
***
Dyze berteleport bersama mereka ke lapangan luas dengan jarak sekitar 1 kilometer dari kota Evalon.
Karena masih sama-sama bingung dengan kondisi masing-masing, Dyze pun menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri.
“Aku adalah Chloe. Tidak, mungkin kamu akan lebih mengenalku dengan sebutan ‘Chronoa’?”
“Eh? Chronoa!? Gadis remaja itu?!”
“Ya. Banyak hal yang terjadi sih, begitu juga denganmu, bukan?”
“Ah, iya. Akan kuceritakan nanti.. Ngomong-ngomong siapa dia?”
“Dia?”
Argus langsung menunduk dan mengarahkan tangannya ke dada, lalu memperkenalkan diri layaknya bangsawan pada Claire, “Salam kenal, saya adalah Argus. Seorang bawahan sekaligus pelayan dari Tuanku.”
Claire langsung sadar bahwa Tuan yang dimaksud adalah Dyze, setelah itu mereka mencari tempat yang nyaman untuk berbincang-bincang.
“Lihat! Satu-satunya pohon besar yang ada disini!”
Mereka pun langsung berteduh dibawahnya lalu saling menceritakan apa yang terjadi satu sama lain selama mereka terpisah.
…
“Jadi itu yang terjadi.”
Kalimat itu keluar dari mulut Dyze dan Chloe setelah mendengarkan ceritanya, dan sebaliknya, Claire juga mengatakan hal yang sama terhadap cerita mereka.
“Aku senang kamu bisa berkumpul bersama kami lagi.”
“Ya. Aksimu keren kok.”
Mendengar pujian Dyze membuatnya tersipu malu seperti anak kecil, seakan sifat sangar dan kejam yang ditunjukkan sebelumnya kini berubah sepenuhnya.
“Tapi aku tidak menyangka lo.. Chronoa itu—tidak, anda merupakan seorang Dewi..”
“Tidak perlu formal padaku, anggap saja yang didepanmu sekarang adalah Chronoa yang telah dewasa.”
“Ah, masuk akal juga..”
“Ngomong-ngomong, Claire..”
Dyze sepertinya tertarik akan sesuatu, oleh karena itu dia mengalihkan topiknya.
“Ya..?”
“Kemampuan apa itu? Pedangku sampai tergores karenanya.”
“Kemampuan? Oh maksudmu Barrier! Itu merupakan salah satu kemampuan dari Blessed Eyes yang kumiliki sekarang, dan dia bertipe Defense. Saat menggunakannya mataku menjadi oranye dan sebuah penghalang(Barrier) terpasang di depanku, tapi aku juga dapat memanipulasi tempatnya sesuai kehendakku.”
“Oh~ Seberapa kuat penghalangnya?”
“Maaf. Aku juga tidak tahu.”
“Tapi sepertinya sudah cukup kuat karena mampu memblok seranganku..”
“Begitu..”
“Dan juga mengenai kepribadian lainmu, siapa namanya?”
“Alter Ego, begitulah dia dan aku menyebutnya.”
“Tidak ada nama? Bagaimana kalau kuberi dia nama?”
“Eh? Apa boleh?”
“Ya. Aku cukup suka dalam menamakan sesuatu.”
“Namanya.. Celina.”
---
Setelah menghabiskan waktu untuk saling mendengarkan cerita, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan tanpa tujuan.
Mereka terus berjalan..
Berjalan..
Sampai mereka berhenti saat mendengar suara sesuatu berteriak dari kejauhan memanggil nama Dyze. Merasakan adanya bahaya yang akan datang, Argus, Chloe, dan Claire sigap berdiri di depan Dyze untuk melindunginya.
“DYZEEEEEEE! KETEMU KAU!”
Suara itu menggelegar seperti Guntur, cuaca yang awalnya cerah kini menjadi mendung dan berpetir, tidak lama kemudian sebuah sosok menyambar formasi mereka dengan kecepatan diluar nalar, sampai-sampai Argus dan Chloe tidak sempat untuk bereaksi, tapi untungnya dengan Barrier milik Claire serangan sosok itu dapat diblok tanpa kesulitan.
“Cih!”
Sosok itu langsung menjaga jarak dan mulai waspada, cahaya hitam yang tadinya menutupi wajah dan seluruh tubuhnya kini telah pudar, membuat Dyze dan Chloe menjadi terkejut saat melihatnya.
“Kau... Raizel!?”
Meski Raizel dalam tubuh seorang manusia bernama Sirius, mereka dapat mengenalinya dengan mudah karena rambut dan mata kuning yang menjadi ciri khas Dewa Petir telah kembali padanya.
“Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau menggunakan wujud Dewa mu dengan sempurna di Dunia Fana?”
“Jangan banyak bicara! Ayo kita selesaikan semuanya disini!”
Raizel mengatakan itu sambil menghunuskan pedangnya ke arah Dyze dan menatapnya intens.
“Begitu.”
Dyze yang menyadari maksudnya pun langsung mengangkat satu tangannya sebagai isyarat untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.
“Berikan padaku, Pedang milikmu.”
Dyze meminta Chloe untuk mengambilkannya pedang biru yang diberi oleh Sven, Chloe sendiri tahu bahwa Dyze tidak ada niatan untuk meremehkan lawannya kali ini.
“Bagus. Datanglah padaku, Dyze!”
Setelah menggenggam erat pedang biru milik Sven, Dyze berkata sebelum dia melesat dan beradu pedang dengan Raizel.
“Jadi beginilah akhirnya..”
Meski sempat menghela napas sesaat, Dyze langsung tersenyum kembali dan menerjang ke arah Raizel dengan kecepatan yang dapat membelah angin.
Saat berjarak sekitar 20 meteran yang memisahkan mereka, Dyze langsung melompat ke udara, membuat tanah pijakannya menjadi retak dan hancur seketika, dia menggenggam erat pedangnya lalu berteriak lantang:
“Aku datang, Raizel!”
Dyze langsung melesat dengan memanfaatkan angin sebagai pendorongnya, lalu langsung menghantamkan pedangnya ke arah Raizel, namun Raizel dengan cekatan dapat memblokir serangan Dyze dengan menahan menggunakan pedangnya sendiri.
Meski pedangnya terbilang berkualitas menengah, yakni terbuat dari besi, karena dipengaruhi kekuatannya, pedang itu menjadi lebih keras dan kokoh dari sebelumnya.
Dan karena bentrokan dari pedang mereka, membuat adanya percikan-percikan petir di sekitar mereka, hal itu memicu rentetan ledakan dahsyat yang terjadi mengelilingi wilayah mereka bertarung.
“B*jingan kau pengkhianat!”
Raizel dengan emosinya yang meledak-ledak berusaha memojokkan Dyze dengan menggunakan kecepatan sebagai keunggulannya, tapi saat mulai terdesak, Dyze sedikit meningkatkan kecepatannya hingga membuat pertarungan kembali menjadi seimbang.
“Katakan padaku! Kenapa! Kenapa waktu itu kau melindungi Zavist dan membunuh kami!?”
“…”
Dyze tidak menjawabnya, dia hanya tertawa. Hal itu membuat emosi Raizel semakin terbakar, dia berhasil meningkatkan kecepatannya hingga pada titik hampir menyentuh kecepatan cahaya.
Dengan kecepatan tersebut, Raizel mendominasi arus pertarungan dan menyeret Dyze menuju area baru, yakni langit.
Diatas sana, mereka bertarung dengan kecepatan yang tidak dapat dibaca bahkan oleh seorang Celestial Human sekalipun. Pertarungan mereka membuat Argus, dan Claire terpukau sehingga bertanya pada Chloe.
“Sebenarnya yang dilawannya itu siapa?”
“Kalian pasti pernah mendengar tentang Sang Dewa Petir, bukan?”
Mereka melihat satu sama lain sesaat lalu sepakat menjawab:
“Ya, kami tau. Meski dalam legenda maupun cerita tidak disebutkan sedikitpun mengenai identitas atau namanya sih..”
“Ya.. Dia itu Raizel, Sang Dewa Petir.”
Dari awal mereka memang telah menduga jika musuh yang dihadapi Dyze sekarang bukanlah manusia seperti wujudnya, dan jauh berbeda dari musuh-musuh yang pernah dilawan sebelumnya.
Tapi mereka tidak pernah menyangka bahwa yang dihadapi Dyze sekarang adalah Sang Dewa Petir, Raizel.
Secara spontan mereka menelan ludah karena jika dipikirkan oleh logika, apabila Dyze mengenali dua orang sosok Dewa, sudah pasti statusnya tidak jauh dari mereka yang dikenali olehnya.