
“Di sana! Komidi putar, aku ingin menaikinya bersamamu, ayah!”
Chronoa berlari sambil menarik tangan ayahnya menuju komidi putar.
“Eh? Ah, iya. Ayo!” Meski sempat bengong untuk beberapa saat, Layond kini tersenyum, sebuah senyum yang jarang dia tunjukkan.
“Permisi, tiketnya empat.”
“Satu tiket dihargai 10 koin beruang perunggu. Totalnya 40 koin perunggu.”
“Ini.”
Setelah menyerahkan uang dan mendapatkan tiket, mereka semua langsung menaiki komidi putar itu.
“Ayah, biarkan aku naik bersamamu!”
“Apa? Bukankah kamu sudah besar?... Tidak, baiklah, ayo!”
Setelah mereka semua telah menempati kursi berbentuk kuda masing-masing, staff disana pun melakukan tugasnya.
“Waah! Lihat ayah! Kudanya bergerak!”
Layond dan Riley melihat satu sama lain dan tersenyum saat melihat anak mereka yang biasanya murung setiap waktu menjadi bersemangat dan antusias seperti ini.
“Apakah kamu lupa? Ini bukan pertama kalinya kamu naik komidi putar lo.”
“Eh? Benarkah itu bu?”
Riley mengangguk dan mengonfirmasi perkataan Layond sambil tersenyum.
“Itu benar kok.”
“Lalu kapan aku pertama kali kesini?”
“Hmm seingat ayah saat kamu berumur sekitar 2 bulan.”
“Apa..?”
Riley memasang senyum tapi hawa di sekitarnya berubah drastis, menjadi lebih dingin dan sensitif. Layond berkeringat dingin saat Riley mencubit perutnya sambil memasang wajah menyeramkan.
“Sayang, apa kau gila? Umur segitu jika dibiarkan naik komidi putar, yang ada pernapasannya menjadi terhambat lalu mati karena kehabisan napas. Lagi pula bisa-bisanya kau lupa ya, padahal itu merupakan perayaan pernikahan kita ke-4 tahun.”
“Ah-ahaha-haha. Cuma bercanda kok, hehe. Waktu itu kamu masih berumur 2 tahun. Yah menurut perkataan warga tidak seharusnya aku membawamu ke wahana sih, tapi kamu terlihat tertarik saat mendengarnya. Jadi aku memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai hiburan untukmu dan perayaan pernikahan untuk kami. Saat itu kamu sangat senang saat melihat wahana ini. Lalu tempat inilah tempat pertama kamu memanggilku ayah.”
“Ayah..”
Pertama kalinya bagi Chronoa melihat Layond memasang senyum seindah dan semurni itu selama hidupnya.
“Maaf! Durasi waktunya telah habis!”
Teriakan dari petugas staff menyadarkan mereka dari suasana haru ini.
“Ayo, Ayah, untuk meredakan suasana hangat ini kita makan yang dingin dan segar!”
“Ooh! Maksudmu Es Krim?! Itu makanan favoritku!”
Jika berkaitan dengan es krim Layond akan bertingkah seperti anak kecil. Mereka tertawa bersama, lalu menikmati hiburan untuk pertama dan terakhir kalinya.
“Paman! Pesan Es krim Vanilla satu, Es Krim Cokelat satu, Es Krim Durian satu dan Es Krim Stroberi satu!”
“Aiyo! Totalnya 1 keping serigala perak.”
“Ini.”
“Tunggu sebentar ya!”
Selagi menunggu Es krimnya diolah, mereka mencari tempat duduk yang nyaman, kebetulan karena paman Es Krim itu berjualan di dekat taman, mereka pun duduk di sana.
“Ternyata kamu masih ingat rasa kesukaan ayah, Cokelat, ya?”
“Yah sebenarnya aku hapal semua yang kalian sukai kok, Cuma tidak ingin memberitahunya saja.”
“Oh ya?”
“Coba sebutkan makanan kesukaan ibu, Noa.”
“Mhm, makanan kesukaan ibu.. Sate kelinci ditambah dengan kare. Lalu minumannya..—“
“Permisi! Es krimnya telah jadi!”
“Ayo, Noa!”
Kedua tangan Noa dipegang oleh Riley dan Layond, mereka tersenyum bahagia, bahkan Lealta sekalipun juga terlihat senang bersamanya.
“Nyam! Lezat sekali! Sudah kuduga, vanilla memang yang terbaik.”
“Apa?! Cokelat juga enak lo!”
“Stroberi milik ibu juga lezat! Mau coba?”
“Mau!”
“Hey tidak adil!”
“Dih udah tua masih aja seperti anak-anak!”
“Es Krim Durian milik Lealta juga memiliki kualitas!”
Suara Lealta cukup kencang membuatnya menjadi pusat perhatian keluarga Emilton.
“Hahaha!”
Mereka tampak menikmati hiburan kali ini, mereka tidak pernah tersenyum lebar dan tertawa sekeras ini sebelumnya.
“Apa kamu sudah puas?”
Layond dan Riley bertanya pada Chronoa sambil melihat ke arahnya.
“Mm! Ayo pulang!”
“Baiklah, ayo!”
Mereka sekeluarga pun dengan bersemangat pulang dari kota Canara.
Di perjalanan pulang, Claire di kursi depan dan Layond yang mengemudikan kereta kuda itu menanyakan hal yang sama pada Chronoa di bagian belakang.
“Hey, Noa. Apa terjadi sesuatu padamu? Kamu terlihat berbeda dari biasanya.. Ah, bagaimana menjelaskannya ya? Seperti lebih bersinar dari sebelumnya…”
Chronoa terdiam selama beberapa waktu saat mendengar pertanyaan mereka, dan dengan memasang senyum tulus di wajahnya, dia meyakinkan orang tuanya.
“Tidak, tidak ada yang terjadi kok! Hanya saja, hari ini lebih menyenangkan dari biasanya..”
‘Aah..indah sekali suasana ini, aku sangat merindukan mereka berdua, meski ini hanya mimpi, mungkin, mungkin saja aku rela tertidur selamanya demi bersama mereka kembali.’
Chronoa telah membuang segalanya demi bersama mereka kembali, ia melupakan tujuan dari dirinya sendiri. Sampai suatu ketika kepala nya merasakan pusing dan sakit yang kuat. Ia seperti mendengar suara berada di dalam kepalanya mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang.
‘Selamatkan dia..kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri bahwa akan menyelamatkannya meski harus merangkak keluar dari neraka sekalipun..’
Sambil merintih kesakitan, Chronoa berteriak yang membuat Riley dan Layond menjadi kaget dan khawatir.
“Dia?! Dia siapa!?”
“Ada apa Noa!? Noa?”
Mereka terlihat panik, Layond yang sedang menyetir pun ingin memberhentikan keretanya, namun Riley menyuruhnya tetap berjalan menuju Druggist atau Healer terdekat.
Tapi meski suara mereka berisik, Chronoa sama sekali tidak dapat mendengarnya, dia hanya dapat mendengar satu sumber suara yang memenuhi kepalanya.
‘Lihat dan perhatikan jalanmu.. Meski mengalami ribuan kegagalan sekalipun jangan pernah menyerah dan keluar dari jalanmu!’
Perkatannya membuat perhatian Chronoa terpusat pada jalanan, dia menghiraukan kedua orang tuanya yang terlihat panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa..?!”
Kata itu spontan terucap dari mulutnya saat melihat dua orang yang berbeda dari kejauhan, yang satu menggunakan jubah dan terlihat memiliki rambut hitam indah yang terurai, sedangkan yang tersisa terlihat seperti seorang pemuda, namun anehnya Chronoa seperti memiliki ikatan padanya.
“NOA! KAMU KENAPA?!”
Riley semakin panik saat melihat anaknya, Chronoa menghembuskan napas berat. Hal itu terjadi karena dia melihat sosok yang menggunakan jubah menusuk ke arah jantung persis pemuda itu, dan saat itu angin berhembus kencang, membuat jubah yang menutupi kepalanya terbuka.
Di saat itu juga, Chronoa menjadi berkeringat dingin, matanya melotot, urat nadinya menjadi tegang, napas terengah-engah seperti kehabisan oksigen, dan wajah yang pucat saat melihat wajah dari sosok itu merupakan Wanita yang sangat mirip dan dapat disebut persis dengan sosok yang selama ini memimpikan dirinya.
“Apa ini! Pasti ada yang salah!”
Chronoa semakin terlihat frustasi saat menyadari pemuda itu adalah sosok yang selalu berada di sampingnya selama ini, figur seorang Ayah mungkin tidak akan bisa digantikan, tapi pemuda itu telah menemaninya, membuat rasa kesepian tidak merenggut kehidupannya lagi.
“--Dyze!”