The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 79. Nyanyian Alpha Di Kala Waktu Senggang



“Sesuai dengan perintah anda. Rata-rata gerhana matahari total biasanya terjadi dalam waktu 360 hingga 410 tahun. Untuk dapat mencari berapa tahun lagi gerhana matahari total akan terjadi maka hamba membutuhkan seorang saksi yang pernah melihatnya langsung ..”


“Hamba. Hamba pernah melihatnya langsung.”


Mereka semua melihat Xelyn yang mengangkat tangannya, dia pun diperintahkan kemari oleh Dyze.


“Hamba melihatnya kira-kira .. 406 tahun yang lalu. Ingatan Qilin tidak begitu buruk dan terbilang bagus dalam mengingat sesuatu.”


Karena telah memperoleh informasi yang dibutuhkan, Dyze menoleh ke arah Argus:


“Kini hamba membutuhkan seorang saksi yang mengetahui berapa waktu kita menghilang ..”


“Kalau begitu Hydra juga bisa kan?”


Usulan Xelyn langsung diterima oleh Argus karena bisa saja dia mendapatkan informasi yang diinginkan.


Xelyn pun berenang menuju Hydra yang berada di tengah danau untuk menanyakan urusan padanya.


Setelah beberapa saat dia pun kembali.


“Dia bilang telah menyaksikan matahari terbit dan terbenam sebanyak 2920 kali akhir-akhir ini. Hydra tidak mengerti perhitungan tahun yang digunakan manusia. Oleh karena itu dia hanya bisa menentukan hari dari jumlah matahari terbit dan terbenam.”


“Hmm .. 2920 kali .. Jika dibagi dengan matahari terbit dan terbenam yang berpasangan maka .. Terjadi sekitar 1460 kali matahari terbit dan hal itu juga berlaku bagi matahari terbenam.."


Setelah beberapa saat memikirkan jawabannya, Argus akhirnya menemukan jalan keluarnya.


"Kemungkinan besar 4 tahun telah berlalu."


Demi menguji kebenarannya, Dyze mengonfirmasi hal itu pada skillnya.


'Apakah itu benar?'


[ Izin menjawab, individu bernama Argus memiliki 70% persentase kebenaran dalam argumennya. Karena dalam 1 hari terdapat 2 kali matahari terbit dan terbenam. Di totalkan saja sebagai angka 2. Dalam setahun terdapat 365 hari. 365 dikalikan 2 hasilnya 730 dikali 4(perkiraan tahun semenjak menghilang) maka totalnya 2920. Tapi masih ada kemungkinan 30%.. ]


"Cukup. Otak-ku pusing untuk mencernanya."


"Baiklah Tuanku."


"Ah. Bukan kau.."


"Maaf?"


"Tidak. Lupakan."


"Lanjutkanlah."


"Baik. Gerhana matahari total kemungkinan akan terjadi di tahun ini. Dan perkiraan kasar hamba hanya sekitar 4 hingga 5 hari lagi hingga hal itu terjadi."


"Singkatnya waktu kita mepet kah?"


"Sheesh. Itu terlalu pusing dipikirkan di saat bersantai seperti ini."


"Untuk sekarang kita bebaskan pikiran kita pada hal-hal semacam itu untuk sementara."


"Baik!" -- Mereka semua menyahuti nya secara bersamaan.


“Ahh! Benar-benar nikmat!”


Karena ini waktu bersantai, Alpha dan yang lainnya pun akhirnya bisa mengungkapkan kenyamanan yang mereka rasakan sekarang.


Dan karena terlalu menghayati suasana yang sejuk serta membuat hati tenang, Alpha menutup matanya dan tiba-tiba bernyanyi dengan sendirinya.


“Saat matahari terbenam dan hari mulai menjadi gelap♫~ Kukira aku akan kehilangan arah di tengah kegelapan♫~ Tapi sang fajar kini telah menyingsing dan menuntunku keluar dari keterpurukan♫~..”


Alpha berhenti. Dia tidak melanjutkannya karena menyadari bahwa orang-orang di sekitar menjadi memperhatikannya.


“Kenapa kau tidak melanjutkannya?”


“Eh?”


“Aah .. Tidak. Hamba hanya malu untuk melanjutkannya ..”


“Kenapa? Padahal suaramu bagus.”


Alpha terkejut setengah mati, mendapatkan pujian dari orang berhati beku dan dia juga merupakan sosok ‘Kematian’ yang ia takuti sekaligus hormati tentunya bukanlah sesuatu yang spele.


“Apakah itu karena kamu takut melukai kami?”


Alpha menoleh ke arah sumber suara— Argus yang juga sedang menatapnya.


“’Kami?’”


“Iya. Jika aku tidak salah, seharusnya nyanyian para Siren itu sangat berdampak bagi indra pendengaran manusia, bukan? Disini terdapat aku, nyonya Claire dan Eleina sebagai manusia. Meski aku dan Eleina tidak dapat dikatakan manusia sepenuhnya sih..”


Mendengar perkataannya, Alpha kini mengerti apa maksud dari pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya.


“Itu benar. Tapi kami para Elder Siren memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Siren pada umumnya.”


“Keistimewaan?”


Dyze, Chloe dan Claire terlihat juga tertarik mendengar penjelasannya lebih lanjut.


Tidak ingin mengulur waktu, Alpha melanjutkannya:


“Para Elder Siren jika tidak berniat membunuh maka nyanyian mereka akan menyejukkan hati dan pikiran. Sebaliknya jika mereka memiliki niat untuk membunuh ataupun melukai maka hati menjadi resah dan pikiran menjadi rusak sepenuhnya.”


“Oh~ itu cukup menarik. Bagaimana jika orang yang menjadi musuhmu memiliki ketahanan yang besar?”


Pertanyaan Dyze dijawab Alpha dengan sepenuh hati.


“Dengan penuh hormat. Kemungkinan orang itu juga akan terpengaruh.”


“Begitu. Kemampuan seperti itu pasti akan berguna kelak.”


“Ya! Terima kasih atas pengakuan anda!”


“Kalau begitu lanjutkanlah. Kalian bisa ikut jika mau.”


“Eh?”


Kini yang mengeluarkan suara aneh itu bukan hanya Alpha, tapi juga Beta, Gamma, Omega, dan Delta. Mereka semua terkecuali Alpha menunjuk dirinya sendiri.


“Kami?”


“N.”


Dyze hanya menjawab singkat, namun hal itu justru kabar gembira dan sangat membahagiakan bagi mereka.


Suasana yang tadinya tegang kini menjadi menjadi sejuk kembali.


Alpha mulai membuka suaranya dan memimpin yang lainnya.


“Tanpa sang fajar♫~ Mungkin aku kini telah tenggelam di lautan tanpa dasar♫~..”


Dia menoleh ke arah teman-temannya kemudian memberi sedikit senyuman, hal itu memotivasi dan memicu semangat mereka hingga membara.


Beta dan yang lainnya pun membuka mulut dan mengikuti lirik yang dinyanyikan Alpha seolah mereka semua merasakan apa yang dirasakan olehnya.


“Di saat kegelapan menyelimuti♫~ Berharaplah cahaya sinar dari sang fajar meneguhkan hati♫~”


“Walau terdapat seorang makhluk yang mungkin dapat membawa kegelapan abadi♫~ Tetaplah yakin pada cahaya sang Illahi♫~”


“Lebih baik mati di siang hari yang dipenuhi sinar mentari daripada mati sendirian di samudera dalam yang dipenuhi dengan misteri♫~”


Mereka semua menikmati suasana meriah itu, termasuk Dyze, Chloe, Claire, dan Hydra, tanpa terkecuali, sebuah senyuman terukir di wajah mereka.