The Fake Sin Of Fallen God

The Fake Sin Of Fallen God
Chapter 28. Form Argus



“Asmodeus?”


Argus yang baru terbangun dari zaman Kuno tentu saja tidak mengerti apa yang Dyze katakan. Seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, Dyze terlihat membunyikan lehernya dan memegang tengkuk sambil bertanya:


“Hey! Bisakah kau serius sekarang?”


Mendengar perkataan yang seolah mengolok-olok usahanya selama ini membuat hasrat bertarung Argus terbakar.


“Ya. Aku akan serius sekarang!”


Melihat Argus melakukan gerakan aneh tapi spesial, membuat Dyze menanyakan sesuatu padanya.


“Apakah kau akan memakai ‘Form’?”


Argus yang telah menanggalkan gigi molar pertama(salah satu bagian gigi) di bagian kanannya pun meludahkannya.


Dengan tubuhnya yang mulai bergejolak, sebuah taring muncul menggantikan gigi molar pertama yang telah tiada. Iris matanya yang awalnya biru seperti lautan kini perlahan berubah menjadi merah dengan dominasi kegelapan. Tubuh yang awalnya seperti kurang asupan gizi kini telah begitu berisi.


Otot-otot Argus pun mulai bermunculan, membuatnya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Sambil menunggu prosesnya benar-benar selesai Argus menjawabnya:


“Benar, ini adalah True Form milikku yang kunamai dengan: Ace Vampire.”


“Ace? Wow nama yang mengagumkan, kuharap tidak akan mengecewakan. Tapi bisakah kau menjelaskan padaku apa arti ‘Form’ itu sendiri?”


“Tentu..—“


Seolah Déjà vu, Argus menghilang dari posisinya. Meninggalkan angin yang masih utuh mengantar kepergiannya, dan belum sempat Dyze mengedipkan matanya, Argus telah berada di depannya.


“—..Akan kujelaskan dengan senang hati!”


Argus memberikan pembalasan, sebuah pukulan telak menghantam wajah Dyze. Meski terpental begitu jauh, tidak ada tanda-tanda Dyze mengalami sakit yang begitu berarti, dia justru tertawa.


“Luar biasa!”


Dyze yang masih berada di udara dengan kecepatan tinggi pun ingin memberhentikan dirinya dengan membenamkan kakinya ke tanah. Namun seolah tidak memberi waktu, Argus telah berada di depan wajahnya lagi, menyiapkan sebuah pukulan manis yang akan membuat Dyze tertawa.


“Form sendiri adalah bentuk sejati dari kekuatanmu! Form sendiri berbeda-beda jenis dan bentuknya, yang paling umum adalah True Form. Tapi tidak semua individu memiliki Form! Semua itu tergantung pada kekuatan dan dirimu sendiri--!”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Argus mendaratkan sebuah pukulan yang bahkan membuat udara menjadi meledak. Dyze menjadi terhempas dan menghantam permukaan tanah dengan keras. Meski memuntahkan darah, Dyze tidak meringis kesakitan, seolah dia seperti tidak mengenal rasa sakit itu sendiri.


Sampai-sampai Argus sendiri dibuat heran olehnya.


“Yang benar saja.. Setelah mengalami luka parah maupun luka lecet, kamu sama sekali tidak bergeming?”


Dyze yang telah bangkit dan masih membersihkan pakaiannya pun hanya menjawab dengan nada santai:


“Hah? Jangan bercanda, luka kecil seperti ini tidak akan membuatku merasakan rasa sakit.”


Meski nadanya santai, namun suaranya dapat sampai ke telinga Argus dengan begitu jernih, seolah jarak tidak menghalangi suaranya.


Menyadari jika segala serangan tidak akan berdampak apa-apa padanya, Argus pun tidak ada pilihan lain selain menggunakan kartu As nya.


Argus menunjuk Dyze dari udara dan berteriak padanya:


“Realm Of Fear!”


“Serangan apa lagi kali ini?”


Realm Of Fear(Alam Ketakutan), salah satu dari 2 Skill Ultimate yang dimiliki oleh Argus, skill ini juga yang menjadi kartu As karena dapat menjebak musuh pada ketakutan terbesarnya.


Di saat itu juga, sebuah ruangan besar dari dalam tanah menonjol keluar dan mengurung Dyze.


Ruangan itu berubah menjadi hitam, dan kemudian di hadapan Dyze seperti terbentuk sebuah layar. Layar yang seperti layar bioskop itu menayangkan kematian seorang Wanita yang sangat mirip dengan Chronoa, membuat Dyze terpaku, amarahnya tiba-tiba saja meledak.


Dari luar ruangan yang mengurungnya, Dyze mendengar sebuah suara yang semakin membuat amarahnya memuncak.


“Apapun yang kamu lihat di dalam sana akan pasti terjadi. Karena Skill Ultimate ku ini memiliki salah satu kemampuan dari takdir untuk membuat ketakutan terbesarmu menjadi kenyataan.”


Karena amarah yang begitu memuncak, Dyze ingin menggunakan Unik Skill yang dapat mengubah kemarahan menjadi kekuatan: Wrathful King Satanel. Sayangnya seperti Skillnya: Tier Out Dimension, unik skill milik Dyze ini juga terkunci.


Mata merah Dyze mulai menyala, dan aura gelap itu kembali lagi menyelimuti sekujur tubuhnya. Dengan pukulan yang seolah angin berputar di tangannya, Dyze berusaha menjebol ruangan itu dengan kekuatannya.


Namun ruangan itu hanya bergetar hebat saat menerima pukulan telak dari Dyze. Kemudian suara Argus kembali terdengar:


“Percuma saja, jika ingin menghancurkannya dengan fisik maka itu mustahil akan terjadi.”


Merasa diremehkan, Dyze kini mencoba menendang dinding dari ruangan itu dengan dibaluti aura hitamnya.


Kali ini, ruangan itu retak. Mengejutkan Argus yang berada diluar.


Tanpa basa-basi lagi, Dyze menyiapkan sebuah pukulan dashyat dengan dibaluti api dan aura hitamnya yang membuat ruangan hitam itu hancur seketika.


--


“Ap--!?”


Meski terpisah jarak ratusan meter jauhnya, Dyze kini telah berada di depan wajah Argus dengan tampilan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Melihat Dyze yang memasang wajah dingin dan menghembuskan asap dari mulutnya membuat Argus merasa merinding, karena Dyze yang ia lawan sebelumnya adalah orang yang ceria dalam pertarungan.


Tidak ingin memberikan Argus waktu, Dyze langsung melayangkan sebuah pukulan yang dilapisi aura hitam miliknya pada wajah Argus, yang membuatnya seketika ingin kehilangan kesadaran. Dengan kesadarannya yang ingin menghilang, Argus menghantam tanah dengan keras, hal itu membuat Argus dapat mempertahankan kesadarannya kembali.


Belum sempat berdiri, Dyze kini kembali lagi telah berada di depannya. Setelah memberikan beberapa pukulan yang menyakitkan, Dyze menendang dagu Argus dengan sangat keras hingga membuatnya terbang ke langit.


Pergerakan Dyze terlalu cepat untuk dapat dibaca, Argus sendiri pun hanya dapat pasrah karena mengetahui perbedaan kecepatan yang begitu jauh.


Namun Argus dibuat heran saat membuka mata tidak mendapati Dyze di hadapannya. Argus mencoba menoleh ke bawah sambil menunggu dirinya terjatuh ke tanah.


“…”


Jadi karena itu alasannya, dia tidak memberikan serangan fisik lagi padaku— Begitulah pikirnya


Dia mendapati lingkaran sihir yang berada di tanah tepat di bawahnya tanpa ada seorang pun disana.


Argus menarik napas dalam-dalam dan menutup kedua matanya, pasrah akan nasib yang dia dapatkan.


“Uggh?!”


Argus merasakan sesuatu menembus perutnya, saat dia mencoba melihatnya, sebuah lubang besar berbekas di sana.


Seandainya dia adalah manusia seutuhnya maka mungkin dia akan mati seketika.


Beberapa saat kemudian, Argus menghantam tanah. Dengan susah payah sambil memegangi luka yang terus mengeluarkan darah meski telah memasuki tahap regenerasi, Argus berusaha berdiri.


--


Dyze yang berjarak ratusan meter dari Argus pun berencana untuk mengakhiri semuanya. Dyze membuka telapak tangan kanannya, melipat jempol, dan merapatkan jari lainnya. Daripada menyebutnya sebagai Skill, Dyze lebih suka menyebutnya sebagai Teknik Membunuh.


Dyze melapisi listrik di tangan kanannya, kemudian melesat menuju Argus yang terlihat masih kesusahan mempertahankan keseimbangannya.


Saat terpisah jarak hanya beberapa meter saja, Dyze merasakan sebuah suara memanggilnya. Saat itulah waktu terasa seperti melambat baginya.


Kini waktu telah kembali menjadi normal, namun Dyze dibuat syok dengan apa yang dilihatnya sekarang. Napas Dyze menjadi berat, jantungnya berdebar kencang, kulitnya mengeluarkan keringat dingin, dan kesadaran seperti ingin hilang dari tubuhnya.