The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 47. Hydra - Arc 1 End



Setelah berteleport di suatu tempat yang tidak ada mata mengawasi mereka, Dyze langsung berlari ke arah utara dengan kecepatan super sonik, di susul dengan kedua wanitanya dan seorang pelayan dibelakangnya.



***


Hanya membutuhkan setengah hari penuh bagi mereka yang bergerak melebihi kecepatan suara untuk sampai di ujung benua Stolas bagian utara. Mereka kini berada di gunung dan bukit yang cukup tinggi sehingga mampu menutup pandangan mereka.


“Apakah ini?”


“Ya, seharusnya seperti yang tertulis di peta ini, dibalik pegunungan itu maka akan ada lautan yang memisahkan antar benua.”


“Tunggu apa lagi--!?”


Sebuah guncangan dahsyat terasa di tanah pijakan mereka, Dyze dan yang lainnya dapat merasakan sebuah makhluk berukuran super raksasa sedang berjalan ke arah mereka.


“Makhluk itu..!” – Argus bergumam dengan sendirinya saat melihat seekor Monster raksasa dengan tubuh naga tapi memiliki 9 buah kepala.


“…Hydra!”


“Makhluk raksasa itu Hydra namanya ya? Tapi bertarung dengan seekor Hewan yang seukuran dengan gunung kurasa tidak buruk sebagai pelepas stress.”


Aura hitam kembali menyelimuti tubuhnya, ekspresi Dyze yang tadinya terlihat tidak ada masalah kini menjadi datar dan memasang sorot mata tajam. Setelah mengambil pedang kayu yang telah disediakan oleh Chloe, dia langsung melesat ke arah ‘Monster’ yang sedang berusaha keluar dari pegunungan.


Chloe menyusulnya dengan pedang biru yang telah berada di genggamannya, mata Claire pun kini menjadi oranye, menandakan dia telah mempersiapkan Barrier jika dibutuhkan.


“Aku kurang sigap lagi..” – Argus merasa kesal dengan dirinya karena masih tidak bisa mengikuti pergerakan mereka dengan sepenuhnya. Tapi daripada memikirkan hal seperti itu, dia langsung mengikuti jejak dari Chloe dan Claire yang telah mendahuluinya.



***


Kini malam yang indah dengan lautan bintang bertaburan di atasnya menjadi saksi bisu dari pertarungan Dyze dan Hydra yang telah berlangsung selama tiga hari penuh.


Kepala Hydra akan terus tumbuh meski telah dipenggal berkali-kali, jika orang pada umumnya akan merasa kesal atau terdesak saat menghadapi lawan tangguh seperti ini, hal itu tidak berlaku pada Dyze, dia hanya tertawa setiap kepala Hydra tumbuh dari leher yang telah terpotong.


“Jika terus tumbuh, hanya perlu dipotong lagi. Tidak ada yang sulit dari semua itu!”


“Groaaaaar!”


Hydra mengerang, segala serangan yang dimilikinya seperti napas beracun, tembakan bola api dari mulutnya, dan bahkan ledakan energi, semuanya terasa sia-sia di hadapan Barrier milik Claire yang melindungi mereka.


Saat Dyze mulai merasa bosan, dia memasang kuda-kuda dan bersiap ingin menarik pedangnya lalu bergumam kecil:


“Dimension Slash.” – Sebuah cahaya besar berwarna merah layaknya tebasan tercipta saat Dyze melakukan gerakan seolah memotong sesuatu.


Cahaya itu bergerak dengan cepat ke leher Hydra dan langsung memotong kedelapan kepalanya dan hanya menyisakan satu saja untuk percobaan sesuai kehendak Dyze.


“Graagh..!”


Hydra ambruk, dan anehnya kepala-kepala Hydra tidak tumbuh kembali seperti sebelumnya. Hanya ada 2 kesimpulan yang dapat menjelaskan kepala Hydra tidak dapat tumbuh kembali.


Pertama:


Daya hancur yang diterima secara bersamaan oleh kepalanya terlalu besar hingga membutuhkan waktu untuk dapat menumbuhkannya kembali.


Ataupun


Kedua:


Hydra kehabisan tenaganya untuk menumbuhkan kembali kepalanya.


Dan apapun jawabannya Dyze tidak akan memperdulikannya, jika lawannya telah tidak mampu memuaskannya maka dia akan membunuhnya. Saat Dyze hendak mengayunkan pedangnya—


[ Tunggu. ] – Sebuah suara dari Skillnya menghentikan pergerakan Dyze untuk sementara.


[ Maafkan saya. Izinkan saya memberikan saran untuk anda, bukankah lebih baik jika Hydra ini anda pelihara? Dia memiliki potensi besar untuk dapat diandalkan dalam segi kekuatan, terlebih dia dapat menjadi alat transportasi untuk melintasi lautan.. ]


‘… Begitukah?’


Dyze mulai mempertimbangkan usulan dari Skillnya, sampai dia benar-benar matang dalam memikirkannya.


“Huft.” – Dyze menurunkan pedangnya sehingga membuat Chloe, Claire dan Argus menjadi heran saat melihatnya.


“Ada apa Dyze? Tidak biasanya kamu mengampuni musuhmu..” Kalimat itulah yang keluar bersamaan dari mulut kedua wanita tersebut.


“Aku tidak mengampuninya. Aku hanya menundukannya..” – Dyze melihat ke langit lalu mulai melanjutkannya dan secara bersamaan aura hitam yang melapisi tubuhnya mulai lepas dan memudar.


“.. Aku hanya mengikuti wasiat Raizel untuk mengumpulkan dan menundukkan kekuatan agar dapat melawannya dengan matang.”


“Apapun alasan dibalik tindakanmu, aku pasti akan selalu mendukungmu.” – Dyze merasakan seseorang memeluknya dari belakang, dan dari suaranya dia langsung tahu.


“Chloe..”


“Chloe! Kamu curang!” Claire yang terlihat tidak ingin kalah juga memeluk Dyze dari sisi yang berbeda, sedangkan reaksinya, dia hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah mereka.


Biasanya Argus akan cemburu pada Dyze yang beruntung, tapi kini dia tersenyum kecil dan berhasil menyingkirkan perasaan iri dengki pada Tuannya sendiri.


“Jadi bagaimana caranya agar dia kembali beregenerasi?”


“Kamu dapat mencobanya dengan menggunakan secuil darahmu.”


“Darahku? Apakah itu berpengaruh?”


“Ya, aku sudah mencobanya pada Argus.”


“Begitu.”


Sesuai dengan arahan Chloe, Dyze menyayat jarinya dan memberikan setetes darah pada Hydra yang terlihat seperti sedang sekarat.


“Wow~”


Tanpa diduga olehnya, Hydra yang tadinya terkapar sekarat kini dapat bangkit kembali dengan sehat dan kepalanya yang terpotong mulai tumbuh kembali. Hydra tersebut tanpa diperintahkan sama sekali dia langsung bersujud ke arah Dyze.


Dyze mengelus kepala raksasa milik Hydra dan berbicara padanya.


“Mulai sekarang aku akan menjadi Tuanmu, selama kau berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakanku maka aku tidak akan pernah membuangmu.”


“Khiiirk..”


Kepala-kepala Hydra tunduk pada Dyze sebagai isyarat setuju dengan pernyataan Dyze.


“Baiklah, bawa kami menuju utara. Dapatkah kalian melakukannya?”


“Khiirk.”


Kepala-kepala Hydra itu mulai mendekati Dyze dan seolah menjemputnya, begitu juga dengan yang dialami Chloe, Claire, dan Argus. Pada akhirnya mereka semua duduk di masing-masing kepala Hydra dan dapat menikmati pemandangan lautan yang luas dan disertai dengan langit malam yang penuh dengan bintang.


“Ayo, menuju utara!”


“Oh~!”


“Khirkk..!”


Dengan begitu Dyze, sang dewa malapetaka, Chloe Dewi waktu, Claire dan Alter-Egonya, Celina, bersama dengan Argus sang ahli sihir terkuat kini meninggalkan Stolas dan melintasi lautan yang luas menuju benua Arbeltha yang letaknya berada di utara.


Arc 1 – Stolas


End.