The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 58. Leviathan Telah Mati



“Saya melakukan ini semua semata-mata hanya demi Tuanku seorang..”


“Maksudmu?”


“Saya diberitahu oleh seseorang bahwa Tuanku, Leviathan sang monster lautan telah mati. Dan demi mencari tahu kebenaran itu saya ingin menggunakan Relic dari ras Xana, yang konon katanya dapat mengetahui rahasia seisi lautan..”


“Relic yang memiliki kekuatan mengetahui rahasia lautan.. ‘kah? Lalu ‘seseorang’ yang memberitahu mu, itu siapa?”


“Saya mendapatkannya dari Behemoth, sang penguasa daratan. Dia merupakan rekan sekaligus rival dari tuan Leviathan..”


“Begitu.. Informasi-informasi ini memang cukup berharga. Apakah hanya ini saja?”


“Benar sekali! Saya—tidak, hamba memohon dengan amat sangat untuk menukarnya dengan nyawa hamba. Setidaknya biarkan hamba mati dengan tenang..!”


Meski Dyze merupakan orang yang kejam dan tidak memiliki perasaan simpati atau empati sedikitpun pada makhluk hidup, dia bukanlah tipe orang yang melanggar perkataannya sendiri.


“Sheesh.. Sesuai perkataanku. Kau akan kubiarkan mati dengan tenang.”


“Terima kasih dengan amat sangat!”


“Chloe.”


“Ya. Sesuai perintah.”


“Tapi sisakan jantungnya, itu penting.”


“Baiklah.”


Chloe dengan pedang biru di tangannya langsung melesat ke arah Medusa dan langsung menusuk jantungnya di saat itu juga.


Dengan tubuhnya yang mulai melemah, Medusa berterima kasih pada Chloe dan Dyze karena telah mengabulkan permintaan terakhirnya.


“Terima kasih.. Setidaknya dengan ini.. Aku akan bertemu dengan Tuan Leviathan di kehidupan yang baru..”


Dan Medusa pun menghembuskan napas terakhirnya pada pelukannya dengan Chloe. Di saat itu juga Chloe langsung mendorong jantung Medusa hingga terlepas dari tubuhnya.


Setelah itu Argus diperintahkan untuk membakar mayatnya.



"Ini. Untukmu."


Dyze melemparkan jantung Medusa yang ada di tangannya ke arah Claire, dia pun menangkapnya dan bingung apa maksud Dyze memberikan sesuatu yang berharga seperti itu padanya.


"Ini..?"


"Anggap saja sebagai hadiah.., Kurasa?"


"Hadiah..?"


“Jika kau tidak sigap dalam memasang Barrier untuk mengurung kami entah apa yang akan terjadi nanti.”


Claire merasa sangat bahagia, karena ini merupakan bukti terbesar bahwa Dyze memperhatikan segala tindakan yang ia lakukan untuknya.


Sedangkan Chloe terlihat mendekati Dyze dan menggosokan kepalanya pada Dyze layaknya sebuah kucing yang bermanja dengan Tuannya.


“Giliranku?”


Dia menanyakan itu dengan mata berbinar-binar, dan karena tidak tahu ingin memberikannya apa, Dyze pun hanya mengelus kepalanya dan berkata:


"Chloe telah berkerja keras.."


Hanya itu, meski terlihat spele di mata orang lain, namun bagi Chloe itu sudah cukup membahagiakan karena mendapatkan pujian serta pengakuan dari orang yang terbaik di hatinya.


"Kalau aku?" Argus melihat ke arah Dyze dengan penuh harapan.


"Aku tidak tertarik dengan laki-laki."


Dyze menjawabnya dengan singkat padat dan jelas, membuat hati Argus seperti tertusuk anak panah.


“Sial.. Aku lupa..”


“Ada apa Dyze?” – pertanyaan klasik itu keluar dari mulut Chloe dan Claire, sepertinya tidak satupun diantara mereka yang menyia-nyiakan kesempatan.


Dyze melupakan sesuatu, dia lupa bertanya dimana letak Relic itu sekarang.


“Maaf..” – Argus mengangkat tangannya, seolah menanti giliran untuk dipanggil.


“Kenapa? Apa kau mempunyai suatu cara?”


“Hamba bisa mencari segala yang dibutuhkan hanya dalam beberapa waktu saja, dengan mengkombinasikan Skill Radar Map dan memperkuat inderaku menggunakan sihir.”


“Begitukah? Kalau begitu yang disini aku akan menyerahkannya padamu.”


Dyze mulai berdiri dan menyuruh Hydra untuk mengangkat mereka.


“Baik.”


Dyze, Claire, dan Chloe menuju ke gua sebelumnya dengan membawa Livia yang masih tidak sadarkan diri.


Setelah membaringkan Livia di dalam gua, Dyze berjalan keluar ke mulut gua, dan duduk di pinggirannya.


“Untuk apa kalian mengikutiku?”


Chloe dan Claire duduk di kedua sisi Dyze, sama seperti di posisi sebelumnya; Chloe di kiri dan Claire di kanan.


“Tidak usah pikirkan hal spele seperti itu.”


Claire mengangguk setuju dengan perkataan Chloe, dan Dyze hanya menghela napas atas jawaban mereka.


“Dyze, kamu melakukannya dengan sengaja bukan?”


“Apa maksudmu?”


Dyze tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Chloe padanya.


“Kamu dari awal memang telah berniat untuk menyembuhkan lukanya dengan darahmu, karena itulah daripada mengobati luka ringan seperti sabetan cambuk ataupun tebasan pedang, kamu memilih untuk membuatnya sekarat terlebih dahulu agar manfaat dari darahmu tidak terbuang sia-sia.., begitu kan?”


Meski sempat tidak menjawab beberapa saat, pada akhirnya Dyze membuka suaranya.


“Kau terlalu memikirkannya.”


Meski kesannya Dyze seperti membantah, namun Chloe tetap percaya bahwa apa yang Dyze lakukan sesuai dengan dugaannya.


“Maaf, bisakah aku bertanya?”


Suara lembut dan lugu mengalir di telinga Dyze, dia juga dapat merasakan bajunya ditarik-tarik secara pelan olehnya.


“Boleh saja.”


“Akan kamu apakan jantung Medusa itu?” Claire menunjuk ke arah jantung Medusa yang berada di genggaman Dyze.


“Jantung ini cukup berharga..”


‘Menurutmu siapa yang pantas untuk menerimanya?’


[ Izin menjawab, apakah anda tidak menginginkannya? ]


‘Setidaknya tidak untuk sekarang.’


[ Kalau begitu, sesuai perhitungan saya maka Individu bernama Claire lah yang paling pantas untuk menerimanya. ]


Dyze menatap Claire, yang membuat dia bingung dan salah tingkah dengan sendirinya karena ditatap terlalu lama.


“Kurasa memang itu yang terbaik..”


Dia bergumam pelan, yang membuat mereka meminta Dyze untuk mengulanginya dengan suara lebih keras, namun dia meminta mereka untuk melupakannya.


“Buka tanganmu.”


“Eh? Begini..?”


Saat Claire membuka tangannya, Dyze langsung meletakkan jantung Medusa, yang membuat kedua wanita itu terkejut dan memasang reaksi yang berbeda.


Claire, dia tersipu malu dan dengan gugup berusaha berbicara, namun dia tidak dapat melakukannya dengan baik, sehingga kata-katanya menjadi tidak jelas dan hilang begitu saja.


Sedangkan Chloe, dia terlihat bertanya-tanya:


Apa yang kurang dariku?


Dan apa yang membuatnya lebih unggul dariku?


“Ini untukmu.”


“Untukku? Ba-bagaimana mungkin?”


Karena spontan mendengar kata itu membuat Claire dapat mengucapkan apa yang ada di benaknya.


"Anggap saja sebagai hadiah.., Kurasa?"


“Hadiah..?” kata itu tidak hanya keluar dari mulut Claire, namun juga keluar dari mulut Chloe, karena mereka berdua masih tidak menangkap maksud dari Dyze.


“Mm. Kalau tidak ada Barrier mu yang mengurung kami, entah apa yang akan terjadi dengan Arbeltha nanti.”


“Begitu ya..”


Claire merasa sangat bahagia, karena ini merupakan bukti terbesar bahwa Dyze memperhatikan segala tindakan yang ia lakukan untuknya.


Sedangkan Chloe terlihat mendekati Dyze dan menggosokan kepalanya pada Dyze layaknya sebuah kucing yang bermanja pada Tuannya.


“Giliranku?”


Dia menanyakan itu dengan mata berbinar-binar, dan karena tidak tahu ingin memberikannya apa, Dyze pun hanya mengelus kepalanya dan berkata:


"Chloe telah berkerja keras.."


Hanya itu, meski terlihat spele di mata orang lain, namun bagi Chloe itu sudah cukup membahagiakan karena mendapatkan pujian serta pengakuan dari orang yang terbaik di hatinya.