The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 22. Dimana Semuanya Bermula



Chapter 22. Dimana Semuanya Bermula


Dyze menjelaskan dia telah begitu betah di kubu cahaya, namun Raizel dan Chloe menyarankan sebaiknya Dyze pulang untuk beberapa saat karena pasti para malaikatnya mengkhawatirkan dirinya. Meski mengeluh, Dyze akhirnya tetap pulang, dia duduk di takhta memandangi Dunia luar melalui jendela.


Dyze sendiri sudah menduga jika Zavist telah mengetahui dirinya bergaul dengan kubu cahaya, namun dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Namun justru itulah yang menimbulkan bencana bagi mereka.


Karena di suatu waktu, Dyze sedang tertidur di takhtanya, dia mendengar samar samar suara memanggilnya. Saat terbangun dia melihat Ariel yang sedang berlutut berusaha membangunkannya dari tadi. Jika bukan laporan darurat tidak mungkin Ariel berani membangunkan tuannya seperti ini, Dyze juga tahu akan hal itu.


Dyze bergegas menuju penghalang yang membatasi kedua kubu dengan perasaaan cemas saat mendengar laporan Ariel; Kubu (Cahaya) telah diserang oleh Zavist.


Tanpa menghiraukan teriakan Ariel, Dyze terbang dengan kecepatan penuh.


Dari kejauhan Dyze dapat melihat Raizel sedang ditangkap oleh Dewa penyegel yang berasal dari kubu kegelapan. Terlihat 4 dewa dewi kubu cahaya lainnya juga berada di genggaman Zavist.


Sebagai upaya terakhir, mereka terlihat ingin mengombinasikan serangan terkuat mereka. Namun karena mengetahui Zavist dapat memantulkan serangan, Dyze dengan cekatan berteleport di depan Zavist tepat saat serangan itu hendak dipantulkan olehnya.



Situasi menjadi hening, karena tidak ada yang menyangka baik dari kedua kubu jika Dyze akan menahan mentah mentah serangan kubu cahaya. Serangan kombinasi itu membuat gejolak aneh pada tubuhnya, Dyze muntah darah, luka pertama yang dia dapatkan setelah sekian lamanya.


Melihat es abadi milik Dewa Penyegel telah mencapai bahunya, Dyze menjentikan jari dan mengaktifkan salah satu skill terkuatnya; [Nirvana Fingers.]


Sebuah gelombang angin dashyat tercipta, membuat kedua kubu tegang dan mematung. Menyadari gelombang itu sangat berbahaya Zavist menjaga jarak dengan membawa Dewa Bayangan, Dewa Kematian, dan Dewi Kesialan bersamanya. Sedangkan 4 dewa dewi kubu kegelapan yang tersisa telah mengenai gelombang tersebut.


Terdengar suara retakan, sumber suara seketika menjadi pusat perhatian, sumber suara itu berasal dari Raizel, pipinya retak dan mulai pecah.


Tidak hanya Raizel seorang, seluruh Dewa Dewi kubu cahaya dan 4 Dewa Dewi kubu kegelapan juga mengalami retakan serupa di seluruh bagian tubuhnya.


Dyze menatap ke kubu cahaya, tatapan marah dan kebencian terlihat di mata Raizel, mimik wajah tidak percaya dan kecewa terpasang di wajah Diana, Argos dan Eirene. Sedangkan Chloe hanya memancarkan kesedihan, tidak berisi kekecewaan ataupun kemarahan.


Dyze dapat mendengar Raizel mengutuknya, namun telinganya seperti tersumbat saat itu hingga membuat Dyze tidak dapat mendengarnya. Tidak, dia tidak ingin mengingatnya, bukan tidak dapat.


Dyze tidak begitu heran saat melihat Chloe dalam urutan terakhir dan retakannya masih belum dapat meniadakannya. Karena menurutnya, Chloe menggunakan Skill Space Time Control untuk memperlambat waktunya saja.


Dia melihat Chloe menangis, dia tidak mengerti apa maksud dari air mata yang dikeluarkannya, namun disaat terakhir, Chloe mewariskan Skill Space Time Control miliknya melalui pikiran dan mengucapkan kalimat yang terbawa angin hingga Dyze tidak dapat mendengarnya.


Tepat setelah Chloe retak sepenuhnya dan menjadi kepingan cahaya, Zavist melayangkan serangan jarak jauhnya pada Dyze. Serangan itu berupa tombak yang terbuat dari jiwanya, namun Ariel muncul disaat yang tepat, saat Dyze sedang muntah darah karena tubuhnya mendadak menjadi rapuh.


Ariel tertusuk tombak yang dilapisi kegelapan di bahunya, disaat yang sama, sebuah gerbang terbuka di hadapan mereka. Kemudian sebuah suara terdengar menyatakan Dyze dianggap berkhianat karena membunuh sesama Dewa, tidak hanya itu dia juga di cap sebagai Fallen God(Dewa yang gugur/jatuh).


Melihat celah Ariel dengan perintah terakhirnya memerintahkan para malaikat Dyze untuk membentuk formasi terakhir kalinya untuk melindungi tuan tercinta mereka.


Karena tidak ingin pengorbanan Ariel dan para malaikatnya sia sia Dyze menggunakan seluruh tenaganya menuju gerbang. Setelah Dyze melewatinya, Dyze terjatuh dari langit, sebuah lubang cacing tercipta dan melahapnya begitu saja.


Dyze merasa seperti jatuh sesaat saja, namun dengan cepat tenaganya pulih karena kemampuannya. Hal itu salah karena Dyze hanya tidak menyadari jika dia telah jatuh selama 13 tahun, hal itu yang membuat tenaganya menjadi pulih kembali.



Dyze melirik ke arah Chronoa karena tidak ada suara darinya. Dia dikejutkan dengan Chronoa yang mengalirkan air matanya tanpa alasan yang jelas.


“H..huh?


“K-kenapa? Aku.. Menangis karena apa?”


Dyze terlihat risih melihatnya, dia pun menyenderkan kepala Chronoa di bahunya dan berkata dengan dingin:


“Bersandarlah. Kau pasti lelah.”


Kalimat itu membuat air matanya berhenti mengalir, Chronoa terlihat nyaman pada sandarannya, hingga membuatnya tanpa sadar tertidur dengan sendirinya.


Menyadari Chronoa tidak bergerak, Dyze mengeluh namun tidak membangunkannya.


“Duh, malah tidur..”


Dyze melirik ke arah Chronoa. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya, kemudian dia menyentuh dengan lembut pipi Chronoa yang begitu halus.


“Sial.. Kau terlihat semakin mirip dengannya.”


- - -


Setelah merasa cukup melihat malam berbintang, Dyze pun membawa Chronoa dengan menggendongnya menuju kamar yang telah disiapkan oleh para Wood Elf, sebuah kamar ekslusif. Meski hanya untuk semalam, Dyze tidak menyia nyiakannya.


Dan di malam itu, Chronoa kembali bermimpi hal yang sama seperti sebelumnya.


“Ukhh.. Aku.. Dimana?”


Dia persis terbangun dibawah pohon hitam yang rimbun seperti sebelumnya. Chronoa mencoba berdiri, dan melihat sekeliling, mengira akan melihat sosok itu melintas lagi.


Namun dia salah, saat melihat sekeliling dan berbalik, sosok itu berada di hadapannya, hanya terpisah jarak sekitar 5 meter, dia sedang duduk di tunggul pohon, di bawah langit mendung.


Chronoa mencoba menghampiri sosok yang membelakanginya. Namun saat berkedip dia baru menyadari, sosok itu telah berbalik dan menatapnya.


Kakinya terasa seperti membeku, dia tidak dapat menggerakannya. Mulutnya juga terasa berat untuk dibuka, sampai ketika sosok itu berbicara.


“Kamu.. Harus… Berhasil.”


Kata kata itu memancingnya untuk berbicara, hingga membuatnya mampu bertanya padanya:


“Apa? Apa yang kamu maksud!?”


Chronoa bertanya dengan nada tinggi layaknya orang yang panik, sosok itu terlihat tersenyum kecut, entah karena menanggapi pertanyaan Chronoa, ataupun karena perkataannya selanjutnya.


“Kamu. Akan.. Mengalami nasib… Serupa. Dengannya..”


Disaat itu, setelah kalimat tersebut keluar dari bibir pucatnya, bayangan tubuhnya tiba tiba bergejolak dan membentuk sosok lain dalam jumlah banyak yang sangat mirip dengannya, bahkan dapat dibilang sama persis.


Mereka berdiri di sampingnya, membentuk garis horizontal. Keringat dingin mengucur dari kepalanya, saat Chronoa menyadari sosok sosok itu merupakan tumpukan mayat di mimpi sebelumnya.


Mereka menangis. Dengan sendu mereka mengatakan sesuatu.