The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 96. Anggota Eksekutif The Sinners



Karena merasa membuang waktu, Eleina menjaga jarak, pria dengan nomor 12 itu sepertinya juga memikirkan hal yang sama seperti dia.


“Aku akan mengakhirimu dalam sekali gerakan.” Pria dengan nomor 12 itu memasang kuda-kuda dan menyarungkan setengah dari pedangnya.


Eleina juga melakukan hal yang sama, dia memasang kuda-kuda, menempatkan kedua belati di sisi pinggangnya, mengambil napas dalam dan menghembuskannya, sekilas itu terlihat seperti sebuah asap yang keluar dari mulutnya.


“Head Slasher!”


『 Dark Step: Finishing 』


Saat pria nomor 12 itu mengeluarkan seluruh tenaganya dalam mengeluarkan pedangnya untuk memotong leher Eleina dengan kecepatan melebihi supersonik, sebuah tebasan seukuran kepala tercipta, terbang ke arah Eleina dalam upaya membunuhnya dalam sekejap.


Tebasan itu mulai mendekat ke arah Eleina.


Semakin dekat ..


Dan saat tebasan itu hampir mengenai kepalanya, Eleina tiba-tiba melangkah kesamping kemudian menunduk untuk menghindari serangannya.


Hasilnya tidak ada satu helai rambut sekalipun yang terpotong, tapi karena Eleina hanya menghindar, serangan itu mendekati gua dan ingin menerobos masuk.


Beruntungnya, Arcandra yang ada di sana menangkisnya tanpa perlu berusaha sedikit pun.


Setelah memastikan belakangnya aman, Eleina melangkah kembali ke arah pria itu, namun ada yang berbeda.


Langkah darinya membuat tanah retak dan hancur berkeping-keping, hanya dengan satu langkah dia dapat menutup jarak puluhan meter jauhnya, hanya dalam 3 detik dia telah berada di depan wajah musuhnya.


“Ap--?!”


Belum sempat bereaksi, Eleina langsung menyilangkan kedua tangannya dan menebas kepala pria itu hingga melayang dan tergeletak di tanah.


Dyze dan yang lainnya keluar dari semak-semak, dia sedikit berkomentar mengenai apa yang ditunjukan Eleina.


“Kau lebih kuat dari sebelumnya.”


Eleina berusaha menyanggah dengan berdalih:


“Terima kasih atas pujian anda Tuan. Tapi menurut hamba orang ini lebih lemah dibandingkan banteng—Taurus yang pernah hamba lawan sebelumnya.”


Dyze menggeleng kemudian menepuk bahunya.


“Tidak juga. Saat itu kau hanya buru-buru mengincar titik vital darinya, tanpa menggunakan teknik sedikit pun. Dan sialnya dia memiliki kelebihan dalam hal ketahanan.”


“.. Tuan.”


Eleina terdiam sejenak kemudian menyusul Dyze dan yang lainnya memasuki gua.


Jauh di dalam gua, terdapat suara seperti dua orang yang sedang saling berbincang.


Sambil berjalan santai mereka mendengarkan apa yang kedua orang itu bicarakan.


“Hei apakah menurutmu persembahannya gagal?”


“Tidak mungkin tuan! Bukti badai abnormal yang terjadi beberapa jam lalu itu merupakan tanda dari kebangkitannya!”


“Lalu bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang?!”


“…”


Mereka sedang membicarakan sesuatu, sepertinya ini berhubungan dengan Shub-Niggurath yang telah bangkit tidak lama ini.


“Siapa yang kalian maksud, kebangkitan dari ‘nya’ ?”


Mereka telah sampai di ruangan polos dimana beberapa orang berada di sana.


2 orang di antara mereka menggunakan ban lengan perak dan nomor masing-masing yang dipegang mereka ialah 29, lalu 46.


2 orang lainnya memiliki ban lengan berwarna hitam kemudian berwarna perak, dengan nomor 5, dan 1.


“Siapa kalian?! Dimana penjaga yang sedang bertugas!?”


Orang dengan ban warna hitam meneriaki mereka, hal ini sedikit membuat Dyze jengkel.


“No. 29 Serang dia!”


“No. 46 Remukkan tulangnya!”


Nomor 29 dengan senjata tombak berusaha meraih Dyze kemudian menusuknya, dan no 46 dengan senjata palu besi tangguh miliknya menyerang dari atas.


Dyze hanya menghela napas kemudian menatap mereka dengan tatapan beku.


“Lenyaplah.”


『 Nirvana Words 』


Hal ini membuat bingung kedua orang yang tersisa sekaligus membuatnya menjadi panik.


Karena arahan dari ban lengan warna hitam, orang dengan ban lengan perak no. 1 langsung melesat ke arah Dyze menggunakan pedang pendek miliknya.


Kecepatan orang itu berkali-kali lebih cepat dibandingkan orang yang dilawan oleh Eleina sebelumnya.


Namun dia dibuat terkejut setengah mati saat Dyze dapat menatapnya tanpa terganggu sedikitpun.


Bagi Dyze, seluruh pergerakan yang dilakukan orang sekitarnya saat ingin menyerangnya selalu melambat seperti waktu itu sendiri yang melakukannya.


Hal ini tidak ada kaitannya dengan Chloe, karena dia tahu bagi Dyze ini hanyalah masalah yang sangat sangat spele.


Dyze kemudian menatapnya dengan sorot mata kosong kemudian berkedip.


Bam!


Tiba-tiba tubuh orang itu meledak tanpa alasan yang jelas, darah berceceran kemana-mana, saat Dyze membuka matanya, tidak ada satu pun noda darah yang mengotori mereka.


Semua darah itu seolah berpusat pada orang terakhir—dengan ban langan warna hitam.


“Kiiekk!”


Dia gemetar, berusaha menjauh dari Dyze, namun percuma, kakinya tidak dapat berhenti bergoyang, dia kemudian meneguk air liur memberanikan diri berkontak mata langsung dengan Dyze.


Dan saat itu dia menyesalinya.


Dia benar-benar melihat hawa kematian, seluruh tubuhnya seolah membeku, tidak ada satu anggota badan pun yang dapat bergerak.


Dyze yang kini berada di hadapannya, menanyakan beberapa pertanyaan.


“Pertama. Siapa kau?”


Awalnya dia tidak bisa menjawab, tapi kemudian mulutnya tiba-tiba bisa digerakan.


“A-aku salah satu dari 7 anggota eksekutif The Sinners yang mewakili dosa keserakahan.”


“Kau?”


“Pfft.”


Hampir semua dari mereka tidak dapat menahan tawanya. Dyze melihat ke arah Eleina dan Nirvia.


Eleina menjawab sambil menggelengkan kepalanya:


“Saat hamba masih berada di sana, bukan dia yang menjabat sebagai dosa keserakahan.”


Nirvia juga melakukan hal yang sama.


“Bukan dia juga. Memang sih waktu itu orang yang memimpin sedang menggunakan topeng jadi tidak terlalu terlihat wajahnya, tapi yang jelas aura mereka begitu berbeda.”


Dyze menatapnya dengan kosong.


Hanya menatap tanpa berbicara.


Tapi meski begitu, dia merinding hebat, dan menjadi gagap.


“Ak—hamba tidak berbohong!”


Dyze memasang seringainya.


“Kata-katamu dengan kesaksian bawahanku kontradiksi lo.”


Dia begitu ketakutan hingga terkencing di celana.


“Ew. Menjijikan.”—Chloe, Claire, Arcandra dan Eleina menatapnya dengan jijik, lebih rendah dari hewan.


“Akan kuajarkan padamu bagaimana rasanya kematian.”


Seringainya semakin lebar, hingga pada titik mulutnya seolah akan robek karenanya.


‘Kirim dia ke dark space dan aktifkan infinite death loop.’


[ Dimengerti. Mengaktifkan skill yang diperintahkan .. ]


『 Mentransfer individu ke Dark Space 』


Orang dengan ban lengan hitam itu menghilang.


Hanya menyisakan pertanyaan di benak mereka.


Namun mereka hanya menatap satu sama lain tanpa ada yang bertanya.