The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 81. Telah Sampai Di Tujuan



“Hydra, percepat langkahmu.”


“Khiirk!”


Sudah seharian penuh Hydra yang membawa mereka di atasnya berjalan di daratan penuh dengan rumput tanpa ada sungai sedikitpun.


“Apa kau menemukan sesuatu?”


“Maaf Tuan. Tidak ada satupun makhluk hidup ataupun bangunan yang berada di sekitar sini dalam radius 1 kilometer.”


Argus mewakilkan mereka semua yang bertugas dalam pengawasan.


Karena baru satu hari perjalanan, Dyze mencoba ‘tuk sabar dengan cara menghela napas panjang.


---


Tiga hari telah berlalu. Dia gelisah. Sepertinya Dyze tidak dapat menahannya lebih lama lagi.


‘Hey. Bisakah kau membuat kami berteleportasi ke tujuan yang telah digambarkan oleh Argus?’


[ Mengonfirmasi perintah .. ]


[ Ditemukan tempat dengan hutan kecil dan adanya dua pegunungan besar yang saling menghimpit sejauh 660 Kilometer ke depan. ]


‘Bagus. Teleportasikan kami ke jarak..—‘


“Maaf mengganggu Tuan.”


Dyze yang sedang melamun di alam bawah sadarnya di kejutkan oleh Argus yang telah berlutut di hadapannya.


“Ada apa? Kau mengganggu-ku.”


“Maafkan hamba Tuan! Tapi jika anda berencana untuk melakukan sesuatu yang mempercepat perjalanan, hamba mohon untuk tidak terlalu mepet atau dekat dengan tujuan. Setidaknya berikan jarak seperti 100 Meter atau 1 Kilometer dari target sebenarnya.”


“…”


Karena tidak ingin mengulur waktu lagi, Dyze pun mengangguk dan langsung menyuruh Argus untuk pergi.


‘Sekarang waktu hampir menunjukan setengah hari. Teleportkan kami dalam jarak 659 Kilometer ke depan.’


[ Perintah di konfirmasi. Mohon tunggu beberapa saat .. ]


.


..



Tanpa menjentikan jarinya, Dyze merasa adanya suatu perubahan pada tubuhnya— Tidak .. Mereka semua merasakannya.


Mata mereka seperti menjadi berat dan mengantuk, semakin keras mereka melawannya maka semakin besar pula keinginan mata itu untuk tertutup.


Sampai ketika ..


“Jangan dilawan! Biarkan rasa kantuk itu membuat tubuhmu menjadi beristirahat dalam waktu singkat!”


Suara itu membuat mereka semua menjadi lega dan tanpa pikir panjang langsung menutup matanya seolah tidak memiliki beban sedikitpun.


Saat mata mereka mulai tidak mengantuk lagi, mereka semua perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa terdapat 2 gunung besar di kejauhan.


“Apa yang .. Terjadi?”


Di saat mereka semua terkecuali Chloe sedang kebingungan dengan keadaan mereka sekarang, Hydra justru antusias.


“Khiirk! Khiirk khirk khirk!”


“Bisakah kamu menerjemahkannya?”


“Tentu.”


Atas permintaan dari Eleina, Xelyn pun menerjemah perkataan Hydra yang didengar oleh semua orang.


“Hydra bilang: ‘Tadi itu luar biasa! Sebuah gelombang aneh tiba-tiba meledak keluar dari tubuhku, membuat mataku menjadi mengantuk tapi tanpa kusadari kaki-ku terus berjalan tanpa berhenti!”


“Argus. Kau bisa melihatnya kan?”


“Iya Tuan! 500 meter dari sini terdapat hutan kecil namun cukup lebat dan 500 meter dibaliknya terdapat 2 gunung besar yang saling mengapit satu sama lain.”


“Bagus.”


Setelah menunggu beberapa saat, mereka kini telah berada di mulut hutan itu, dan sesuai perkiraan Argus, hutannya tidak begitu luas namun juga terhitung lebat, setidaknya hal ini tidak terlalu menghambat pergerakan Hydra.


Sesampainya di tujuan, Dyze dan yang lainnya tidak merasa adanya tanda-tanda langit menjadi gelap seperti yang diperkirakan oleh Argus.


Dyze menoleh ke arah Argus dan menatapnya tanpa berkata-kata.


Tapi meski Dyze sama sekali tidak berbicara, Argus tanpa adanya alasan khusus menjadi gemetar. Hatinya penuh rasa takut, was-was dan gelisah.


“Sungguh! Hamba tidak berbohong! Kemungkinan yang ada hanyalah kita datang terlalu cepat dari waktu yang seharusnya!”


‘Bagaimana?’


[ Izin menjawab. Kemungkinan itu memiliki 59% persentase kebenaran. Dikarenakan—.. ]


“Cukup.”


“?”


Mereka semua menutup rapat mulutnya dan hanya melihat apa yang akan Dyze lakukan selanjutnya.


“Chloe.”


“Ya?”


“Kau bisa memanipulasi waktu sesuka hatimu, ‘kan?”


“Itu benar.”


“Bagus. Kalau begitu lewati 1 jam dari waktu sekarang ini.”


Chloe mengangguk, Dyze melihat Argus dan berbicara padanya dengan nada berat:


“Waktu yang kau miliki hanyalah 1 jam.”


“Baik!”


Klikk.


Sebelum suara itu terdengar, mereka semua seolah seperti jatuh ke alam bawah sadar dan melamun dalam beberapa detik.


Suara jentikan jarinya lah yang membuat mereka tersadar kembali.


“Bagaimana bisa ..?”


Cuaca yang tadinya begitu cerah kini menjadi gelap gulita, seolah cahaya atau sinar matahari yang menyinari mereka sebelumnya tertelan sepenuhnya.


Semua itu berlalu begitu cepat bahkan mereka semua berani menjamin bahwa cahaya juga seharusnya tidak dapat secepat itu.


“Sesuai dengan perkiraanmu .., ‘Kah?”


Argus mengangguk dan akhirnya dapat bernapas dengan lega.


“Haruskah kita masuk ke dalam ..?”


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Karena mereka tahu bahwa Dyze sedang berbicara pada dirinya sendiri.


[ Izin menjawab. Terkonfirmasi bahwa adanya tanda kehidupan yang samar-samar di dalam gunung itu. ]


Kedua alisnya terangkat, sebuah seringai kecil terpasang, sorot matanya mulai menajam, suara tertawa terkekeh-kekehnya mulai terdengar semakin jelas.


“Ayo. Sepertinya ada yang menarik di kedua gunung itu.”


Setelah meninggalkan Hydra dan memintanya untuk berjaga di sana, Dyze berserta yang lainnya menuju ke tempat dimana dua gunung itu saling mengapit.