The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 17. Kematian Asmodeus?



Chapter 17. Kematian Asmodeus ?


Tidak lama kemudian tubuh besar Asmodeus berhenti mengeluarkan asap. Tubuh nya seperti terbuka dari dalam, para bawahan Asmodeus termasuk Klera berlutut saat menyaksikan hal itu terjadi.


Sebuah suara terdengar bersamaan dengan terlihat nya figur pemuda yang bermata hijau Emerald, memiliki rambut runcing seperti rumput yang hijau, dan sama sekali tidak memiliki sayap.


Dia hanya memiliki sepasang tanduk yang menjulang, jika dia juga tidak memiliki tanduk maka akan dipastikan dia terlihat sepenuhnya seperti manusia.


“Sombong sekali. Mari kita lihat akan sampai mana sombong mu itu bertahan.”


--


“A-apa itu?!”


Sosok yang menggunakan jubah itu menunjuk ke langit, terlihat sebuah api berbentuk pilar menyembur ke langit.


Se isi kota mengira itu adalah kekuatan dari Asmodeus, namun hanya Claire seorang saja yang berharap itu adalah ‘Skill’ yang dimaksud oleh Dyze.


Claire sekarang telah berhasil mendekati gerbang, meski dia tidak dapat keluar karena banyak sekali warga yang menghalangi jalan dan tangan serta kaki nya yang masih terikat, dia kini dapat melihat keluar gerbang.


Claire mencari sosok Dyze, dan setelah beberapa saat mencari, dia menemukan nya, Dyze berjarak ratusan meter dari gerbang, tapi meski jarak nya yang jauh Claire dapat melihat nya dengan baik.


Claire juga dapat melihat Chronoa dan Eiria yang sedang bersembunyi di balik bebatuan untuk menghindari kemungkinan mereka dapat dilihat oleh pasukan Asmodeus yang berjarak ratusan meter dari mereka.


Tapi meski begitu Claire terlihat khawatir saat melihat sosok pemuda yang keluar dari tubuh Asmodeus, mungkin Claire merasakan sesuatu yang tidak Dyze rasakan saat ini.


“Dyze.. Kuharap kamu akan baik baik saja. Yang ada di hadapanmu saat ini adalah kekuatan sejati dari raja iblis Asmodeus..”


Sosok berjubah itu tiba tiba bertanya pada salah satu warga.


“H-hei, apakah menurutmu para buronan tadi benar benar sudah mati?”


“Tentu saja! Mana mungkin ada orang biasa yang dapat selamat dari itu.”


“Kalau begitu apakah Light Elf yang dimaksud juga tewas?”


“Itu..”


“Jika iya, mengapa sampai saat ini Raja Iblis Asmodeus tidak menghanguskan kota?”


“…”


“Dan, mengenai pilar api tadi, bila itu kekuatan dari Raja Iblis Asmodeus, dengan siapa dia bertarung? Tidak mungkin dia menggunakan kekuatan nya secara sia sia bukan?”


Orang itu tidak dapat menjawab nya. Dalam lubuk hati terdalam, para warga juga berpikir demikian, ada sesuatu yang ganjil sedang terjadi. Menyela pembicaraan, ada seorang warga yang dengan santai dan percaya diri berkata:


“Yah itu tidak penting, yang penting sekarang kita selamat. Jika memang yang melawan Raja Iblis Asmodeus adalah para buronan itu, dan dia memenangkan nya, maka skenario terburuk akan menimpa kita.”


Beberapa warga melihat ke belakang, menuju sumber suara. Mereka menemukan seorang pemuda dengan rambut putih dan mata biru nya sedang melipat tangan. Salah satu warga menanyakan apa yang dimaksud pemuda itu.


“Raja Iblis Asmodeus seorang monster bukan? Jika ada seseorang yang dapat mengalahkan nya maka dia adalah monster sesungguhnya, jika orang itu memenangkan nya, dia adalah sang ‘Monster’ yang dimaksud. Dan dia pasti akan membalas dendam atas perbuatan yang kita lakukan.”


--


Asmodeus pelan pelan menggerakan kaki kanannya ke depan, membuat retakan di tanah pijakannya. Bergerak dengan kecepatan yang bisa membuat angin sebagai perbandingan terlihat pelan di hadapannya.


Asmodeus mendekat, dipenuhi dengan amarah di mata nya. Hanya membutuhkan sekali langkah saja untuk mencapai Dyze.


Langkahnya membuat tanah yang telah retak sebelumnya menjadi hancur.


Dengan tatapan intens penuh kebencian dan kemurkaan yang di tunjukan untuknya,


Asmodeus mengayunkan kapak dengan kecepatan penuh.


Namun meski kapak itu sedang mengincar tepi lehernya, Dyze tidak bergeming.


Tanpa diduga, Dyze menangkap kapak itu dengan jarinya, lalu membuka mulut dan berkata dengan senyum yang terlukis di wajahnya:


“Langsung mengarah ke titik vital ya? Bersemangat sekali kau kelihatannya. Yah itu sudah seharusnya!”


Asmodeus tercengang. Sebuah pemandangan yang mustahil bagi Asmodeus disaksikan secara langsung olehnya , ia tidak akan mengira wujud yang memiliki 10x kecepatan dari sebelumnya sedang mengayunkan kapak dengan kecepatan maksimal yang membuat udara sekitarnya menjadi meledak dapat ditangkis begitu saja, terlebih hanya menggunakan kedua jarinya.


Otaknya tidak dapat memproses ini semua. Ditengah kebingungan Asmodeus, Dyze justru menaikan alisnya.


“Apa? Hanya segini saja? .. Ternyata harapanku terlalu tinggi.”


Perkataan Dyze membuat Asmodeus mendapatkan kesadarannya kembali. Dia mendapatkan kembali tekad—dendam nya sebagai alasan bagi dirinya harus mengalahkan Dyze.


Dengan kecepatannya, Asmodeus menendang kapak yang berada di jepitan jari Dyze ke udara jauh dibelakangnya.


Asmodeus dengan sigap menjaga jarak nya, hingga saat dia merasakan jarak yang cukup dia melompat tinggi dan menggenggam, kapaknya di udara.


Meski melihat lawannya melarikan diri, Dyze terlihat tidak terkejut sama sekali, dia hanya bersiul seolah meapresiasi apa yang dilakukan Asmodeus.


Asmodeus yang sedang berada di udara, mencengkram kapaknya sekuat tenaga. Mempersiapkan kekuatan yang jauh lebih besar dan cepat dari sebelumnya. Otot tangan nya yang kurus menjadi membesar seperti lengan gorilla, bahkan telapak tangannya sampai mengeluarkan darah karena terlalu kuat mencengkram gagang kapak miliknya.


Dirasa sudah cukup kuat, Asmodeus dengan kuat melempar kapak itu, dia juga menggumamkan sesuatu yang menambah kecepatan dari kapak tersebut menuju Dyze yang tenang sedang menatapnya:


“Hancur dan lenyaplah dari Dunia. <[Asteroid Burn]>.”


Kalimat itu memicu ukuran dan kecepatan kapak Asmodeus. Kapak tersebut membesar seukuran Asteroid yang berdiameter 13Meter, dengan kecepatan hampir 10.000 KM/jam. Asmodeus sendiri tidak yakin dapat lolos dari kapak itu dengan kecepatannya.


Saking cepatnya, kapak itu terbakar karena bergesekan dengan udara. Dia melihat secara sekilas Dyze memasang senyum di wajahnya,


Apakah dia bisa menghindarinya kali ini? Tidak tidak, tidak mungkin dia—


— Saat itulah ketakutannya menjadi kenyataan.


Dyze lenyap saat dia mengedipkan mata, Asmodeus memeriksa sekeliling dengan cepat, di saat itulah terdengar ledakan dashyat.


Spontan dia melihat ke sumber suara, terlihat sebuah kawah super besar membentang di hadapannya, kapak nya yang telah menyusut tertancap disana.


Tepat saat itu dia merasa tubuhnya telah terbelah belah menjadi potongan kecil. Namun Asmodeus yang berkeringat dingin dan terengah engah disadarkan oleh tepukan di pundaknya.


“Mengerikan bukan? Itulah yang akan terjadi jika kau bergerak saat ini.”


Suara yang berat dan menekan membuat Asmodeus gemetar, seumur hidupnya dia tidak pernah dipermalukan selain oleh Noire.


Asmodeus ingin menggerakan tubuhnya, tapi seolah instingnya menolak, tubuh Asmodeus menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan.


“Yah tempat itu akan menjadi kuburanmu.”


Setelah mengatakan itu Dyze menendang tubuh Asmodeus menuju kawah raksasa yang sedang menganga dengan kecepatan yang sangat jauh berbeda.


Dengan kecepatan diluar nalar yang membelah angin, Asmodeus menghantam permukaan kawah itu dengan sangat keras. Hantaman itu membuat tanah menjadi meledak dan hancur berkeping keping, meninggalkan luka di wajah Asmodeus.


Dan dia dengan kebetulan mendarat tepat disebelah kapaknya yang tertancap. Dyze turun dari udara dan menginjakan kakinya ke tanah. Dia menguap dan menyentuh dagunya.


“Hmm, aku bosan. Apakah akhiri sekarang saja?”


Dyze memutuskan untuk mengakhiri permainan. Dia mengangkat tangan kanannya ke langit, seketika langit yang awalnya hanya mengeluarkan hujan menjadi berpetir petir.


Petir yang menggelegar itu seolah dalam genggaman Dyze, menyadari tuan nya akan dalam bahaya serius jika dia tidak berbuat apa apa, Klera melesat menuju kawah itu dengan kecepatan penuh, diikuti dengan para pasukan Asmodeus yang tersisa.


Dyze menyadari sesuatu datang dengan kecepatan tinggi, Dyze berbalik. Dia melihat Klera seorang diri menerjang menggunakan tombak ke arahnya. Tatapan kebencian tertanam dalam matanya, yang membuat Dyze tertawa.


“Apa? Ingin bermain?”


Klera merespon saat tusukan tombaknya


ditangkis oleh pedang di tangan kiri Dyze.


“Ya. Biarkan aku menjadi lawanmu!”


Dyze hanya tersenyum mendengar jawabannya.


Meski menggunakan tangan kiri, Dyze tidak terlihat kesusahan menangkis serangan dari Klera.


Tusukan menyamping – ditangkis.


Tusukan vital – ditangkis.


Tusukan sisi – ditangkis.


Merasa serangannya sia sia, Klera berdecih lalu menjaga jarak. Senjatanya yang awalnya tombak terlihat mencair dan membentuk sebuah Crossbow.


Dyze terpukau karena belum pernah melihat seperti itu sebelumnya. Disaat Klera sedang mengisi kekuatan, rombongan pasukan Asmodeus tiba di belakangnya.


Merasa aneh saat melihat arah terbang mereka, Dyze menoleh ke arah dimana Asmodeus terbaring. Dan dia mendapati Asmodeus tidak berada disana. Melihat ke sekeliling kawah, Dyze akhirnya menemukan Asmodeus sedang berada diluar kawah tepat segaris lurus di belakang mereka.


Perhatian Dyze terbagi saat mendengar Klera berkata dengan wajah tersenyum.


“Terlambat.”


Crossbow milik Klera bercahaya, sepertinya Klera juga mendapatkan tambahan kekuatan dari pasukan Asmodeus di belakangnya.


Bersamaan dengan itu Dyze menurunkan tangan ke arah Klera dan pasukan Asmodeus di belakangnya. Tiba tiba tercipta sebuah ruangan putih yang seolah mengurung mereka.


“A-apa ini!?”


Klera mencoba membebaskan diri namun pergerakannya seolah dibatasi oleh ruangan itu. Ruangan putih itu pun mulai bertambah terang, hingga membuat Klera dan orang orang di dalamnya tidak dapat membuka mata.


Namun sebuah teriakan membuat mata mereka terbuka sepenuhnya.


“KLERAA!”


Sebuah teriakan murni yang berisi ke khawatiran, sebuah sosok pemuda yang sedikit lebih kecil dari Dyze melesat ke arah mereka.


Menyadari situasi, Klera mengucapkan perpisahan sambil mengalirkan air mata.


“Maafkan aku Tuan. Aku tidak dapat menemanimu lagi setelah ini..”


Suara serak dan sendu dari Klera membuat suasana menjadi haru. Perkataan Klera yang didengar Asmodeus membuatnya berkaca kaca.


Di detik detik terakhir tangan mereka berhasil bersentuhan di ruangan seperti kaca itu, sampai dimana—


JDAAR!


Sebuah petir raksasa menyambar mereka. Yang tersisAa hanyalah abu dari tubuh mereka saja, kata kata terakhir yang keluar dari mulut Klera adalah:


“Sampai jumpa. Aku mencintaimu.. Suamiku…”


Asmodeus menabrak ruangan itu, sebelum akhirnya ruangan itu seperti terbuka dan menerbangkan abu di dalamnya.


Asmodeus terlihat memeluk abu dari Klera. Asmodeus terguncang, penglihatannya menjadi merah seperti, rasa dendam, haus darah, kebencian nya meluap luap, dia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya.