The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 50. Pengalaman Pertama Yang Direbut Darinya



Pada akhirnya Dyze dan lainnya kini mampu menginjakkan kaki di Arbeltha tanpa ada gangguan yang berarti.


“B-“ – Claire seperti ingin membicarakan sesuatu namun selalu kalah cepat dengan Chloe.


“Apa yang akan kamu lakukan dengan Makhluk sebesar ini? Tidak mungkin kan jika dia ikut bersama kita dengan ukuran tubuhnya sebesar gunung..?”


“Hmm benar juga..” Dyze memegang dagunya dan mulai memikirkan tindakan selanjutnya.


“Khiirk..” – Suara Hydra terlihat sedih saat mendengar perkataan Chloe, meski mereka tidak dapat memahami bahasanya, mereka tahu bahwa Hydra akan sedih dan kecewa apabila ditinggal.


‘Bagaimana menurutmu?’


[ Izinkan saya menjawab pertanyaan. Gunakan saja sihir Invisible dengan diperkuat Skill Anti-Sense. ]


'Begitu. Dengan sihir Invisible saja tidak akan cukup karena masih dapat dirasakan aura serta masih (dapat) menyentuh objek di sekitarnya ya.


Untuk menutupi kecacatan-nya maka digunakanlah Skill Anti-Sense yang memiliki kemampuan untuk membuat penggunanya tidak dapat disadari atau dirasakan oleh indra orang lain.., ya'


[ Anda sangat mudah memahaminya, saya terpukau. ]


'Hanya masalah spele.'


“Baiklah, aku telah menemukan jalan keluarnya.”


Dyze mulai berjalan menuju Hydra dan memakaikannya sihir Invisible terlebih dahulu.


“Invisible? Bukankah itu percuma? Dengan tubuh sebesar itu, dia masih dapat merusak objek disekitarnya..” – Chloe bergumam pada dirinya sendiri, Argus mengangguk karena sependapat dengannya, sedangkan Claire dia hanya mengamati apa yang dilakukan Dyze tanpa meragukannya.


『 Anti-Sense 』


“Ap-!?”


Mereka mulai waspada karena kini tidak dapat merasakan hawa kehadiran si Hydra, tiba-tiba Argus menjadi tenang dan menepuk telapak tangannya dengan kepalan tangan hingga menimbulkan suara ‘Pong’.


“Jadi begitu! Anti-sense, sebuah Skill yang terbilang langka karena dapat membuat penggunanya mampu menghilangkan diri secara total dari indra lawan..”


Chloe yang mendengar itu langsung mendapatkan point-nya, dia menyentuh dagu dan mulai berbicara.


“Sihir Invisible yang dapat membuat penggunanya menjadi menghilang dari penglihatan lawan.. Jika diperkuat dengan Skill Anti-sense yang dapat menghilangkan indra, maka gabungan kedua skill ini akan membuat penggunanya nyaris tidak dapat dirasakan sedikitpun!”


“Kamu hebat, Dyze! Dapat memikirkan cara seperti ini!” – Claire yang tidak dapat giliran untuk berbicara pun memutuskan untuk memujinya terlebih dahulu.


“Huh. Tidak juga.”


Meski jawabannya dingin, Claire tidak kecewa, dan Chloe menjadi cemburu, karena mereka tahu bahwa Dyze terlihat senang saat dipuji.


“Sudah basa-basinya, ayo kita jalan.”


“Ayo~!”


“Siap, Tuan.”


“Khiirk..”


“Ssst.. jangan terlalu berisik.” Dyze memperingatkan Hydra untuk tidak terlalu banyak mengeluarkan suara, Hydra itupun mengangguk tanpa suara.


Mereka berjalan menelusuri hutan yang berada di ujung dari Arbeltha, menurut penjelasan dari Sven seharusnya hutan di Arbeltha tidak begitu besar dan banyak.


“Waaaaah!”


“Indah sekali ya..”


“Ini danau yang paling memukau selama saya hidup, Tuanku.”


“.. Memang indah sih. Kurasa tidak sia-sia kita kesini.”


Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 menitan untuk dapat menemukan Spot(tempat atau titik) yang indah untuk melepas Stress dengan mandi dan melihat ke langit malam.


Setelah menaruh dan merapikan barang bawaan, Dyze mulai melepaskan bajunya.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” – dia dapat merasakan ‘tatapan tidak nyaman’ dari Chloe dan Claire.


“A-ah tidak, tidak ada.”


“Permisi, aku ingin ganti baju terlebih dahulu.”


Pertanyaan Dyze membuat mereka salah tingkah, Chloe menyusul Claire yang terlebih dahulu pergi untuk mengganti bajunya.


“Hufft..”


Dyze merasa tenang, setelah melepas bajunya, dia menaruhnya di dekat tas, kemudian melepaskan celananya saat akan berendam di danau di danau.


“Nikmatnya.. Meski sudah dingin sih.”


Dyze kini tidak menggunakan pakaian sehelaipun, dia menggunakan sihir Blur untuk menutupi ‘tongkat’ miliknya.


“Menunggu apa lagi kau, Argus? Lihat, si Hydra saja sudah menikmati danaunya..”


“I-iya..”


Argus pun membuka pakaian bagian atasnya, saat ingin melepas celananya, dia menjadi sedikit ragu-ragu.


“Buka saja. Lagipula siapa yang tertarik untuk melihat milikmu?”


Argus yang mendengar itu menjadi malu dengan dirinya sendiri, dia langsung cepat-cepat melompat setelah membuka celananya.


Byurr!


Gelombang air berukuran 3 meter tercipta akibat Argus melompat dengan keras.


“Pelan-pelan saja! Tidak ada yang akan mengincar benda milikmu!”


“Ma-maafkan hamba.”


“Lupakan..”


Dyze mulai menatap ke arah langit, dari matanya terpantul bayangan cahaya bintang yang gemerlap, seolah dituntun oleh sorot matanya, Argus juga melihat langit dan terpukau dengan bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.


“Bukankah para wanita itu lama sekali?”


---


“Bagaimana ini..”


Claire gelisah, dia takut jika Dyze puas dengan penampilannya, Chloe yang begitu optimis menjadi heran padanya.


“Apa yang kamu gumamkan? Tidak percaya diri? Oh ayolah!”


“Lihat, kulitmu begitu lembut dan sensitif. Mungkin setara atau bahkan lebih baik dari milikku.. Dada yang kamu miliki juga besar dan menggoda. Rambut milikmu begitu halus dan harum..”


Dia mencubit pipi Claire layaknya sepasang saudari dan mencoba meyakinkannya.


“Jadi apa yang kamu takutkan dengan memiliki tubuh sempurna seperti itu?”


“Emh, ehmm, mmhm!”


Setelah menyampaikannya, Chloe melepaskan tangannya dari pipi Claire.


“Fuff.. Memangnya kamu kenapa begitu memperhatikanku?”


Chloe secara mendadak berjalan ke depannya dan melipat tangannya ke belakang, cahaya bulan tiba-tiba menembus hutan dan menyorot Chloe, membuat wajahnya menjadi lebih bersinar dari biasanya saat berbicara mengenai jawaban dari pertanyaannya.


“Waktu itu, aku kagum dengan keputusanmu. Karena keberanianmu aku dapat merasakan ketulusan hatimu. Dengan wanita hebat sepertimu berada di sisinya sama sekali tidak membuatku keberatan…”


“Chloe..”


“Eh? Kenapa kamu menangis?”


Claire berkaca-kaca, dia tidak menyangka Chloe menganggapnya seperti itu, selama ini Claire mengira dia bersaing dengan Chloe secara sepihak, ternyata Chloe telah menerima keberadaannya lebih dari yang dia kira.


“Tidak kok! Kali ini mari kita bersaing dengan adil!” – Claire menyapu air matanya dan langsung melompat memeluk Chloe.


“Wo-woah! Dadamu—maksudku, bukankah dari awal memang begitu?!”


“Tidak, kali ini akan lebih serius.”


Claire pun berjalan keluar dengan hanya menggunakan handuk meninggalkan Chloe yang heran melihat perubahan drastis sifatnya.


Dia pun berjalan dari belakang mengikutinya.


---


“Dyze!”


Kedua wanita cantik jelita dengan body-nya yang memikat mulai berlari ke arah seorang pemuda yang mereka sebut sebagai Dyze.


Mereka sama-sama menggunakan handuk untuk menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya, kedua wanita itu merupakan Claire dengan rambut merahnya yang halus dan Chloe dengan rambut hitamnya yang lurus serta tubuhnya yang masih memiliki aroma wangi yang khas meski telah berhari-hari belum membasuhnya.


Claire terlebih dahulu melompat ke danau, setelah itu disusul dengan Chloe, karena mereka datang dari arah kiri, Chloe langsung mengamankan tempat di sisi kiri Dyze, sedangkan Claire menduduki tempat di sisi kanan Dyze.


Meski Danaunya memiliki kedalaman sekitar 300-500 meter, mereka dapat duduk tanpa tenggelam seolah gravitasi tidak berpengaruh, hal ini di karenakan mereka mampu untuk menahan atau memanipulasi berat badan mereka agar menjadi lebih ringan dari massa air itu sendiri, singkatnya mereka memanfaatkan daya apung agar dapat duduk layaknya terdapat tanah di bawah mereka.


Dan secara logika seharusnya Claire yang berada di samping kanan Dyze lebih dekat darinya dibanding dengan Chloe yang berada di sisi kiri.


Namun setiap dia ingin berbicara, Chloe selalu saja mendahuluinya.


“A—“


“Hei Dyze..”


“Apa?”


Karena tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, Claire pun menutup rapat mulutnya, tapi meski begitu kini dia tidak ada lagi perasaan sedih maupun emosi negatif lainnya, karena kini mereka tengah bersaing.


Seperti peribahasa kuno: Siapa cepat, dia yang dapat. Siapapun yang menang maupun kalah, tidak boleh menyimpan dendam maupun emosi negatif lainnya.


Claire pun hanya menyimak pembicaraan mereka dan menunggu kesempatan untuk merebutnya dari Chloe.


“Kenapa kamu begitu menyukai langit malam? Bahkan menurut ingatan yang ku dapat, dirimu di semesta lain juga demikian..”


Pertanyaan itu benar-benar membuat Claire tertarik untuk mendengar jawaban atau tanggapan dari Dyze.


Melihat wajah Dyze yang begitu menarik baginya saat melihat langit malam membuat hatinya berdegup semakin kencang, terutama saat dia ingin menjawab pertanyaan Chloe, detak jantungnya menjadi semakin berisik.


“Aku tidak begitu memperhatikan langit malam, aku hanya menyukai bintang yang berserakan di atasnya.” – dia kemudian kembali menatap ke langit, dan Chloe kembali menanyakannya.


“Lalu apa yang kamu sukai dari bintang?”


“…”


Dyze diam sejenak tidak menjawabnya, dia terus memandangi langit dan saat dia menjawabnya tiba-tiba cahaya bintang seolah menyinari wajahnya, membuat apa yang dibicarakan oleh Dyze langsung menancap di hati Claire.


“Aku hanya kagum pada bintang-bintang. Mereka selalu diliputi dengan kegelapan namun bukannya jatuh pada jurang kegelapan, mereka justru semakin bersinar terang. Dan aku yakin kita semua akan menjadi seperti bintang dan layak untuk menerangi Dunia ini dari kegelapan..”


Jawaban Dyze membuat semua orang yang mendengarkannya menjadi tertegun, suara Dyze menjadi bergema di kepala Claire dan terus terulang.


“Yah meski aneh kata-kata itu keluar dari seorang Dewa Malapetaka sepertiku sih..”


Bahkan setelah mendengar pernyataan seperti itu, Claire tidak memperdulikannya sama sekali, dia juga dapat melihat Chloe yang tercengang saat mendengar jawaban Dyze.


Ini kesempatanku!


“Permisi.”


“Ya—“


“Chuu~”


“..?!”


“Ap--!?”


“Woah!”


Claire terlebih dahulu menepuk pundak Dyze supaya dia melihat ke arahnya, saat wajah mereka telah saling bertatapan, Claire langsung memegang dagu Dyze, setelah itu dia menutup matanya lalu mendekat dan—


Mereka berciuman di malam hari yang dimana langitnya memiliki ribuan bintang bersinar seolah bersuka cita atas keberhasilannya.


Meski Dyze terkejut dengan tindakannya, dia tidak melepaskan Claire, Claire pun membuka mata dan melihat ke arah Chloe lalu memasang senyum kemenangan.


“Fuwah..”


Claire pun melepaskannya setelah beberapa saat. Dyze yang terlihat masih tidak mengerti bertanya padanya.


“Mengapa kau melakukannya?”


“Ah.. Maafkan aku jika itu membuatmu tidak nyaman..”


“… Pertarungan antar wanita ya? Aku tidak ingin memahami dan berurusan dengan hal rumit, lakukanlah sesuka kalian.”


Perkataan Dyze merupakan lampu hijau bagi mereka, Claire pun melihat Chloe yang terlihat kesal dan cemburu, tapi bagaimanapun juga, ini adalah persaingan, dalam persaingan, merebut dan direbut merupakan suatu hal yang biasa terjadi, karena dia telah kalah, dia harus menerimanya.