The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 66. Sosok 'Boneka'?



Dan tanpa memperlihatkan emosi sedikitpun, sosok itu beradu pedang dengan Dyze.


Tawa Dyze begitu nyaring dan menakutkan, tapi entah kenapa hal itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.


“Kau cukup mengesankan, tapi begitu membosankan..”


Kekuatan sosok itu memang tidak begitu jauh dari ekspetasi Dyze, tapi emosinya yang terlalu kaku dan bahkan tidak diperlihatkan sama sekali membuat Dyze cukup merasa bosan setelah bertarung dengannya hingga beberapa lama.


“Sepertinya akan hambar apabila terus dilanjutkan..”


Saat suasana menjadi hening, energi gelap itu kembali muncul dan mulai menyelimuti tubuh Dyze, ekspresinya yang awalnya senang dan terus tertawa kini menjadi murung serta menatap lawannya dengan penuh kebencian.


“Kubunuh dengan cara apa ya.., dengan teknik pedang sudah, dengan sihir sudah, dengan cara biasa sudah..”


[ Bagaimana dengan cara yang anda sebutkan sebelumnya? ]


“Aah.. Benar juga. Dipikir-pikir aku belum pernah merasakan sensasi seperti itu lagi sebelumnya..”


“Langkah bayangan.”


Dyze seketika langsung diselimuti kegelapan dan ditelan oleh bayangannya sendiri, hawa keberadaannya seolah lenyap begitu saja.


Chloe dan yang lainnya pun sempat waspada namun sesaat kemudian, Dyze menampakkan dirinya tepat di hadapan sosok bertopeng.


“Pertama-tama kita patahkan dulu lehernya.”


Bugg!


“Arkh!”


Dyze langsung menggenggam bagian belakang kepalanya dan langsung memutarnya hingga menimbulkan sebuah bunyi.


“Bahkan rintihanmu seperti dibuat-buat.. Kau benar-benar mirip dengan sebuah boneka ya?”


“…”


“Tetap tidak mau buka mulut?”


“Kalau begitu dengan senang hati!”


“KHARK!”


Dyze langsung merobek kulit sosok tersebut dengan jari-jarinya, seolah-olah terdapat sebuah cakar di kukunya.


Namun nyatanya, dia hanya merobek-robek kulit sosok bertopeng itu murni dengan kekuatan jari-jarinya.


“HAHAHAHA SENSASI INI!”


“AKU MERINDUKANNYA!”


“Khargh!”


Di tengah kesengsaraannya, Dyze hanya tertawa dengan tatapan tajam, mentertawakan nasib sosok tersebut yang kini sudah tidak lagi berdaya.


Bagaikan domba yang pasrah saat diterkam serigala, sosok bertopeng itu kini tidak berbuat apa-apa, dia tahu, takdir seekor domba tidak akan bisa menang melawan seekor serigala.


“Br*ngsek. Pada akhirnya semuanya sama saja dengan berakhir seperti ini.., ‘kah?”


Tanpa berkata lebih, Dyze langsung melubangi dadanya dan mengambil paksa jantungnya.


"Bahkan tanpa jantung sekalipun kau masih dapat bertahan?"


Saat sosok bertopeng itu sekarat, dia mencoba meraih ke arah Argus.


Dan atas izinnya, Argus melangkah mendekatinya dan membuka topengnya.


Dia terlihat terkejut saat melihat sosok dibalik topeng tersebut.


"Kau..!"


"Dengar, semuanya belum berakhir. Orang itu pasti akan bangkit kembali ke Dunia..!"


"Tampaknya kamu sendiri tidak mengenalinya.."


"Benar.. Orang ini laki-laki berambut pirang dan saya merasa asing padanya." -- Argus merespon perkataan Chloe yang berada di sampingnya.


"Yah tampaknya dia hanyalah sebuah 'boneka'."


Mereka semua menoleh ke arah Dyze yang sedang memegangi pedang bertuliskan 'Arcandra' di tangannya, mengabaikan sosok yang telah menghembuskan napas terakhirnya.


“Boneka?”


Pertanyaan besar itu berada di benak mereka semua, Argus dan yang lainnya menatap Dyze menunggu penjelasan selanjutnya.


‘Hey, bagaimana caraku menjelaskan pada mereka?’


[ Anda hanya perlu menerangkan bahwa orang tersebut memiliki hubungan tidak langsung dengan ‘Arcandra’ yang asli. Hanya dengan itu cukup masuk akal bahwa dia dapat dianggap sebagai ‘Boneka’ miliknya. ]


“Dilihat dari sosok dibalik topeng yang memiliki wajah berbeda dari ‘Arcandra’ yang dikenali oleh Argus saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia memiliki hubungan tidak langsung dengannya, dapat dikatakan dia adalah ‘Boneka’ atau ‘Pion’ dalam rentetan kejadian yang terjadi.”


“Jadi begitu.., masuk akal..”


Kalimat itu keluar dari masing-masing mulut mereka, mereka tercerahkan sekaligus diolah kagum karena pengetahuan Dyze.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?”


Dyze menatap Chloe dan diam sejenak, lalu berjalan mengambil topeng serta pakaian dari sosok tersebut.


“Kita akan pergi ke Kota Parsia dengan menyamar menjadi identitasnya.”


“Untuk meraup informasi.., ‘kah?” – Claire bergumam kecil, namun suaranya cukup didengar oleh semua orang.


“Kita perlu mendatanginya terlebih dahulu, aku lupa mengambil peta yang dia berikan..”


Saat mereka hendak menuju desa yang ditutupi dengan pepohonan dan semak yang lebat, sebuah suara menghentikan langkah mereka.


“Tunggu! Apa yang akan anda lakukan dengan jasad ini?”


Dyze menoleh ke arah sumber suara— Argus, matanya terlihat masih menyimpan emosi yang bercampir aduk, namun dia cukup ahli dalam mengendalikannya.


“Ah aku tidak membutuhkannya. Kubur saja dia, biarkan dia membusuk bersama harapannya yang telah sirna.”


“Baik.”


“Sekalian dengan ini ya.”


Argus pun menguburkannya bersama jantung yang diberikan oleh Dyze, lalu setelah selesai melakukannya, dia segera menyusul Dyze yang kini kembali seperti semula.


Sedangkan untuk Hydra, dia mengikuti Dyze dari belakang dan tidak melakukan apa-apa tanpa perintahnya.


---


“Apa yang terjadi..?”


Saat mereka keluar dari pepohonan dan semak yang membatasi antara kaki gunung dengan perdesaan, para warga yang tadinya menganggap mereka sebagai orang asing kini bersujud ke hadapannya.


“Terima kasih atas jasa anda! Jika tidak ada anda-anda sekalian kemungkinan sosok bertopeng itu akan membuat Desa kami menjadi lautan darah!”


Dyze yang bingung berusaha menyangkal dengan menanyakan bukti.


Para warga termasuk Ironseth dan Erina yang berada di barisan paling depan menunjuk pedang yang memiliki ukiran ‘Arcandra’ berada di tangan Dyze.


[ Dengan ini anda tidak bisa lari kemana-mana. Lagi-lagi seperti Siren sebelumnya, mereka takluk dengan sendirinya. ]


“Dengan kata lain aku terpojok.., ‘kah?”


“Lalu apa keinginan kalian?”


Para warga itu melihat satu sama lain kemudian menyuarakan satu hal yang sama:


“Apa saja yang anda inginkan merupakan keinginan terdalam kami.”


Dyze bersiul, sepertinya dia cukup tertarik dengan ‘High-Human’ karena mereka mengingatkannya pada seseorang.


“Meski tidak ada niatan untuk menaklukkan mereka sebelumnya, tapi mereka justru tunduk dengan sendirinya. Kamu memang hebat.”


“Aku setuju dengan perkataan Chloe.” – Claire setuju dengan pernyataannya.


Meski sempat bersitegang dengan Chloe, Dyze tidak menyimpan sedikitpun dendam padanya.


Dyze hanya menghela napas dan menciptakan sebuah lingkaran sihir yang cukup besar di atas mereka, mencakupi seluruh warga desa dibawahnya.


“Bagaimanapun juga ini mungkin kehendak takdir. Aku yang sekarang tidak mungkin dapat menolaknya..” – Dia mengatakan itu sambil memutar lingkaran sihir dengan jarinya seolah lingkaran sihir besar itu berada langsung di tangannya.


Klikk.


Saat Dyze menjentikkan jarinya, sebuah tanda berupa bintang dan bulan yang menyatu terbentuk di dahi mereka, termasuk Livia, Alpha dan teman-temannya, yang tidak memilikinya hanyalah Argus, Chloe, dan Claire.


“Dengan ini kalian sudah resmi menjadi milikku. Tapi untuk sekarang aku masih belum membutuhkan peran kalian. Pergilah, penuhi panggilanku di waktu yang tepat.”


“Baik!”


Di saat mereka semua mulai membubarkan diri, Dyze menyuruh Ironseth dan Erina untuk tinggal di tempat.


“Anda membutuhkan ini kan, Tuan?”


Ironseth memberikan gulungan peta di tangannya dengan berlutut di hadapannya.


“Ya. Keputusan yang bagus.”


“Terima kasih atas pujiannya.”