The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 86. Kebesaran Leviathan




Chapter 86. Kebesaran Leviathan



Time resurrection


Berbeda dengan Time Rewind yang akan membuat seluruh waktu di alam semesta menjadi terulang beberapa saat sebelum kehancuran atau kejadian besar yang tidak diinginkan terjadi ..


Time resurrection merupakan skill yang lebih tinggi dari Time rewind dari skill seri waktu. Karena Time resurrection mampu membangkitkan makhluk hidup ataupun objek yang sudah "mati" menjadi hidup kembali.


Hal itu tidak dapat dilakukan Time Rewind, karena dia(time rewind) hanya mampu mencegah bencana besar yang telah terjadi, tidak sampai pada titik dimana dia mampu menghidupkan makhluk hidup. Dengan kata lain apabila terdapat suatu bencana yang memakan korban maka jika waktu diputar ulang dengan time rewind sekalipun, korban itu tidak akan bisa bangkit lagi.


---


Itulah yang mendasari Chloe memilih Skill ini dibandingkan skill seri waktu lainnya.


Tepat setelah nama skill itu keluar dari mulutnya, tanpa adanya jeda, realitas seperti hancur berkeping-keping layaknya sebuah pecahan kaca kemudian tidak butuh lama untuk pecahan-pecahan itu menyatu kembali dan membentuk realita yang baru.


“… Bagaimana mungkin?”


Meski Time Rewind yang sebelumnya terjadi mampu membuat Dunia yang diambang kehancuran menjadi seperti mimpi belaka, kondisi yang mereka alami sekarang lebih gila lagi!


Arcandra, dia benar-benar bangkit dari kematian dengan ingatan yang utuh.


Tapi meski Dia masih memiliki ingatannya dengan utuh, Arcandra linglung melihat sekitarnya.


"Dimana ini ..? Bukankah tadi aku digiring menuju suatu tempat di sebuah kegelapan yang tidak berdasar .. Kemudian ada cahaya yang bersinar ..?"


“Bagaimana rasanya mati?”


Suara itu— Dyze sedang menuruni udara di susul dengan Chloe, Claire, Argus, para Siren, dan Hydra yang berjalan jauh di belakang mereka bersama Livia.


“Kau …”


Pandangan Arcandra teralih pada Argus yang terlihat bercampur emosinya; antara suka cita ataupun kesedihan di atas duka.


“Apakah ini semua rencanamu, Argus?”


Argus menatap mata Arcandra kemudian menjawab dengan tegas:


“Seluruh yang terjadi sebelumnya merupakan bagian dari rencanaku. Namun kebangkitanmu sesuatu yang tidak pernah ku duga hingga detik ini.”


“Lalu ..” – Dia mengalihkan pandangannya pada Dyze yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.


“Terlalu banyak kerugian yang akan kudapatkan jika membiarkanmu mati sia-sia ..” – Dyze meraih pipi Arcandra kemudian mencengkram dan mendekatkannya ke wajahnya.


“.. Aku yang dulu mungkin tidak akan peduli pada hal semacam ini. Tapi sekarang berbeda. Tujuanku untuk menggulingkan kejayaannya tidak akan berubah, dan satu-satunya cara untuk menempuh semua itu dengan mengumpulkan bawahan kuat seperti .. Kau.”


Dyze melepaskan cengkramannya untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan oleh Arcandra.


Arcandra menatap Argus dengan mulut menganga kemudian melukiskan senyum kecil di wajahnya.


“Kini aku tau alasanmu begitu patuh padanya hingga mampu melakukan ini padaku.”


Perkataannya tidak membuat Argus bergeming, hatinya kini telah teguh sepenuhnya, kokoh seperti Bumi yang tangguh.


Satu alis Dyze terangkat saat melihat Arcandra memilih ‘tuk bertekuk lutut hingga bersujud di hadapannya.


Arcandra melanjutkannya dengan lebih mengeraskan suaranya:


“Dengan seluruh yang hamba punya, hamba akan mempertaruhkannya jika terjadi kondisi yang mendesak. Apabila saat itu terjadi, hamba tidak akan pernah ragu-ragu untuk mengorbankan diri. Bahkan apabila diperintahkan untuk bunuh diri di detik sekarang maka hamba akan langsung melaksanakannya tanpa ada keraguan sedikitpun dari lubuk hati terdalam.”


Dalam kecepatan melebihi kilatan petir, Arcandra meraih pedang di sampingnya dan ingin menebas lehernya saat itu juga, namun Dyze menahannya hanya dengan dua jari saja.


“Cukup. Aku tidak meragukan kesungguhanmu. Sekarang kita akan membahas sesuatu yang lebih penting dari ini.”


“…?”


Dyze memerintahkan Arcandra untuk menceritakan semua informasi penting yang ada di otaknya, dirangkum menjadi padat dan jelas lalu diceritakan saat itu juga.


***


Dalam sudut pandang Arcandra setelah mereka hanyut terbawa oleh ombak besar yang menerjang, dia terus terombang-ambing di lautan tanpa dasar, hal itu berlangsung selama lebih dari 6 bulan, selama periode waktu itu Neiphr terus diguyur hujan badai yang tidak ada habisnya, bencana di mana-mana dan selalu memakan korban jiwa di setiap detiknya.


Hingga sampai pada ketika ..


Swing!


Sebuah keajaiban menyelamatkan Arcandra yang sedang dalam kondisi kritis, seekor makhluk dengan siluet menyelamatkannya dari gelombang yang kian meninggi.


Arcandra mencoba dengan sekuat tenaga untuk mengenali sosok makhluk yang mengangkat dirinya dari gelombang lautan.


“Kau .. Leviathan?”


Sosok yang disebut oleh Arcandra sebagai Leviathan itu memiliki ciri fisik yang membuat Arcandra sekalipun terperangah saat pertama kali melihatnya secara langsung.


Ia merupakan seekor monster laut yang melegenda, sisiknya tajam dan benar-benar kuat, bahkan rasanya akan sia-sia jika mencoba merobek sisiknya dengan seluruh material yang ada di Neiphr, karena itu semua akan percuma.


Wujudnya juga sangat besar hingga mencapai titik dimana samudra Neiphr tidak mampu menampungnya. Namun, untuk dapat berenang bebas di lautan, dia memiliki kemampuan untuk menyusutkan tubuh sesuai kehendaknya.


Dengan kepala tunggalnya, juga gigi gigi taring putihnya, sisik naga kuno pun akan dengan mudah terkoyak olehnya.


“Manusia .. Buatlah perjanjian denganku.”


“Apa ..?”


Saat itu, dalam kondisi kritis, Arcandra meski menyimpan pertanyaan besar di kepalanya, dia langsung menerima tawaran dari Leviathan saat itu juga.


“Kau akan kuselamatkan. Dan kau tidak perlu membalas apa-apa padaku. Kau cukup menjadi seorang penguasa saja di Benua yang penuh dengan perairan.”


Saat itu, Arcandra heran, mengapa seorang ‘Raja’, ‘atau Penguasa’ lautan meminta hal itu padanya, terlebih dia adalah seorang manusia, salah satu alasan besar Dunia menjadi rusak seperti ini.


“Baiklah. Akan kuterima syaratnya.”


Leviathan tertawa sesaat kemudian melihat ke langit:


“Dengan ini tidak ada alasan lagi untuk-ku menahan air laut ini untuk membanjiri Dunia.”


Whoosh!


Sebuah gelombang kejut tercipta, menghempaskan seluruh air laut yang ada di sekitar mereka, dalam sekejap mata, gelombang laut yang menenggelamkan seluruh Dunia lenyap seketika.


Yang tersisa hanyalah laut murni tanpa adanya kekuatan untuk dapat menenggelamkan sebuah Benua.


Saat itu Arcandra, tidak sadarkan diri, dan saat dia membuka matanya, dia terdampar di sebuah Benua yang penuh dengan perairan.