum dan tertawa kecil.
Dengan memanfaatkan ukuran badannya, banteng itu berusaha meraih titik buta Dyze dan mengunci pergerakannya, namun belum sempat dia menggerakan jarinya seinchi-pun, Dyze sudah membuatnya terhempas dengan menendang perutnya.
“Lambat. Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan.”
Sambil kembali melukiskan senyum lebar di wajahnya, Dyze langsung menyusul banteng tersebut yang melesat dengan kecepatan suara di udara.
“Hey hey apa kau tahu? Aku menyukai metode yang kau lakukan sebelumnya! Ayo lakukan lagi, setidaknya coba dulu padaku!”
“Kargh!”
Banteng itu hanya bisa menahan sakit karena terus dihujani pukulan mentah darinya.
Tidak mungkin!
Bagaimana bisa?!
Kulitku bahkan lebih keras dari logam Orihalcum sekalipun.. Tapi dia berhasil meninggalkan luka permanen di kulitku tanpa terlihat kesusahan sedikitpun?!
Tidak akan kubiarkan..!
Aku salah satu prajurit elit yang dimiliki organisasi, tidak mungkin aku akan mengecewakan mereka!—
Banteng itu berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya dan berniat untuk setidaknya dapat meninggalkan satu luka permanen di tubuh Dyze.
BAM!
Dia berhasil mendaratkan sebuah pukulan mentah di wajah Dyze hingga menimbulkan asap kecil, tapi itu saja tidak cukup untuk membuatnya dapat bernapas lega.
Banteng itu berkali-kali menghantamkan sebuah pukulan dengan berat setara 1 ton di wajahnya, tidak hanya itu, dia juga beberapa kali mencoba menyundulkan kepalanya sendiri ke wajah Dyze dengan sangat keras hingga membuat otaknya bergetar.
“Apakah hanya itu saja?”
“Ap--?!”
Dia sebenarnya tidak mau menerima kenyataan seperti ini, tapi bagaimanapun juga sangat sulit untuk bisa membohongi diri sendiri dengan menyaksikan bukti di depan matanya sendiri.
Orang itu—Dyze masih dapat tersenyum lebar ke arahnya, seolah menyiratkan bahwa serangan-serangan yang dia lakukan semua itu bahkan tidak mampu menggelitiknya sedikitpun.
“Hey! Jawab aku! Kenapa hanya diam— HAHAHAHA!”
Tanpa bisa menjawab, Dyze terlebih dahulu menendang banteng itu hingga terhempas jatuh ke daratan.
Banteng itu kini telah tepar, tapi Dyze masih tidak berhenti tertawa.
“Aku akan mengukir sebuah kenangan yang tidak akan bisa kau lupakan di kepalamu.”
Dia meraih pedang hitam yang berada di pinggangnya dan menghunuskannya pada banteng itu di tengah puing-puing patung Xelyn.
“Tunggu! Jangan--!!”
Tanpa mendengarkan ocehannya lebih lama lagi, Dyze langsung mengayunkan pedangnya dan menebas banteng itu dengan mengukir tanda X di dadanya.
“AAAAAKHHHHH!”
Banteng itu merasa kulitnya seperti terbakar, rasa sakitnya cukup membuat banteng itu memohon untuk mati saat itu juga.
“Tidak tidak tidak, kau tidak boleh mati dulu.”
Seringainya semakin lebar, tatapan matanya semakin tajam, hal ini membuat banteng itu merasakan teror paling mengerikan sepanjang hidupnya.
“Taurus 02!”
Dyze melirik ke arah sumber suara dan mendapati beberapa orang bertopeng dengan ukuran tubuh berbeda-beda sedang berusaha mendekati mereka dalam jarak 75 meter.
Di saat yang bersamaan Chloe dan yang lainnya telah sampai, mereka meminta Dyze untuk menyerahkan sisanya pada mereka.
“Kamu sudah puas kan? Kalau begitu serahkan sisanya pada kami..”
Perkataan Chloe disambung oleh Claire dan semuanya secara bersamaan:
“.. Agar kami dapat terlihat berguna untuk kamu(anda).”
“Haah..”
Dyze yang awalnya bersemangat kini menghela napas dan menjadi dirinya yang seperti biasa, selalu datar tanpa ada ketertarikan sedikitpun.
“Lakukanlah sesuka kalian.”
Saat Chloe ingin menjentikkan jarinya, sebuah raungan menggelegar merambat di udara dan sampai ke telinga mereka.
“ROOOOAAARRR!”
Suara itu..
“Hydra kan? Tapi apa yang memancingnya datang kesini?”
Dyze menyanggah pertanyaan Chloe dengan menyuruhnya tetap melihat ke depan.
“Jangan lengah. Mereka tidak jauh lagi darimu.”
“Ya, aku tau.”
Dia menarik pedang dari sarungnya dan mereka semua memasang kuda-kuda di belakangnya.
Chloe melesat dengan kecepatan tinggi yang membuat tanah pijakannya menjadi retak dan hancur, yang lainnya pun menyusul di belakangnya.
Tapi secara tiba-tiba mereka semua termasuk Dyze merasakan ada sesuatu yang datang dalam kecepatan sangat tinggi dari langit menuju ke arah mereka.
Hal ini membuat Chloe mengurungkan niatnya untuk membasmi mereka, karena keselamatan Dyze merupakan prioritas utama baginya.
Claire sendiri telah mempersiapkan barrier nya tanpa diperintah, Alpha, Argus, Livia dan yang lainnya bersiap dengan sihir unggulan mereka masing-masing.
Bum!
Sebuah ledakan aneh terjadi, membuat tanah di seisi kota menjadi bergetar, debu-debu beterbangan, dan menampilkan sebuah siluet wanita berambut panjang di baliknya.
“Berani-beraninya kalian menginvasi kota yang berada di bawah perlindunganku..!”
Suaranya mengandung amarah yang besar sehingga membuatnya menjadi berat, orang-orang bertopeng yang berada di belakangnya pun tiba-tiba terangkat ke atas seolah kehilangan gaya gravitasinya.
Dan tanpa basa basi Chloe langsung melesat kembali ke arahnya dengan mengarahkan sisi tajam pedangnya, Argus dan yang lainnya hendak mengaktifkan sihirnya, lalu—