
“Cih!”
Karena kabutnya kini telah tersapu bersih, Argus dapat melihat seorang pemuda berambut hitam dengan sedikit ke abu-abu an sedang tersenyum lebar. Mata merahnya menjadi bercahaya, seolah memancarkan rasa haus darah, kini dia telah berhadapan dengan target yang dia cari sebelumnya.
Argus berdiri di belakang titik krusial, dia berusaha memancing pemuda itu menginjak suatu titik yang telah direncanakannya. Argus menatap tajam pemuda itu tanpa mengendurkan pertahanan, sedangkan pemuda itu terlihat menyusutkan haus darahnya dan melipat tangannya ke belakang sambil menendang batu dia bertanya pada Argus.
“Yah. Aku tidak tahu mengapa kau menyerangku, tapi yang jelas buatlah aku terhibur!”
Hanya untuk sesaat senyum orang itu menghilang, namun kini kembali terpasang. Senyuman itu mengingatkannya pada seseorang yang persis mempunyai senyum serupa.
Karena sempat melamun beberapa saat, Argus tersadar akibat jebakan Erupsi berbentuk segi empat miliknya aktif. Yang itu berarti seseorang telah memicu dengan menginjaknya.
Lahar super panas menyembur keluar dari lingkaran sihir di tanah dengan sangat kuat, karena lingkaran sihir berada di 4 titik persegi, membuat sebuah kubus api raksasa tercipta dalam waktu singkat.
Meski sudah yakin targetnya pasti akan mati terbakar di kubus api itu, di dalam lubuk hatinya Argus masih meragukan kematian pemuda tersebut, yang membuatnya tetap waspada.
Alasan Argus begitu yakin jika seharusnya pemuda itu telah mati adalah temperatur suhu dari kubus lahar(api) itu sendiri. Panas dari kubus api raksasa itu diperkirakan melebihi panasnya permukaan matahari, membuat makhluk yang tidak memiliki ketahanan api absolut pasti akan langsung terbakar hingga mati sampai tidak menyisakan abunya sama sekali.
Seharusnya hanya ada sedikit sekali makhluk di Dunia ini yang dapat hidup tanpa mengalami kerusakan yang begitu berarti setelah menerima serangan ini.
Namun—
“Keke—Hahahaha!”
Suara tawa kecil yang dikeluarkan melalui tenggorokan semakin nyaring dan menyeramkan membuat sebuah tekanan besar seperti menimpa Argus.
Sosok pemuda itu keluar dari kubus api yang masih menyemburkan lahar, tidak ada tanda-tanda kerusakan di tubuhnya, tidak hanya itu, pakaiannya pun masih utuh tanpa tergores sedikitpun.
“Mustahil..!”
Kata itu keluar begitu saja dari mulut Argus yang tidak percaya melihat kenyataan ini.
“Woah! Sihir yang hebat! Meski masih jauh untuk membuatku hangus terbakar, tapi setidaknya sihirmu membuat pakaianku menjadi berdebu.”
“Huh…? Debu?”
Suara Argus begitu kecil, seolah dia putus asa, dengan mata melotot dia melihat Dyze sedang menyapu debu dari pakaiannya. Namun seolah menemukan harapan dia memasang senyum di wajahnya.
“Argus.”
Mengetahui nama musuh yang tergolong kuat dan menyebutkan nama padanya merupakan suatu kebiasaan yang paling sering dilakukan oleh Petarung Terhormat. Namun respon yang pemuda itu tunjukan adalah mimik wajah bingung.
“Hah?”
Merasakan suasana canggung, Argus bertanya padanya:
“Namamu..?”
“Oh, kau menanyakan namaku ya? Dyze. Sebaiknya kau mengingatnya.”
“Begitu ya.”
Meski semasa hidup Argus sering menanyakan nama lawannya, kali ini sungguh berbeda dari biasanya.
Dia ingin mengingat nama makhluk yang mungkin akan mengguncang Dunia, dan jika dia dapat selamat dari pertarungan ini maka dia akan menceritakan kejadian ini ke rekan-rekannya dulu.
“Apa sudah selesai?”
Sekali lagi, orang itu—Dyze membangunkannya dari lamunan. Dengan memasang senyum pasrah dan menyiratkan kepercayaan diri, dia menantang Dyze.
“Benar! Aku datang!”
Dyze justru memasang senyuman dan berkata:
“Kemarilah!”
Ini akan berhasil! Begitulah isi pikirannya. Argus tidaklah bodoh menyerang tanpa mempunyai persiapan.
Melihat Dyze yang tidak bergeming dari posisinya membuat Argus menganggapnya bodoh.
Tangan Argus yang seperti sedang mengisi sesuatu kini memiliki pusaran angin di dalamnya. Argus mengarahkan tangannya ke arah Dyze, seketika sebuah energi besar terlepas. Mendorong pusaran angin yang sangat kuat menuju ke arah Dyze.
Dyze bahkan mencoba mengukur kekuatan angin itu dengan menancapkan kedua kakinya ke dalam tanah. Diluar dugaannya, pusaran angin itu mampu mendorong Dyze puluhan meter jauhnya.
“Kena!”
Saat pijakan Dyze menyentuh tanah yang telah direncanakan, sebuah lingkaran sihir yang telah dipersiapkan sebelumnya, 『Circle: Tornado Trap』 menjadi aktif. Putaran angin raksasa berupa tornado langsung melahap Dyze begitu saja.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Argus langsung melakukan tindakan selanjutnya.
“Thunderstorm: Maximize Power!”
Tepat setelah itu, awan mendung mulai berdatangan, suara petir meraung-raung dibaliknya. Hujan badai yang sangat deras pun mengguyur mereka, disertai dengan suara guntur yang menggelegar membuat siapapun merasakan suasana mencekam.
Tidak lama kemudian..
Jdaar!
Sebuah petir hitam yang sangat besar menyambar tornado, hingga membuat tornado yang awalnya berwarna abu-abu itu menjadi hitam menyatu dengan petir di dalamnya. Tidak hanya itu, tornado itu kini bergerak menuju kubus api yang masih membara, ingin menyatu dengannya.
Sebuah pemandangan indah nan langka namun begitu mengerikan, membuat siapa saja pasti akan terpana dan takut dalam waktu yang sama. Tornado hitam itu kini menyatu dengan kubus api, membuatnya berubah menjadi warna merah tua membara yang mengeluarkan percikan api dan listrik.
Siapa yang bisa lolos dari pusaran angin yang dapat menghisap segalanya?
Siapa yang bisa lolos dari petir raksasa yang begitu mematikan?
Dan siapa yang bisa lolos dari kubus api yang menghanguskan seluruh kehidupan?
“Tidak mungkin--!!”
Suara tawa yang begitu keras mengalir ke telinganya, membuat Argus melotot karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hanya dengan asap yang keluar dari pakaiannya, Dyze dapat terlepas dari tornado dan kubus api itu dengan sangat mudah; seolah dia sedang bermain-main dengan mainan anak kecil.
Senyuman khas terpasang di wajahnya, meski kali ini sedikit lebih lebar dari biasanya. Dyze menuruni udara dengan perlahan. Tersadar dari lamunan, Argus dengan menggertakan giginya langsung menyiapkan skill.
“Endless Puncture(tusukan tak berujung)!”
Dalam teriakannya, mengandung emosi kemarahan dan rasa takut, marah karena menyadari betapa lemahnya dirinya jika di hadapan kekuatan sejati, dan takut jika dia akan mati konyol lalu kematiannya akan jadi pemicu perang Dunia yang melibatkan Ras Ancient(kuno) melawan ras Manusia.
Argus sendiri tidak takut akan kematian, karena dia sendiri telah merenggut begitu banyak jiwa korban peperangan, namun meski begitu Argus tidak ingin perang besar itu kembali terjadi, terutama akibat ulah manusia. Dalam hatinya, Argus tidak akan menyesal jika pertarungan ini merupakan jasa terakhirnya pada Dunia.
Lalu—
“Ukhh!”
Dyze memuntahkan darahnya akibat sebuah tusukan bersarang di perutnya. Tusukan yang berupa mata tombak berwarna hitam ini terus menerus menghadiahinya tusukan lain.
Tusukan tak berujung ini membuat perut Dyze menjadi berlubang, memperlihatkan isi di dalamnya. Senyuman yang tadinya terpasang dengan jelas kini menghilang.