
Sesuai perintah darinya, Chloe dan yang lainnya mengikuti Dyze dari belakang yang telah duluan memasuki air terjun tanpa kebasahan sedikitpun.
Di luar dugaan mereka semua, di balik air terjun itu terdapat sebuah jalan berupa lorong yang cukup sempit dengan diameter 180CM.
Mereka berjalan ..
Berjalan ..
Dan menyusuri lorong yang seolah tidak ada ujungnya itu untuk beberapa saat.
Hingga ..
“Ada apa?”
Chloe menanyakan hal itu pada Dyze yang menghentikan langkahnya.
“Ini jebakan.”
“?”
Satu reaksi yang sama datang dari mereka semua yakni keheranan. Karena meski memang dari tadi mereka tidak sampai-sampai ke tujuan tapi bukan berarti itu sebuah jebakan, ‘kan?
Bisa saja hanya jalannya yang di desain panjang sekali untuk mengecoh orang agar berpikir hal ini adalah sebuah jebakan.
“Instingku menumpul .. Aku baru sadar kita berada dalam jebakan saat kita menyusuri lorong ini untuk ke 109x-nya. Kita berada dalam infinity loop milik seseorang ..”
“A .. Apa? 109 kali ..?”
Meski mereka berjalan dengan cukup lama tapi tidak ada satupun yang menyadari bahwa mereka telah berjalan di tempat yang sama selama 109 kali.
“Dan juga infinity loop ..?”
Kata ini asing bagi Argus, Xelyn, Eleina, Livia, Claire, Alpha, Beta, Gamma, Omega, dan Delta.
Di antara 12 orang yang berada disitu(terkecuali Dyze) hanya ada 1 orang yang terlihat familiar dengan kata itu.
“Infinity loop .. Sebuah kemampuan dengan memanipulasi waktu berskala kecil untuk membuat seseorang terjebak di kondisi atau situasi yang sama dan akan terus berulang hingga selamanya.”
“…”
Semua orang disana terkecuali Dyze terpaku saat mendengarnya, karena jika Dyze atau seorangpun yang tidak ada menyadari bahwa mereka berjalan berulang kali di tempat yang sama maka itu pasti akan berlangsung hingga selamanya.
“Tunggu!”
Chloe menggapai lengan baju Dyze tepat sebelum dia melakukan sesuatu.
“?”
Dyze melihat ke arah Chloe yang menatapnya dengan serius dan memohon:
“Biarkan aku saja ..”
“…”
Karena melihat tekad yang begitu besar di sorot matanya, dan juga ingin melihat bagaimana performa nya, Dyze menghela napas lalu mengizinkannya.
Chloe tersenyum lalu mulai melangkah ke depan Dyze, menutup mata lalu membukanya kembali dan sorot matanya berubah menjadi intens.
Klikk.
Saat suara jentikan jari terdengar sebuah angin kencang tiba-tiba berhembus hingga pada titik membuat mereka menutup mata mereka agar tidak terkena debu.
Setelah beberapa saat hembusan angin itu mereda dan hanya meninggalkan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.
Mereka mulai membuka matanya.
“A .. Apa itu?”
Dan mendapati sebuah pintu tiba-tiba berada di hadapan mereka, yang tadinya hanya ada jalan dari lorong gelap.
Mereka bersiap siaga dengan kuda-kuda pertahanan masing-masing, Chloe berjalan lalu membuka pintu itu dengan perlahan.
Dan karena hanya menemukan beberapa bongkahan batu di dalamnya, mereka pun mulai berjalan memasukinya.
"Ini ..?"
Argus mulai memegang salah satu batu dari ketiga batu yang ada di sana.
Ketiga batu itu berbentuk seperti batu nisan dan terukir kata-kata kuno di permukaannya, mereka ada yang di sisi kiri, tengah dan kanan.
Untuk sekarang, Argus memilih jalan alternatif yakni di tengah-tengah.
Dia mulai mencerna apa yang tertulis di dalam batu itu.
“Apa kau bisa mengerti maksud tulisan-tulisan itu?”
Dyze bertanya pada Argus yang terlihat serius dalam membacanya, bahkan seolah jatuh pada imajinasinya sendiri.
“Ah? Iya Tuan. Hamba mengerti dapat mengerti apa yang sedang diceritakan disini. Batu ini sedang menceritakan tentang ‘Agartha’”
“Agartha?”
Mereka semua terkecuali Argus memiringkan kepalanya karena tidak tahu apa-apa mengenai ‘Agartha’ yang dimaksud oleh Argus.
“Iya .. Hamba akan menjelaskannya.”
Argus pun mulai menjelaskan semua yang dia tahu tentang Agartha dari bongkahan batu ‘nisan’ itu.
---
Agartha, merupakan sebuah tempat istimewa di mana penghuninya berasal dari ras manusia yang bersih dari ego, memiliki wawasan yang sangat luas, dan kekayaan alam yang melimpah.
Konon katanya tidak ada yang dapat memasuki Agartha apabila tidak memiliki hati yang murni, karena Agartha sendiri hanya dapat diakses melalui terowongan sempit yang terhubung oleh ke empat sudut mata angin.
Dan dari ceritanya, hanya ada satu orang yang berhasil memasuki Agartha, melihat langsung kedamaiannya lalu menuliskan kisahnya dengan mengukirnya di sebuah batu.
Dia bernama ‘Rhea’ orang yang menuliskan cerita ini di permukaan batu(seperti batu nisan) dan namanya pun tertera di pojok bawah kanan dari batunya.
---
“Hmm. Penghuninya merupakan manusia yang bersih dari ego?”
Dyze memegang dagunya, dia tidak suka berpikir tapi jika termenung mungkin itu merupakan bagian dari kegiatan sehari-harinya.
“Sepertinya Agartha ini merupakan tempat yang benar-benar seperti di sebuah legenda ya?”
Komentar Chloe dijawab Claire dengan sebuah anggukan, lalu Alpha dan teman-temannya pun ikut mengomentarinya:
“Iya, saya juga tidak menyangka bahwa tempat seperti itu benar-benar ada ..” (Alpha)
“Benar, terlebih lagi manusia yang bersih dari ego? Bukankah itu terlalu mustahil?” (Beta)
“Saya setuju. Lagipula manusia yang tidak termakan oleh egonya sendiri? Jika saya tidak melihatnya langsung pasti akan saya anggap semua itu hanyalah omong kosong ..” (Gamma)
“Pernyataanmu terlalu berbahaya untuk diungkapkan, Gamma.” (Delta)
“Sa-saya juga sependapat dengan Delta ..” (Omega)
“Yah apapun itu Agartha memanglah tempat yang menarik.”
Mereka semua menutup rapat mulutnya dan melihat ke arah Dyze yang sedang memasang senyuman di wajahnya.
‘Menurutmu apakah kita bisa pergi ke Agartha sekarang?’
[ Izin menjawab. Maaf, sepertinya itu mustahil. Karena anda hanya memiliki 29.3% kesempatan dalam menuju Agartha dengan kekuatan sekarang. ]
“Sial. sudah kuduga.”
“Kenapa?”
Chloe berusaha mengonfirmasi apa kata-kata yang Dyze maksud, tapi Dyze hanya bilang tidak ada hal spesial yang terjadi.
“Masih tersisa 2 batu lagi. Haruskah hamba ..?”
“Ah .. Benar juga. Aku hampir saja lupa.”
Dyze mengangguk, setelah itu Argus pun membaca batu dari sebelah kiri terlebih dahulu karena itu menarik perhatiannya.
.
..
…
“Apa kau sudah selesai?”
Setelah menunggu beberapa lama, Argus pun membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan Dyze.
“Iya. Hamba sudah menyimpulkan isinya.”
“Kalau begitu mulailah.”
---