The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 74. Bahasa Arcadia



Mereka tampaknya juga tidak meragukan kemampuan Dyze sedikitpun, karena itulah tidak ada satupun dari mereka yang membantah perkataannya.


‘Teleport kami di atas langit kota sebelumnya dan langsung aktifkan sihir Fly untuk Hydra maupun semua yang diatasnya.’


[ Perintah diterima. Memproses.. ]


[ 10%.. ]


[ 20%.. ]


[ 30%.. ]


[ 40%.. ]


[ 50%.. ]


.


..



[ 80%.. ]


[ 90%.. Mulai bersiap menteleportasikan individu Hydra dan seluruh yang ada di atasnya menuju koordinat yang sudah ditentukan. ]


‘Lakukan.’


[ Perintah dikonfirmasi.. 100% ]


Switch!


Mereka semua berpindah tempat dalam sekejap, dan hanya Chloe, Claire serta Argus yang menyadari bahwa tempat mereka telah berbeda dalam hitungan detik setelah teleportasi dilakukan.


“Khiirk!”


Hydra sendiri tampaknya kaget karena dia melayang di udara sehingga membuat Dyze memukul kepalanya.


“Jangan membuat suara. Kau terlalu berisik.”


“Khiirk..”


Mereka semua melirik ke bawah dan karena tubuh Hydra yang transparan mereka dapat melihat dengan jelas kota di bawah perlindungan Xelyn berada ratusan meter jauhnya di tanah.


“Whoa .. Bukankah ini beresiko? Tidak ada yang tahu kan jika ada ‘Seseorang’ di bawah sana yang mengawasi kita?”


Komentar Chloe dijawab Dyze dengan nada santai:


“Jika orang itu tidak bisa merasakan hawa keberadaan Hydra ataupun tidak dapat melihat wujudnya maka kita yang berada di atasnya juga tidak akan terlihat oleh indra yang dimilikinya.”


Tanda tanya besar muncul di kepala mereka:


Bagaimana bisa?


Pertanyaan itu pasti yang membuat mereka gelisah dan kebingungan sekarang.


Dyze pun menjelaskannya dengan menghela napas terlebih dahulu.


“Ibaratnya seperti kalian menggunakan jubah atau kain tembus pandang maka pastinya kalian yang berada di dalamnya tidak akan terlihat dari luar, bukan?”


Mereka semua menatap satu sama lain dan mengangguk secara bersamaan.


“Ya. Kurang lebih seperti itulah analoginya. Semua orang yang di bawah sana tidak akan bisa melihat kita dan hanya ‘Orang’ yang melihat kita dari sisi lain dapat melihatnya dengan jelas.”


“Begitu.” – Mereka puas dengan jawaban yang Dyze berikan, meski lagi-lagi Chloe heran mengapa Dyze begitu terlihat berwawasan dari biasanya, dia hanya bisa tersenyum menanggapi perubahannya.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” Chloe dan Claire kompak menanyakan hal itu pada Dyze.


Dan dia sendiri menjawabnya hanya dengan tersenyum murung lalu berkata:


“Lihat dan saksikan.”


Mereka semua pun mengunci rapat mulutnya dan tidak mengeluarkan suara berisik sedikitpun, hingga pada titik tiap hembusan napas dan suara detakan jantung mereka dapat terdengar dengan jelas.


‘Seberapa besar Scale(skala) yang dapat kau analisa untuk saat ini?’


[ Izin menjawab. Memproses pertanyaan.. ]


.


..



[ Saya bisa melakukannya hingga pada tingkatan benua. Dan jika anda menginginkannya saya bisa menganalisa seluruh Benua dalam waktu singkat. ]


‘Begitukah? Itu tidak perlu. Kau hanya perlu menganalisa seluruh daratan di kota ini. Lalu gunakan teleport untuk memindahkan ‘sesuatu’ yang kau temukan di dalamnya.’


[ Perintah dikonfirmasi. Mulai menganalisa.. ]


[ 10% ]


[ 20% ]


[ 40% ]


[ 50% ]


[ 60% ]


[ 70%.. ]


[ 80%.. ]


[ 90%.. ]


[ Akan segera melakukan semua yang diperintahkan. Mohon berikan konfirmasi..]


‘Lakukan.’


[ Konfirmasi diterima .. 100%... ]


[ Analisa selesai. Memulai teleportasi.. ]


.


..



Switch!


Belasan bongkahan batu yang terukir sangat baik dan memiliki struktur bentuk seperti nisan kuburan tiba-tiba bermunculan serta melayang di atas mereka.


“Ini..?” Mereka semua kebingungan dan spontan mengambil masing-masing satu dari bongkahan batu itu dan mencoba membaca huruf-huruf yang terukir di sana.


“Uugh .. Sulit sekali .. Aku tidak bisa membacanya.”


Mereka semua mengeluh dan tidak bisa memahami huruf yang tertera di batu itu, namun ada satu orang yang terlihat termenung selagi membacanya seolah dia sedang mencerna sesuatu di otaknya.


“Apakah kalian menemukan sesuatu?”


Mereka semua menggeleng, dan hanya menyisakan satu orang sebelumnya yang masih terlihat termenung.


“Tulisan-tulisan ini .. Bahasa Arcadia..?!”


“Apakah kau mengenalinya, Argus?”


Mereka semua menoleh ke arahnya dan Argus pun membuka suaranya:


“Bahasa ini telah ada semenjak ribuan tahun lalu dan sepertinya dari reaksi yang kalian perlihatkan bahasa ini telah lenyap sepenuhnya di zaman sekarang. Hamba benar-benar tidak menyangka bahwa batu ini dapat bertahan hingga ribuan tahun dengan utuh seperti ini.”


“Lalu? Apakah kau bisa menafsirkannya?”


“Akan hamba coba.”


‘Mulai analisa seluruh batu itu dan tafsirkan artinya.’


[ Dimengerti. ]


Argus mulai mengumpulkan batu-batu itu dan membacanya satu per satu dalam benaknya terlebih dahulu.


“Rahasia yang sebenarnya hanya satu .. Temukan kebenarannya di sebuah kegelapan pekat yang menyelimutinya .. Jangan percaya apa yang didengar oleh telinga sebelum mata mengonfirmasi kebenarannya .. Jika ingin tahu kebenaran dari sejarah maka cari dan selidiki-lah maka jawaban pasti akan berada di depan matamu ..”


Argus berhenti bergumam lalu melihat ke arah Dyze.


“Sepertinya hanya ini kalimat yang tersusun dari belasan batu itu.”


“Begitu. Coba tafsirkanlah.”


“Kemungkinan terdapat banyak rahasia di Dunia ini yang disembunyikan dan hanya terdapat satu rahasia yang mungkin akan mengguncang Dunia apabila berhasil diungkapkan.


Rahasia-rahasia itu memiliki kemungkinan dapat ditemukan di tempat yang diselimuti kegelapan seperti kedalaman lautan, dalam Gua, ataupun terkubur jauh di dalam tanah.


Jangan percaya pada rumor yang tersebar karena itu bisa saja menyesatkanmu. Sebelum melihat kebenaran dengan sepasang matamu jangan biarkan berita-berita tidak berdasar itu menggoyahkan pendirianmu.


Jawaban dari kebenaran yang dicari-cari selama ini selalu berada di depan mata, sisanya tergantung bagaimana kita menemukan dan memecahkan misterinya.”


‘Bagaimana?’


[ Izin menjawab. Sekitar 63.9% kemungkinan bahwa tafsirannya mendekati kebenaran. ]


“Tidak buruk.”


Meski tidak terdengar seperti pujian, Argus justru merasa tersanjung.


“Um. Bagaimana nasib hamba kedepannya? Apakah tetap bisa bersama anda?”


Dyze memasang raut wajah muram dan menjawab pertanyaan Eleina:


“Informasimu cukup berguna. Setidaknya untuk sekarang kau masih dapat menghirup udara segar.”


“Syukurlah.”