
‘Tuan? Sepertinya kau memang benar-benar membentuk sebuah kepribadian ya?’
[ Itu benar, Tuanku. Hamba yang sekarang— Athena tidak memerlukan proses yang lama untuk melakukan sesuatu seperti mencari informasi, melacak suatu tempat, dan lain sebagainya. ]
“Baiklah. Mungkin aku akan mencoba salah satu skillnya saja.”
“Skill? Skill apa yang kamu maksud, Dyze?”
Chloe yang tidak dapat mendengar dan tidak mengetahui eksistensi Athena tentu saja merasa keheranan dengan maksud Dyze yang tiba-tiba seperti ini.
“Lihat dan perhatikan.”
Yang lainnya hanya menenggak air liurnya, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
『 Imagine Transform 』
Whoosh!
Tanpa adanya proses dari Athena seperti sebelum-sebelumnya, Dyze menghembuskan asap berwarna ungu kehitam-hitaman dari tubuhnya.
“Apa ini?!” – Claire dan yang lainnya menutup mata mereka dengan tangan agar tidak menghalangi jarak pandang.
Hanya Chloe yang terlihat tidak melakukan apa-apa, dia hanya melihat pemandangan itu dengan terpesona.
“Ini .. Dia pernah melakukannya dulu ..”
Mereka bingung dengan hal yang digumamkan oleh Chloe. Apakah itu berarti ‘Sesuatu’ yang digunakan Dyze sekarang bukanlah pertama kali dia menggunakannya?
Dyze yang diselimuti asap itu merasakan sesuatu dari struktur tubuhnya mulai berubah satu per satu, namun dia tidak merasakan adanya rasa sakit sedikitpun.
“Benar-benar berubah ..”
Dyze menggerak-gerakan tangannya yang terasa asing baginya. Beberapa saat kemudian asap yang menyelimuti tubuh dan sekitarnya perlahan lenyap dengan sendirinya.
“Siapa dia!?”
Arcandra, Argus dan yang lainnya melihat sosok asing di hadapan mereka langsung berada pada kuda-kuda siaga, namun Chloe mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat: “Ini akan baik-baik saja.”
“..? Tunggu dulu ..?” – Claire sepertinya mulai menyadari dan melonggarkan kuda-kudanya, hal itu disusul oleh yang lainnya.
“Kalian sempat tidak mengenaliku?”
Mereka semua serempak mengangguk, dan mulai memberikan masing-masing komentarnya.
Dimulai Dari Chloe.
“Yah kalau aku tidak mengenali asap khas itu mungkin aku juga tidak akan sadar ..”
Claire.
“Aku baru menyadarinya setelah memikirkan alasan logis asap itu datang.”
Argus.
“Jika nyonya Chloe dan Claire tidak bertindak mungkin hamba tidak akan pernah mengenali anda.”
Arcandra.
“Benar apa yang dikatakan oleh Argus. Itu terlalu mengagumkan!”
Eleina.
“Hamba tidak tahu harus berkomentar seperti apa tapi .. Itu sangat mengesankan.”
Xelyn.
“Sama seperti Argus, jika nyonya— Claire tidak mengambil tindakan mungkin hamba juga tidak akan menyadarinya ..”
Alpha.
“Pendapat hamba tidak terlalu jauh dengan mereka, Tuan.”
Beta.
“Hamba terlalu bingung untuk berkomentar seperti apa .. Tapi yang paling mendekati ialah perkataan Alpha.”
Omega.
“H-hamba rasa itu sangat mengagumkan Tuan!”
Gamma, dia menyanjung Dyze sambil menggoyangkan kepalanya keatas dan kebawah.
“Tuan kita memang selalu mengesankan!”
Delta, dengan ekspresi datarnya, dia tetap mencoba untuk terlihat alami.
“Bagaimanapun juga anda adalah Tuan kami.”
Kemudian terakhir, Livia, dia bertepuk tangan dengan gembira.
“Iya! Dia selalu membuat kita semua merasakan hal baru!”
Mendengar perkataan Livia, mereka semua tersenyum.
Chloe mengangkat pundaknya lalu bergumam:
“Kalau kamu bisa melakukannya, Noire pasti akan semakin bergairah padamu.”
Pernyataan Chloe dibenarkan oleh Athena.
[ Kemungkinan besar anda dapat melakukan peniruan pada keterampilan saat form-form dari anda terbuka. ]
Dyze menghela napas lalu melihat ke langit.
“Lalu kapankah itu?”
[ Tidak diketahui. Perhitungan korup. ]
“Itu sudah terduga. Tidak terlalu mengecewakan sebenarnya sih.”
Asap itu kembali berhembus dari tubuhnya, mengubah penampilan Dyze yang tadinya seperti manusia dengan rambut pirang bertopeng yang pernah dia lihat sebelumnya di kota Xelyn.
Kini penampilannya berubah seperti pada biasanya.
Setelan baju casual lengan pendek dengan jubah yang menutupi bagian belakang tubuhnya, celana panjang namun fleksibel sehingga tidak membatasi pergerakan, sorot mata merah tajamnya yang menyala di kondisi tertentu, dan perkataan pedas yang keluar dari mulutnya.
“Tidak buruk. Seharusnya ini akan berguna kelak.”
Dyze mengepalkan tangannya kemudian melihat ke langit yang kini telah cerah tidak seperti sebelumnya yang penuh dengan badai abnormal.
“Sekarang kita hanya perlu menempuh tujuan baru.”
Perkataan Dyze membuat mereka semua tersenyum, Dyze pun memerintahkan Hydra untuk kembali membawa mereka ke ujung timur laut benua Arbeltha.
“Khiirk!” – Sejauh apapun perjalanannya, asal dia bersama Tuannya tercinta, Hydra pasti akan menempuh dengan keempat kakinya sendiri.
---
Di suatu tempat di pelosok Neiphr.
“Raiden. Kau merasakannya, bukan?”
“Iya, Tuan. Bumi berhenti bergetar, seolah bencana yang tadi terjadi tidak pernah ada sebelumnya.”
Terdapat 2 orang siluet yang saling berbicara, salah satu diantara mereka sedang duduk di takhtanya yang terbuat dari kerangka ular naga.
“Orang itu sedang mengumpulkan kekuatannya kembali, dia sedang merangkak keluar dari lubang neraka Dunia yang sedang menghalanginya, suatu saat dia pasti akan mengguncang seluruh semesta yang ada.”
“…”
Individu bernama Raiden itu tidak berkomentar apa-apa, dia hanya melihat Tuannya sedang tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di tangannya.
“Aku semakin tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba.”
Perkataan itu tidak hanya sekali saja diucapkan dari mulut tuannya, Raiden telah berkali-kali mendengar hal itu dari Tuannya.
“Maaf jika menyela ..”
Karena ingin mengetahui jawabannya, dia memberanikan diri untuk mengutarakannya langsung.
“Hm?” Tawanya berhenti. Alisnya mengkerut, dan siluet Tuannya itu menghadap ke arahnya.
“Apa?” Satu kata itu dikeluarkan dengan suara berat, membuat Raiden menjadi gemetar tidak karuan.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah gemetar di hadapan seorang makhluk hidup di Neiphr, tapi .. Orang yang menjadi tuannya itu begitu berbeda dari seluruh penghuni Neiphr.
Glekk.
Raiden menelan ludah, dia tahu bahkan dengan hembusan napas tuannya saja dia dapat terbunuh dengan begitu mudah.
“Ha-hamba ingin tahu ..” Raiden berusaha melanjutkannya, karena jika hanya diam, tuannya pasti akan kecewa dan langsung membunuhnya saat itu juga.
“…”
Karena tuannya hanya diam saja, Raiden tahu bahwa ini salah satu isyarat baginya untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa anda tidak mendatanginya sekarang saja, Tuanku?”
“Itu tidak akan menarik lagi. Meski aku sekarang tahu dimana pun mereka berada, jika aku langsung mengeksekusinya ..”
Raiden melihat Tuannya seperti bertingkah seolah menggenggam sesuatu.
Dan saat Raiden bergeser beberapa centimeter dari tempat sebelumnya, dia melihat tuannya sedang menggenggam sebuah benda langit dalam wujud hologram.
“… Penantianku selama berjuta-juta tahun akan hangus seketika.” Tuannya secara sengaja menghembuskan napasnya ke arah hologram itu secara berkala.
Dan secara tiba-tiba Bumi(tanah) berguncang hebat, hampir meruntuhkan segala yang ada di atasnya.
Namun semua itu berhenti saat tuannya menarik kembali napasnya.
Ini terlalu mengerikan.
Meski aku dulunya pernah menyaksikan kejadian serupa seperti ini, tetap saja aku terlalu sulit untuk terbiasa.
Arc 2— Arbeltha— End.