The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 56. Sebuah Sandra



Di detik-detik terakhir, saat Medusa ingin melepaskan energinya dan menembakkannya ke arah Dyze, dia terlebih dahulu membekukan pergerakannya dengan kemampuan mata ketiga miliknya.


‘Oh~ Jadi dia ingin mengunci pergerakanku untuk menjamin menerima seluruh kerusakan yang ditimbulkan ya!’


[ Serangan akan datang! ]


“Dengan ini seharusnya sudah berakhir!”


DUAAAR


Sebuah ledakan eksplosif yang memekakkan telinga berpotensi akan menyebar ke seluruh penjuru Benua Arbeltha apabila Barrier milik Claire tidak mengurung mereka.


Energi itu meletus dan menyembur keluar dengan tekanan yang sangat tinggi, membuatnya hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk mencapai Dyze yang berada di langit.


Dan saat energi panas itu mencapai Dyze, sebuah teriakan terdengar.


“Sudah kuduga. Sekuat apapun dia seharusnya tidak akan bisa menahannya.. Tunggu.. Kenapa teriakannya berbeda dengan orang-orang yang pernah kutemui sebelumnya?”


Itu bukanlah sebuah teriakan kesakitan ataupun rintihan, tapi lebih seperti orang yang saking bahagianya tertawa hingga berteriak-teriak.


“Tidak mungkin.., ‘Kan?”


Medusa telah menyadarinya. Saat luapan energi itu mulai menguap dan menghilang, sebuah siluet yang utuh samar-samar dapat terlihat.


Lalu sebuah tawa yang menggelegar mengalir ke telinga Medusa, dia tidak ingin mempercayainya, tapi bagaimana pun juga, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


Orang itu masih hidup, bahkan tanpa terluka sedikitpun.


“KEHAHAHAHA TIDAK BURUK! KAU SATU-SATUNYA ORANG SAAT INI YANG MAMPU MENGHANGUSKAN BAJUKU!”


Medusa melotot, seakan tidak percaya dengan yang dikatakannya, namun saat siluetnya dapat terlihat dengan jelas, dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas.


Perkataannya merupakan sebuah kebenaran, dia tidak terluka sedikitpun, kulitnya masih mulus tanpa terlihat lecet, dan hanya pakaian bagian atasnya yang hangus.


Samar-samar Medusa juga mendengar sebuah teriakan wanita yang.. Antusias? Mungkin dia hanya salah dengar.


“Apa kau sudah selesai?”


Medusa yang bengong kembali ke alam nyata karena suara berat yang seolah memanggil jiwanya.


“Karena kelihatannya kau sudah selesai maka..” Orang itu— Dyze, dia menghilang dari tempatnya, membuat Medusa mencari di sekitarnya namun tidak mendapati siapa-siapa.


Apa yang terjadi?!


Inderaku tidak dapat merasakannya?


“…, Sekarang giliranku!”


Dyze dalam sekejap dapat berpindah tempat ke hadapan Medusa.


Belum sempat bereaksi, Dyze telah menghantamkan sebuah tinjuan mentah pada Medusa, yang membuatnya kembali terhempas.


Namun saat dia hendak terjatuh menghantam tanah, Dyze kembali berpindah tempat, dan dalam sekejap dia dapat berada di bawah Medusa yang sedang berada di udara hendak menghantam permukaan tanah.


“Apa hanya segitu?”


Dyze langsung mendaratkan tinju mentahnya pada Medusa hingga dia terhempas lebih tinggi ke langit.


Melihat orang yang dikagumi nya dibuat merasakan titik keputus-asaan membuat Orchid menjadi memikirkan cara untuk mengakhiri pertarungan secepatnya dan menyelamatkan Medusa.


Di langit, Dyze terus menghantam Medusa dengan tinjunya, sehingga lebih terlihat seperti dia mempermainkan Medusa layaknya sebuah bola voli yang selalu dihempaskan dari pada sebuah pertarungan yang menegangkan.


“Kenapa kau diam saja?!”


“Hey! Jawab aku.”


“HAHAHA MANA PELAJARANMU YANG INGIN KAU BERIKAN TADI!?”


Dyze yang selalu tertawa dan tersenyum saat mempermainkannya membuat Medusa merasa terpuruk, kesehatan mentalnya menjadi kritis.


Hal ini bisa dipahami karena Medusa yang seharusnya berada di atas dan menyiksa orang sesuka hatinya kini terbalik, dia dipermainkan. Mendapatkan pengalaman pertama yang sangat menghancurkan harga dirinya membuat Medusa menjadi kehilangan jati dirinya.


Dyze terus dan terus mempermainkannya, hingga pada titik dia jenuh melihat Medusa yang kini seperti mayat hidup.


“Pada akhirnya akan seperti ini.., ‘Kah?”


Padahal dia tidak dapat menggunakan wujud sejatinya sebagai Dewa, tapi kenapa tidak ada siapapun hingga saat ini yang dapat melawannya?


“Haah..”


Setelah menghela napas singkat, Dyze langsung menjatuhkan Medusa dengan tendangannya hingga menghantam tanah dengan sangat keras, menghasilkan sebuah bunyi benturan yang setara dengan suara ledakan.


“Haruskah aku mengakhirinya sekarang?”


Dia mengangkat tangan kanannya ke langit, dan mulai mengumpulkan energi alam dan memusatkannya pada telapak tangannya.


“Meski cukup membosankan tapi setidaknya serangan terakhirmu tidak mengecewakanku sepenuhnya..”


Dyze menatap ke bawah, lebih tepatnya ke arah Medusa yang masih dalam wujud ularnya, terbaring tidak berdaya di hamparan rumput yang luas.


--『 Kemurkaan Surga 』


[ Mulai memproses.. ]


[ 10%.. ]


[ 20%.. ]


Di saat Skillnya sedang memproses semuanya, Dyze dapat melihat samar-samar dua figur wanita di dekat Medusa, salah satu diantara mereka memiliki tanduk, dan yang tersisa tidak memiliki ciri fisik yang mencolok.


“Itu..?”


Dyze seperti mengenali salah satu figur, yakni seorang gadis kecil yang memiliki banyak luka lebam di tubuhnya, dan terdapat beberapa luka seperti sabetan cambuk serta goresan pedang.


[ 30%.. ]


[ 40%.. ]


[ 50%.. ]


Di saat sudah setengah jalan, Dyze merasakan suatu gejolak yang tidak wajar dalam tubuhnya.


[ Kelebihan daya terdeteksi! ]


[ Memulai pencegahan dengan menguras energi pengguna.. ]


Gejolak itu hilang, namun dia merasakan tubuhnya seperti tidak bertenaga sedikit pun.


“Kelebihan daya? Apa yang kau lakukan!?”


[ Memulai pencegahan dengan menguras energi pengguna.. 10% ]


[ 20%.. ]


[ 30%.. ]


[ 40%.. ]


[ 50%.. ]


Skillnya terus menguras tenaga Dyze tanpa mendengarkannya sedikitpun, hal ini membuat Dyze yang tadinya masih berada di langit perlahan mulai kehilangan tenaganya untuk mempertahankan gravitasi, yang pada akhirnya membuat dia terjun bebas di udara.


“Dyze!”


Melihat Dyze yang tidak biasanya membuat mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres.


Chloe langsung melompat dengan menggunakan tanah sebagai tumpuannya, dan Claire dibantu oleh sihir Fly milik Argus.


Mereka saling berebut untuk menangkapnya, dan pada akhirnya Claire lah yang memenangkannya, karena Chloe sama sekali tidak menggunakan kemampuan manipulasi waktu miliknya.


Dengan perlahan menuruni udara, dan saat sampai menginjak permukaan tanah, Dyze meminta Claire untuk menurunkannya, karena dia menggendong Dyze layaknya seorang putri.


“Turunkan aku. Ini memalukan..”


“Ah.. Maaf.”


Dyze pun diturunkan, dan saat dia mencoba berdiri tegap, tubuhnya kembali menjadi lemas dan saat dia nyaris terjatuh kembali, Claire sigap untuk menopang badannya.


“Jangan memaksakan dirimu dong..”


Chloe melanjutkannya.


“... Kami juga ingin berguna untukmu. Jika kamu yang selalu debut tanpa mengandalkan kami, lalu bukankah itu artinya kami sama saja dengan tidak berguna?”


Claire dan Argus mengangguk, mereka setuju dengan perkataan Chloe.


“…”


Dyze tidak menjawabnya, karena dalam hatinya dia tidak menyalahkan mereka apabila memiliki pemikiran seperti itu.


“Jangan bergerak!”


Sebuah suara menarik perhatian mereka, sumber suara itu dari Orchid, dia berada dekat dengan Medusa yang terlihat menyadari kedatangannya.


“Orchid.. Maafkan aku karena telah terlihat menyedihkan di hadapanmu..”


“Tidak! Nyonya Gorgon—sang Medusa tidak akan pernah kalah!”


Orchid berani mengancam mereka bahkan setelah melihat Medusa dibuat sampai titik ke rendahnya karena dia memiliki sebuah senjata yang menurutnya mutakhir.


Sebuah sandera.


Pemikiran Orchid sama sekali tidak salah, karena pada dasarnya peran sebuah sandera dalam sebuah perang atau pertarungan sangat penting.


Bahkan dapat membuat lawannya menyerah tanpa syarat.


Tidak heran kenapa Orchid begitu optimis dan tidak gentar, karena dia sendiri memiliki sandera yang menurutnya begitu kuat jika dijadikan senjata.