
“Kami pulang...!” Chronoa membuka pintu rumahnya dengan langkah riang. Tangannya membawa kotak kayu panjang berisi pedang biru pemberian Sven. Tidak lama kemudian, Layond dan Dyze menyusulnya dengan bahan makanan di tangan mereka.
“S-selamat datang!” Lealta, maid keluarga Emilton menundukkan badannya dengan gugup saat mereka semua masuk. Matanya terlihat sayu. Entah apa alasannya, akhir-akhir ini sikapnya cukup aneh.
“Oh, kalian sudah datang.” Riley tersenyum.
“Buu lihat ini! Kami terpaksa membeli bahan makanan di pasar. Ini semua karena Pak Tua itu sangat payah menangkap hewan.” Chronoa melompat-lompat riang menuju ibunya yang sedang duduk membaca buku.
“Hei, apa yang kau bilang?! Kemari kau Anak Nakal!” Layond meletakkan bahan makanan di lantai begitu saja dan mengejarkan Chronoa layaknya seekor monster.
“Blee, coba saja tangkap aku monster payah...!” Chronoa membalas ucapan ayahnya seraya menjulurkan lidahnya dan berlari cepat. Ia lalu melompat ke sofa, memanjat gorden dan berayun menuju railing tangga.
“Hahahah, gerakan yang hebat malaikat kecil, tapi ayahmu ini jauh lebih hebat! Graaawr!” Pria itu segera menaiki tangga dengan cepat. Seperti biasa, beberapa barang pecah belah yang tersenggol mereka mengeluarkan suaranya khasnya.
Oi oi, apa mereka akan terus bertingkah seperti ini? Batin Dyze dengan senyum penuh kekesalan. Ia lalu mengabaikan mereka berdua dan membawa bahan makanan menuju dapur.
“K-kalian, tolong berhentilah ... Nyonya Riley akan kehilangan kesabarannya...,” ucap Lealta seraya menaiki tangga dengan gelisah. Bukannya menuruti kata Lealta, mereka malah melewatinya begitu saja saat menuruni tangga.
“Terima ini monster jelek!” Chronoa melempar bola benang wol Riley ke perut Layond.
“Aargh, sialan. Aku dikalahkan...!” Layond berpura-pura terbaring kesakitan. Chronoa yang melihat itu segera memasang muka kesal.
“Pak Tua membosankan. Cih,” ucapnya.
“Apa katamu?” Layond mulai berdiri dengan aura yang mencekam.
“Anak nakal, kau tidak pernah menghargai ayahmu sendiri.” Chronoa sedikit terkejut melihatnya.
“Kalau begitu ... rasakan ini!” Layond melompat, mengunci pergerakan Chronoa dan menggelitiki perutnya.
“Aaah, hahahaha hentikan pak tua!” Chronoa lalu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
“Dasar, jangan sampai buat ayahmu ini marah atau-“
“Atau apa hm?” Riley memotong perkataan Layond yang berada tepat di depannnya. Layond terkejut dan terdiam beberapa saat.
“Ah, emm itu, aku akan membereskan rumah. Ya, itu yang kumaksud ehehe.”
“Hahah Pak Tua pay-“
“Chronoa....” Riley tersenyum keaarah putrinya.
“B-baik bu, aku akan membantu ayah.” Chronoa membungkukkan badannya.
“Fuuuh, mereka benar-benar nakal. Baguslah Nyonya Riley tidak sampai mengusir mereka dari rumah.” Lealta bergumam sendiri.
“Hmm? Apa sebelumnya Riley pernah mengusir mereka?” komentar Dyze tiba-tiba.
“A-apa? Ah, uhmm, i-itu Nyonya Riley ... ah! Aku m-melupakan sesuatu. Permisi,” ucapnya terbata.
Sementara itu disisi Dyze.
Sialan, ini benar-benar enak. Noa bilang buah ini bernama pisang. Benda-benda di dunia ini memang sangat hebat untuk wujud manusiaku.
Aku terus memakan buah bewarna kuning ini sembari berjalan menuju ruang tengah tempat Riley membaca buku.
Ah mereka berdua, pada akhirnya terkena amarah Riley ya.
“Fuuuh, mereka benar-benar nakal. Baguslah Nyonya Riley tidak sampai mengusir mereka dari rumah.” Lealta bergumam cukup keras. Gulp, aku menelan habis pisangku.
“Hmm? Apa sebelumnya Riley pernah mengusir mereka?” tanyaku.
“A-apa? Ah, uhmm, i-itu Nyonya Riley ... ah! Aku m-melupakan sesuatu. Permisi,”
Huhh? Apa-apaan itu. Dia selalu bersikap aneh saat melihatku. Yah, kurasa Noa akan memberiku jawaban. Dia cukup bagus dalam menjelaskan hal-hal yang berada di dunia ini. Sekarang, aku harus mengganti pakaianku, dan membantu Layond menebang kayu. Ini memang merepotkan tapi setidaknya aku harus berguna dalam keluarga ini agar aku layak untuk tinggal.
* * *
“Pfft, apa-apaan itu? Bahkan hal seperti itu tidak dapat kau tangkap dengan baik? Dia jatuh cinta padamu paman sialan.” Noa tersenyum sinis kearahku saat aku menanyakan sikap Lealta padanya.
“Cih, sudah kubilang, aku kehilangan ingatanku. Lagi pula, apa-apaan cinta?”
“Paman benar-benar bodoh soal itu ya, cinta itu suatu rasa tidak suka yang kuat sampai-sampai kau ingin orang yang kau cintai itu menghilang dari dunia. Itu mengapa Lealta segera pergi jika bertemu denganmu.”
“Jadi Lealta ingin menghabisiku? Yang benar saja, kukira dia orang yang baik.”
“Pfft hahahah payahnya, tentu saja bukan itu artinya. Aku hanya bercanda paman.”
“Hmfpp.”
Dyze merasakan gejolak tidak wajar di tubuhnya.
Rasanya, mulutku baru saja memuntahkan sesuatu tak berwujud. Sial, kepalaku sakit sekali. Telingaku berdengung dan suatu suara samar-samar terdengar.
“Bertahanlah, Tuan Dyze!” ucap suara itu.
Bukankah ini...
“Paman! Oi, paman payah, apa yang terjadi?” Noa menyadarkanku.
“T-tidak, kepalaku hanya sedikit sakit.”
Dyze lalu berdiri dan meninggalkan Noa di belakangnya.
Tunggu, kenapa aku meninggalkan gadis nakal itu? Kakiku, aku tidak bisa mengontrolnya! Kemana kakiku akan berjalan? Aku berusaha untuk tenang. Hingga, kakiku berhenti di depan kamar mandi.
“Kamar mandi? Ayolah, apa kakiku memiliki selera tempat serendah ini?”
Dyze lalu melangkah masuk ke dalamnya, dan pintu kamar mandi segera tertutup dengan sendirinya. Hal aneh tetap berlanjut.
Kaki milik Dyze mengeluarkan sinar putih yang kemudian berkumpul menjadi satu di depan nya. Kumpulan sinar itu membentuk wujud suatu makluk yang sangat tidak asing baginya.
“Ariel?!”
“Benar, Tuan.”
“Ha! Bagus sekali Sialan...! Dunia ini benar-benar membuatku gila. Aku harus kembali ke Firmament Deity!”
“Tenanglah, Tuan. Waktuku tidak banyak. Saat ini anda telah berhasil bersinkronisasi dengan jiwa manusia. Jiwa anda telah menyatu secara sempurna dengan wujud manusia ini. Jadi tidak mengherankan jika anda merasakan apa yang biasa manusia rasakan dan secara tiba-tiba mengetahui istilah-istilah yang dipakai manusia. Selain itu, Tuan Dyze. Pulihkanlah inti energi kehidupanmu selama berada disini. Temuilah seorang Nenek dengan kucing putih di pasar kota. Kurasa dia dapat membantu.”
Tidak lama setelah itu, Ariel memudar dengan suara kecil yang mengiringi kepergiannya. Dyze tidak terlalu yakin dengan itu. Tapi sepertinya, suara itu berbunyi “Temfo Rest”.
Ariel, salah satu panglima tertinggi dari para malaikat bawahanku yang sangat loyal hingga akhir hayatnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanannya. Juga, aku telah mendapat banyak pengetahuan soal manusia ya. Bagus, ini sangat berguna. Bahkan, aku tidak akan kesusahan untuk buang air lagi. Tapi siapa nenek yang dia maksud? Apakah seorang manusia? Tidak, itu mustahil. Habisnya dia sangat membenci manusia.
Kreek, pintu kamar mandi lalu kembali terbuka dengan sendirinya. Aku bergegas keluar dan berjalan cepat menuju kamarku.
“Hmm, tak kusangka Ariel akan sangat membantuku. Tapi, apa yang dia maksud dengan ‘Temfo Rest’? Layond mungkin mengetahuinya.”
Gumamnya seraya membuka pintu kamar. Saat pintu sudah benar-benar terbuka, suatu makhluk hitam aneh berdiri menyambut. Dia segera menyalakan lampu sihir dan memerhatikan makhluk hitam yang ternyata adalah Noa.
“Sialan, kau mengagetkanku bocah nakal!”
“Paman kamu tadi bersikap sangat aneh!”
“Huft ... dengar, kepalaku hanya sedikit sakit. Jadi, berhenti mencurigaiku.”
“Hmm, begitu? Kupikir kau masih memikirkan soal Lealta.” Noa menggodanya dan tersenyum nakal.
Hmm soal Lealta yang menyukaiku ya, konyol sekali.
“T-tentu tidak bocah nakal! Sialan.”
Dyze meninggalkan kamar dan membanting pintu.
Beraninya dia mempermainkan emosiku yang baru saja bersinkronisasi. Aku sendiri masih cukup terkejut dengan perubahan ini.
* * *
Ah sial. Aliran energi kehidupan di hutan ini masih saja tidak sinkron dengan darahku. Baiklah, ayo coba lagi! Aku lalu kembali mencoba melakukan pesan yang Ariel sampaikan. Sesaat sebelum Ariel menghilang, kepingan cahayanya membentuk suatu posisi dengan kedua kaki tertekuk, lutut kaki kiri berada di belakang dan sejajar dengan tungkai kaki kanan yang berada di depan. Tangan kiri berada tepat di depan dada, sementara tangan kanan menyentuh tanah. Sedikit mirip dengan posisi orang yang bersiap untuk berlari.
Kurasa posisi itu adalah cara untuk menetralkan aliran energi kehidupanku. Maka hari ini aku mencobanya di hutan Temp. Layond bilang “Temfo Rest” itu kesalahan pendengaranku. Pesan Ariel sebenanya adalah “Temp Forest” atau Hutan Temp, hutan dimana aku terjatuh dari Firmament Deity. Itu mengapa, aku memilih hutan ini untuk melakukan petunjuk yang Ariel berikan.
Soal bagaimana aku bisa kemari, Layond mengajakku untuk membantunya berburu monster. Beberapa bagian tubuh mereka berguna untuk diperjual belikan. Jadi, saat ia mengikat monster yang tekena tombaknya, aku meninggalkannya perlahan. Beruntungnya Layond tidak menyadari itu.
Bzzt!
“Cih, masih tidak bisa ya.” Aku lalu kembali mencobanya dengan benar-benar serius. Mataku terpejam. Aku menarik Napas panjang, menenangkan pikiran dan memfokuskan tangan kananku untuk menyerap energi kehidupan yang dimiliki hutan sakral ini.
Sshhh....
Suara ini ... desisan ular?! Aku segera menoleh kebelakang dan melihat seekor ular raksasa bermata lima berada sekitar satu Meter di depanku. Beruntungnya, seseorang yang tidak asing bagiku menebas perutnya dengan cepat.
“Sudah ku bilang, jangan menjauh dariku. Sepertinya kenakalan Noa menular padamu ya,” Layond menghela napas pendek. Ya, dialah yang menyelamatkanku dari ular raksasa itu. Tunggu, kalau begitu, apa Layond menyadari posisi anehku tadi? Sial, itu sangat mencurigakan.
“Ah-haha maafkan aku, seekor hewan di rerumputan ini sangat menarik kurasa.” Alasan macam apa itu?!. Memangnya Layond akan-
“Begitu ya, aku tidak menyangka orang sepertimu dapat tertarik dengan hewan-hewan tanah,” balasnya dengan senyum hangat.
Eh? Apaa?! Dia mempercayainya? Kukira itu alasan yang sangat bodoh.
“Ehehe.” Aku membalas dengan tawaku yang kaku. Kami lalu berjalan menuju hasil buruan Layond dikumpulkan.
“Hei Layond.” Aku memulai pembicaraan.
“Hm? Ada apa?”
“Kenapa kau menolongku? Bukankah kau sebaiknya fokus pada buruan yang kau
tangkap?”
“Hahhahhah! Pertanyaan konyol! Kau telah menyelamatkan nyawa putriku. Sudah sepantasnya aku menganggapmu seperti anakku sendiri.”
Pria ini ... ia mengatakannya dengan ketulusan. Anak, ya? Suatu makhluk hidup yang lahir dengan darah daging yang sama dengan orang tuanya. Kenapa Layond menggapku seperti itu? Kurasa itu terlalu berlebihan. Dan juga, mungkin hanya perasaanku saja tapi Layond sekarang sangat berbeda dengan Layond kutemui dulu..
“Apa orang tuamu memperlakukanmu dengan tidak baik sebelumnya?” tanya Layond.
“Eh? T-tidak, aku tidak mengingatnya.”
Cih, jangankan di perlakukan tidak baik, aku bahkan tidak memiliki orang tua. Memangnya itu menyenangkan? Yah, memakan masakan Riley memang menyenangkan kurasa.
Layond juga sangat hangat saat aku berusaha melarikan diri, dia menahanku untuk tetap tinggal. Mereka adalah orang tua yang baik kurasa.
“Baguslah, tangkapan kita hari ini cukup banyak. Oh, juga, bagaimana dengan inti energi kehidupanmu? Apa itu sudah bekerja dengan baik, Dyze?”
Eh? A-apa!? Kenapa dia bisa-
“Ehm, apa yang kau maksud Layond?” Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah darinya.
“Haha, tidak perlu takut. Aku sudah mengetahuinya sejak pertama kali Noa membawamu ke rumah. Energi kehidupanmu itu tidak boleh digunakan sembarangan saat inti mu sedang tidak netral. Itu dapat memicu ledakan tanpa wujud dan membuatmu terdeteksi. Aku tidak tahu kau berasal dari ras apa, tapi kau dapat menggunakan energi kehidupan. Jadi kurasa rasmu itu termasuk ras tingkat tinggi. Sayang sekali kau kehilangan ingatanmu. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu dari tangan orang lain yang dapat menyalahgunakan energi kehidupanmu.”
Layond terus berbicara layaknya seorang Ayah pada anak laki lakinya. Sialan, tidak semua manusia itu serakah dan bodoh kurasa.
Ada apa ini? Rasanya tenang sekali. Aku benar-benar mengalami hal berat ya? Benar, aku kehilangan posisiku sebagai dewa dan menjadi manusia rendahan dengan skillku yang sama sekali tidak berguna. Sial, aku tidak bermaksud menyakiti kalian. Zavist, tak kusangka kau melakukan ini semua.
“... juga, terpisah dari keluarga dan kehilangan ingatan itu sangat melelahkan, bukan? Bagaimana jika kita bermain?” Layond berdiri dari duduknya dan mengambil dua pedang dari kereta kudanya.
“Jika kau dapat memberikanku satu goresan dengan pedang ini, kau menang.” Ia memberikan satu pedangnya. Dia ... tidak sebodoh yang kukira. Tentu saja, dia adalah mantan prajurit tinggi ternama.
“Ha! Jangan remehkan aku, Pak tua!”
* * *
“Uhuk, uhuk, uhuk.”
Sudah beberapa hari sejak Layond sakit. Keesokan hari setelah aku dan pria itu berburu monster, ia mendadak terserang penyakit aneh.
Kami belum menemukan obat untuknya. Bahkan para Healer dan dokter ternama tidak dapat menemukan penyakit yang diderita Layond. Noa menjadi lebih pendiam dari biasanya. Riley tidak semenakutkan Riley di hari sebelum Layond jatuh sakit.
Sementara Lealta ... ia tetap menghindariku seperti biasa.
Soal nenek dengan kucing putih, aku tidak dapat menemukannya. Para pedagang di pasar juga tidak mengetahui keberadaan nenek itu. Benar-benar wanita yang aneh. Semenjak Layond sakit, aku tidak pernah mengunjungi pasar itu lagi.
“Dyze, Noa, carilah daun clitoria dan beberapa chamomile. Lealta terlalu sibuk membersihkan rumah. Sementara Riley, ia kelelahan menjaga Layond semalam. Jadi, mohon kerja samanya. Aku akan pergi ke pasar kota untuk mencari tanaman herbal lain. Berhati-hatilah!” ucap Shearly yang tampak cukup pucat.
“Baik Shearly.” Aku dan Noa segera keluar dari rumah setelah mengambil keranjang kayu kecil. Noa dengan wajah mendungnya berjalan lesu tidak jauh di belakangku. Yah, ini pasti berat untuknya. Baiklah, aku harus mengatakan sesuatu.
“Hei, semangatlah, kau ingin Pak Tuamu cepat sembuh, ‘kan? Kalau begitu cepatlah! Dengan tanaman herbal yang kita bawa, Layond akan makin cepat terbantu.” hiburku.
“Hm.” Noa mengangguk pelan. Uhh sialan, sebenarnya apa yang membuat Layond jadi separah ini? Ah itu tidak penting. Untuk sekarang, aku harus mencari tanaman herbal seperti yang Shearly minta.
“Ah, itu dia. Kemarilah.” Aku segera menghampiri tempat dimana tanaman herbal yang diminta Shearly tumbuh. Noa menyusulku tanpa keributan. Aku lalu berjongkok dan mulai mencabuti tanaman yang Shearly minta. Begitu juga dengan Noa. Hanya saja, dia melakukannya dengan sangat lambat dan lemas. Sialan, kenapa sesuatu dalam diriku terus memaksaku untuk menghibur gadis ini?
“Cih, jangan terus-terusan memasang muka suram seperti itu. Aku yakin ayahmu tid-“
“Hiks, hiks.”
A-apa? Suara lirih ini, tangisan? Memang gadis dingin ini bisa menangis? Aku sedikit meliriknya. Sial. Dia benar-benar menangis! Apa yang harus aku lakukan?
“Aku ... hiks, aku takut, Dyze.”
Eh? Dia mengakuinya?
“Hiks, aku ... aku tidak, hiks, aku tidak mau kehilangan ayahku sialan. Hiks, hiks, para dokter ataupun healer tidak biasanya kebingungan mendiagnosa penyakitnya! B-bahkan, hiks, Shearly pun tidak mengetahuinya, hiks, Lalu, kenapa aku harus menangis di depanmu? Paman bodoh! Hiks, hiks, sialan...!”
Oi, oi, dia benar-benar mengeluarkan
semuanya.
“Uh, huft ... tenanglah. Aku yakin Shearly akan segera menemukan penyakit Layond dan menyembuhkannya. Sekarang tarik nafas panjang dan-“
Tunggu, sialan apa yang kukatakan? Kenapa aku terlihat sangat peduli dengannya?
“Fuuuh.” Gadis itu menghapus air matanya lalu mulai berdiri. “Paman payah. Aku tidak sesedih itu. Mataku hanya sakit melihatmu yang begitu Suram.”
“Bocah nakal! Kemari kau!” Dengan membawa tanaman pesanan Shearly, aku segera mengejar Anak sialan berambut hitam itu.
“Wlee, paman tidak akan bisa menangkapku!” kami terus berlari dan berlari hingga mencapai rumah.
“Hahahhaha, aku sampai duluan! Astaga, Dyze! Kau benar-benar payah.” Noa tersenyum lebar. Benar-benar menyebalkan. Tapi itu lebih baik daripada muka lesunya.
“Aku memang payah. Tapi tidak sampai menjadi anak nakal yang terkena hukuman di hutan,” balasku seraya melihat langit siang yang begitu redup. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
“Cihh, paman sialan.”
“Haha, ayo masuk. Kau tidak ingin ayahmu menderita lebih lama, ‘kan?”
“Hm, benar.” Noa segera membuka pintu rumah dengan langkah riang.
“Nona Shearly! Kami membawa tanamannya!” Noa berlari menuju kamar Layond.
“Dyze! Pak Tua tidak berada di kasurnya!” teriaknya keras. Apa katanya? Aku segera berlari ke dapur, ruang tengah, gudang, tapi tetap tidak menemukannya.
“Sialan! Dimana dia?!”
“Ibu! Dia juga tidak berada di kamarnya!” Serunya. Apa yang terjadi?! Dimana mereka semua? Tidak, tidak, aku harus tenang.
“Noa, mungkin mereka membawa Layond ke tempat pengobatan,”-Aku berjalan menuju pintu halaman belakang dan membukanya-“tenanglah, Shearly akan segera datang dan-“
Kuharap aku segera terbangun dari mimpi buruk ini.