
Setelah memberikan Dyze peta, Ironseth dan Erina pun beranjak pergi atas perintah darinya.
“Kamu memang cocok menjadi seseorang yang berkuasa di atas segalanya.”
Komentar Chloe dijawab Dyze dengan senyuman sinis.
“Bagiku itu juga tidak begitu buruk.”
Setelah mengatakan itu, Dyze memerintahkan Hydra untuk menarik mereka semua, dan sekarang, mereka dalam perjalanan menuju kota Parsia yang berada di utara.
---
19.00 PM
--
Di dalam perjalanan menuju utara, mereka sedang berada di atas hamparan rumput yang luas tanpa adanya perairan sedikitpun.
Karena ini perjalanan santai dan Dyze mengizinkan mereka untuk beristirahat maka beberapa diantara mereka; Argus, Alpha, Beta, Delta, Omega, Gamma, dan Sigma tertidur di atas Hydra.
Sedangkan untuk Chloe, Claire dan Livia mereka terjaga, menunggu giliran yang pas untuk beristirahat.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” – Chloe dan Claire menghampiri Dyze yang sedang termenung menatap kosong pemandangan di depannya.
“Tidak ada, hanya saja.. Terbesit suatu pemikiran di benakku. Apa yang akan kulakukan apabila bertemu dengan teman-temanku yang telah bereinkarnasi? Haruskah aku membunuh mereka untuk kedua kalinya? Ataukah..?”
Dyze tidak dapat menentukannya, dia frustasi, masing-masing bagian dalam dirinya berdebat dengan 2 pilihan yang berbeda; Membunuh untuk mengakhiri segalanya ataukah memberitahu yang sebenarnya meskipun mustahil untuk mereka percaya padanya?
Tapi semua itu mulai memudar, hatinya mulai tenang saat sebuah pelukan hangat datang dari kedua sisinya.
“Apapun pilihanmu..”
Perkataan Chloe dilanjutkan oleh Claire.
“.. Kami akan selalu berada di sisimu..”
Tidak hanya itu, Livia pun ikut memeluknya dari arah belakang dan melanjutkan kalimat Claire.
“.. Meski teror kematian selalu menghantui kami, itu semua tidaklah berarti apabila kamu selalu bersama kami.”
“Tch. Kalian memang pandai menghibur.”
Meski kelihatannya Dyze tidak begitu suka, mereka percaya bahwa saat Dyze merasa senang dia selalu menyembunyikannya.
***
“Liha disana! Sepertinya gerbang itu merupakan bagian dari kota Parsia!”
Beberapa hari telah berlalu, kini akhirnya pada pagi harinya tepat beberapa saat matahari terbit Delta menyerukan sesuatu.
Hal ini membuat Dyze dan beberapa orang lainnya; Argus, Livia, Claire, serta Chloe terbangun dari tidurnya.
Sedangkan yang tersisa, sama seperti Delta, mereka terjaga dari tidurnya untuk melindungi tuan mereka.
“Hoamm.., apakah ada sesuatu yang menarik?”
Dyze menguap dan mengusap matanya karena baru bangun dari tidurnya, pertanyaannya dijawab oleh Alpha.
“Kita telah sampai di tujuan, tuanku.”
“Benar! Lihat! Gerbangnya sungguh besar dan megah, Livia ingin cepat-cepat memasukinya..”
“Haha tenanglah, jangan terlalu gegabah.” – Livia yang sedang bersemangat ditenangkan oleh Chloe dan Claire, tampakknya mereka semua terlihat antusias saat melihat kota Parsia.
Saat berjarak sekitar 100 meter dari gerbang, Dyze memerintahkan Hydra untuk menurunkan mereka, kemudian menyuruhnya untuk menetap di danau yang berjarak ratusan meter dari kota Parsia.
Sebelum mendatangi gerbang, Dyze mengenakan topeng dan pakaian berupa jas yang terbuat dari kulit Direwolf, beberapa lencana kehormatan juga terpasang di saku serta bahunya.
Sedangkan untuk Chloe, Claire dan yang lainnya langsung memasang wajah serius agar status Dyze tidak dipertanyakan.
Pada awalnya para penjaga itu mencegat mereka masuk, namun saat melihat lencana kehormatan yang dimiliki oleh Dyze, para penjaga itu langsung menundukan badannya untuk meminta maaf dan mempersilakan mereka masuk.
“Woah~!” – Livia terpesona dengan pemandangan kota Parsia yang begitu besar dan makmur.
Tidak hanya Livia, Claire dan Chloe juga begitu terperangah saat melihat kota Parsia.
Sedangkan Dyze dia terlihat keheranan karena melihat begitu banyak ras Non-Manusia yang hidup di sana.
“Apakah ada manusia yang menerima ras non-human..?”
Dyze bergumam kecil pada dirinya sendiri, Delta juga mendengarnya namun dia tidak membuka mulut sebelum diperintahkan.
Dyze melepas topeng dan pakaiannya karena suatu alasan saat menuju ke alun-alun kota.
“Dilihat dari tanduk dan rambutnya sepertinya dia..”
Dyze melanjutkan perkataan Chloe.
“Xelyn.., ‘Kah?” – Dyze melihat ke arah Delta, dia pun mengangguk.
“Itu benar, tuanku.”
“Ceritakan semua yang kau tahu mengenai kota ini.”
Karena perintah dari Dyze, Delta pun menceritakan semua yang dia tahu.
Kota Parsia, kota yang berada di dataran rumput luas, dimana pepohonan atau pegunungan nyaris tidak ada di sekitarnya.
Akan tetapi kota Parsia memiliki sebuah danau besar berjarak ratusan meter jauhnya.
Dan kota ini berada di bawah perintah kekuasaan Xelyn yang merupakan dari ras Qilin. Mungkin itulah salah satu alasan utama mengapa kota ini begitu besar dan makmur di bawah kepemimpinannya.
…
“Maaf, hanya itu yang hamba tahu.”
“Ras Qilin.., ‘Kah?” – Dyze memegang dagunya lalu melihat ke arah Delta.
“Lalu dimana dia sekarang?”
Meski sempat terkejut ditanya dengan terang-terangan seperti itu, Delta dapat menjawabnya dengan baik.
“Dia pasti berada di suatu tempat yang menjadi favoritnya. Sama seperti Medusa yang menyukai gua.”
“Begitu.”
Setelah menatap patung tersebut selama beberapa saat, dia pun langsung berbalik badan dan mengatakan:
“Ayo, tidak ada gunanya berlama-lama disini.”
“Apa kau tahu dimana guild yang kita tuju?”
Dyze melihat ke arah Delta, dia menggelengkan kepalanya.
“Maafkan hamba, hamba hanya tahu informasi dasar mengenai kota ini saja.”
Dyze melihat ke arah Alpha, dia pun sama seperti Delta.
Dan hal itu juga berlaku pada Beta, Gamma, Omega, Stigma.
Dyze menghela napas panjang lalu berjalan ke orang asing yang sedang berjalan di sampingnya.
“Hey. Apa kau tahu letak dari guild-guild di kota ini?”
“Ah, jika yang anda maksud merupakan Guild Sunset Raven maka anda hanya perlu berjalan ke persimpangan jalan lalu belok kanan. Setelah itu berjalanlah beberapa saat, dan anda akan menemukan sebuah guild yang besar bertuliskan ‘Sunset Raven’ di atas pintunya.”
“Baiklah.”
Dyze langsung pergi meninggalkannya bersama mereka tanpa menyadari bahwa orang asing tersebut tersenyum sambil berkata:
“Ketemu.”
---
Setelah berjalan sesuai arahannya, mereka akhirnya menemukan guild yang dimaksud. Dyze mengenakan topeng dan pakaian sebelumnya terlebih dahulu lalu berjalan memasukinya.
“Hei.., lihat. Lencana nya banyak sekali!”
“Benar, siapa dia?”
“Tunggu..! Topeng putih polos dengan motif elang itu.., aku seperti mengenalinya..”
“Dasar bodoh! Kenapa begitu butuh banyak waktu untukmu mengenalinya? Dia adalah Andrius! Salah satu petualang Class S! Gelarnya adalah Andrius sang pendekar pedang dingin!”
Dan seperti dugaan Dyze, mereka menarik begitu banyak perhatian, tapi dia sama sekali tidak masalah dengan suasana ini, sebaliknya, Dyze justru menikmatinya.
“Andrius.., ‘Kah? Apa hubungannya dengan Arcandra?” – Dyze bergumam kecil yang hanya di dengar Chloe dan Claire di sampingnya.
Mereka mulai mendatangi Resepsionis.
“Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk anda?”
Dyze menatap resepsionis yang begitu lunak padanya dari balik topeng.