The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 37. Kisah Malang Raizel



(⚠Warning! 3 Chapter kedepan termasuk chapter ini akan sensitif dan kelam, jika tidak siap mental maka sebaiknya jangan dipaksakan.)


***


Aku adalah Raizel, tidak, mungkin semua orang menyebutku sang Dewa Petir? Tapi itu semua telah berakhir ketika aku dikhianati oleh teman terdekatku sendiri lalu bereinkarnasi wadah sebagai manusia yang sangat lemah. Karena itu aku tidak bisa sama sekali menggunakan kekuatan dewaku dengan benar.


Aku telah bereinkarnasi selama 13 tahun dalam tubuh seorang pemuda, meski kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Aku dipanggil sebagai “Sirius” di desa tempatku tumbuh.


Semua orang di desa ini berkerja sebagai tukang obat, petani, peternak dan tukang kebun. Desa kami dapat terbilang subur dan kaya untuk seukuran desa di daerah terpencil. Mereka semua baik padaku hingga membuat jati diriku sebagai Dewa terkubur jauh di dalam diriku sebagai Manusia.


Setelah bereinkarnasi dan menjalani kehidupan seorang pemuda selama 13 tahun, aku mengagumi dan jatuh cinta pada seorang gadis yang dijuluki “Kembang Desa” di desa kami.


Karena sudah merasa cukup mapan karena pekerjaanku yang terbilang mulus dengan mencari obat-obatan langka di hutan, membuatku memutuskan untuk melamarnya.


Dan semua itu terjadi setahun yang lalu, meski kami telah menikah selama setahun kami belum memiliki seorangpun keturunan. Mungkin karena faktor tubuhku yang sangat lemah dan istriku yang mandul sehingga tidak dapat menghasilkan keturunan.


“Maaf sayang, kali ini juga gagal..”


Istriku selalu menangis dipangkuanku setiap kali kami selesai berhubungan, dan sudah seperti menjadi kebiasaanku untuk mengelus kepalanya setiap kali dia menangis sambil menenangkannya.


“Tenang saja. Meski kita tidak dapat menghasilkan keturunan, aku akan tetap mencintaimu.”


“Nn!”


Dan setiap kali aku mengatakan itu dia selalu memelukku dan menangis meluapkan semuanya.


“Sudah sudah. Ini telah pagi, aku ingin mencari obat-obatan di hutan.”


“Hati-hati.. Jangan pulang terlalu lama, jika tidak, aku akan mencarimu.”


“Ya.. Aku tau kok.”


Setelah memasang baju dan ingin keluar menuju pintu, istriku menahan tanganku.


“Elus kepalaku..”


Sudah menjadi kebiasaan istriku untuk minta dielus kepalanya setiap kali aku pergi berkerja. Dan setiap kali melihatnya seperti ini membuat hatiku tenang, dengan memasang senyum di wajahku aku mengelus kepalanya.


“Baik-baik anak pintar..”


“Hehehe..”


Sekilas aku melihat seperti ekor yang berkibas dibelakangnya. Karena reaksinya sekarang seperti anjing yang sedang bermanja dengan tuannya, mungkin itu alasannya aku melihat ekor berkibas di belakangnya.


“Baikkah, sampai jumpa, selama berada di desa jadilah anak baik, oke?”


“Unn!”


Aku pun berjalan keluar rumah, rumah yang terbilang sederhana karena hanya terbuat dari kayu. Tapi meski begitu penghuninya tetap merasa bahagia tanpa memperdulikan ukuran atau kualitas rumah mereka.


Dengan menggendong sebuah keranjang yang cukup besar aku berjalan memasuki hutan, dengan tubuh sangat lemah dan rapuh ini memang berbahaya memasuki hutan sendirian, tapi aku telah melakukannya berkali-kali, seharusnya tidak ada masalah yang terjadi kan?


“Ooh baby~♫”


Setiap memasuki hutan setiap orang mempunyai kebiasaan untuk menyanyi agar menghilangkan rasa kesepian, begitu juga dengan diriku. Aku dapat dengan percaya diri dapat memasuki hutan sendirian karena aku memiliki sebuah Unik Skill yang masih dapat aktif tanpa melukai tubuhku.


‘Bagaimana situasi sekitar hutan?’


[ Menurut perhitungan dan data yang dikumpulkan, para hewan buas tidak akan berada di sekitar anda dalam radius 300 Meter. ]


‘Begitu.’


Dia adalah Unik Skill yang kumiliki, dia tergolong unik karena dia dapat diajak bicara namun tidak memiliki ego atau emosi. Karena tidak memiliki ego kurasa tidak masalah jika tidak memberinya nama, bukan?


Unik Skill ini dapat memperhitungkan segala kemungkinan yang ada, hanya dengan melalui perhitungan dari data seadanya. Dengan Skill ini kemungkinan aku mengalami kekalahan hanya sekitar 2% itupun jika bertemu dengan musuh yang sangat kuat.


‘Seberapa jauh jarak yang perlu ditempuh hingga aku menemukan bunga Echinacea?’


[ Sekitar 100 Meter dari sini anda akan menemukan banyak sekali tanaman obat yang tumbuh di sekitar pohon purba. ]


Karena 100 meter telah dekat, aku mempercepat langkahku, meski tubuhku terbilang sangat lemah, aku masih mampu untuk berlari 18KM/jam.


Setelah beberapa saat berlari, akhirnya aku menemukan tempatnya.


“Wow~! Pohon ini terlihat sangat tua dan ukurannya raksasa! Ditambah banyak sekali tanaman herbal yang tumbuh di sekitarnya!”


Aku segera mendekati pohon besar yang telah dibungkus sepenuhnya oleh lumut, dengan berhati-hati untuk tidak menyentuh lumut atau tanaman beracun, aku memetiknya satu per satu.


“Bunga Echinacea, dapat mencegah serta mempercepat penyembuhan pilek dan flu. Tumbuh selama musim panas sampai musim gugur.”


Aku mempunyai kebiasaan saat memetik tanaman herbal untuk membicarakan khasiat dan waktu pertumbuhannya dengan diri sendiri.


“Daun Chamomile, dapat membuat meriang pada tubuh menjadi lebih mendingan setelah mengkonsumsinya. Tumbuh selama musim hujan..”


“Dan masih banyak lagi! Tunggu saja, Shina, aku akan membawakan banyak uang untukmu~!”


Memakan waktu hingga beberapa jam aku berada disini untuk memetik seluruh tanaman herbal yang ada.


“Fiuhh ini terakhir. Akhirnya selesai juga.”


Di saat aku ingin bersantai untuk sejenak, sebuah suara mengejutkanku.


[ Master, sebuah kepulan asap hitam terdeteksi membumbung tinggi tidak jauh dari sini, sepertinya itu berasal dari desa anda.. ]


‘Ap— katamu?!’


Mendengar hal itu aku segera berlari menuju desa, karena di desa kami selama ini tidak pernah melakukan pembakaran atau apapun yang berhubungan dengan api, firasatku tidak enak..


“Shina..!”


Di pikiranku hanya ada keselamatan Shina, aku berlari menembus hutan dan membelah angin, meski ranting-ranting tajam melukai wajah dan seluruh tubuhku, rasa sakit itu tidak terasa sama sekali, yang kurasakan sekarang hanya ke khawatiran mengenai istriku.


Lokasiku kini telah dekat dengan bagian belakang desa, cukup dekat dengan rumahku.


“Apa… Yang terjadi?”


Pemandangan yang menyambutku berupa rumah-rumah warga yang telah terbakar, beberapa diantaranya bahkan telah hangus tidak bersisa, dengan panik aku menuju rumahku yang sedang dilalap api.


Tapi tanpa keraguan sedikitpun aku menembus api itu dan mencari Shina di dalamnya.


“Shina!”


“Shina! Jawab aku!”


“Shina! Uhuk!”


Karena menghirup asap yang terlalu banyak membuatku hampir kehilangan kesadaran, namun Unik Skill milikku membantu mempertahankan kesadaran dan membimbingku menuju rute yang aman.


“Sial! Dimana Shina sekarang!?”


Di saat aku sedang kebingungan dan tidak tahu harus mencarinya kemana, aku mendengar sebuah suara jeritan dari seorang Wanita yang sangat familiar di telingaku.


“KYAAAAAA!”


“SHINA!”


Suara teriakan itu pasti Shina! Sumber suara berasal dari alun-alun, aku harus segera menuju sumber suara itu sebelum terjadi sesuatu pada Shina!


‘Hey, bantu aku untuk meningkatkan otot kakiku hingga maksimal! Agar aku dapat sampai hanya dalam beberapa detik saja!’


[ Dengan mengorbankan 70% dari fiber otot di kakimu, anda dapat sampai di alun-alun dalam waktu 30 detik. ]


‘Bagus. Segera proses.’


[ Tapi.. ]


‘TIDAK APA-APA!’


[ Dimengerti. ]


[ Mengorbankan 10% Fiber otot.. ]


[ 20%.. ]


[ 30%.. ]


[ 40%.. ]


[ 50%.. ]


[ 60%... ]


Aku mulai merasakan tumit dan seluruh telapak kakinya menjadi panas dan mengeluarkan uap.


[ 70%... Persiapan selesai. ]


Aku mencoba melangkah, dan disaat itu juga kakiku seperti didorong oleh api yang membara, hanya dengan sekali langkah, aku dapat menempuh hingga 5 meter jauhnya. Dengan ini seharusnya aku akan datang tepat waktu..—


‘Tunggu aku Shina!’