
*
Dimana aku?
Pertanyaan itulah yang pertama kali muncul di benak-ku. Karena kini aku berada di suatu ruangan hitam tanpa cahaya.
Aku merasa takut sekaligus lega karena dapat terhindar dari monster sepertinya.
Bagaimana monster sepertinya bisa ada di Dunia ini ya?
Dia bahkan lebih ‘monster’ dari monster kambing itu.
Tapi ..
Ruangan hitam tanpa cahaya ..
Begitu sunyi dan tidak berpehuni ini ..
Juga membuatku was-was dan takut.
Kemudian sebuah suara seperti orang yang tidak memiliki emosi terdengar dari segala arah.
『 Mengaktifkan Infinity Death Loop ..』
A-apa yang dia bilang?
Kematian berulang yang tidak terbatas?
Omong kosong apa yang dia bicarakan …
?!
Saat aku berusaha menghibur diriku dengan beranggapan bahwa semua itu hanyalah omong kosong belaka ..
Mimpi buruk kini baru dimulai.
“A-APA ITU!?”
Sebuah mata raksasa berwarna merah terbuka jauh di hadapannya, mata itu melotot ke arahnya dan seolah akan melahapnya.
Hal itu terus berulang pada sekitarnya.
Mata raksasa di bagian kiri nya terbuka.
Mata raksasa di bagian kanan nya terbuka.
Mata raksasa di bagian belakangnya terbuka.
Mata raksasa di bagian bawahnya terbuka.
Mata raksasa di bagian atasnya terbuka.
“AAAAAAAAAAH TIDAK APA YANG SEDANG TERJADI!!!?”
Aku merasakan suatu sensasi yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.
Jiwa dan mentalku seperti dihancurkan secara perlahan.
Ini menyakitkan ..
Ini sangat menyakitkan!
Satu mata berkedip, kemudian membuka matanya lagi.
Saat itu aku merasa tubuh ku hancur dari dalam, kemudian saat aku sadar, tubuhku menjadi utuh kembali.
“HAAH .. HAAH .. HAAH ..”
Saat aku ingin bernapas lega, mata-mata yang lain ikut melakukan hal yang sama secara bersamaan, berkedip, kemudian membukanya lagi.
Tepat setelah itu aku merasakan neraka—
Tidak!
“AHHHHHHHHHHHHHHH!”
Aku merasakan kematian dan dibangkitkan kembali secara utuh kemudian di mati-kan lagi lalu di bangkitkan lagi ..
“AH AH! AAAAAAAAAHHHH!!”
Siklus itu terus berulang.
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!”
Hingga periode waktu yang tidak dapat kutentukan.
“SAAAKIIIIITTTTTTTTTTTT!”
Pada saat ini aku tidak dapat merasakan tubuhku sama sekali.
Aku hanya dapat pasrah menunggu kematian yang datangnya kurang dari sedetik.
“UEEEEEEEGHHH!”
Sambil merintih kesakitan, aku memikirkan penyesalan terbesar dalam hidupku.
Kenapa saat itu aku masih dapat berbohong ya?
Jika tau akhirnya begini .. Aku tidak akan pikir dua kali untuk menyetujuinya.
“AAAAAAAKHHHHH!!”
Ah .. Aku memang tidak bisa diandalkan.
Pantas saja atasan menjadikanku sebagai penggantinya.
“AAAHHHH!”
Pada awalnya kukira ini merupakan tugas istimewa.
Ternyata aku sadar ..
“TOLOOOOOOOOOOONGGGGGG!”
Bahwa aku tidak lebih hanya dijadikan sekedar umpan semata.
“Apakah tidak akan ada kesempatan kedua ..? jika harapan itu ada .. Ku harap aku dapat memperbaikinya.”
Kesadaranku mulai buram, aku hanya bisa mempersiapkan mental untuk mengalami kematian lagi dan lagi.
Tiba-tiba di tengah keputus-asaanku, suara itu terdengar lagi.
[ Atas perintah darinya, individu yang sedang mengalami siklus Infinity Death Loop ditunda untuk sementara waktu. ]
Eh? Apa katanya tadi?
Aku .. Apakah aku memperoleh keberuntungan yang tidak terbatas kali ini?
[ Mentransfer individu menuju ke tempat semula ]
---
Di suatu tempat yang jauh, terdapat beberapa siluet yang sedang beradu mulut di sebuah meja bundar.
"Bagaimana ini bisa terjadi! Kita kehilangan kontak dengan mereka!"
Seorang dengan siluet bertopi hitam itu marah besar dan meluapkan kekesalannya dengan cara menghantamkan tangannya ke meja, ajaibnya, meski dia memukul meja itu dengan cukup keras hingga bersuara nyaring, meja itu tdak meninggalkan sedikit pun bekas.
"Tenanglah, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Seorang siluet pak tua menenangkan orang itu sambil memainkan jenggot putihnya yang cukup panjang.
"Ya, pak tua itu benar, tidak ada yang berubah ketika kita kehilangan sebuah pion, justru sepertinya kita menemukan sesuatu yang lebih menarik dari itu." Siluet wanita berpostur tinggi yang sedang duduk sambil menghisap pipa rokoknya menambahkan.
Siluet bertopi hitam itu kemudian menghela napas dan bergumam, "Aku heran, bagaimana kalian dapat setenang ini sedangkan aku menjadi begitu gelisah."
"..." 4 Siluet yang tersisa hanya menyimak tanpa memberikan sebuah jawaban, sedangkan 2 orang sebelumnya hanya tertawa kecil.